
Aku melangkahkan kakiku begitu sampai di rumah. Lampu-lampu di dalam rumah sudah menyala dengan terangnya. Namun, tidak ada mobil yang terparkir di depan rumah.
Begitu aku di depan pintu, aku sangat terkejut karena pintu yang tiba-tiba terbuka. Gafi menyambutku dengan senyuman yang susah untuk aku artikan. Apakah dia sedang marah karena aku terlambat pulang atau memang ia ingin menyambut kepulanganku.
" Maaf," ujarku bersalah.
" Seharusnya kau menghubungiku jika kau bertemu dengan Aydin."
Aku terdiam. Putra pasti memberitahu kemana aku pergi sore ini.
" Kenapa kau malah diam? Apa kau pikir aku sedang marah padamu?"
Aku mengangguk.
" Aku sama sekali tidak marah padamu," ujarnya menenangkanku. " Sekarang masuklah, di luar sangat dingin, sebentar lagi akan turun hujan."
" Kenapa kau cepat sekali pulang? Bukankah pekerjaanmu begitu banyak tadi?"
" Sudah aku selesaikan secepat mungkin. Aku takut kau akan sendirian di rumah."
Aku tersenyum senang.
" Terlihat kau sangat senang," ujarnya karena melihatku tersenyum.
" Tentu saja," jawabku.
" Apa Aydin baik-baik saja? Bagaimana dengan kuliahnya?"
" Dia baik-baik saja. Dua hari lagi dia akan berangkat ke Jepang. Anak itu selalu serius mengenai pelajarannya."
" Baguslah. Dia tahu apa yang diinginkannya."
Aku mengangguk.
" Oh ya." Aku langsung teringat sesuatu. " Tadi aku juga bertemu dengan Hanum. Ah...sebenarnya aku melihatnya di kampus Aydin hari ini."
" Benarkah. Apa yang di lakukan Hanum di sana?"
" Entahlah..., tapi dia bersama dengan seorang wanita. Mereka terlihat sangat akrab."
" Seorang wanita?"
" Ya..., tapi aku tidak kenal dengan wanita itu. Tapi, aku sempat bertemu dengan wanita itu dan sempat berbincang dengannya."
" Bagaimana bisa?"
" Waktu aku di kantin karena meja sudah penuh, dia mendatangiku untuk duduk di tempatku. Dia juga sangat cantik."
" Oh begitu."
" Dia bilang kalau dia belum lama tiba di sini karena selama ini dia tinggal di Swiss. Dia pulang karena seseorang. Mereka pernah bersama, tapi harus berpisah."
Gafi tersenyum kecil karena mendengar cerita dari istrinya ini. Untuk pertama kalinya ia melihat istrinya ini bercerita dengan semangatnya.
" Kenapa kau tahu sedetail itu?"
" Dia yang menceritakannya padaku."
" Dan kau merekamnya dengan baik."
" Tentu saja, ingatanku ini masih sangat kuat."
" Tapi ingatanmu dan nalarmu tidak sinkron sekarang ini."
" Ha? Apa maksudmu?"
" Kau penasaran' kan? Kenapa tidak tanyakan langsung pada Hanum."
" Kau benar, tapi..."
" Kenapa?"
" Rasanya aneh 'kan kalau bertanya seperti ini. Seolah-olah aku mencampuri kehidupan pribadinya."
__ADS_1
" Kalau kau tidak mau, aku saja yang bertanya padanya."
" Jangan!"
" Kenapa jangan?"
" Pokoknya jangan."
" Hmm...baiklah," ujarnya. " Kau gantilah pakaian, setelah itu kita makan, tadi tante Liz membawakan makanan."
" Oke." Aku pun pergi meninggalkan Gafi di dapur.
Saat aku meninggalkannya, Gafi langsung mengambil ponselnya, lalu mencari nama Hanum di sana.
" Tumben kau menghubungiku," ujar Hanum dari ujung telepon. " Ada apa dengan Tuan Gafi kita ini."
" Kau di rumah?" tanya Gafi tanpa menjawab pertanyaan Hanum sebelumnya.
" Ya, aku baru saja tiba di rumah," jawabnya.
" Sendiri?"
" Apa maksudmu dengan sendiri?"
" Tadi kau bersama dengan seseorang?"
" Hei, Gafi. Kenapa bicaramu berbelit-belit. Tentu saja aku bersama dengan orang-orang. Kau tahu pekerjaanku, kan."
" Bukan orang itu maksudku."
" Lalu?"
" Apa kau tadi berada di kampus Aydin, adik Yuna?"
" Bagaimana kau bisa tahu?" Suara Hanum sedikit bergetar. " Apa kau berada di sana tadi?"
" Tidak, tapi Yuna ada di sana."
" Yuna?" Hanum sedikit kaget. " Dia ada di sana?"
