Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Kencan mendadak


__ADS_3

***


Sepulang dari Cafe, wajah Hans sangat kusut hingga Richi terlihat khawatir pada tuannya itu "Anda baik baik saja kan tuan?" Tanya Richi menatap Hans di spion depannya.


Hans tak bergeming, ia malah memijat mijat kepalanya dan sesaat memejamkan matanya.


Kenapa tuan Hans sungguh kacau begini? Apa yang sudah tuan Wily katakan padanya hingga ia terlihat tertekan begitu. Bathin Richi menggumam.


"...Kita langsung pulang tuan?" tanya Richi meminta pendapat Hans. Apa boleh buat, Richi takut salah langkah dan di salahkan jika ia melangkah di luar usulan Hans.


"...Aku ingin ke Bar..." ucapnya tiba tiba. Richi kaget dan mulai menepikan mobilnya.


"Apa tuan? B-bar?" tanya Richi panik.


Hans lekas menghempas tangannya dan melotot ke arah Richi "Kenapa? Apakah telinga mu sedang tidak normal?" tanya Hans kesal.


"...B-baik tuan. Tapi... Ini sangat aneh, bagai mana pun juga... Anda tak pernah datang ke tempat seprti itu sebelumnya. Dan lagi... Anda akan membuat nona Kania khawatir jika anda telat pulang ke rumah" Cerocos Richi menghasut hati nurani Hans yang labil itu.


"...Entahlah. Aku mungkin tak akan pernah bisa membuatnya memaafkanku... Karna aku selalu berbuat kasar dan jahat padanya. Jika dia benci dan tak khawatir padaku. Itu sudah semestinya... Karna itulah balasan darinya untukku" Gumam Hans risih.


Benar juga. Tuan Hans sangat kejam selama ini pada nona Kania. Tapi kenapa tiba tiba tuan Hans terlihat se sensitif itu pada nona Kania... Apakah tuan Hans mulai menyukai nona Kania?" tanya Richi dalam hatinya.


"...Richi, Bagai mana menurutmu? Apakah perlakuan ku pada Istriku selama ini sangatlah keterlaluan?" tanya Hans dengan nanar menunduk. Richi sedikit terenyuh kala mendengar pernyataan Hans yang amatlah rapuh itu.


...Apa ini? Apakah sebuah ke ajaiban datang? Kenapa tuan muda sangat lembut dan begitu perhatian dan merasa dirinya begitu rendah. Apakah aku harus jujur dan mengatakan bahwa tuan harus merubah sifatnya? Ahhhh itu pasti akan membuatnya tersinggung lalu marah padaku. Bathin Richi.


"Menurutmu aku harus apa?" tanya Hans lagi. Kini ia menatap Richi di spion dengan tatapan merah berkaca kaca. Itu membuat Richi kembali terenyuh...


"T-tuan. Sebaiknya anda... Ajak nona Kania makan malam saja... Sekalian anda minta maaf padanya lalu perbaiki hubungan anda dan memulai semuanya dari awal lagi" Imbuh Richi menyarankan Hans.


Hans mulai terdiam lalu berfikir, ia mulai membayangkan suasana romantis yang akan terjalin di sebuah restorant yang manis bersamanya.


"Saranmu boleh juga... Baiklah, aku akan pesan restorant dan siapkan segala sesuatunya. Tugasmu pulang lalu bawa Kania ke restorant yang akan ku pesan nanti" Jelas Hans.


Richi tersenyum dan mulai mengantarkan Hans ke sebuah restorant yang ingin ia tentukan...

__ADS_1


"Richi ingat. Ajak Kania dan bilang padanya bawa ia di undang ke sebuah jamuan klien ku ya..." Pinta Hans. Richi mengangguk, Lalu Hans keluar mobil dan mulai masuk restorant itu. Sedangkan Richi mulai tancap gas untuk menjemput Kania di kediaman Hans.


***


"Apaaa???" teriak Kania mendengar penjelasan Richi.


"Nona. Kenapa anda begitu kaget?" tanya Richi bingung.


"Tidak tidak. Aku tidak mau... Kenapa tiba tiba dia mengajakku ke sebuah pertemuan begitu. Aku yakin dia hanya akan mengisengiku dan membuatku dalam masalah lagi..." Umpat Kania menolak tegas.


Bagai mana ini? Ternyata nona Kania sangat susah di ajak ke tempat romantis... Dia memang bukan wanita gampangan seperti wanita lain pada umumnya. Bathin Richi menggumam.


"Nona tolonglah... jika anda menolak begini, aku bisa bisa dalam besar. Tuan Hans akan menghukumku jika anda terus saja bersikeras menolak pertemuan ini" Richi terus memohon pada Kania. Dan akhirnya, Karan tak tega pun Kania pun mengangguk.


"Baiklah... Aku akan pergi. Tapi, jika ini hanyalah sebuah jebakan... Maka lain kali, ku sama sekali tak akan mau meski dia ajak kemanapun oleh mu Richi!" Amuk Kania.


