Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Malam Sesudah Resepsi


__ADS_3

Aku mengintip dari balik pintu, mencari keberadaan Gafi di sekitar kamar. Tak nampak sosoknya lagi di sini. Aku pikir dia sudah keluar saat aku masih sibuk membersihkan diriku.


“ Syukurlah…” ujarku lega. “ Mau di taruh di mana wajahku kalau melihatnya lagi di sini setelah insiden memalukan itu." Aku pun beranjak keluar dari kamar mandi.


Sudah satu jam berlalu, namun aku belum mengantuk sedikitpun padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, sedangkan Gafi tak muncul sejak insiden itu. Aku menghabiskan waktuku dengan buku-buku yang aku bawa dari rumah untuk mengusir rasa bosanku.


Di luar terdengar suara yang sangat tidak asing di telingaku. Suara riuh yang terasa tak jauh dari kamar ini. Pintu yang terbuka tiba-tiba membuatku kaget setengah mati. Terlihat Gafi memasuki kamar dengan menghela napas. Dan dari luar kamar terdengar suara tertawa kecil. Aku rasa ia sudah di paksa untuk masuk ke kamar ini oleh tante Liz dan tante Dina.


“ Kau belum tidur?” tanyanya sedikit canggung.


“ Aku belum mengantuk,” jawabku lalu kembali fokus dengan buku yang ada di tanganku ini. Sebenarnya aku tak kalah canggung dengan Gafi sekarang ini. Apalagi setelah insiden yang tak mengenakkan itu.


Gafi berjalan mendekati ranjang dimana aku sedang berada. Rasanya jantungku mau copot karena terus berdebar tak beraturan. Ia pun duduk di atas ranjang sambil mengecek ponsel yang ada di tangannya. Sesekali ia berdecak membuatku penasaran apa yang membuatnya terlihat gusar itu.


“ Ada apa?” tanyaku memberanikan diri.


“ Tidak ada apa-apa,” jawabnya. Tentu saja ia akan mengatakan itu, mana mungkin ia menceritakan apa yang sedang di alaminya kepadaku. Ikatan kami hanya status yang tertera di atas kertas.


“ Oh,” ujarku singkat.


Terjadi keheningan kembali di antara aku dan Gafi. Menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Sesekali aku meliriknya, menatapnya yang tengah sibuk mengutak-atik ponselnya. Aku rasa ia tengah menyiapkan pekerjaannya, padahal seharusnya ia beristirahat sejenak dari kesibukannya itu.


“ Apa kau sibuk?” Aku memberanikan diri membuka percakapan. “ Kalau kau sudah selesai dengan pekerjaanmu, aku ingin membicarakan sesuatu padamu.”


“ Kenapa kau berbicara terlalu formal padaku. Kalau ada yang ingin kau katakan, bicara saja, tidak perlu meminta izin dariku.”


“ Aku takut mengganggumu, makanya aku bertanya dulu.”


Gafi memandangku lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia membetulkan posisi duduknya yang kemudian berhadapan denganku. Sontak aku jadi salah tingkah karena posisi kami yang saling berhadapan seperti ini di tambah lagi dengan tatapan matanya yang membuatku tak karuan.


“ Aku tidak sibuk, jadi bicaralah, sepertinya ini sangat penting untukmu.”


Aku mengangguk.


“ Apa boleh aku tetap bekerja?”


“ Bekerja?”


“ Iya.”


“ Apa kau belum berhenti dari pekerjaanmu?”


Aku menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


“ Sebenarnya aku dalam masa skorsing dari pekerjaanku.”


“ Skorsing?” Gafi terlihat sangat terkejut. “ Kenapa kau bisa terkena skorsing? apa yang sudah kau lakukan?”


“ Ada sebuah insiden dengan Diana saat itu. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu. Karena hal itu juga aku mencarimu sampai ke EJ Group.”


“ Ah…iya, aku lupa. Soraya juga pernah mengatakannya padaku kalau Diana mendatangimu ke sana,” ujarnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“ Maka dari itu, aku ingin meminta izinmu agar bisa kembali bekerja. Sebenarnya aku ingin membahas ini sebelumnya, namun belum ada waktu yang tepat karena kesibukan mempersiapkan pernikahan ini. Jadinya, baru sekarang ini aku bisa mengatakannya.”


“ Kenapa kau ingin kembali bekerja? apa uang yang aku berikan kurang untukmu?”


“ Bu-bukan masalah itu.” Aku terdiam sejenak. “ Aku hanya…sebenarnya…aku tidak terbiasa di rumah seharian. Aku pasti akan merasa bosan kalau berada di rumah sepanjang hari.”


