Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Peristiwa Kelam Masa Lalu


__ADS_3

Aku melihat ponselku, sudah terpampang nama Aydin di sana. Aku mulai bimbang untuk menghubunginya atau tidak. Karena jika aku menghubunginya ada rasa sedikit tenang jika mendengar suaranya, namun di sisi lain, ia pasti akan khawatir dengan keadaanku.


Aku meletakkan kembali ponselku ke atas nakas. Keputusanku untuk tidak menghubunginya adalah hal yang paling baik karena aku tidak ingin membebani pikirannya.


Kuambil sebuah poto yang terletak di atas meja. Menatapnya kembali dengan rasa yang semakin sesak. Kejadian itu seakan datang kembali ke dalam ingatanku. Rasanya baru kemarin aku masih memanggil nama mereka dengan ceria.


Kebahagiaanku di mulai dari pertunanganku dengan Dimas. Saat itu acara pertunangan di gelar dengan sangat khidmat. Kedua keluarga begitu bahagia melihat anak mereka akan segera melangkah ke jenjang pernikahan.


Hari-hariku bersama Dimas pun semakin menyenangkan dengan persiapan pernikahan kami. Mulai dari persiapan gedung, fitting pakaian, semua kami lakukan di sela-sela kesibukan. Saat itu aku baru saja lulus kuliah sedangkan Dimas menjalankan sebuah usaha.


Aku dan Dimas terpaut usia 5 tahun. Alasan kenapa Dimas ingin mempersuntingku dengan cepat karena ia ingin segera berumah tangga. Di tambah candaan yang selalu aku dengar darinya karena takut aku di ambil oleh pria lain.


Secara mental, aku sudah siap untuk berumah tangga, apalagi aku dan Dimas sudah lama berpacaran dan kedua orang tua pun sudah merestui. Tidak ada penghalang untuk mengikat hubungan kami ke jenjang yang lebih tinggi.


Tepat sebulan sebelum pernikahan, Ayah memulai bisnis baru dengan rekannya. Pria yang begitu baik dan ramah di mata keluargaku. Pria yang umurnya tak jauh dari umur Ayah, yang kami panggil Om Bara.


Om Bara memang sering berkunjung ke rumah, sekedar untuk bertamu ataupun memang urusan bisnis. Awalnya aku melihatnya biasa saja, aku berpikir karena rekan bisnis, mereka menjalin hubungan baik. Namun, lama kelamaan aku merasakan hal yang aneh padanya. Tatapan matanya setiap melihatku membuatku risi. Namun, aku mengabaikannya karena aku berkesimpulan kalau itu mungkin hanya perasaanku saja. Aku pun tak mengatakannya pada kedua orang tuaku, apalagi Ayah, aku takut kalau nanti akan mempengaruhi bisnisnya.


Aku juga tak ingin egois, apalagi tak ada cela untuk mencecar rasa tidak sukaku ini. Aku hanya bisa menahan, setidaknya menghindar saat ia datang berkunjung.


Tapi saat itu, saat dimana hanya ada aku di rumah, tiba-tiba Om Bara datang ke rumah. Aku melirik dari gorden jendela, terlihat ia tengah berdiri di depan pintu. Aku cemas apakah aku harus membuka pintu ini atau tidak. Kalau aku tidak membukanya bagaimana kalau dia datang untuk kepentingan Ayah. Ayah pasti akan kecewa.


Aku pun memutuskan untuk membuka pintu. Aku tak bisa menyembunyikan rasa canggungku begitu melihat kedatangannya.Tanpa mempersilahkannya masuk, aku langsung menanyakan perihal kedatangannya.


“ Ada apa ya Om?” tanyaku spontan.


Om Bara menatapku. Ia seperti menganalisis sesuatu di raut wajahku.


“ Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu Yuna?”


“ Oh, itu karena Yuna sedang menonton film horor, Om," ujarku berbohong.


“ Oh begitu? Kau sedang menonton film horor."


Aku mengangguk.


Ia tampak celingak celinguk melihat keadaan di dalam rumah. Aku mulai resah, semoga saja ia tak menyadari kalau hanya ada aku di rumah ini.


