Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Penyebab tangisannya


__ADS_3

"A-auuu!! Sakit! Pelan pelan" Pekik Hans meringis kesakitan kala sang dokter merawatnya dengan lembut.


"Tenanglah tuan. Anda akan baik baik saja..." Ucap sang dokter.


Sang ayah duduk di samping Hans bersama dengan Ginaya dan Richi "Apa yang terjadi pada mu Hans... Kenapa bisa bisa nya orang asing itu menghajarmu hingga babak belur. Ayah sungguh tak paham padamu" gumam sang Ayah menggelengkan kepalanya.


"Ini salah ku... Jika saja aku ada di samping anda. Anda pasti tak akan celaka" Richi menunduk dan turut prihatin akan nasib buruk yang telah menimpa Hans siang itu.


"Tenanglah Richi. Ini bukan salahmu..." Balas Hans menyuport Richi agar tak larut dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Kenapa kak Richi yang harus di salahkan. Yang harusnya di salahkan itu adalah kakak. Kenapa aku punya kakak yang bodoh..." Umpat Ginaya membuang wajahnya.


"Hei kau anak tengik... Tidak bisa kah kau khawatir pada kakak mu sendiri?" Tanya Hans mengamuk.


"Sudah sudah... Ginaya kau tak boleh mengumpat begitu pada kakakmu. Itu namanya tidak sopan" Pinta sang ayah.


"Habis kakak selalu saja dalam masalah dan aku selalu sebal... apa lagi kakak selalu saja membuat kak Kania menangis..." Cerocos Ginaya tak terima.


"Hei apa maksudmu..." tanya Hans mengamuk.


"Sudah sudah... Sekarang Ginaya cepat minta maaf pada kakakmu" Ucap sang ayah.


"Huh! Baiklah... Aku minta maaf kakak..." Ginaya mulai membungkuk dan mulai pergi meninggalkan Hans di ruang tamu tempatnya di rawat dokter.


"Hans kau mau minum?" tanya sang ayah.


"Tidak yah..." Balas Hans. Sedari tadi Hans celingukan mencari istrinya yang tak muncul muncul meski Hans menunggunya.


Mana Kania? Kenapa dia tak khawatir padaku.. Apakah dia tak tahu jika aku sedang menderita gegara di hajar orang tak di kenal? Sungguh keterlaluan... Umpat Hans seraya terus mencari.

__ADS_1


"Mmmh... Tuan Angga, saya ingin bicara sebentar" Ucap sang dokter.


Tuan Angga mengangguk dan mulai berdiri "Hans ayah akan segera kembali..." ucap tuan Angga seraya menepuk pundak anaknya.


Tuan Angga pun mulai pergi bersama sang dokter. Sementara Hans ia mulai bertanya pada Richi terkait keberadaan Kania "Richi... Apakah kamu melihat istriku?" tanya nya berharap.


Richi sesaat diam "Kenapa kamu diam? Apakah kamu tak tahu di mana dia saat ini?" tanya Hans penasaran.


"...Tuan, sejak anda pergi. Nona Kania menangis di kamarnya... Saya tak bisa masuk karna saya takut jika nanti tuan besar salah paham pada saya..." jelas Richi.


Hans mulai kepikiran "Kenapa dia menangis?" Bisik Hans bingung, jidaknya mulai berkerut seakan ia memikirkan sesuatu hal.


Apakah Kania marah karna aku pergi tanpa pamit padanya ya? Atau jangan jangan dia marah padaku lalu menagis di kamar karna kesal padaku. Ah tidak tidak! Itu tidak mungkin, dia bukan tife wanita yang cengeng. Ah, atau jangan jangan... Dia tahu jika aku pergi menemui Marsha? Ah tidak mungkin.. Dari mana dia tahu, tapi itu mungkin saja... Bathin Hans meracau hebat, ia bicara sediri dalam hati bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.


"Tuan..." Richi menyeru Hans berulang ulang, tapi Hans sama sekali tak bergeming meski ia menepuk pundaknya.


"Tuan... Apakah anda baik baik saja?" tanya Richi menghadapkan wajahnya ke arah sorot mata Hans yang kosong dalam lamunanya.


"Ah. Maaf jika anda kaget... Saya tidak sengaja melakukan hal itu. Saya minta maaf" Richi beberapa kali membungkukan diri karna canggung.


