Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Pernyataan Hans


__ADS_3

Deg Deg...


Deg Deg...


Bunyi jantung Hans seakan bergemuruh kala ia menatap dua bola mata Hazel milik istrinya. Tak ada ungkapan yang bisa ia utarakan, meski dari awal ia sangat ingin meminta maaf pada istrinya itu...


Ginaya masuk kamar begitu saja karna kamarnya terbuka, ia pun melambaikan tangannya yang tengah memegang sebuah bucket bunga yang baru saja ia rangkai "Kakak Aku sudah ambil bu..." Seketika, bibirnya membeku kala menatap adegan romantis itu.


Ginaya lekas menutup mulutnya rapat rapat dan langsung keluar perlahan dari kamarnya itu "Oh astaga... Kenapa aku malah masuk serampangan begitu... Padahal Kakak Kania sedang dalam suasana romantis roantisnya" Bisiknya bicara sendiri seraya beberapa kali mengintip ke kamarnya.


"Oh tuhan kapan aku bisa saling merangkul begitu dengan Richi..." Cerocosnya.


Dalam kamar...


"Ahem..." Kania mulai pura pura batuk. Hans pun mulai bergeming "Ahh... Kau baik baik saja?" Tanya Hans gagap.


"Sepertinya punggungku pegal..." Bisik Kania. Hans pun kaget dan langsung menarik Kania untuk berdiri.


"Ah.. Ah maafkan aku..." Hans pun lekas melepas kan tangannya setelah Kania berdiri tegak.


"... Kenapa kau datang kemari?" Tanya Kania kecut.


Hans napaknya salah tingkah dan wajahnya mérah pekat karna malu "A... Aku..." Hans belum bisa menjelaskan prihal ke datangannya.


"...Sepertinya, untuk saat ini... Aku tak ingin melihatmu. Sebaiknya pergilah" Pinta Kania. Hans pun tersentak atas pernyataannya itu...


"Tapi. Tapi aku, Aku kemari hanya untuk..." Hans ingin meminta maaf, tapi Kania mulai menyelotnya "...Sudahlah... Lagi pula, aku tidaklah berharga untukmu. Aku mulai sadar, sebaiknya... Aku mundur saja, dan aku akan pulang ke kampung setalah mengurus perceraianku denganmu" Cerocos Kania.

__ADS_1


Hans sangat terpukul dengan penjelasan Kania itu "Jika aku selalu memaksakan diri untuk jadi istrimu. Aku sungguh minta maaf... Dan aku akan secepatnya pergi dari hidupmu... Terimakasih untuk segalanya..." Tambah Kania seraya melangkah menjauhi Hans. Hans tampak sangat kaget atas ungkapan Kania. Hingga ia pun tertatih mematung tanpa bisa berkata apapun.


Apa? Kakak dan kak Kania akan bercerai?? Tapi apa masalahnya... Lagipula semalam kak Kania bilang, Kak Hans tidak pulang karna pergi ke luar kota untuk bisnis... Nggak, Aku nggak mau kak Kania bercerai dengan kakak... Mau bagai manapun juga. Aku terlanjur sayang pada kak Kania. Bathin Ginaya menggumam. Ginaya hendak menghadang Kania... Namun, Hans malah menarik tangan Kania dan lekas menyeretnya ke hadapannya.


"...Jangan bicara lagi!" Pinta Hans.


Kania hanya bisa membelalak dan mengelak "Lepaskan Mas. Tak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi... Semua nya sudah jelas, aku bukanlah wanita pilihanmu. Jadi biarkan aku pergi... Kamu tak perlu merasa bersalah... Karna aku sangat menghargai pilihanmu itu" Jelae Kania menarik sikutnya dari tangan Hans.


Namun Hans mulai mengambil keputusannya "Aku yang akan memutuskannya!" Bentak Hans seraya merampas pinggang Kania dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kania.


Kania hanya bisa membelakak lebar lebar ketika bibir Hans mengunci bibir Kania dengan begitu sigapnya. Hans memejamkan matanya dan terus memburu bibir Kania... Kania sangat ke sesakan dan tak bisa menghirup Oksigen.


Apa apaan ini! Apakah dia berusaha memperolok ku lagi? Tempo hari dia menciumku hanya untuk mempermalukanku...Kali ini apa maksud nya... Heh. Jangan macam macam denganku! Bathin Kania menggumam di sela sela keganasan kecupan Hans.