“ Kenapa sepi sekali?”


Deg...


“ I-tu karena Ayah, Ibu dan Aydin ada di kamar.”


“ Di kamar?”


“ I-ya Om.”


“ Tapi kenapa Ayahmu tidak keluar. Apa Ayahmu sedang tidur?”


“ Yuna tidak tahu pasti, nanti akan Yuna panggil Ayah untuk turun.”


Om Bara menganggukkan kepalanya.


“ Kau tidak mempersilahkan Om masuk?”

__ADS_1


“ Oh.” Aku terkejut sesaat. “ Ya, silakan masuk Om,” ujarku mempersilahkan.


Om Bara pun melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu. Ia kupersilahkan duduk dan segera aku menuju dapur untuk menyiapkan minuman.


Perasaan kalut masih menyelimuti hatiku. Aku merasakan ketakutan yang luar bisa. Aku juga takut kalau Om Bara menyadari kalau aku sedang berbohong padanya.


“ Yuna.”


Suara Om Bara yang terdengar jelas membuatku terkejut. Aku membelalakkan mata saat Om Bara sudah ada di hadapanku. Ia menyunggingkan senyuman yang sulit untuk aku pahami maksudnya.


Aku mengalihkan pandanganku ke minuman yang sedang aku buat ini.


" Maaf Om terlalu lama menunggu.”


Sekali lagi ia tersenyum tanpa merespons perkataanku.


“ Silakan ke ruang tamu Om, minumannya susah selesai Yuna buat,” ujarku.


Aku pun berjalan melewatinya dengan memegang nampan yang berisi minuman.


Sesampai di ruang tamu, aku meletakkan minuman itu ke atas meja.


“ Si...” Aku sontak terdiam karena terkejut dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangku. Refleks aku menepis tangannya itu, namun Om Bara malah semakin beringas.


“ Om, apa-apaan ini!” teriakku, namun pria itu tak bergeming. “ Om, lepaskan,” teriakku. “ Ayah!”


“ Tak perlu berteriak, Om tahu Ayahmu tak ada di rumah, kau hanya seorang diri di rumah. Sudah lama Om menantikan kesempatan berdua bersamamu.”


“ Om, tolong jangan seperti ini.”


Kooperatif? Apa maksudnya?


“ Kau bisa?”


Aku hanya mengangguk, paling tidak ia melepaskanku dan nantinya aku bisa melarikan diri.


“ Begitu lebih baik Yuna.”


Om Bara pun melepaskanku.


Aku menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri. Aku sudah memikirkan strategi untuk keluar dari rumah ini.


“ Tenang Yuna, Om tidak akan menyakitimu.”


“ Sebenarnya apa yang Om inginkan?”


“ Kau,” ucapnya. “ Kau pasti mengerti perkataan Om, kau sudah dewasa Yuna. Tak perlu Om menjelaskannya lagi.”


“ Brengsek!” Kata itu keluar begitu saja dari bibirku.


Om Bara tertawa.


“ Apa kau baru menyadarinya Yuna. Bahkan selama ini Om selalu berfantasi tentangmu, sejak pertama kali melihatmu.”


Gila! Dia benar-benar sudah gila. Aku harus segera pergi dari sini, kalau tidak akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan.

__ADS_1


“ Jangan coba-coba melarikan diri Yuna.”


“ Dasar brengsek!”. Aku melemparkan sebuah vas bunga yang ada di atas meja. Segera aku berlari, yang kemudian ia menyusulku. Langkah kakinya yang panjang membuatku kalah jarak, ia pun menarik tanganku yang kemudian tubuhku membentur tubuhnya.


“ Lepaskan aku!”


Kedua tangannya justru memelukku erat.


Tanpa berpikir panjang aku menendang bagian sensitifnya. Kontan ia mengerang kesakitan hingga terjatuh ke lantai. Tubuhku pun terlepas dari pelukannya. Aku beranjak untuk lari, namun kakiku berhasil ia raih dan aku pun terjatuh.


“ Sudah Om bilang kau harus kooperatif!”


