
" Yuna..."
Suara parau itu terasa sangat menyedihkan. Martin memaksakan senyumannya kepadaku.
" Masuklah," ucapnya mempersilakanku masuk. " Maaf ruangan ini berantakan."
" Tidak apa-apa," ujarku. " Apa kau baik-baik saja?"
" Tidak terlalu."
" Maaf sudah membuatmu jadi begini. Aku tidak tahu harus bagaimana menebus kekacauan ini. Sungguh aku tidak merusak tempat ini dan aku juga tidak pernah menulis surat pengunduran diri. Mendengar berita ini aku juga sangat shock dan kau juga pasti terluka."
" Aku tahu itu pasti bukan kau, Yuna. Aku sudah mengenalmu lama. Tapi, mengapa kau yang di targetkan agar menjadi tersangka atas kerusakan tempat ini. Saat aku menemukan surat pengunduran dirimu di tengah kekacauan ini, aku semakin shock. Apa benar kau yang melakukannya? Apa kau bisa tega padaku? Entahlah, pikiranku saat itu sangat kacau."
" Maaf..."
" Tidak Yuna jangan meminta maaf. Aku hanya takut mama mendengar berita ini. Tapi, untung saja mama sedang ada di Malaysia, jadi dia tidak akan tahu apalagi kepikiran dengan masalah ini."
" Itu juga yang aku pikirkan. Kalau saja manajer tahu, dia pasti sangat kecewa."
Aku memalingkan wajahku. Tak jauh dari tempat ku duduk, terlihat sebuah surat yang aku asumsikan surat yang menjadi sumber masalahku. Aku berdiri menghampiri, lalu kuambil surat itu. Kubuka dan kubaca.
Tiba-tiba Martin merampas surat itu dari tanganku, aku sedikit kaget karena perlakuannya itu.
" Apa itu surat pengunduran diriku?"
" Ya."
" Siapa yang melakukannya..." Aku berpikir sejenak. " Bagaimana dengan CCTV? Pasti kita akan tahu kalau melihatnya, kan? Apa kau sudah memeriksanya?"
" Sayangnya CCTV sedang rusak."
" Rusak? Susah berapa lama?"
" Kira-kira dua hari yang lalu."
" Oh..." Aku sedikit kecewa. " Padahal kita bisa tahu pelakunya."
" Sudahlah." Martin menyuruhku untuk duduk. " Bagaimana denganmu setelah aku mengantarmu waktu itu?"
" Umm...aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
" Tapi Yuna... sejak kau mengenal Gafi, ada saja masalah menimpamu. Apa kau tidak menyadarinya?"
Aku tersenyum kecut. " Aku sudah tahu konsekuensinya dan menerima semuanya. Aku orang biasa yang masuk di kehidupan Gafi dan itu tidak akan mudah."
" Dan kau akan bertahan?"
Aku mengangguk.
" Kenapa?"
" Bagiku pernikahan ini sudah kupikirkan dengan matang. Pilihanku saat itu dan sekarang adalah hidup bersamanya. Hanya itu yang bisa aku katakan, Martin."
" Dia tidak menghargaimu, Yuna. Lihat saja kemarin, dia membentak dan menyakitimu. Dia bisa saja melakukan lebih dari itu.Dan kau masih ingin bertahan."
" Kau tidak mengenalnya Martin. Dia tidak seperti itu."
__ADS_1
" Kau terus membelanya, padahal kau juga tidak mengenalnya dengan baik, Yuna!"
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya kulihat Martin begitu meledak-ledak. Emosinya begitu terlihat di raut wajahnya.
" Aku memang harus membelanya, dia suamiku, terlepas sikapnya buruk terhadapku. Aku juga tidak sepenuhnya baik. Kau tidak akan pernah tahu Martin."
" Ya, kau benar. Aku tidak akan pernah tahu, tapi aku yang selalu bersamamu. Kenapa bukan aku, Yuna."
" A-pa?"
" Aku menyukaimu sejak lama. Apa kau menganggap hubungan kita ini hanya sekedar teman? Mendengarmu sudah menikah membuatku frustasi. Kenapa bukan aku? Apa yang bisa kulakukan agar kau bisa bersamaku?"
" Kau menyukaiku? Kenapa?"
" Apakah harus ada alasan untuk menyukaimu?"
" Tapi selama ini kau tidak mengatakan apa-apa."
" Karena aku menganggap kau tidak akan pergi dariku!"
Aku terdiam.
Yang dikatakan Gafi benar. Martin melihatku lebih, bukan hanya sebagai teman.
" Sebaiknya aku pergi." Aku hendak beranjak, namun Martin menarik tanganku. Aku menatapnya. " Martin..."
" Tolong jangan pergi. Maafkan aku kalau ucapanku barusan membuatmu canggung."
