Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Di perlakukan tak adil


__ADS_3

***


Kania dan Richi sampai dengan cepat ke area kediaman Hans. Meski kini hidup Kania tampak beruntung, namun tidak seperti kelihatannya. Kania yang dulu tinggal di pedesaan kumuh dengan rumah petak yang kecil itu, kini malah menempati sebuah istana megah yang amat mewah.


Segala sarana dan prasarana ada di kediaman Hans. Jejeran mobil-mobil mahal berharga selangit yang mengisi bagasi megah di lantai bawah. Landasan jet pribadi di lantai teratas kediaman yang berlantai lima tersebut. Juga Lapangan Golp dan Teater pribadi menghiasi seluk beluk istana megah tersebut. Tapi... Bagi Kania apalah artinya semua itu, jika ternyata bukan kemewahanlah yang kania inginkan dari sang suami.


"Nona. Silahkan masuk..." Pinta Richi membukakan pintu mobil Kania. Kania hanya bisa menekuk wajahnya layu. Richi bahkan tak tega menatap gadis yang ketika di desa begitu periang itu, bahkan seketika berubah muram dan tanpa cahaya.


"Nona... silahkan, Anda sudah di tunggu di dalam" ulang kata-kata Richi. Sesaat termenung, Kania pun mulai berusaha mengangkat wajahnya dan menepis air di pelipisnya yang bercucuran bah hujan musim semi.


"Nona?" tanya Richi.


"Aku... Baik-baik saja" Balas Kania dengan suara parau.


Meski terasa berat, namun rupanya Kania amat sangat berusaha. Ia melangkah pelan menuju halaman rumah Hans. Richi menutup mobil itu, lalu menuntun Kania menuju rumah Mewah bah istana itu. Saat mereka hendak tiba di front kediaman Hans. Kania di buat kaget oleh jajaran para pelayan yang saat itu berpakaian seragam atasan putih dengan rompi hitam, dan rok mini hitam senada dengan seragam yang mereka gunakan.


Para pelayan yang saat itu menyambut Kania berjejer rapi dengan kepala yang menunduk ke bawah seakan patuh.


Astaga. Apa ini? Baru kali ini aku melihat sendiri para pelayan begini banyaknya seperti di pilem-pilem sinetron. Bathin Kania menggumam.


Richi menepuk pundak Kania saat itu "Pluk!" Kania menoleh ke arah Richi "Tuan Richi... apakah mereka sengaja berjejer seperti itu?" tanya Kania polos menatap Richi penuh harapan. Richi tersenyum "Ya. Mereka sedang menunggu kedatangan anda dan tuan muda" jelas Richi. Kania baru paham dan mengangguk diam.


"Oh ia nona. Tolong jangan panggil aku tuan... panggil saja aku Richi" pinta Richi. Kania pun membelalakan matanya.


"Lho. Kenapa?" Polosnya Kania.


"Karna kata-kata itu tidak nyaman bagiku. Aku hanya seorang pelayan sama seperti mereka" Jelas Richi. Kania sesaat mulai mencercidkan Alisnya.


Rumah ini memang aneh... Rumah sebesar ini, kenapa hanya di tempati orang itu saja dengan begitu banyak pelayan. Jika aku membawa semua tetangga ku di kampung. Pasti mereka akan bahagia dan nggak usah ngontrak rumah. Bathin Kania.


"Nona ayo. Teruskan langkah anda..." jelas Richi. Kania mulai mengangguk "Baiklah..." Kania dan Richi masih melangkah di teras rumah dan hendak masuk ke dalam istana itu. Lalu kemudian Hans tiba setelah melewati halaman rumah yang cukup jauh untuk menuju ke kediamannya.


"Stop! Berhenti di sini" pinta Hans pada supirnya.


"Baik tuan..." balas sang supir.


"Lho. kok di sini sih sayang, halaman rumahmu kan ada di sana" tunjuk Marsha ke arah kiri.


"Tunggulah di sini hingga aku menghubungimu. Ada urusan yang cukup urgent di dalam" Jelas Hans. Marsha cukup kaget ketika Hans bicara demikian. Hans seakan membuat Marsha curiga "Urgent? Urusan tentang apa itu?" tanya Marsha menatap Hans yang hendak turun.


"Nanti saja aku jelaskan" Ucap Hans seraya keluar dari mobil setelah pintu mobil itu di buka sang supir.


"Tapi..." marsha sungguh tak yakin pada Hans hingga tak ingin melepasnya pergi seorang diri tanpa nya.


