
Kania berdiri di depan Hans dengan tangan mencengkram tatakan yang berisikan poci kecil dan gelas-gelas teh.
"Ka-kau?! Sedang apa kau di sini?!" Bentak Hans panik dengan mata menyala-nyala.
Kania tersenyum dan sedikit memiringkan wajahnya. Matanya berbinar ketika menatap Hans licik saat itu, "Hem... tuan, apakah anda lupa siapa saya?" Ucap Kania mencibir. Marsha menoleh ke arah Kania, lalu ia pun mulai angkat bicara "Bicaralah yang sopan. Kamu harus tahu, batasan antara majikan dan bawahan... dasar tidak becus" umpat Marsha sedikit emosi. Kania tersenyum dan hanya mengabaikan ocehan Marsha yang tak berkelas itu.
"Heh. Baiklah... jika saya yang membuat anda marah. Izinkan saya melayani anda dengan baik malam ini... Bolehkan?" tanya Kania menundukkan wajahnya tanpa meminta maaf... sebab ia berfikir jika saat ini ia sungguh tak bersalah.
Heh... kau saja yang tak tahu. Jika pria di depanmu ini sadang berbohong sejuta dusta dengan mulut manisnya. Lihatlah... akan ku pertunjukan drama kolosal yang akan membuatmu muak pada suamiku. Bathin Kania mengoceh menyusun strategi.
"Aku tak butuh banyak komong... Jika layananmu kurang baik. Maka aku akan memecatmu sekarang juga. Ya kan sayang?!" Tanya Marsha pada Hans untuk menyetujui pendapatnya kali ini.
Gluk! Hans hanya menelan salivnya sendiri. Nampaknya Hans kali ini mati kutu gegara kelakuan Kania yang terbilang nekad.
"Terimaksih atas kemurahan hati anda nona cantik..." Komen Kania mencercidkan sebelah matanya pada Hans.
"Cepatlah. Nanti teh nya keburu dingin..." Omel Marsha tak sabaran. Sejak awal Marsha memang tak suka pada Kania yang di matanya terlihat cantik dan tak pantas menjadi pembatu Hans. Ia takut jika kelak Kania akan di sukai oleh Hans.
Hati manusia siapa yang tahu... sekarang standy entar entar bisa saja up...Bathin Marsha.
"Nona. Ini adalah teh terenak racikan saya... silahkan di coba ya?" pinta Kania. Kania melekatakan tatakannya, lalu menyeduh teh dari poci itu ke gelas di samping poci tersebut.
Cuuurrrr! Teh mulai mengisi gelas kecil itu, uap mulai menyeruat ke luar. Pertanda air dalam gelas teh tersebut amatlah panas.
"Silahkan di cicipi..." ujar Kania meletakan teh tersebut di hadapan Marsha. Lalu Kania lekas meletakan gelas kedua di depan Hans.
"Wanginya enak" Puji Marsha mulai meraih telinga cangkir tersebut lalu menghirupnya sebelum di teguk. Sedangkan Hans terdiam kaku di depan Marsha. Kania meliriknya dan mulai menyeru "Silahkan tuan... minumlah" Pinta Kania. Hans mulai makin panik "Pergilah... kami ingin bicara berdua..." Pinta Hans sopan.
Kania mengangguk "Baiklah saya akan pergi. Tapi, sebelum saya undur diri... izinkan saya memperkenalkan diri saya..." Imbuh Kania.
Marsha menatapnya risih "Kenapa harus...?" Tanya Marsha sinis.
"Karna, jika anda tidak memanggil nama saya. Saya tak akan tahu... bahkan saya bisa saja lalai dari tugas" Balas Kania.
__ADS_1
"Heh. Pergilah... jangan ganggu kami berdua" bentak Hans.
"Baiklah. Panggil aku KA-NI-A... Jika kalian perlu sesuatu..." Jelas Kania menatap Hans sadis.
Heh. Aku akan pergi. Pasti kamu akan senang kan?" bathin Kania menggerutu.
"Kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi?" pinta Hans. Menyentuh cangkir teh berisikan teh hangat di depannya.
"Ya. Kita sampai lupa..."Marsha tersipu malu, wajahnya memerah dan itu membuat Kania marah lagi.
Bisa-bisanya exting pria ini semurni itu. Baiklah... aku juga punya kejutan untukmu. Bathin Kania.
Kania masih berdiri tegak di hadapan Hans dan Marsha hingga mereka terganggu. Hans menoleh ke arah Kania "Tunggu apa lagi? Pergi sana!" Bentak Hans tegas. Kania sungguh marah mendengar bentakan hans yang terasa nyata dan melukai hatinya.
Sialan... Baiklah aku lakukan saja sekarang. Bathin Kania mengegerutu kepanasan.