" Maaf." Tiba-tiba Martin meringkuk, aku pun menghampirinya. Terlihat dia sangat kesakitan. " Aku tidak apa-apa."
" Tapi, kau kesakitan Martin."
" Tolong ambilkan saja obat yang ada di meja sana. Aku akan baik-baik saja kalau sudah meminumnya."
" Baiklah akan kuambil kan."
Aku pun bergegas mengambil air dan obat yang di maksud Martin. Namun, saat aku berbalik Martin sudah ada di depanku. Sangking terkejutnya aku hampir saja jatuh ke belakang, namun Martin dengan cepat menangkap tubuhku.
" Terima kasih. Maafkan aku." Aku hendak melepaskan diriku, namun Martin malah mengeratkan tangannya. " Martin..."
" Yuna, aku serius. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sampai sekarang perasaanku masih sama."
" Martin, jangan seperti ini. Aku mengerti dengan perasaanmu, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah menikah."
" Tinggalkan dan hidup bersamaku. Aku akan membahagiakanmu."
" Aku tidak bisa. Tolong lepaskan aku."
Martin menggelengkan kepalanya.
Ia bahkan terus menatapku dan tidak sedikitpun memalingkan pandangannya.
" Ini salah, jangan begini. Tolong Martin, lepaskan aku," pintaku sambil berusaha melepaskan diri.
Martin malah mendorong tubuhku ke tubuhnya. Tentu saja aku sangat terkejut.
__ADS_1
" Maafkan aku."
Martin berusaha merengkuh bibirku. Aku sekuat tenaga mendorong tubuhnya, namun sekuat apapun tenagaku pada akhirnya aku akan kalah kuat darinya.
Aku tak menyangka ia akan melakukan ini padaku. Pertemanan yang kuanggap sebagai saudara ini ternyata harus berakhir begini.
Air mataku menetes. Demi melepaskan diri, aku menggigit bibirnya. Martin kesakitan dan pegangan erat itu terlepas. Aku bergegas pergi sebelum Martin menangkapku.
Aku keluar dan berpapasan dengan Tia dan Herman. Mereka memanggilku, namun aku tak menggubrisnya dan terus berlalu.
Hujan yang tiba-tiba turun menambah kesedihanku. Aku bahkan tak peduli dengan mata orang memandangiku yang tengah menangis. Pakaianku pun basah kuyup.
Sayup-sayup terdengar suara memanggil namaku. Aku semakin ketakutan dan tak berani menoleh ke belakang. Aku berlari sekencang mungkin agar Martin tak menemukanku.
Karena tak berhati-hati, aku pun terjatuh. Aku segera bangkit, namun sebuah tangan memegang bahuku. Reflek aku menjerit ketakutan, tapi orang itu malah memelukku .
" Yuna, tenanglah, ini aku, Gafi."
Mendengar suaranya, tiba-tiba aku menjadi tenang.
" Gafi..." Aku memeluknya erat dan menangis sejadi-jadinya. Gafi tampak bingung sikapku ini.
" Yuna..."
" Maafkan aku. Aku minta maaf seharusnya aku mendengarkanmu."
" Tidak apa-apa, sudah jangan menangis lagi."
Aku menggelengkan kepalaku.
" Aku sangat jahat padamu "
" Yuna, ada apa? Apa yang sudah terjadi? Apa Martin melakukan sesuatu padamu?"
Aku menganggukkan kepala.
" Apa yang dia lakukan padamu."
Aku terdiam.
" Yuna...."
Gafi terbelalak begitu melihat sebuah bekas di leherku. Darahnya mendidih mengetahui apa yang sudah dilakukan Martin kepadaku.
" Apa dia yang melakukan ini," tanya Gafi menunjuk bekas yang ada di leherku. Aku agak kaget karena tak menyadari kalau ada sesuatu di sana.
Gafi menarik ku paksa, lalu mencium bibirku. Seakan menghilangkan bekas yang di tinggalkan Martin di sana. Ciuman yang Gafi lancarkan terasa berbeda dari biasanya.
Napas kami tersengal-sengal karena ciuman itu. Aku memandanginya.
" Apa lagi yang ia lakukan padamu, Yuna?" Suara Gafi begitu lirih terdengar. Aku sudah melakukan hal yang tidak baik bahkan sudah menyakitinya.
Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Menatapnya dalam, lalu menciumnya lembut. Gafi membalas ciumanku itu. Dan Air mataku tak berhenti menetes.
Gafi ...inilah karma karena tak mendengarkanmu. Aku bersalah dan tak pantas menjadi seorang istri.
Tolong maafkan aku, walaupun kata maaf mungkin tak akan cukup menggambarkan rasa kecewamu padaku.
__ADS_1