“ Begitu?”


Aku menganggukkan kepalaku.


“ Apa benar itu alasanmu?”


“ Aku sudah bilang ini bukan masalah uang. Aku membutuhkanmu supaya Aydin tetap bisa kuliah dengan tenang, tapi aku tidak ingin sepenuhnya bergantung padamu. Aku tidak ingin di pandang rendah karena menikah denganmu. Orang-orang pasti berpikir aku menikah denganmu karena uang, walaupun itu tidak sepenuhnya salah, tapi…aku tidak bisa tenang kalau hanya berdiam diri.”


“ Akhirnya kau mengatakan alasan yang sebenarnya.” Aku sedikit shock dengan perkataannya itu. “ Yuna, kenapa kau harus sibuk memikirkan pandangan orang terhadapmu. Kau sekarang istriku, kau berhak memakai harta yang aku punya. Pernikahan ini karena alasan apapun adalah keputusan kita berdua. Seharusnya kau memikirkan perasaanmu sendiri bukan memikirkan orang lain. Sampai kapan kau harus bersikap seperti itu, ha?”


Terlihat Gafi menghembuskan napas berat. Melihatnya seperti itu malah membuatku merasa semakin tak enak padanya.


“ Kapan masa skorsingmu usai?”


“ I…tu…besok adalah hariku bekerja.”


“ Oh.”


Suasana kembali hening. Aku memandang wajahnya yang berubah serius. Aku pikir, aku sudah membuatnya kecewa.


“ Kau boleh bekerja, tapi dengan satu syarat setiap pergi dan pulang akan ada Putra bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi atau pulang seorang diri.”


Putra adalah supir pribadi Gafi.


“ Tapi…itu akan menjadi aneh kalau aku pergi dengan menaiki mobil.”


“ Itu syaratku. Kau terima atau tidak?”


Aku terdiam. Aku terjebak di antara persyaratannya itu. Mau tak mau aku harus menuruti apapun yang ia katakan.

__ADS_1


“ Baiklah, aku terima,” jawabku pada akhirnya.


“ Baguslah,” ujarnya. “ Besok aku akan mengantarkanmu untuk pertama kalinya. Tidak mungkin kau keluar tanpaku, mereka pasti akan curiga melihatmu tiba-tiba bekerja. Dan pastikan kau meminta libur untuk rencana kita, kau mengerti?”


“ Baiklah, aku akan meminta izin kepada Martin.”


“ Martin?”


Aku menutup mulutku. Aku malah keceplosan menyebut nama Martin di depan Gafi.


“ Martin itu adalah bos di tempatku bekerja. Kau jangan salah paham. “


“ Aku malah semakin salah paham padamu karena kau menyebutnya dengan sebutan nama. Apa hubungan kalian sedekat itu hingga kau tak canggung menyebut namanya?”


“ Soalnya dia itu temanku. Dulu dia selalu membantuku di saat sulit. Kami sudah saling kenal sejak lama.”


“ Oh, begitu.” Gafi menyilangkan kedua tangannya. “ Ternyata banyak hal yang aku tidak ketahui tentangmu, Yuna.”


“ Kau tidak perlu mengenalku lebih dalam, Gafi. Itu tidak penting.”


“ Kenapa tidak penting?”


Aku malah tidak bisa menjawab pertanyaannya yang tiba-tiba itu. Ia memang paling bisa membuatku tak berkutik dengan semua ucapannya.


“ Kau ini memang payah,” celetuknya. “ Sekarang letakkan bukumu itu dan istirahatlah. Bukankah besok kau akan berangkat kerja.”


“ Is-ti-ra-hat?”


" Iya, istirahat."


" Di-sini?"


“ Tentu saja, apa kau masih mau terjaga di malam yang semakin larut ini?”


“ Ta-pi…”


“ Tidurlah, ranjang ini cukup untuk kita berdua. Aku tidak mau tidur di sofa."


" Umm..."


" Sampai saat ini aku sudah menahan, jadi jangan memprovokasiku. Kau tidak perlu takut berada satu ranjang denganku.” Gafi menarik selimut yang kemudian menutupi tubuhnya. Ia tertidur membelakangiku.


Aku menyunggingkan senyumanku melihatnya yang memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya yang sedang terlelap.

__ADS_1


Aku pun meletakkan bukuku di atas nakas dan bergegas tidur. Tak lupa aku mematikan lampu yang menerangi kamar ini. Kemudian memejamkan mata berharap akan ada mimpi indah saat itu.


__ADS_2