
***
Beberapa menit kemudian, Hans selesai mengganti pakaiannya...
Lalu Hans masuk ke kamar Kania. Di sana ada bi Marsih yang sedang berbenah kamar Kania, Hans lekas menyapa bi Marsih "Bi Dimana Istriku?"
Bi Marsih mulai menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke arah Hans dan menghampirinya "Ya tuan. Nona Kania sedang membersihkan dirinya di kamar mandi" Jelas Bi Marsih. Tiba tiba Hans mulai menyungingkan bibirnya.
Wah wah kesempatan bagus... Bathin Hans menggumam.
"Bi biar aku saja yang membenahi kamar istriku" Pinta Hans mulai mencari alasan.
"...Tapi tuan" bi Marsiih mulai berfkir dan akhirmya diam sebentar.
"Ada apa bi?" Hans sedikit kecewa.
"Ah tidak. Bibi harus siapkan makan siang" Ucap Bi Marsih tergesa gesa.
"...Hemmm urusan kamar ini biar aku yang urus" Lugas Hans senang.
"Baik tuan"
Bi Marsih keluar kamar Kania dan menuntup pintu kamar itu pelan. Hans duduk sebentar melihat pintu yang Bi Marsih tutup tadi lalu mulai memutar bola matanya menuju pintu kamar mandi.
"...Hemmm" Hans mulai tersenyum jahil.
__ADS_1
Ia mulai berdiri dari duduknya dan lekas melangkah menuju arah kamar mandi. Ia perhalan menempelkan tangannya di Handle lalu menekannya pelan. Tapi nampaknya Kania menguncinya dari dalam dan membuat Hans tak habid pikir.
Sial... Pintu Bathroomnya di kunci... Bathinnya menggumam Kesal.
Akhirnya mau tak mau Hans harus menunggu Kania selesai membersihkan dirinya.
"Sial..." Desis Hans mengumpat kesal.
Hans pun kembali duduk dan menunggu Kania di sana. Ia menelisik ruangan Kania yang terlihat lebih kecil dari kamarnya "Apa aku harus memindahkan kamar istriku ke kamar ku ya. Pernikahan kami sudah memasuki bulan ke dua... Kenapa aku baru sadar jika kamar istriku tidak layak begini" Gumam Hans.
Hans bicara sendiri dan mengumpat sendiri dengan beberapa pikiran kotornya tentang malam pertama nya dan istrinya. Namun semua lamunannya di buyarkan oleh suara dering ponsel yang terdengar membisingkan telingannya.
"Sial aku jadi kaget!" Umpat Hans menggumam.
Hans diam seraya memperhatikan hingga ponsel itu mati sendiri. Tapi panggilan kedua mulai kembali mengalun "Sial... siapa dia sebenarnya. Apakah dia si Wily? Apa apaan itu istriku memberi nya nama tuan baim hati.. memangnya aku pernah me jahati atau membulinya... huh sial" Hans masih mengumpat. Karna kesal dan curiga ia pun lekas meraoh ponsel itu dan menaruhnya di daun letinganya.
"..." Hans menyimak hingga orang di balik ponsel tersebut menyapanya.
"Hallo..." Sapa seorang pria di balik ponsel itu. Suara berat dan sedikit bergema itu sungguh Hans ingat. Ia sangat familiar dengan suara itu...
"Wily?'Tanya Hans merespon.
"...Hans. Mana Kania?" Tanya Wily kaget.
"Dia sedang mandi" Jawab Hans ketus.
__ADS_1
"Mandi... Lalu kenapa ponsel ini ada pada mu... Cepat berikan ponsel ini pada Kania" Pinta Wily.
"Kenapa?"
"Karana aku ingin bicara dengannya" Jawab Wily terdengar bernada tinggi.
"Bicara saja padaku nanti akan aku sampaikan" Jelas Hans.
"Tidak. Biarkan aku bicara langsung padanya" Desak Wily.
"Kenapa. Hal apa yang ingin kau sampaikan padanya hingga harus langsung ke orangnya... Apakah itu penting' Jelas Hans mulai naik pitam. Tangannya mengepal karna marah.
"Ini tentang hubungan kami... Jadi kau tak usah ikut campur... Kamu hanyalah orang luar dalam hubunga kami" Jelas Wily memperkeruh suasana.
Hans makin marah emosinya sudah mengumpul di ubun ubunnya... "Wily kita perlu bivcara. Ada yang harus aku jelaskan padamu. Tentang siapa aku dan siapa Kania... Lalu apa hubunganku dengannya... Kau ada waktu" Pinta Hans memulai peperangan.
"...Memang itu penting?" Tanya Wily.
"Tentu saja itu penting bagiku... Kau harus tahu siapa aku sebenarnya dan apa hubungan kami..." Hans mendesak kesiapan Wily.
"... Wily terdiam sesaat lalu mulai memberikan kesempatan pada Hans "Baiklah, datang lah ke Caffe Almond sore ini aku akan ada di sana..." ujar Wilt
"Kita bicara empat mata..." bals Hans.
Akhrnya... Wily dan Hans mulai sepakat, Hans yang jealos nampaknya mulai memberi sinyal bahwa ia telah melupakan Marsha dan mulai menginginkan Kania untuk tetap berada di sampingnya.
__ADS_1