"Ku bilang hanya sebentar, tunggulah di sini" Ulang Hans cukup murka dengan tatapan tajamnya.


Gluk! Susah payah Marsha menelan salivanya sendiri.


"Baiklah..." lenguh Marsha tak punya pilihan.

__ADS_1


"Anak baik..." Puji Hans seraya pergi.


Rupa-rupanya, dalam hati Hans masih ada unek-unek untuk Kania. Ia ingin sekali melabrak Kania dan meminta penjelasannya terkait kedatangan Willy kekediamannya.


"Richi!" Seru Hans di kejauhan. Richi dan Kania pun lekas menoleh ke arah Hans yang melangkah begitu cepat seakan berlari.


"Tuan muda..." Lenguh Richi menatap Hans intrents.


"Richi, bawa wanita ini ke kantorku" pinta Hans melangkah begitu saja di hadapan Kania tanpa menatap wajahnya.


"Baik tuan..." balas Richi was-was.


"Maksudnya aku?" tanya Kania ke arah Richi seraya menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya. Anda di suruh pergi ke kantor pribadi tuan Hans" Jelas Richi.


"Aku nggak mau. Pria itu galak dan jahat... Masa istrinya sendiri di tinggalkan di jalanan dan hampir mati" jelas Kania dengan bibir mengerucut dan pipi yang mengambung. Richi pun terhenyat "Maafkan saya nona... Tapi sekarang, saya akan siap membantu anda" jelas Richi menekan tangannya di jidaknya seakan sedang hormat.


"Apaan sih..." Kania lekas tertawa dan menepuk tangan Richi untuk menurunkannya.


Kania dan Richi pun mulai melangkah ke arah kantor pribadi Hans. Beberapa saat melangkah melewati jejeran berang-barang mewah dan ruangan-ruangan megah. Kania mulai sampai di sebuah ruangan yang cukup hening dan bersih. Pintu kamar tersebut setinggi langit, berkisaran tiga atau empat meteran "Itu apa? kenapa pintu bisa se tinggi ini?" Tanya Kania polos.


Richi lagi-lagi tersenyum "Masuklah. Tuan Hans sudah menunggu anda di dalam" Jelas Richi. Tapi kania malah menggelengkan kepalanya "Tidak mau..." Ucap kania.


"Masuklah... anda akan baik-baik saja" jelas Richi. Dengan raut sayu, Kania pun memaksa kan kakinya untuk melangkah kedalam sana.


Klek! pintu di buka.


Hans tertatih di depan jendela bertiraikan kelambu putih, Hans tampak memperhatikan sesuatu di sana. Ia melipat tangannya di belakang dan menatap kaca di depannya. Mungkin ia sendang memperhatikan kekasihnya.


Kania yang merasa di abaikan itu pun mulai menyeru "Mas..." seru kania. Hans mulai bergeming, ia mendelik ke arah Kania pelan.


"Duduklah..." Pinta Hans tanpa mengalihkan pandangannya.


Pria ini sok ganteng banget. Dia bahkan tak mau menatapku. Dasar arogan. Bathin Kania.


Kania mulai duduk di meja kerja Hans yang empuk dan bersih.


"Mas. Kenapa kamu menyuruhku kemari?" tanya Kania memulai percakapan.


"Jangan panggil aku mas! Kamu pikir aku ini ikan apa?" marah Hans menoleh dan melangkah ke arah Kania. Kini mereka berhadapan ketika bicara, tapi Hans belum terlihat duduk di depan Kania.


"Lho. Lalu aku harus memanggil apa dong?" Tanya Kania bingung.


"Panggil aku tuan..." jelas Hans mantap. Kania malah mencercidkan alisnya tampak bingung.


"Lho. Kok tuan, bukannya Mas adalah suamiku?" Tanya Kania polos.


"Heh. Suami kamu bilang? Suami itu jika kita saling mencintai dan memadu kasih... Bagiku kamu saat ini adalah seorang wanita yang tak ada harganya di mataku..." Cercahan itu begitu menyiksa ketika mendarat di telinga Kania dan menusuk jantungnya perlahan hingga terasa sesak di dadanya.

__ADS_1


"Kenapa mas bicara begitu? Bukankah mas sendiri yang memaksa untuk menikahi ku seminggu yang lalu...?" tanya Kania menahan tetesan basah di wajahnya.


