
***
Setelah keluar dari Hotel Willy, Hans terlihat gelagapan mencari Kania. Beberapa jam berlalu, tapi ia tak menemukannya di manapun... Hans terus saja mencari tanpa henti perihal keberadaan istrinya.
"Tuan... Bagai mana ini? Kita tak menemukan nona Kania di manapun?" Panik Richi menghentikan laju mobilnya.
"Jalan saja terus... Nanti juga kita akan menemukannya!" bentak Hans sudah tampak Flustrasi...
"Bagai mana jika nona Kania ada di kediaman tuang Besar" Tanya Richi. Hans mulai teringat sesuatu, hanya tempat itu yang belum Hans datangi...
"Baiklah... Kita pergi ke sana saja" Jelas Hans. Richi pun tancap gas ke area tersebut.
Beberapa jam kemudian...
Hans sampai di kediaman tuan Angga, Mobil Richi mulai masuk gerbang pembatas kediaman itu yang tinggi menjulang bah tiada celah...
"Tuan pelan pelan" Pinta Richi yang belum memarkirkan mobilnya. Tapi Hans tak sabaran dan mulai turun begitu saja lalu berlari menuju front pintu kediaman itu.
Dok! Dok! Dok!
Hans sangat panik hingga ia mengetuk pintu itu begitu keras. Tak lama, seseorang membuka pintu "Ah tuan muda..." Ucap sang pelayan kediaman itu yang bernama Bi rasih.
"Bi... Apakah ayahku ada di dalam?" Tanya Hans tak bisa menahan dirinya untuk tak meraksak masuk ke dalam.
"Oh. Ia silahkan masuk" Balas Bi Rasih Hans pun lekas masuk dan mengabaikan bi Rasih.
"Ayah..." Seru Hans seraya netranya celingukan menatap kanan kiri. Nampaknya ia mencari sesuatu "Tuan muda... Tuan besar ada di ruang baca" Jelas Bi Rasih.
Hans pun mulai pergi ke arah di mana Bi Rasih memberi tahukannya... Namun saat Hans hendak menuju ke ruangan ayahnya. Ayahnya pun melangkah ke arah di mana Hans datang "Nak..." Seru tuan Agga.
__ADS_1
Hans menoleh "Ayah..." Hans lekas menghentikan langkahnya.
"Sedang apa kau disini? Bukannya kamu pergi ke luar kota?" Tanya Sang ayah bicara demikian. Hans pun sedikit membelalak luar kota? Siapa yang bilang aku pergi kesana? Apakah Richi yang memberi alasan itu" Bathib Hans menggumam.
"Hans... Kau baik baik saja kan?" Tanya sang ayah seraya melangkah menghampirinya.
"Ah... Itu, aku mengencel kunjunganku... Karna ada hal yang sedang aku cari" Hans mencari alasan.
"...Kenapa kau mengencel kunjunganmu yang penting itu... Ayo kita bicara di ruang tengah. Bi Rasih akan membuatkan mu teh untuk menenangkan suasana hatimu..." Pinta sang ayah.
Hans pun mulai tunduk pada sang ayah. Padahal netranya sedang jelalatan mencari sekeliling, ia berharap sosok Kania ada di kediaman itu.
Ruang tengah...
"Ayo di minum" Pinta sang ayah seraya meraih gelas yang di sodorkan Bi Rasih. Hans pun mengangguk "...Ayah ada hal yang ingin aku tanyakan... Apakah, apakah istriku datang kemari?" tanya Hans langsung ke intinya.
Sang ayah mulai menaruh gelasnya dan menatap mata Hans seksama "...Apakah kalian bertengkar?" tanya sang ayah menatap tajam anaknya.
"Ya. Semalam dia datang dengan wajah yang pucat. Nanarnya semambab seperti nya dia tengah menangis dalam waktu yang cukup lama..."Jawab sang ayah. Hans pun berdiri seketika itu "Apakah dia baik baik saja" Tanya Hans sedikit membentak.
"Diam lah dulu... Ayah belum selesai bicara denganmu" Pinta sang ayah.
"Tapi aku sungguh ingin bertemu dengannya... Aku ingin meminta maaf padanya" Jelas Hans.
"Kau sungguh payah. Istrimu bahkan tak bicara apapun padaku... Malah dia bilang, kau sedang pergi ke luar kota, hingga ia ingin menginap di sini... Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mu Hans. Ayah sungguh tak paham pada pendirian mu yang plin plan itu" Bentak sang ayah.
