
***
BLAM!!
Kania membanting pintu itu dan lekas menjatuhkan tubuhnya kasar di kursi ruang tunggu pasien yang berada di luar kamar Hans.
"Keterlaluan! Apa salahku! Kenapa pas sadar dia langsung saja ngamuk pada ku tampa mengucapkan terimakasih! Huh menyebalkan! Dia pikir siapa dirinya? Huh bertindak seakan akan dia itu tuhan saja... Dasar pria menyebalkan!" Kania menghentak lantai beberapa kali karna kesal. Ia putuskan menunggu di luar ruangan itu beberapa saat.
"Richi pun tak ikut keluar... Setidaknya, antarkan aku pulang kerumah lah..." Kania sungguh merasa sangat kecewa pada Hans juga Richi.
Setelah setengah jam ia menunggu, akhirnya... Kania putuskan untuk keluar dari rumah sakit itu. Ia merasa bahwa ia memang tak di butuhkan oleh suaminya. Meski selama dua hari ini ia tak memperhatikan kesehatannya dengan mogok makan juga tak merawat dirinya demi terjaga dan menunggu hingga Hans kembali sadar. Tapi, apa boleh buat, meski Hans terlihat tampan saat ia terlelap.. Kania memang harus terima kenyataan pahit, jika pria tampan itu akan jadi Arogan lagi setelah dirinya sadar dari keadaan kritisnya.
"Sekarang. Apa yang harus aku lakukan?" Bisiknya seraya mengelus perutnya yang mulai terasa sangat lapar.
__ADS_1
Ia berdiri di sebrang jalan setelah keluar dari rumah sakit besar itu dan ia tak tahu harus bagai mana selanjutnya.
"Bagai mana ini... Aku tak punya uang dan perutku sangat lapar... Apa yang aku pikirkan. Setidaknya aku harus tunggu dulu hingga Richi keluar dan memberiku tumpangan atau setidaknya jika Richi tak bisa mengantarku pulang. Ia juga bisa kan memberiku selembar uang untuk naik taksi?" gumamnya kebingungan.
Akhirnya, mau tak mau... Kania harus berjalan kaki ke arah halte bus. Mungkin ia bisa dapat tumpangan gratis jika ia mau terus jalan kaki. Lama melangkah ia makin lemas dan terhenti beberapa kali... Tubuhnya mulai tak karuan karna harus menahan lapar dan juga terik matahari. Ia tak kuasa melangkah lagi hingga ia mulai terhanti di persimpangan jalan area lampu merah "Ah... Astaga... Aku pusing sekali. Juga perutku sakit melilit rasanya. Tenggorokan ku juga kering... Apakah ini pertanda bahwa aku akan mati?" tanya Kania menepis beberapa bulir keringatnya yang mulai bercucuran lebat itu.
Namun... Siapa sangka, hal tak terduga mulai menghampirinya. Sebuah mobil sport warna hitam yang mengkilat terhenti di samping Kania. Meski lampu sudah kembali hijau, tapi mobil itu tak melaju seperti mobil mobil lainnya yang berburu waktu ketika melihat lampu mulai berubah warna.
"Jangan jangan... Memang benar?" Kania mulai mundur dan menjauhi mobil itu, tapi siapa sangka mobil tersebut malah membuntuti langkah Kania yang kala itu makin cepat.
"Apa! Dia mengejarku! Ini mustahil... Mobil itu sungguh sindikat gelap... Jangan jangan dia ingin menjual organ tubuhku! Oh tidak. Ini lebih buruk dari pada tinggal dengan pria arogan yang kejam itu' Gerutu bathin Kania mengoceh tiada henti.
Saat Kania mulai lemas dan sesak napas, kakinya pun mulai tak kuasa menahan berat tubuhnya. Hingga ia pun harus oleng dan jatuh "Bruukkk!!" Kania terjatuh di trotoar jalanan berlubang. Kakinya memar dan tampak terkilir, akhirnya mobil sport hitam itu pun mulai terhenti di depan Kania dan membuka pintu dengan sangat tergesa gesa.
__ADS_1
Pentopel hitam mengkilat mulai menjulur keluar dari dalam mobil mewah itu "Siapa?" mata Kania berkaca kaca karna ia ketakutan dan kesakitan juga kelaparan dan kelelahan.
Kania tak mampu mendonggakan wajahnya karna terlalu takut. Tangannya gemetaran dan mengepal erat erat siap meninju. Namun ketika pertanyaan kelam mulai menguasai pikirannya. Suara lembut dan merdu mulai menyapa ketakutan Kania dengan begitu hangatnya.
"Apakah kamu baik baik saja?" tanya seorang pria.
Kania serasa mengingat suara yang begitu familiar di telinganya. Ia pun berusaha sekeras mungkin untuk mendongakan wajahnya ke arah pria tersebut. Pria itu menjulurkan tangannya, pandangan Kania terhalang cahaya matahari. Hingga wajah pria itu tampak begitu misterius dan gelap. Kania yang ragu ragu itu pun mulai membalas juluran tangan pria itu. Hingga pria itu pun mulai menarik Kania dan kania pun mampu berdiri kembali.
"Terimakasih..." Ucap Kania mulai menyeimbangkan tubuhnya.
"Syukurlah... Ternyata memang kau" Ucap Pria itu Kania pun mulai menoleh ke arah wajah pria itu. Dan betapa terkejutnya Kania saat mendapati pria tampan yang begitu menawan juga baik hati telah membantu dirinya untuk yang ke dua kalinya.
"Kau..." ucap Kania menunjuk pria itu...
__ADS_1