"Baiklah... saya pamit... Silahkan lanjutkan kemesraan anda berdua" Jelas Kania menggeserkan tubuhnya ke samping Hans.
Hans menatap Kania tajam "Pergi!" Lugasnya.
Brukkk!
Marsha seketika memebelalakan bola matanya tampak sangat terlejut. Apa boleh buat, Hans tak bisa lakukan apa-apa saat Kania jatuh begitu saja di pangkuan Hans.
"Heh! Apa-apaaan ini?" Bentak Hans panik.
"Aku... lemas...tuan..." Kania pun menutup matanya dan seketika itu pingsan.
"Apa-apaan dia?!" Teriak Marsha seraya berdiri lalu menunjuk Kania kasar.
"Ri-Richi! Richiiii! Mana Richiii!" Hans panik bukan kepalang saat ia pastikan tubuh Kania dingin dan wajahnya pucat pasi.
"Sayang! apa yang kamu lakukan?! turunkan dia sekarang juga... aku nggak suka melihatnya di perlakukan seperti itu!" Marah Marsha tersulut api cemburu.
__ADS_1
"Tunggu disini! Aku akan membawanya ke dalam!" Ucap Hans seraya mengangkat tubuh Kania. Hans lari terbirit-birit ke dalam rumah hangatnya. Ia bahkan melupakan Marsha yang saat itu sedang ia bujuk untuk kembali bermesraan.
"Wanita itu? Kenapa berani sekali menjatuhkan tubuh datarnya di pelukan kekasihku!" Oceh Marsha dalam balutan amarah yang meluap-luap.
Akibat terlalu marah, Marsha pun menarik taplak meja di depannya. Hingga seluruh gelas, tatakan dan poci yang di bawa Kania itu berhamburan porak-poranda. Marsha benar-benar mengamuk saat ini.
"Jika ini maumu! aku akan ikuti...!" Marsha sungguh murka. Ia menarik tas mewahnya di kursi itu, lalu melangkah lebar penuh amarah menuju pintu keluar.
Sedangkan Hans, ia telah menemukan Richi dan menyerahkan Kania ke pangkuannya "Richi! kamu kemana saja sih! aku panggil-panggil tapi nggak nyahut-nyahut!" Bentak Hans pada Richi.
"Maaf tuan! tadi saya mencari nona muda...!" Balas Richi sigap.
"Ini wanita siluman yang kau cari itu! Cepat bawa dia kekamarnya!" Jelas Hans membentak. Richi enggan, dia tak memiliki hak untuk menyentuh tubuh molek Kania.
"Tidak tuan. Saya tidak berani menyentuh istri anda" Tolak Richi menghempaskan tangannya seakan takut.
"Bodoh! jangan bicara keras-keras nanti pacarku tahu!" Caci Hans ke Richi.
"Maafkan saya tuan... Tapi saya... Tidak bisa tuan maafkan saya" Richi menggelengkan kepalanya menolek keras. Hans sungguh marah, Hingga Hans pun terpaksa melangkah lagi menuju kamar yang telah di siapkan untuk Kania di jauh-jauh hari.
"Dasar! Huuh! wanita ini merepotkan saja!Kenapa tak ku buang saja ke kolam" Gumam Hans seraya menggerutu dan terus melangkah ke arah kamar Kania.
Sesampainya di front kamar Kania, Richi lakas membukakan pintu kamar itu. Hans melangkah lebar menuju matras megah kamar itu. Sprei putih yang wangi dan lembut itu mulai menjadi saksi ke pedulian Hans pada Kania. Hans sigap merebahkan Kania di matras itu perlahan.
"Merepotkan saja!" bentaknya.
Kania di rebahkan dalam posisi melentang, pakaian merah berbaur dengan sprei putih... Wajah Kania mulai tergambar jelas ketika Hans memperhatikan di saat Kania telah terlelap dengan wajah yang cukup pucat. Richi terlihat senang ketika tuannya tiba-tiba mau perduli seperti itu pada Kania.
Cih. Apa bagusnya wanita ini? Dilihat dari posturnya saja aku sungguh tak tertarik sama sekali. Bagusan marsha kekasihku. Bathin Hans. Baru saja Hans mengoceh tentang Marsha. Ia baru sadar jika ia meninggalkanya di taman ruang bawah.
"Sial! aku lupa jika kekasihku masih di sana!" Hans teringat dan segera berlari menuju tempat Marsha berada tadi. Namun sekeras apapun ia lari dan sampai di sana dengan cepat. Tetap saja hasilnya nihil, sebab Marsha telah pergi beberapa menit yang lalu tadi.
"Sayang! kamu kemana?" teriak Hans.
__ADS_1
Lalu kepala pelayan pun datang dan memberitahukan semua yang terjadi. Hans pun marah besar dan ia bergegas mencari Marsha yang menurutnya belum jauh dari kediamannya.
Bersambung...