Yesss! Berhasil! Richi kegirangan dalam hatinya.


"Ya sudah... Tunggulah tak akan lama" Pinta Kania.


"Chi! Richi... Apa yang kamu pikirkan?" seru Kania membuyarkan pandangan Richi yang nyaris sja berkhayal bahwa Kania adalah bidadari.


"...Ah n-nona... Mari saya antar" ucap Richi.


Kania mulai di Antar menuju mobil "Silahkan masuk nona" pinta Richi.


Kania menurut saja lalu Richi menutup pintu itu dan Richi pun kembali tancap gas menuju restorant yang telah di boxing Hans.


***


Kania sampai di restorant... Ia mulai masuk ke area restorant itu dengan langkah anggunnya. Ia juga di sambut beberapa pelayan cantik dan di arahkannya ke sebuah meja yang telah di pesan Hans.


Kania terbelalak kala menyimak suasana restorant yang di hias seromantis mungkin. Ia sungguh tak menyangka jika selara Hans sangatlah tinggi. Meja bundar beralaskan taplak putih gemerlap membuat suasana makin romantis. Lilin kecil di meja itu semakin membuat indah suasana.


Oh tuhan. Apakah ini mimpi? Kenapa Mas Hans tiba tiba sangat aneh begini... Tolong bangun kan aku jika ini sungguh sungguh mimip. Bathin Kania menggumam.

__ADS_1


Hans melangkah mendekati Kania dan mulai meraih tangan kanan Kania lalu mengecupnya "Hah!" Kania terpekik. Hans lekas bersimpuh di hadapan Kania dan menatap Kania sayu.


"...Meski terlambat, tapi aku sungguh bahagia saat menyadari bahwa... Kau memang sebuah anugrah untukku. Jadilah... Milikku satu satunya... Aku sungguh tak akan mengulang kesalahanku di masa lalu... Jadi tolong maafkan aku" Pinta Hans. Kania sungguh terbelalak dan menatap Hans dengan nanar berbinar.


Hans tersenyum dan lekas berdiri, Kania sungguh tak menyangka jika hari itu akan tiba "Maukah. Kamu memberikanku kesempatan ke dua?' Tanya Hans masih menatap Kania sayu. Kania yang amat bahagia mendengarkan ungkapan Hans mulai merangkup Hans dan memeluknya erat.


"Sungguh! Apakah kamu sungguh sungguh dengan perkataanmu Mas?" tanya Kania memeluk Hans bahagia.


"Tentu... Aku sungguh terlambat dan sangat bodoh. Aku sungguh ingin memulainya dari awal..." Jelas Hans. Kania sungguh bahagia... Setelah lama saling memeluk, kania pun melepas pelukannya. Sesaat ia menangis karna terlalu bahagia...


"Ayo kita makan dulu... Mulai hari ini, makanlah dengan teratur agar kamu agak gemukan" jelas Hans. Kania termakan rayuan dan mulai mengangguk lalu duduk.


Hans sudah siapkan hadiah untuk Kania berupa Kalung dan cincin.


Para pelayan pun mulai menyiapkan makanan romantis untuk Hans. Satu piring berdua, lalu segelas jus dengan dua sedotan.


Ini sungguh indah... Jika ini mimpi... Ku mohon jangan bangunkan aku tuhan... Bathin Kania.


Hans mulai meraih garfu dan pisau, ia mulai memotong stik danging sapi meddium itu lalu mengarahkannya pada Kania. Kania tersenyum lalu lekas membuka mulunya. Saat stik itu hampir masuk mulut Kania, Hans menghentikan gerakannya


"Lho kok berhenti?" tanya Kania bingung.


"Tunggu ada panggilan masuk" balas Hans lekas meraih ponsel dan menatap layar ponsel dengan nama yang tertera "Marsha?" bisiknya. Kania tak sengaja mendengarnya.


"Mar- Sha?" Bisik Kania kesal.


"Tunggu... Aku harus mengobrol dulu..." Hans berdiri dan Kania menatap Hans yang tampak panik.


"Apa!! Rumah sakit??? Rumah sakit mana aku akan datang? Ya aku akan segera datang!" teriak Hans panik. Kania di acuhkan dan Hans berlalu tanpa pamit pada Kania.


Kania mulai berdiri menyeru suaminya yang sangat sibuk dengan ponsel di telinganya. Meski ia teriak, yang ia dapati hanyalah punggung Hans yang menghilang di balik pintu keluar restorant itu.


Apa apaan ini? Sesingkat inikah kata manis yang ia ucapkan? Kenapa rasanya sangat sesak... Bahkan sedikit udarapun tak bisa aku hirup...


"...Sak..it..." bisik Kania menahan tangisannya yang mulai mencekik tenggorokannya. Kania lemas dan mulai duduk di meja restorant itu sendirian.

__ADS_1


Apakah... Aku memang tak pantas mendapatkan hati suamiku sendiri. Bathin Kania menggumam sedih.


__ADS_2