"Itu dulu. Sudahlah, jangan di bahas lagi. Mengingat kematian ibuku setelah beberapa hari pernikahan itu membuatku makin jijik padamu" Cercah Hans menambah luka di hati Kania. Kania sungguh tak bisa menahan emosinya saat ini "Menyebalkan! lantas kenapa kamu tak menceraikan aku saja Mas? Aku rela jika harus menjanda setelah kita menikah seminggu..." jelas Kania menatang Hans. Tapi aneh, Hans melah terkekeh mendengar ocehan Kania itu. Ia malah makin murka pada Kania.


"Menceraikan?" tanya Hans dengan sebuah tawa.


"Ya. Sekarang ceraikan saja aku, jika dalam hubungan kita tak akan pernah terjadi sebuah ikatan asmara untuk apa di teruskan!!"Pinta Kania terlanjur pecah dalam tangisan. Apa boleh buat, sebesar apapun Kania menahan kesedihan, tetap saja kalap ketika ia mendapatkan sebuah cemoohan dari suaminya sendiri.


"Tidak bisa... Lebih baik, kamu bekerja saja padaku" jelas Hans mengeluarkan selebaran kertas bertuliskan Nikah kontrak.


"Nikah kontrak, apa ini?" Tanya Kania menatap Hans gemas.


"Tanda tangani sajalah... Nanti kamu juga paham" Jelas Hans. Kania amat murka "Kenapa kamu melakukan semua ini? aku menikahimu karna ikhlas..." jelas Kania.


"Tidak usah basa basi lagi. Cepat tanda tangan..." Tegas Hans.


"Tidak mau... ini sama sekali membohongi diri sendiri dan orang tuaku" Kania tetap angkuh pada pendiriaannya.


"Jika orang tuamu tahu bahwa aku menceraikanmu. Apakah kamu yakin, jika mereka akan baik-baik saja? Aku pikir... Bagai mana ayahmu bisa hidup? Bukankah selama ini dia selalu sakit-sakitan?" tanya Hans panjang lebar. Kania mulai terhenyuh...


"Tandatanganilah itu... Hingga biaya orang tuamu aku yang urus" Lugas Hans. Tangan Kania bergetar di bawah bangku kerja Hans.


Hans melempat bolpoint ke depan Kania "Cepatlah... aku tak punya banyak waktu untukmu" cemooh Hans.


Gluk!


Kania mulai menggerakan jemarinya.


Kania mulai meraih bolpoint dan memegangnya gemetaran. Ia mulai menulis dan menandatangani sesuai harapan Hans.


"Bagus. Jika masalah uang saja... Wanita memang selalu sensitif. Jadi... sudah jelas sekarang. Kamu menikahiku karna Harta bukan?" cemooh hans lagi.


Kania tak bisa membalas cercahan dan hinaan suaminya. Ia hanya bisa bungkam dengan hati terasa tercabik-cabik "Silahkan keluar sekarang. Karna aku masih banyak urusan...'' Pinta Hans mengarahkan tangannya ke pintu di depan Kania.


Kania bangun dari duduknya dan lekas melangkah keluar pintu. Langkah lemas terlihat amat jelas dari gerakannya yang bergetar tak bersemangat itu. Hans terlihat bahagia setelah memperlakukan kania secara tidak adil. Ketika Langkah Kania hendak menyentuh Hendle di depannya. Hans malah menyeru gadis lesu itu.


"Berhenti!" Pekiknya. Kania lekas tertatih bah patung seketika itu.


"Tunggu, aku hampir lupa sesuatu..." tambah Hans seraya melangkah mendekati gadis itu.


Kania tetap pada posisinya, ia nggan membalikan punggungnya karna malas bertatapan dengan suaminya.


Hans ada di belakang Kania "Kenapa kau tidak menoleh? padahal aku sudah menyerumu" Ucap Hans dengan nada tinggi.


Kania malas dan enggan menoleh "Untuk apa? hari ini sudah cukup hinaan dan sindiran untukku..." Imbuh Kania. Hans terkekeh mendengar ungkapan Kania yang terasa menyindirnya.


"Ha ha ha" tawa Hans. Kania mulai menoleh ke arah Hans tajam.


"Kamu pikir ini lucu? apa arti pernikahan di matamu sebenarnya?" Tanya Kania dengan intonasi yang tinggi menatap Hans mantap. Hans tampak tersulut emosi.

__ADS_1


"Kau! beraninya membentakku! Kau pikir siapa dirimu! Dasar Ja.lang" teriak Hans melempar tangannya ke arah kania berusaha memukul.


Bersambung...


__ADS_2