Ia mulai menggerayangi tubuhku. Sekuat tenaga aku melawannya. Tapi tenaganya lebih besar dari tenagaku.


Aku tak berhenti berdoa dan menyebut nama Ayahku, berharap ada suatu mukjizat datang menolongku.


“ Yuna!”


Mendengar suara itu terasa hidupku terselamatkan.


Aku pun menyambut panggilan itu.


“ Ayah,” teriakku.


“ Yuna.” Melihat anak gadisnya sedang di lecehkan, Ayah langsung menarik tubuh Om Bara dari atas tubuhku. Ayah langsung memukulnya dengan amarah yang membuncah.


Om Bara terkulai lemah di lantai. Ibu tak kalah shock begitu melihat keadaanku. Ibu menutupi tubuhku yang nyaris bugil. Aku memeluknya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


“ Tenanglah sayang, kau sudah aman.”


Ayah menenangkanku.


“ Arya!” Suara Om Bara menggema. Ia hendak melukai Ayah. Dengan refleks, Ayah mendorongnya hingga terjatuh dan kepalanya terbentur sebuah meja. Om Bara langsung ambruk dan tak sadarkan diri.


Tak lama sebuah ambulans datang untuk membawa Om Bara ke rumah sakit. Begitu juga dengan aku. Di sana aku di rawat di sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Sayup-sayup aku mendengar kalau Om Bara sudah meninggal. Dan tak lama aku mendengar seorang wanita berteriak menghina Ayahku dan mengatakan akan menuntut dan aku sangat takut terjadi sesuatu pada Ayah.


Tiga minggu setelah kejadian itu, aku tak pernah keluar rumah dan lebih sering di kamarku. Dan sejak saat itu juga Ayah di proses dengan tuduhan pembunuhan.


Kehidupan kami pun berubah total. Ibu juga mulai sakit-sakitan karena stres. Sedangkan Aydin harus mendapatkan cemoohan dari teman-temannya di sekolah.


Bukan hanya itu saja, Dimas dan keluarganya pun memutuskan hubungan kami. Pernikahan yang sudah di persiapkan batal begitu saja. Alasan mereka sungguh membuatku sedih, mereka tak ingin menjalin hubungan dengan keluarga pembunuh. Aku memohon pada Dimas untuk tidak membatalkannya, namun Dimas tak bergeming. Ia meninggalkanku begitu saja, padahal dia adalah orang yang kuharapkan bisa menjadi tempat sandaranku.


Ayah pun di jatuhi hukuman penjara selama 7 tahun. Kami begitu terpukul dengan hukuman yang tak adil ini. Padahal kami sudah sekuat tenaga untuk membantu Ayah, namun kekuatan lain mengalahkan semuanya, kami sekeluarga juga sudah habis-habisan.


Aku berkali-kali meminta maaf padanya karena aku merasa ini adalah salahku, namun Ayah menenangkanku dan mengatakan ini bukan kesalahanku karena ini adalah kewajiban seorang Ayah menjaga kehormatan anaknya.


“ Jagalah Ibu dan Aydin.” Begitulah pesan terakhirnya. “ Maaf Ayah tidak bisa membahagiakan kalian.”


Sungguh air mata ini tak berhenti mengalir melihat Ayah pergi dengan keadaan seperti ini. Bahkan tak sampai di situ, kondisi ibu yang semakin parah akhirnya harus meninggalkan kami. Lengkap sudah penderitaan ini, kehilangan Ayah saja sudah membuat kami terpukul apalagi di tinggal oleh ibu untuk selamanya.


Terlalu bertubi-tubi dan aku belum siap menerimanya. Tak tahu harus kemana lagi aku mengadu dan bersandar. Kini aku sendiri bersama dengan Aydin, berdua, menjalani hidup yang panjang ini.


Masih jelas di ingatanku melihat Ayah, Ibu dan Aydin tersenyum dengan bahagia.


Andai waktu bisa diputar, aku ingin semuanya kembali normal seperti sedia kala. Bersama dengan mereka selamanya.

__ADS_1


__ADS_2