Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Mi instans


__ADS_3

"5 juta perhari?" tanya Kania menoleh ke arah Hans.


Mendapat tatapan Kania yang begitu lurus padanya seakan penuh harap, entah kenapa membuat jantung Hans berdegup kencang...


"Kamu tidak bercanda kan? Jika ini hanya ke isenganmu... Sebaiknya aku pergi" Kania membuang wajahnya karna tak ada jawaban yang pasti. Hans panik dan langsung berdiri menghampiri Kania dan menghalang jalannya.


"Jangan pergi... Bisnis kita kan baru di mulai. Ayo duduk dan bicara dengan kapala dingin" Pinta Hans membujuk istriny.


Kania menatap tajam netra Hans tampak waspada Jangan tertipu Kania... Dia pasti sedang merencanakan hal buruk untukmu. Ingat, beberapa hari yang lalu... Dia bahkan mempermalukan mu di depan umum. Kamu di ceburkan dan di suruh memungut uang yang ia sebarkan di kolam... Nurani kania menggumam demikian. Hans tak nyaman pada tatapan Kania yang begitu menusuk "Hei apa masalahmu. Jangan melotot padaku... Aku jadi takut nih" Umpat Hans menundukan atensinya ragu ragu.


"...Aku hanya berfikir sedikit... Nanti saja bicaranya. Aku mau makan... Perutku keroncongan" Kania mulai menyalip Hans dan mengacuhkannya. Hans merasa di abaikan dan sangat tak puas...


"Apa yang harus ku lakukan agar dia bisa tersenyum bodoh seperti saat kami bertemu di desa... Oh Hans, kamu pasti sudah gila..."Hans uring uringan meremas rambutnya yang sudah ia rapikan.


"Tuan. Apakah anda butuh bantuan?" Tanya Richi...


"...Aaaggggg! Berhenti bertanya. Ini membuatku gila...!!" Teriak Hans mengabaikan Richi dan langsung mengikuti langkah Kania yang masuk area dapur.


"Ada apa dengannya. Tak biasanya dia sters begitu... Padahal kan urusan kantor lancar jaya. Bahkan ia mendapat tender yang menguntungkan akhir akhir ini" Bingung Richi seraya menekan kepalanya.


***


Aroma mie instan yang Kania masak rupanya menggoda selera seseorang. Ya itu adalah Hans...


"Bau apa ini. Aroma nya terasa enak..." Bisik Hans seraya menghampiri meja makan. Di lihatnya Kania telah melahap mie instan panas itu sendirian. Cara makan Kania menggoda napsu makan Hans... Ia pun menghampiri kania dan duduk di depannya.


Kania menatap Hans dan mengacuhkannya... Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa pria ini terus mengikutiku... Aku merasa sebal padanya akhir akhir ini. Tapi kenapa juga akhir akhir ini dia selalu saja mengikutiku tanpa adanya rasa bersalah. Pria macam apa dia... Menyabalkan. Umpat Kania kesal.


"Ahem..." Hans mengerang seakan meninta perhatian Kania.


"Bisakah kita bicara?" pinta Hans.


"Tak ada hal yang bisa di bicarakan di meja makan..." Balas Kania ketus.

__ADS_1


"...Kamu benar..." Hans mulai diam. Ia menatap Kania dan area samping kanan dan kiri Kania... Tatapannya berhenti di sebuah kantung kotak kecil di sebelah kiri kania.


Tanpa ragu Hans pun bertanya "Apa itu?" Tanya Nya.


"...Kotak kantung kecil" ketus Kania.


"Oh apa isinya..." Tambah Hans penasaran dan ingin meraihnya.


"Entahlah... Sejak aku menerimanya aku tak tahu apa isi di dalamnya" Jawab Kania masih kecut.


"...Memang dari siapa? Hingga kamu tak ada waktu untuk membuka kotak itu?" Pertanyaan Hans membuat Kania tersinggung.


"Bukan urusanmu..." Balas Kania acuh... Ia bahkan membalas Hans dengan terus makan Mie instan yang ia buat tadi.


"...Apakah dari seorang pria?" Tanya Hans lagi. Ia sungguh penasaran dan tak pernah puas pada jawaban yang Kania berikan.


"...ini dari..." Kania tak sempat melanjutkan jawabannya. Ponsel pun mulai berdering...


"Kenapa dia jadi galak begitu..." Umpat Hans kesal... Kania mengangkat ponselnya cukup lama dan entah ngobrol dengan siapa. Hingga Hans yang sedang menunggunya pun bosan dan meraih mangkuk makan Kania yang berisikan mie hangat sisa kania...


