Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Tak ada alasan


__ADS_3

***


Sial apa yang sudah aku lakukan? Dia pasti berfikir bahwa aku adalah pria mesum... Dan juga dia akan makin ke pedean... Dasar apa sih yang sudah aku lakukan. Kenapa tiba tiba akal sehatku jadi hilang setalah mendengar nama Wily! Aahh sial... Kau sungguh merepotkan Wily... Bathin Hans menggumam.


"Tuan. Apakah anda baik baik saja?" tanya Richi. Hans mulai memijat kepalanya dan mendelik ke arah Richi.


"Ya aku baik baik saja..." balas Hans mengelak perasaannya yang sedang kacau.


"Syukurlah. Lalu bagai mana ke adaan nona Kania?' Tanya Richi khawatir.


"Ada apa dengan mu Richi. Kau seperti ayahnya saja... Ka seperti orang tua yang khawatir pada anaknya. Dasar..." Umpat Hans kesal.


Richi tersenyum karna Hans tampak cemburu pada nya "Ah tidak tuan... Saya hany khawatir. Bagai mana pun juga, kemarin saya tak bisa membantunya pulang ke kediaman ini..." Jelas Richi.


Hans mulai berfikir, karna ia tak ingin reputasinya amburk ge gera membawa Kania pulang, Hans pun putuskan untuk meminta Richi berbohong tentang kepulangan Kania.


"Apa tuan... Ah tidak, saya tak ingin nona Kania salah paham" pekik Richi caggung.


"Apa sih. Ini kan hanya sandiwara... Aku hanya perlu bilang bahwa bukan aku yang menjemputnya di jalan. Tapi kamu...itu mudah bukan?" Tanya Hans.


"Tapi saya..." Richi sangat canggung.


"Sudahlah. Ku anggap itu jawaban yang tepat..." imbuh Hans.


"Kalau begitu... Saya setuju" Richi terpaksa.


"Nah gitu dong. Kan enak..." Hans tenang. Hari ini adalah hari libur. Jadi Hans tak pergi ke mana pun...

__ADS_1


"Oh ia. Apakah ada pesan dari ke kasihku?" Tanya Hans berharap.


"Nampaknya nona Marsha sangat kecewa pada anda..." Balas Richi. Hans terperanjat dan mulai menatap Richi "Kecewa? Apa Maksudmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga dia kecewa padaku" Bentak Hans tak terima akan kritikan Richi.


"Apakah anda tak ingat, jika semalam anda telah memutuskan untuk memilih nona Kania dan membuat Nona Marsha pergi di hadapan Nona Ginaya dan tuan besar Angga" Jelas Richi.


Hans mulai ingat ke jadian semalam "Kurasa bukan aku yang memutuskan. Tapi, Marshalah yang memilih pergi dariku..." Balas Hans lesu.


"Apakah itu adalah hal yang baik untuk anda?" Tanya richi.


"Ku rasa tidak, sekarang aku akan datang ke rumahnya meminta maaf padanya..." Jelas Hans segera bangun dari sofa dan lekas melangkah ke arah pintu keluar.


"Eh..." Hans terpana melihat Kania melangkah ke arahnya. Hingga Hans pun salah tingkah di buatnya "Kenapa kau ada di sini?" tanya Hans menunjuk.


"Eh... Tuan, anda bicara dengan siapa?" tanya Richi. Hans menoleh dan menunjuk ke arah di mana Hans menemukan Kania.


"Tapi. Di sana tak ada siapapun tuan" bals Richi. Hans terbelalak dan lekas membuang wajahnya ke arah Kania. Namun benar saja Hans tak dapati Kania di sana. Hingga ia pun menggosok gosokan matanya.


"Kenapa dia menghilang... Ah. Ini sungguh pelanggaran, aku akan memarahinya sekarang!'Bentak Hans. Mulai melangkah ke arah kamarny.


"Ada apa dengan tuan Muda?" tanya Richi heran.