Ginaya yang siap menghentikan langkah Kania malah salah pokus ketika melihat kakaknya mencium Kania dengan begitu agresifnya. Wajah Ginaya seketika memerah pekat karna malu...


Jika kau ingin mempermainkanku rasakan ini! Bathin kania menggumam. Kania mulai menggigit bibir bawah Hans dengan sangat keras hingga Hans teriak ke sakitan "Aaahh!!!" Teriakan Hans membuat seisi rumah menghampiri pusat suara.


"Ahhh... Sial! Kenapa kau menggigit bibirku! Kau pikir dirimu itu se ekor ikan piranha??' Bentak Hans.


Ginaya mengintip dan tertawa diam diam "Huh! Rasakan! Siapa suruh kau terus saja mempermainkanku. Kau pikir aku ini adalah boneka mu yang bisa kau mainkan seenaknya!" Bentak Kania. Hans pun terdiam...


"Kau ini memang Gggrrggg!" Dengus kesal Hans.


"Bicaralah sesukamu... Lagi pula aku akan pergi! Jadi... Aku tak akan mengganggumu lagi" Imbuh Kania. Kania mulai membuang wajahnya dan mengabaikan Hans.


Sudah cukup Mas... Aku sudah tak mau merasa sakit lagi, aku tak ingin kedatanganku menjadi penghalang ke bahagiaanmu... Wanita yang kau cintai bukanlah aku. Dan aku tak akan bisa menggantikan posisi kekasihmu itu... Bathin Kania menggumam dalam hatinyam Meski sakit, Kania harus pergi dan membiarkan Hans memilih.

__ADS_1


"Kau pikir pilihanmu itu adalah hal terbaik untukku?" Tanya Hans dengan suara yang gemetar.


Kania pun mulai menghentikan langkahnya... Hans mendekati Kania dan mulai memeluknya dari belakang "Jangan pergi!" Ucap Hans menundukan kepalanya di pucuk kepala Kania.


"...Aku sangat menyesal telah menyakitimu... Tolong beri aku kesempatan ke dua..." Pinta Hans Kania sungguh tak paham pada apa yang Hans katakan.


"Kenapa? Kenapa kamu bicara demikian di saat aku sudah memutuskan untuk menjauhi mu Mas... Lagi pula... Aku bukanlah wanita yang mau menerima permintaan maaf atas perselingkuhan suaminya... "Balas Kania.


"Jika aku bicara kan alasannya, kau pasti tetap tak akan percaya padaku..."


"Sudah kuduga. Apakah karna Kekasihmu itu?" tanya Kania sedikit sesak. Ia menahan tangisannya yang hampir berontak keluar.


"Kania... Aku sudah lama putus dengannya... Bisakah, kita lupakan masalalu dan memulai semuanya dari awal lagi...?" tanya Hans bersikeras.


"...Apa maksudmu Mas..." Tanya Kania sedikit gemetaran.


"Karna aku mulai menyukaimu. Dan aku akan berusaha menjadikanmu ratu, bahkan wanita satu satunya dalam hidupku..." Ucap Hans.


Kania terbelalak mendengar ungkapan itu, entah kenapa... Sesaat Kania sangat senang namun ia juga terluka atas perlakuan Hans yang selalu saja menindadasnya bahkan tak adil padanya.


"Aku serius Kania... Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh. Tapi, kedekatanmu dengan pria lain membuatku sangat kesal... Aku benci pada pria yang selalu membantumu itu. Aku bahkan kehilangan titik pokusku dalam segala hal... Sebab Kamu selalu meracuni pikiranku. Mulai hari ini, aku tak akan pegi meninggalkanmu lagi... Aku janji... Kau sangat berharga untukku... Kania, berilah aku waktu untuk bisa mencintaimu lebih dalam lagi. Aku janji aku tak akan melakukan hal yang sama untuk ke dua kalinya... Apa lagi itu akan menyakitimu" Jelas Hans panjang lebar.


Kania hanya bisa diam dan tak menjawab apapun...


Richi, tuan Angga dan Ginaya ada di luar kamar dan mendengarkan apa yang Hans utarakan itu...


"Aku mencintaimu... Kania"

__ADS_1


__ADS_2