"Apa perutku tak akan sakit jika makan masakan wanita itu?" gumamnya ragu. Tapi entah kenapa dia tak merasa jijik meski itu bekas sendok dan mangkuk Kania. Ia pun menyingkup mie itu lalu mencicipnya..


Sruuupppttt... Mie itu masuk mulut Hans tapi Hans terbelalak... "Padahal cuma Mie. Kenapa rasanya lebih nikmat di banding pasta..." Bisiknya seraya terus makan dan menyisakan bumbu kuahnya saja...


"Baru kali ini aku makan mie yang seenak ini..."Bisinya lagi seraya mengangkat mangkuk itu lalu meneguk kuah mie tersebut hingga kering tak bersisa...


"...Haus..." Hans usai melahap mie Kania dan membuatnya dahaga.


Tapi... Sebelum ia meraih gelas di depannya. Ia terlebih dulu tergoda oleh kotak kecil di samping meja kania dan meraihnya lalu membukanya.


"...Apa ini?" Tanya Hans...


Hans mulai membuka kotak itu dan lekas menarik isi di dalamnya. Hans terkejut ketika melihat kotak merah berbentuk hati di dalam kantung kecil tadi.

__ADS_1


"...Siapa yang memberikan ini padanya" gema suara Hans mulai berubah dan mengeram marah.


Tangannya gemetaran dan ia pun memaksakan diri untuk membukanya. Ketika kotak hati itu terbuka... Netra Hans terbelalak seketika itu. Di lihatnya sebuah kalung cantik berbandul batu indah berlian 24karat terpampang jelas seakan meninju pandangannya.


Tangan Hans kian gemetar dan darahnya mulai mendidih hingga ke kepalanya. Di tambah lagi irama jantung yang berdetak lebih cepat bah genderang perang.


"Siapa yang memberikan ini..." Bisik Hans meremas tangannya erat. Ia amat marah dan tak terima jika ada pria lain yang menggoda istrinya.


"Pasti ada selembar memo di dalam kotak itu..." Hans meraih kotak itu dan menyoyak isinya. Saat ia temukan kertas kecil ia pun tak luput lalu membacanya singkat.


Kania.. Maaf jika hari ini ada insident. Sebagai permintaan maaf... Ku harap hadiah ini akan membuatmu suka. Aku akan menghubungimu saat aku kembali ke kantorku... Aku sungguh senang hari ini... Terimakasih. Wilyem...


"Wilyem... Si rambut kuning kotoran itu!!!' Amuk Hans. Hans meremas memo itu lalu masukan sendok bekas makan Kania ke dalam kotak itu dan mengganti memo yang Wily berikan menjadi tulisan tangan Hans sendiri.


"Wily... Aku tahu dia pasti akan balas dendam padaku. Tapi jika dia berani memanfaatkan istriku hanya demi balas dendam padaku. Lihat saja... Akan ku buat perhitungan dengannya. Bathin Hans menggumam...


"Ya tuan Willy..." Kania menghampiri mejanya.


"...Ya saya akan membukanya. Terima kasih atas hadiahnya... Padahal anda tidak usah repot repot seperti itu. Saya doakan semoga anda lekas sehat ya..."Kania mulai meraih kantung kecil itu seraya menempelkan ponsel nya di telinga.


"...Hahahahaha baik jangan khawatir aku pasti akan menyukainya... Terimakasih tuan" Kania mulai marogoh isi kotak itu dan ia pun mendapatkan sebuah benda yang cukup dingin. Saat ia mengangkat barang itu dari kotak... Netranya langsung melotot ke arah hadiah dari Wily.


"Sendok?" Tanya Kania terdengar jelas oleh Wily.


"Ah tuan...Hahahah hadiah anda sangat bagus. Saya akan menyimpannya dengan baik. Bisakah saya memutus ponselnya? Soalnya saya harus pergi ke kamar kecil..." Pinta Kania.


Akhirnya Wily pun memutus ponselnya hingga Kania bisa berpikir jernih "Untuk apa tuan Wily memberikanku kado sebuah sendok?"Tanya Kania. Ia mulai menatap tubuhnya dari dada sampai bawah.


"Apakah aku harus banyak makan agar tubuhku sedikit berisi ya?" bisik Kania menerjemahkan kado dari Wily yang sudah di tukar Hans.


"Pasti ada pesan tersembunyi" Kania pun mencari memo dari dalam sana "Dapat..." Setelah ia buka, ternyata tulisannya "Makan yang banyak... Lain kali jika makan Mie bagi pada suamimu dasar serakah!" Setelah menyimak isi tulisan itu. Kania mulai paham jika kado yang ia dapat dari Wily telah di tukar suaminya.


"Pria itu... Dia sungguh keterlaluan!!!" Amuk Kania.

__ADS_1


__ADS_2