
"Hiks... Hiks" Kania terus saja mengusap air matanya. Hans tak bisa lakukan papun padanya selain menatap nya diam.
"Mas... Kenapa kamu selalu saja bohong padaku. Memang apa sih salahku, kenapa kamu selalu mempermainkan perasaanku?" tanya Kania, meski tengah menahan tangisannya Kania tetap nyerocos pada Hans. Hingga Hans yang diam pun mulai angkat bicara.
"...Sayang. Jangan menangis, apa yang kamu lihat ini tidak benar. Aku tidak melakukan apapun dengan mantan kekasihku..." Jelas Hans gagap. Ia bingung untuk menjelaskan pada Kania terkait kejadian di rumah sakit tadi.
'Bohong kamu Mas! Aku sempat dengar Marsha memekikkan namamu di telpon tdi seraya mendesah... Apa ini yang harus aku tanyakan pada suamiku?" tanya Kania dalam hati seraya menyugesti dirinya untuk tidak memperburuk situasi dengan menekan Hans. Kania mulai mengehentikan tangisanya...
"Kania... Sayang, tolong percayalah padaku" Pinta Hans merenggut kedua bahu Kania dengan kedua tangannya "Apakah kamu percaya padaku?" tanya Hans.
Kania diam... Hans pun mulai menunduk "Maafkan aku... Aku memang suami yang buruk untukmu. Sebenarnya tadi aku pergi ke rumah sakit untuk menemui mantan kekasihku" Belum sempat Hans menjelaskan panjang lebar. Kania langsung menyambar Hans dengan kata kata yang sedari tadi ia sembunyikan dalam dalam di hatinya.
"Tuhkan Mas. Kamu bohong! Lagi lagi kamu bohong!" Teriak kania mendorong dada Hans yang saat itu tengah duduk tegak di hadapan Kania.
"Tunggu dulu aku belum selesai bicara" Pinta Hans. Kania pun bangkit dan menjauhi Hans...
"Cukup Mas! Kesabaran ku sudah melewati batas... Aku nggak mau penjelasan mu yang penuh ke dustaan itu!" Kania mulai menjauhi Hans, ia melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
Hans pun bangkit dan mulai mencengkram pergelangan tangan Kania "Tunggu!" Hans kembali mencoba melerai amarah Kania, jika dulu ia selalu cuek dan tak perduli. Tapi kini Hans sungguh berusaha keras untuk menjelaskan hal penting pada istrinya.
"Hentikan Mas. Aku sudah muak, aku sempat senang tadi, ketika kamu bicara romantis dan manis. Hati ku sudah mau memaafkan mu mas. Tapi, saat aku menelpon nomor tak di kenal... Kenapa, kenapa suara mu dan wanita itu saling mendesah satu sama lain! Aku nggak sanggup Mas! Aku nggak mau jadi benalu dan memisahkan hubungan Kalian! Mulai saat ini... Aku minta cerai mas!" teriak kania menghempas cengkraman tangan Hans yang cukup kuat itu.
Sesaat mendengarkan ocehan Kania, Hans pun membelalak matanya lebar lebar dan bicara pada hatinya "Apa yang dia bicarakan? Apakah dia sungguh menelponku?" Tanya Hans.
"Tunggu Kania!" Pekik Hans kembali berusaha menenangkan Kania. Hans kembali meraih tangan Kania dan menariknya kuat kuat. Kania terpekik ketika Hans merampas tubuhnya dalam pelukannya secara paksa.
"Aahhkkk!" Pekik Kania.
"Diam lah... Jangan marah karna salah paham... Aku sungguh tak melakukannya, aku sungguh sungguh... Beri aku sedikit waktu untuk bicara" pinta Hans memeluk Kania erat seakan enggan melepaskannya.
"Maafkan aku! Aku sungguh tak melakukan hal seperti itu. Aku sungguh belum pernah menjamah wanita manapun... Aku juga belum pernah bermain ranjang dengan siapapun. Ku mohon! Percayalah..." Pinta Hans memeluk Erat istrinya hingga tulang Kania serasa patah satu persatu.
"A-Auh. Sakit mas, kamu memelukku terlalu erat!" Kania gagu Karna ia tak bisa menarik napsanya.
"Aah maafkan aku sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu" Teriak Hans seraya melepaskan tubuh Kania refleks.
__ADS_1
"Aduh... Rasanya tubuhku sakit sekali" bisik Kania bicara sendiri dan memijat bahunya.
"Ah sakitkah? Biar aku pijat" hans gelagapan dan lekas menggendong istrinya ke ranjang.
"Tu-tunggu. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kania meronta.
"Aku hanya akan memberimu pijatan"
"Tidak, aku tidak mau! Lepaskan aku!" Kania berontak dalam pangkuan Hans.
Hans yang terlanjur bersalah pada istrinya pun mulai memperlakukan Kania seperti seorang ratu. Kania di rebahkan lembut, dan mulai di belai "Dasar... Biarkan aku pergi. Aku sedang benci padamu mas" Komen Kania mulai bangun karna ia tak biasa dengan perlakuan Hans yang tak biasa itu.
"Jangan pergi. Ku mohon, jangan percaya pada wanita itu. Dia hanya ingin kita berpisah, lagi pula ponselku hilang ketika aku sampai di sana... Aku bahkan belum menemukannya. Jadi tolong percayalah...
'Apakah benar? Tapi mana mungkin mas.... Aku tahu betul kamu sangat mencintai Marsha, hingga memperlakukan ku seprti pembantu bukannya istrimu' Bisik Kania dalam hatinya.
"Ku mohon kamu percaya..." Pintanya lagi.
__ADS_1
Kania mulai berfikir dan mulai menepis pikiran buruk tentang suaminya itu. Akhirnya kania pun mengangguk "Benarkah? Terimaksih sayang. Aku sungguh bersyukur punya istri cantik sepertimu!" Hans kembali memeluk Kania dan mengecup pucuk kening istrinya.
"Aku janji aku tak akan pernah membuatmu kecewa..."