"Ah hentikan... Sudahlah jangan minta maaf lagi... Aku juga minta maaf karna marah marah tak jelas padamu. Aku mau ke atas, tolong bantu aku pergi ke kamarku. Aku ingin menemui istriku" jelas Hans. Richi pun mulai membantu Hans berdiri lalu menopangnya menuju kamar Hans di lantai atas itu.


Sampailah mereka di lantai atas...


Hans masuk kamar dan Richi pun pamit "Makasih Richi..." Hans mulai menhilang ketika pintu itu di tutupnya.


Hans pun melangkah tertatih tatih menuju matrasnya. Tapi ia terdiam sesaat di sana ketika ia melihat Kania sedang terduduk membelakangi Hans.


"Sayang... Kamu sedang apa?' Tanya Hans menghampiri Kania. Kania tidak membalas sapaan Hans. Hans pun mendekati nya lalu duduk di sampingnya...

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa?" tanya Hans. Kania masih belum mau menoleh padanya, tapi Hans lihat dengan jelas nanar Kania yang sembab dan penuh tetesan basah.


"Kamu menangis?" tanya Hans. Kania pun mulai membuang beberapa tetesan basah tersebut dan mulai menggeram "Ahem... Kamu sudah pulang mas?" tanya Kania mulai menoleh ke arah Hans.


Hans menatap Kania, Kania pun terbelalak ketika melihat wajah Hans memar dan bengkak "Kamu kenapa Mas? Wajahmu kenapa babak belur begini?" kania sedikit panik.


"...Ku pikir kamu marah, karna aku pergi tanpa pamit... Tapi, ternyata kamu sungguh khawatir juga padaku. Aku minta maaf ya" Hans mulai meraih tangan Kania lembut dan mulai menempelkannya di pipinya.


Kania hanya menatap Hans dengan dinginnya tanoa banyak bersuara atau bertanya "Maafkan aku" Hans mulai menarik tangan Kania dan mencium punggung tangannya lalu kembali menempelkan telapak tangan Kania di wajahnya yang terasa sakit itu. Sesaat kesakitan Hans mulai hilang oleh hangatnya tangan Kania.


Kamu dari mana Mas? Kenapa Marsha mengangkat ponselmu? Lalu apa yang sudah kalian lakukan di belakang ku? Benarkah kamu telah bermain ranjang jengannya? Kenapa aku tak bisa bertanya semua hal ini padamu... Mengingatnya saja sudah membuat hatiku terkoyak mas... Bathin kania menggumam.


"Sayang. Untuk saat ini, keberangkatan kita untuk tour bulan madu aku fending dulu ya... Tunggu luka luka ku kering dulu" pinta Hans.


Kania hanya bisa mengangguk diam seraya menahan amarahnya dalam dalam. Hans pun tersenyum lalu menarik Kania ke pelukannya.


GRAAAPPP!! Hans memeluk Kania lembut "Trimakasih sayang... Kamu memang selalu mengerti aku. Aku sungguh bahagia, punya istri baik seperti mu" Ucap Hans seraya menyender di leher jenjang Kanua yang mulus itu. Sementara Kania hanya tampak dingin dan enggan larut oleh kata kata Hans yang menurutnya penuh ke palsuan.


Netra Kania mulai jeli ketika melihat bercak merah membeksa di kerah warna putih kemaja suami. Di sana Kania mulai terbelalak dan tak tahan lagi. Kania mendorong dada Hans hingga Hans pelukan hangat Hans pun trlepas.


"Sayang ada apa?" tanya Hans menatap Kania intrents.


"Ahmm... Maas, sebenarnya tadi itu kamu habis dari mana?" tanya Kania membuang wajahnya seakan menahan sebuah tangisan.


"...Tadi aku pergi ke kantor untuk meminta cuti... Tapi" Hans mulai menghentikan kebohongannya karna melihat Kania mulai menangis, air mata Kania jatuh bercucuran begitu saja seakan tal terbendung.


"...Aku tidak bermaksud membohongimu sayang..." Bisik Hans menyadari ke salahannya.


"...Apa yang sudah kalian lakukan Mas? Hingga sisa lipstik nya menempel di kerah baju mu mas?" tanya Kania menatap Hans tajam, tangisan Kania mulai pecah dan Hans tak bisa menghentikan tangisan itu. Hanya kata maaf yang Hans lontarkan beberapa kali pada istrinya.

__ADS_1


Bahkan Hans sendiri tak tahu jika Kania mengira bhwa Hans dan Marsha telah bercinta. Karna ia memang tak pernah melakukan hal tersebut bersama mantan kekasihnya itu.


__ADS_2