Hans mulai diam Kenapa Kania tidak menjelekan kelakuan ku pada ayahku. Dia malah menutupi segala kesalahanku... Apa yang ada di pikirannya? Bathin Hans menggumam.
"Hans... Ayah hanya bisa berpesan padamu... Jagalah istrimu, karna dia adalah wanita yang sangat baik... Kelak dialah pengganti ibumu, ia akan menjadi istri sekaligus ibu dari anak anakmu..." Jelas sang ayah. Mendengar nasihat sang ayah, Hans hanya bisa malu sendiri. Hans terpatung dengan wajah di tekuk karna amat malu pada kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Jika kau ingin bertemu istrimu... Pergilah ke kamar Ginaya. Dia ada di sana" Jelas Sang ayah. Hans mulai sedikit lega dan ia pun mulai memutar langkah dan lari ke arah di mana sang ayah memberitahukannya.
Hans berlari kencang ke arah kamar Ginaya... Ia tak perduli jika harus lari tergesa bahkan jatuh. Hatinya sedang rindu dan sangat ingin menemukan tambatan hatiny.
Hosh Hosh Hosh Napas Hans mulai sesak, langkahnya terhenti di depan kamar Ginaya... Hans perlahan menyentuh Handle kamar itu dengan sangat gemetaran. Ia sungguh tak bisa mengendalikan hatinya saat ini yang amat bergejolak dan berdebar debar. Bahkan ia tak tahu harus bicara apa dan memulai percakapannya dari mana dulu..
Klek...
Pintu terbuka perlahan, Sinar yang begitu terang di kamar Ginaya membuat pupil mata Hans sedikit melebar "Gi...." Seketika Hans terbelalak dengan bibir gemetar.
Ketika pintu itu di buka, netra Hans di suguhkan sebuah pemandangan yang sungguh mendebarkan. Nampak seorang wanita telah berias dengan indahnya. Gaun putih yang tergerai hingga laintai sungguh tampak gemerlap... Hans seperti menatap seorang bidadari berjubah pengantin.
"Ginaya... Cepat selesaikan riasan ini... Aku sungguh tak biasa" Ucap Kania membelakangi pintu yang Hans buka.
"Lagi pula aku tak bisa meraih rel sletingnya... Bisakah kamu menaikannya. Punggungku terasa dingin nih" Pinta Kania. Hans pun menelan salivanya sendiri seketika itu. Hans sungguh tergoda kala menatap punggung Kania yang mulus tanpa cacat. Ia bahkan tak bisa berkutik,
"Cepatlah Ginaya..." Pinta Kania. Mungkin Kania pikir yang baru saja masuk itu adalah Ginaya yang keluar untuk mengambil bunga hidup di taman belakang rumahnya.
Hans menghampiri Kania dan perlahan menapakkan tangannya di bahu mungil Kania "Cepatlah Ginaya... aku sudah merasa tidak nyaman dengan pakaian ini. Setalah riasannya selesai aku akan kembali mengenakan dress" Cerocos Kania.
Hans mulai menarik rel sleting Kania dan mulai menunduk di belakang Kania. Perasaan yang selalu datang memburu napas nya itu sangatlah menganggunya.
"Trimakasih Ginaya..." Ucap Kania seraya berbalik perlahan untuk menyelesaikan riasannya.
Namun saat Kania menatap seseorang di belakangnya, Kania sungguh terkejut hingga mundur beberapa langkah ke belakang dan mulai menginjak gaunnya sendiri hingga hampir jauh dengan posisi terlentang.
Hans lekas meraih pinggang Kania dan menahannya. Kania sungguh terbelalak tak karuan. Hans dan Kania saling bertatapan satu sama lain. Posisi nya sungguh indah seperti adegan dansa terakhir, di mana Kania di dekap hangat oleh Hans saat itu.
Dug Dug... Jantung Hans sungguh berdetak kencang kala tatapan Kania tertuju padanya.
__ADS_1
Perasaan ini... Kenapa perasaan ini sangat lah tak nyaman... Sebelumnya, jantungku tak pernah berdetak kencang untuk siapapun. Tapi kenapa hanya karna wanita ini... Aku harus gelagapan menahan perasaan yang merepotkan ini. Bathin Hans menggumam.