Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Kritis 2


__ADS_3

Richi sampai di kediaman Hans. Ia lari tergesa gesa menuju rumah "Bi Marsih!! Bi Marsih!!" teriak Richi kelimpungan.


"Ya ada apa Richi. Kenapa kamu begitu panik?" tanya Bi Marsih sigap.


"Nona Kania. Apakah nona Kania sudah pulang?" tanya Richi panik.


"...Nona Kania? Apakah maksudmu nona Kania hilang?" Bi Marsih tidak menjawab malah balik bertanya pada Richi.


"Sial. Belarti nona Kania belum pulang?" tanya Richi makin gerah dan ketakutan.


"Sejak nona Kania pergi denganmu. Dia tak kembali sendirian... Belarti dia belum pulang" Jelas Bi Marsih.


'Astaga... Sungguh ini kacau!!" Panik Richi kembali keluar dan kembali masuk garasi lalu mengeluarkan mobil dan tancap Gas untuk mencari Kania yang di bawa pergi oleh Wily entah kemana.


***


"Bolehkan aku... Menjenguknya?" Tanya Hans izin pada sang dokter. Dokter yang selesai memeriksa ke adaan Marsha pun mulai mengangguk.


"Ya silahkan. Tapi jangan panik...usus buntu tidaklah terlalu mengkhawatirkan. Setelah radang ususnya di angkat. Nona Marsha akan kembali baik baik saja..." jelas Sang dokter menepuk pundak Hans untuk membesarkan hatinya. Hans pun mulai lega...


Ia masuk ke ruangan Marsha perlahan, lalu duduk di kursi samping ranjangnya. Perlahan ia meraih tangan Marsha dan mencengkramnya lembut. Nanarnya berubah seketika itu, Ia sungguh khawatir kala menyasikan tubuh Marsha tergeletak begitu pucat dan mengenaskan.


"Cepatlah sembuh... Maafkan aku karna aku tak bisa selalu menemanimu. Karna saat ini, di hatiku sudah mulai terisi oleh orang lain... Jadi, jaga dirimu dengan baik..." Bisik Hans. Meski berkata demikian, Kesadaran Marsha belumlah kembali dan ia tetap saja diam.


Hans seharusnya tak duduk di sana dan kembali untuk menunggu ke sadaran Marsha. Bahkan Hans tak tahu jika Kania hilang di bawa oleh Wily entah kemana.

__ADS_1


Jika Richi tak menemukannya... Maka Hans pasti akan marah besar. Hans mulai meraih ponselnya dan menatap jam di sana "Sudah tengah malam? Kenapa Richi belum mengabariku?" tanya Hans risih.


Ia mulai menekan nomor Richi dan menelponnya "Richi kau di mana?" tanya Hans jutek.


"...Ah tuan. Ah ini... Aku sedang di jalan" Jawab Richi terbata bata. Hans curiga...


"Di jalan? Kenapa? Apakah Kania ada di sana?" Tanya Hans singkat.


"...Ah. Eh... Itu... Sebenarnya?" Richi bingung harus jawab apa.


"Cepatlah pulang. Jangan bawa dia jalan jalan dulu... Biarkan dia tidur di rumah. Jika dia terus keluyuran malam... Bisa bisa nanti dia sakit karna masuk angin" cerocos Hans.


Richi sungguh bingung mau jawab apa "Tapi. Nona Kania sedang tidur. Dan jalanan macet... Maaf tuan. Lampu hijau mulai menyala dan aku harus mengendarai mobilku..."


"Baiklah aku akan menutupnya. Jaga istriku dengan baik..." Jelas Hans.


Tangan Marsha mulai bergerak, hans merasakannya dan mulai menyerunya "Marsha... Kau baik baik saja?" tanya Hans senang. Kelopak mata Marsha perlahan terbuka sedikit demi sedikit.


"Apakah ada yang sakit?" tanya Hans sigap.


"...Eh' Bisik Marsha membelalakan matanya dan mendelik pelan ke arah Hans. Di lihat dari ekor mata Marsha, bahwa Hans ada di sampingnya hingga membuatnya terpekik bahagia "Hans... Sayang" Marsha mulai manarik tubuh Hans dan memeluknya erat "Sayang..."


Hans sedikit tersinggung dan mulai mundur, entah kenapa kata Sayang dari Marsha seakana di tolak mentah mentah oleh Hans.


"Tunggu Marsha... Jangan begini" Hans menghindar.

__ADS_1


Marsha tercengang "Marsha? Apa itu? Kenapa kamu memanggil nama ku sayang? Selama ini aku tak pernah mendengar mu menyahutku dengan nama itu" Marsha tak senang.


Hans diam "...Ia membuang wajahnya.


"Tidurlah. Ini sudah malam..." Ucap Hans segan.


"Tidur? Apakah kamu sudah jijik melihat wajahku hingga aku harus tidur lagi? Padahal aku masih ingin melihat wajahmu" Jelas Marsha tak terima.


Hans menoleh ke arahnya "Hentikan Marsha. Kau tak mau menyakitimu... Bahkan kamu tahu sendiri bahwa saat ini aku telah beristri kan?" tanya Hans menolak perlakuan Marsha yang begitu intim padanya.


"...Beristri? Tidak... Aku sama sekali tak bisa merelakan mu pada wanita itu. Bukankah selama ini kamu memperlakukannya seperti pembantu. Sebaiknya kita perbaiki saja hubungan kita sayang. Aku tak bisa hidup tanpamu!!" Pekik Marsha kembali memeluk Hans.


"Tolong jangan begini..." Hans menghindar dari pelukan Marsha. Bberapa detik kemudian Tubuh Marsha bergelinjat dan terpekik "Aahhh sakit!!" Marsha melepaskan pelukannya seketika itu. Hans cemas "Kenapa? Mana yang sakit..." Panik Hans.


"Saki- Kitt..." Bisik Marsha meremas perutnya lalu pingsan.


Hans lekas menelpon dokter hingga Marsha di periksaa dokter kembali. Hans keluar kamar Marsha dengan Wajah yang sangat buruk "Oooh tuhan... Ini pasti adalah hukuman untukku!!" Hans tampak flustrasi hingga menekan kepalanya dan memijat mijatnya.


"Marsha bahkan berkata demikian setelah membuangku tempo hari. Sedangkan... Hatiku kini mulai berpaling pada istriku... Apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh merasa ter kutuk..." Cerocos Hans.


Dokter mulai keluar ruangan Marsha "Tuan Hans. Mari bicara" pinta sang dokter.


"Ya dok... ' Hans merasa ada hal yang tak beres ketika melihat wajah sang dokter yang di tekuk begitu.


"Oprasi nona Marsha akan di lakukan lebih awal dari tanggal yang telah di tentukan. Nampaknya radanya mulai menyebar dan itu bisa sangat membahayakan"Jelas sang dokter. Hans kembali menandatangani pernayataan dokter, Dan oprasi di lakukan besok pagi.

__ADS_1


Hans yang berencana pulang malam itu pun terpaksa kembali menemani Marsha. Hingga Marsha selesai melewati masa kritisnya di ruang oprasi.


Sedangkan hingga pagi menjelangpun Richi tak bisa menemukan Kania...


__ADS_2