Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Tantangan seorang istri


__ADS_3

***


Senja hari pertama Kania di kediaman Yohans Buana Wijaya Kusuma sungguh memilukan. Setelah bersusah payah datang ke kediaman itu, Kania malah di maki dan di caci habis-habisan oleh Hans. Dan lebih parahnya lagi, di antara pernikahan mereka terselip sebuah perjanjian yang bertuliskan Nikah kontrak. Kania terpaksa menanda tanganinya karna enggan di ceraikan di hari ke tujuhnya menjadi istri dari Hans.


***


Tangan Hans di lesatkan ke arah pipi Kania, namun rupanya Kania sengaja menahan tangan kekar Hans dengan sigap hingga Hans tercengang.


"Heh! mau memukulku lagi? Tapi aku tak akan membiarkan orang sepertimu memperlakukan wanita seenaknya!" Bentak Kania memaki mentah-mentah Hans.


Hans makin marah, ia melotot ke arah Kania "Berengsek!" Maki Hans menghempaskan tangannya dan segera meraih tissue lalu megelapnya tangannya.


"Apakah kau puas?" tanya Kania menantang. Hans mendonggakan wajahnya lalu menatap Kania "Kau! Kau sengaja menantangku?" Tanya Hans murka, bahkan wajahnya memerah pekat bah darah.


"Kalau begitu... Aku pamit" Imbuh Kania lekas membuka pintu ruangan Hans lalu keluar begitu saja.


"He-hey! tunggu sebentar aku belum selesai!" Pinta Hans meraih Kania. Blam! Namun Kania malah keluar begitu saja. Hans tampak Flustrasi saat ini "Sial! Wanita macam apa yang aku nikahi? Baru kali ini ada wanita yang membantahku..." Oceh Hans menghempaskan tangannya terlihat salah tingkah.


Hans mulai terdiam di depan pintu kantor pribadinya, ada beberapa pikiran yang berputar-putar di otaknya.


"Sial, padahal tadi itu... Aku ingin bertanya sesuatu padanya. Sebenarnya yang ingin aku tanyakan adalah tentang Willy? Kenapa Willy ada depan kediamanku? Lalu bagai mana ia tahu ini semua? Jangan-jangan..." Pikiran kotor mulai membumbui otak Hans.


"Ah! Mana mungkin! Mana mungkin si udik itu punya hubungan dengannya. Dia kan baru datang dari kampung... dan lagi... Mana mungkin..." Pikiran Hans terus terbebani dengan atas kedatangan Wily ke depan kediaman Hans. Hingga suara ponsel membuyarkan lamunan Hans.


"Hallo..." hans angkat ponselnya. Lalu, ia pun langsung terkejut ketika tahu bahwa Marsha marah dan ingin pulang. Hingga Hans tergesa-gesa keluar ruangan tersebut.


Di tempat lain...


"Hiks... Hiks..." kania menangis di ruangan besar sendirian. Hanya ada sebungkus tisue di sana yang menemaninya.

__ADS_1


"Sial! Kenapa aku malah datang ke sini! kenapa pula orang seperti itu yang harus aku nikahi... Uggghh!" Kania mengomel di sela-sela tangisannya.


Setelah selesai mengoceh dan menyobek-nyobek tisue sisa ingusnya sendiri. Kania pun mulai berdiri, ruangan itu jadi berantakan dan penuh sampah sisa ingus Kania.


"Baiklah. Darah di bayar darah, lihat saja... jika dia sampai menyakitiku! maka aku akan menyakitinya balik... Simpel juga prinsifku ini Hahahahaha..." Nampaknya kania terkena syok hingga membuatnya sedikit aneh.


Kania melangkah lagi, ia mencari Richi hingga mengeksflore semua ruangan megah yang ada di kediaman itu. Langkah Kania sampai ke sebuah halaman yang luas, di penuhi bunga dan rumput yang lembut.


"Wah... ruangan apa ini? Ada taman luas di dalam rumah... indah sekali" Bisik Kania melangkah masuk tanpa permisi. Seketika kesedihan Kania terhapus sudah ketika melihat suasana indah di halaman kediaman Hans.