Hans lekas berjalan dengan langkah lebar dan mulai menghampiri daun pintu kamarnya. Ia mulai menyentuh Handle dan menekannya "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kania. Hans mulai menoleh ke arah seruan itu.


"Kau... Kau kenapa ada di luar? Jangan jangan tadi kau juga yang menghadangku di ruang tengah"Pekik Hans curiga.


"Kau berfikit begitu?" tanya Kania menyeringai.

__ADS_1


"Heh. Kenapa dengan jawabanmu itu... Kau jadi aneh" Hans sedikit ciut saat hendak membuly Kania.


Kania menyeringai "Kenapa kau jadi aneh setelah menciumku... Apakah kau jadi jatuh hati padaku?" tanya Kania lantang. Hans lekas mbuang wajahnya dan mulai bicara tak karuan "Jangn slah paham... itu hanyalah sebuah ciumn bibir. Kenpaa kau jadi ke pe dean banget..." Hans tertawa konyol dan mulai menatap ke arah Kania.


Tapi Hans lagi lagi kaget, sebab Kania lagi lagi menghilang... Kemudian saat bulu kuduk Hans berdiri. Pintu kamarnya mulai terbuka dan Kania pun keluar dari kamarnya.


Mereka berpapasan dan saling bertatapan mata "Ka sedang apa?" tanya Kania.


"K-kau kenapa bisa ada di sna?" Tanya Hans parno.


"Kenapa? Aku baru memutuskan untuk keluar kamar itu dan pindah ke kamarku..." Jawab Kania nyolot.


"Heh. Kau sungguh pintar berkelit... Lalu kenapa kau bisa ada di ruang tengah dan baru saja bahkan aku bicara dengan ku di sebelah sini" Jels Hans.


"Hai apa yang sedang kau bicarakan. Jangan melantur... Sudah, aku muak melihat wajahmu... Mana mungkin aku mau membuntuti orang kurang ajar sepertimu. Dasar cabul!" bentak Kania berlalu begitu saja dan menabrak sikut Hans kasar.


"Apa... Apakah aku sedang berhalusinasi?" tanya Hans kelimpungan.


Ia pun penasaran dan lekas membuka kamarnya lalu msuk dan mencari Kania. Ia menyingkap selimut yang ada di sana dan tak dapati apapun "Kemana perginya wanita itu? Apakah ini hanya halusinasiku saja? Tiga kali dalam jeda pagi ini aku bertemu copian istriku... Sebenarnya apa maksud semua ini... Apa otakku sedang korselet?" tanya Hans bingung.


Saat Hans memijat mijat kepalanya yang sedikit pening. Tiba tiba pintu Bathroom miliknya pun mulai terbuka. Hans mendelik dan menatap dengan ekor matanya. Seketika ia membelalakan matanya "K-kau lagi..." Pekik Hans tampak gila.


Netranya kembali menangkap sosok Kania berbalut handuk yang minim dengan rambut basah dan wajah merah merona. Kania menghampiri Hans dan membuka balutan Handuk nya lalu mempamerkan tubuh nya yang indah itu. Hans terbelalak hingga hidungnya muncrat karna mimisan "Ah... Kecupan mu sangat manis... Bagai mana jika kita lakukan malam pertama kita. Aku sungguh bergairah" Kania mendekap dada Hans erat. Jantung Hans berdegup kencang dan tak beraturan.


Hans mundur beberapa langkah karna sedikit canggung, dada kania yang montok itu sudah begitu dekat dan menggoda Hans. Kania mulai mendorong Hans ke matras dan menindihnya. Hans tak berdaya, ia lemas dan begitu merinding "Aku akan memulainya..." Ucap Kania mesra.


Hans tak kuasa dengan serangan Kania dan mulai membalik menyerang Kania. Kini giliran Hans menyerang Kania dengan seganap perasaannya.

__ADS_1


"Karna ini adalah ke inginan mu maka akan ku kabulkan" Ucap Hans seraya mulai mencium bibir Kania.


__ADS_2