" Bukan seperti itu, aku hanya..." Hanum tidak melanjutkan ucapannya.
" Hanya apa?" Gafi bertanya kembali. " Yuna bilang kau bersama dengan seorang wanita di sana. Dia sangat penasaran karena kalian terlihat sangat akrab."
" Oh... Aku bertemu dengan seorang teman di sana."
" Kau tidak sedang berbohong'kan?"
" Apa yang kau bicarakan, bagaimana bisa aku berbohong padamu."
" Baiklah."
Hanum tidak mengucapkan sepatah katapun dari sana.
" Kenapa kau tiba-tiba diam?"
Hanum menghela napas. Terdengar berat.
" Maafkan aku untuk kali ini saja, Fi."
" Ada apa denganmu?"
Hanum hanya diam.
" Hanum"
" Sherin."
Nama yang Hanum ucapkan membuat Gafi terdiam.
" Siapa yang menelepon?" tanyaku tiba-tiba yang membuat Gafi kaget. Gafi menggelengkan kepalanya, lalu mengakhiri pembicaraannya.
" Teman," jawabnya singkat. " Aku sudah lapar, ayo kita makan."
__ADS_1
Aku mengangguk. " Aku juga sangat lapar," ujarku.
...****...
" Besok, aku harus membeli apa untuk Soraya?" tanyaku sambil memberikan Gafi segelas air putih.
" Untuk apa?"
" Bukankah besok Soraya ulang tahun?"
" Kau serius membelikan sesuatu untuknya? Kau tahu' kan dia tidak menyukaimu, dia tidak mungkin menerima apa yang kau berikan."
" Aku tahu, tapi apa aku harus datang tanpa membawa apapun? Lebih baik di tolak dari pada tidak mempersiapkan sesuatu."
Aku menyunggingkan senyuman. " Kau memang aneh. Aku bahkan tidak ingin datang ke acara itu."
" Jangan seperti itu."
" Aku tahu konsekuensinya, makanya aku sudah menyiapkan semuanya termasuk hadiah untuk Soraya."
" Benarkah?" Aku tersenyum lebar. " Kenapa tidak bilang dari tadi, aku sampai takut memikirkannya."
" Kau' kan baru tanya sekarang."
" Kau ini," ujarku cemberut.
" Maaf." Gafi membelai rambutku lembut.
" Oh ya, apa besok aku tanya saja pada Hanum ya sekalian aku bertanya mengenai pekerjaan itu."
" Ha?"
" Kenapa ekspresimu seperti itu?"
" Ah..." Gafi membetulkan posisi duduknya. " Karena tiba-tiba kau ingin bertanya padanya, bukannya tadi kau bilang tak ingin bertanya."
" Iya, tapi aku berubah pikiran."
" Baiklah, pergilah pagi hari, setelah dari situ, kau pergilah ke salon."
" Salon?"
Gafi mengangguk. " Kau sudah lama tidak ke sana' kan?"
" Iya, tapi..."
" Tidak ada tapi-tapi. Sekarang waktunya kau memanjakan dirimu sendiri. Kau juga harus menunjukkan dirimu' kan?"
Aku tercengang mendengar ucapannya ini. Baru kali ini ada seorang pria berkata seperti ini padaku. Memang sudah sangat lama aku tidak menginjakkan kakiku ke tempat itu, bahkan memikirkannya saja aku enggan karena masih banyak hal yang harus aku pikirkan selain itu.
" Kenapa malah diam?"
" Aku terharu," ujarku pelan.
" Ha?" Gafi seakan-akan tidak mendengarkan perkataanku barusan. " Katakan sekali lagi, aku tidak dengar."
" Argh... kau ini." Aku mencubit lengannya. Gafi tertawa melihat tingkahku ini. " Diamlah jangan tertawa lagi." Aku menutup mulutnya dengan tanganku.
" Baiklah-baiklah," ujarnya masih dengan tertawa kecilnya. " Aku tidak akan tertawa lagi."
" Kau bohong." Aku masih dengan wajah cemberutku.
" Kemarilah," ujarnya menyuruhku duduk di pangkuannya. Dengan gerakan malas aku pun menghampirinya. " Kalau kau terus cemberut seperti ini malah semakin menggemaskan."
" Ha?" Aku terkaget. " Dasar mesum."
Gafi tertawa kecil. " Kenapa aku mesum?"
" Sejak kapan orang cemberut jadi menggemaskan. Perkataan seperti itu terdengar mesum."
" Dasar kau ini." Gafi menghela napas. " Baiklah akan kutunjukkan bagaimana mesum itu."
" Argh!!" teriakku karena Gafi tiba-tiba mengangkat dan menggendongku. " Gafi, turunkan aku."
__ADS_1
" Tidak mau." Gafi pun tidak memperdulikan permintaanku ini.