Kania sedikit nakal juga... Padahal ia tidak bisa berkeliaran seenaknya di kediaman Hans. Tapi ia malah berjalan-jalan di taman itu sendirian tanpa Richi di sampingnya.


"Mungkin ruangan ini akan cocok untuk menenangkan emosiku yang sedang di ujung ubun-ubun... Gumam Kania melangkah menuju ayunan putih berukir bunga. Baru saja Kania menaikkan bokongnya di kayu ayunan itu. Suara tak menyenangkan mulai terdengar di kejauhan. Suara seseorang yang sedang adu mulut...


"Lepaskan! kamu bilang tadi hanya sebentar! tapi nyatanya waktu yang kamu bilang itu sudah satu jam lebih!" Amukan seorang wanita begitu pamiliar di telinga Kania.


Suara Suamiku? bathin Kania meracau.


Kania yang baru saja hendak mengayunkan tubuhnya di ayunan itu pun mulai terperanjat turun dan segera bersembunyi.


"Sayang... maafkan aku ya" Pinta Hans. Suara-suara merayu itu kian dekat dan Hampir masuk ke area taman yang di sana ternyata ada Kania.


"Kamu selalu saja begitu! selalu saja membuatku marah dan terus begitu... aku ingin benci! tapi... aku terlalu mencintaimu!" Jawab Marsha berjalan menjauhi Hans ke area taman tersebut. Hans yang mendengarkan ucapan manis itu segera meraih tangan Marsha dan menariknya "Kyaaa!" Marsha berteriak dan seketika setelah tangannya di tarik, Marsha pun ada di dalam pelukan Hans.


"Iih nakal" teriak Marsha memukuli dada Hans seakan meronta"


"Diamlah sayang. Kan tadi kamu yang bilang kalau kamu sangat mencintaiku" rayu Hans merangkul tubuh Marsha erat.


Mereka saling bermesraan di depan Kania. Meski Kania saat ini bersembunyi, tapi hatinya sungguh terbakar ketika melihat adegan itu.

__ADS_1


Kalian ingin bermain cinta? baiklah aku juga akan mempermainkan kalian... Bathin Kania. Hari pertama di kediaman suamiku. Aku akan membuat kepalamu lebih benjol lagi. Tambah bathin Kania menggumam.


Kania mulai membuntuti langkah Hans dan kekasihnya. Mereka sampai di meja taman yang amat romantis dengan tangan saling merangkul dan bergandengan, mereka seperti pasangan pengantin baru.


"Ayo duduk...:" Pinta Hans. Marsha pun mulai duduk berhadapan di satu meja itu.


"Kamu sudah makan?" tanya Hans mesra pada wanita di depannya.


Kamu sudah makan? Seharusnya kamu bertanya hal itu padaku. Dari desa kemari... aku sama sekali belum minum setetespun. bathin Kania kembali meracau.


"Sudah, bagai mana kalau kita minum teh?" tanya Marsha. Hans pun mengangguk "Baiklah... aku akan panggilkan pelayan" ujar hans.


"Pelayan!" Seru Hans. Kania lantas mendekatu Hans yang sedang berduaan dengan Marsha, kania sengaja berdiri di belakang Hans agar ia bisa mengusili kedekatan mereka.


"Ya tuan..." suara kania di samarkan dengan nada yang pelan.


"Ambilkan kami teh hangat, kami ingin minum teh malam ini" Titah Hans.


"Baik tuan..." Kania lekas melangkah ke arah luar taman dan meminta beberapa pelayan untuk membuatkan teh tersebut.


Beberapa saat kemudian Kania mengambilan teh yang di minta Hans. Dan betapa terkejutnya Hans saat Kania ada di depannya dengan tangan membawa tatakan poci juga gelas di tangannya.


"Tuan... ini teh yang anda inginkan itu" jelas Kania menatap Hans.


Hans terbelalak bah kaget 'Ka-kau..."


"Silahkan ini teh anda"...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2