
***
"Nona anda harus minum obat anda agar anda cepat sembuh" pinta sang dokter membujuk Marsha.
"Nggak dok! Aku nggak mau makan atau pun minum obat tanpa Hans ada di sampingku! Aku mau dia yang rawat aku... Jika harus mati pun aku tak akan menyesal!" amuk Marsha.
Sedangkan meneger Marsha hanya bisa menepuk kepalanya sendiri "Nona ada apa dengan anda? Anda harus sembuh... Kontrak kerja kita baru saja di mulai dengan Ruby intertiment, jika satu minggu lagi anda tak bisa syuting. Kita bisa dapat sangksi nona" Pinta menegernya.
"Nggak! Pokonya aku nggak mau! Suruh Hans datang padaku... Aku psti akan melakukan apapun!" Jelas Marsha keras kepala.
"Baiklah... Tapi nona janji. Nona harus makan dan minum obat setalah bertemu dengan tuan Hans..." Jawab sang meneger geleng geleng kepala.
"Tentu saja. Aku nggak mau Hans sampai tega membuangku di sini!" Amuknya.
Sang menegerpun keluar dari kamar inap itu dan mulai menelpon Hans, namun beberapa kali ia menelpon jawabannya tetap saja sama.
__ADS_1
"Kenapa malam Mail Box terus? Aku nggak bisa biarin ini terjadi... Nona Marsha baru saja ada di puncak karirnya. Aku nggak mau, gara gara pria ini... Dia jadi hancur begitu saja!" Umpat sang meneger yang bernama Laurent itu.
Kamar inap...
"Aku nggak bisa tanpa nya! Kenapa baru aku sadari jika dia sangat berharga bagiku. Tanpanya aku sungguh bukanlah apa apa!' Racau hati Marsha. Marsha sangat kangen sekali pada Hans. Meski hubungan mereka belum sampai ke ranjang, tapi Marsha sangat kehilangan ketika beberapa hari ini Hans tak menghubunginya atau merayunya dengan kata kata manisnya.
Ia sangat menyesal karna telah menolaknya beberapa kali... Marsha berfikir bahwa dirinya sangat bodoh karna telah menolak pria tampan yang mapan seperti Hans.
"Mana menegerku! Kenapa dia nggak datang datang lagi... Ini sangat mengesalkan! Kerjanya sangat lelet sekali... Aku benci!" teriak Marsha membanting apapun yang ada di hadapannya. Marsha tampak menggila karna tak bisa bertemu dengan Hans atau mendapat kabar tentangnya.
***
'Telpon dari siapa itu? Kenapa terus saja berdering... Jangan jangan itu adalah kekasihnya yang dulu lagi. Apakah perlu ku angkat?" Tanya Kania dalam hatinya.
Ia sedikit penasaran hingga ia pun berdiri dan menarik pakaiannya yang berat itu. Ia mulai mendekati ponsel tersebut dan hendak meraihnya... Tapi sayang, belum sampai tangannya itu di ponsel Hans. Hans malah kembali dari kamar mandi dan melihat apa yang sedang Kania lakukan "Sayang? Ada apa? Apakah ponsel ku berbunyi?" tanya Hans.
__ADS_1
Kania lekas menjauhkan tangannya dari ponsel Hans dan mulai menoleh ke arahnya 'Ah... Ini, ku pikir kamu masih lama Mas. Jadi aku tadinya mau cas hp kamu... Soalnya pasti bakalan low batt karna panggilan masuk yang terus menerus" Bohong Kania mencari alasan.
Hans yang masih memakai handuk kimono itu lekas menghampiri ponselnya "Benarkah? Memang siapa yang menelponku... Lagi pula urusan kantor sudah ku serahkan sepenuhnya pada Wakil ku..." Elak Hans. Hans lekas meraih ponselnya dan menatap layar yang ada di sana. Dan ia pun terbelalak, hal itu membuat Kania sedikit curiga.
"Kenapa Mas? Apakah ada hal yang penting?" tanya Kania curiga.
Hans lekas memalingkan wajahnya dari oayar ponsel itu dan menatap Kania, Hans tak ingin jika Kania salah paham "Ah tidak sayang... Ini hanyalah pesan dari kantor. Kita akan berangkat besok jadi aku harus meminta ijin cuti sekarang" Jelasnya.
'Aneh... Kenapa tiba tiba Mas Hans jadi ngawur begitu. Ia terlihat panik... Apakah ada hal yng sedang ia sembunyikan dari ku ya?" Tanya Kania dalam hatinya. Kania seakan mendapat sebuah firasat buruk tentang suasana hati Hans saat itu.
"Sayang. Jangan melamun dong... Gih sana mandi dulu. Kita ke kantor bareng biar kamu nggak salah paham" Jelas Hans.
Kania mulai menatap Hans "Serius Mas?" tanya Kania.
"Tentu... Aku mana bisa bohong, Jadi cepatlah" Pinta Hans.
__ADS_1
Kania pun mengangguk "Baiklah... Aku tak akan lama...' Kania bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri...
Tapi Hans malah lekas berpakaian, ia seperti tengah memburu waktu... Usai mendapat kabar di telpon tentang ke adaan Marsha. Ia malah bergeges pergi tanpa pamit pada Kania. Dan Hal itu pasti akan menimbulkan perdebatan baru bagi bahtera rumah tanggah Hans dan Kania.