
***
Hans bersiap pergi ke acara yang telah di siapkan Marsha untuknya... Pesta ulang tahun megah di Villa milik Marsha yang di beli Hans beberapa bulan yang lalu. Sebelum Hans menikahi Kania...
"Mau kemana?" tanya Kania sinis. Kania bahkan tak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun suaminya.
"Aku mau keluar..." balas Hans jutek.
"Heh. Keluar... Jam segini, dengan pakaian itu... Kau bercanda. Kau pasti akan kencan dengan wanita ganjen itu" umpat Kania kesal.
"Eeeh... Jaga bicaramu. Siapa yang kau sebut wanita ganjen itu?" Hans sedikit menekan nada bicaranya.
"Siapa lagi jika bukan kekasihmu itu"
"Jaga sikapmu. Jangan seenaknya menggunjing orang lain. Setidaknya bercerminlah... Memang nya kau sendiri wanita suci apa? Berani berkencan dengan pria lain. Sedangkan statusmu itu adalah seorang wanita yang telah bersuami!" Balas Hans pedas.
"...Oh ia. Aku sungguh lupa... Aku adalah istri dari suami yang tak pernah merindukanku..." balas Kania seraya mulai menunduk.
Hans mendelik ke arah Kania lalu ia pun membuang wajahnya "Heh. Jangan sok sedih... Bukankah kau senang dekat dengan pria lain. Dasar wanita desa... Baru di rayu sedikit saja sudah ke gerahan. Awas saja, jika kamu sampai hamil anak orang lain. Akan ku pastikan hidupmu lebih menderita dari ini!" Bentak Hans segera berpaling pergi.
Kania sungguh terhina oleh kata kata Hans dan mulai menahan tangisan yang sedari tadi terasa membuat sesaak tenggorokannya bah di cekik sesuatu.
__ADS_1
"Nona... Apakah anda baik baik saja?" Tanya Richi. Kania mengangguk diam seraya menunduk lesu. Ia lekas menghapus beberapa tetes air matanya yang menerobos jatuh hingga membasahi pelipis nya itu. Richi sangat kasihan pada Kania. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa melakukan apapun.
"Richi cepatlah! Aku sudah terlambat!" pekik Hans di kejauhan.
"Pegilah..." imbuh Kania.
"Kalau begitu saya tinggal..."
"Ya..." Kania tersenyum pahit hingga membuat Richi sedikt bersalah.
Richi pun pergi dari hadapan Kania...Tuan Hans bahkan tak berkata apapun soal malam ini Kasihan sekali nona Kania, di abaikan oleh suaminya sendiri. Sendu batin Richi.
Akhirnya suasana rumah pun mulai hening...Kania mulai kembali kemarnya, tapi bi Marshi malah menyahutnya "Nona..." Kania pun menoleh ke arah bi Marshi.
"Lho non. Kenapa nona nggak ikut sama tuan muda?" tanya Bi Marsih membuat Kania curiga.
"Ikut kemana maksud bibi?" tanya Kania polos.
"Lho. Non nggak tahu hari ini hari apa?" tanya Bi Marsih.
"Nggak..." Jawab Kania menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apakah tuan tidak cerita?" Tanya bi Marsih lagi.
"Bi. Bicara lah yang jelas jangan bertele tele... Aku jadi penasaran nih" Pinta Kania sedikit memelas.
"Tuan muda benar benar ya. Kenapa dia malah mengabaikan wanita baik seprti anda... Padahal hari ini adalah hari istimewa baginya" Jelas Bi Marsih.
"Hari istimewa? Maksud bibi..."
"Ya. Hari ini adalah hari ulang tahun tuan muda... Mereka merayakan hari besar itu di Villa nona Marsha" Jelas Bi Marshi membuat Kania makin terpuruk.
"Begitu ya Bi..." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Kania. Padahal hatinya sangat sakit... Kania berfikir di saat Hans terkepar di rumah sakit beberapa hari. Dirinya sangat bersyukur masih bisa dekat dan menjaga suaminya. Tapi setalah Hans sadar dari kematiannya, Kania malah di abaikan hingga ada rasa kecewa di hati Kania untuk Hans.
Blam!
Kania mulai menggulung tubuhnya di matras dan memejamkan matanya. Namun tak berselang lama ponsel pun berdering "Trrrtt... Trrrttt..." Kania amat malas dan mengabaikannya. Kania hanya perlu pura pura tidur dan anggap saja tak terjadi apapun. Meski pikiran kotor tentang apa yang akan di lakukan Marsha pada Hans setalah makin malam pun mulai memutar di otaknya bebrapaa kali.
"Berisik!" Karna marah ia pun mengangkat ponsel tersebut "Hallo...' Baru saja mendengar jawaban dari balik telpon itu Kania langsung terperanjat.
"Benarkah?" Ia langsung bangun dan segera keluar dari kamarnya tanpa mengganti pakaiannya. Bahkan Bi Marsih di buat heran "Non mau kemana?" tanya nya.
Tapi Kania sibuk pergi dengan ponsel di tangannya....
__ADS_1
Ia keluar kediaman Yohanes dan mulai mendekati mobil. Seseorang keluar dari mobil dan menyapanya seraya masih menempel ponsel itu di telinganya "Ayo pergi" ucap Willy. Ya lagi lagi Wily yang bisa menenangkan hati Kania. Kania tersenyum dan lekas masuk mobil itu tanpa menaruh curiga sama sekali.