
Aku beranjak dari tempatku setelah beberapa menit Aydin pergi meninggalkanku. Berbicara dengannya hari ini sudah memuaskan hatiku yang sempat tak karuan sejak kemarin. Namun kini aku harus bertemu dengan Ayah untuk menyampaikan berita pernikahanku ini. Bertemu dengan Ayah adalah hal yang tersulit untukku karena ini menyangkut kehidupanku.
“ Kau sudah selesai?”
Aku terkejut mendengar suara yang sudah sangat aku kenal itu. Ia benar-benar ada dihadapanku saat ini.
“ Kenapa kau ada di sini?” tanyaku heran.
“ Aku menunggumu,” jawabnya.
“ Bukankah sudah kubilang kalau aku akan menyelesaikannya sendiri? kenapa kau malah mengikutiku?”
“ Kenapa aku harus mengikutimu.”
“ Ha?” Aku menyilangkan kedua tanganku. “ Kalau tidak mengikutiku, lalu kenapa kau ada di sini?”
“ Aku……..hanya kebetulan lewat.”
“ Dasar pembohong.”
“ Memangnya kenapa kalau aku ada di sini, aku juga punya kepentingan ditempat ini.”
Aku pun teringat dengan ucapan Aydin mengenai Gafi yang juga punya andil di dalam kampus ini.
“ Oh, begitu.”
“ Hmm….kenapa aku merasa ekspresimu itu menyiratkan kalau kau tidak percaya dengan ucapanku.”
“ Tidak, itu hanya perasaanmu saja.”
“ Kau ini…” Gafi menghela napasnya. “ Ya sudahlah. Kau mau kemana?”
“ Memangnya kenapa?”
“ Aku akan bersamamu hari ini.”
“ Apa kau tidak punya pekerjaan? pergilah, aku bisa sendiri.”
“ Kenapa kau keras kepala sekali! kau dan aku sekarang punya kepentingan bersama, jadi aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik.”
“ Ha?” Aku menyeringai.
“ Yuna, kau percaya ataupun tidak, sekarang gerak-gerik kita akan selalu di pantau. Kau pikir keluargaku akan diam saja dengan pernikahan kita?” Gafi menatapku tajam, “ tentu saja tidak, mereka akan mencari celah untuk mengacaukan rencana ini. Jadi bekerja samalah dengan baik.”
Aku menghela napas berat.
“ Baiklah, aku mengerti,” jawabku. “ Lagi pula kau yang tahu tentang keluargamu, aku hanya akan mengikutimu.”
“ Baguslah kalau kau mengerti,” ucapnya menganggukkan kepalanya. “ Jadi, apa kau akan pergi ke tempat itu?”
“ Tempat itu?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“ Tempat itu untuk menemui Ayahmu,” jawabnya yang membuatku sedikit kaget.
“ Ah iya, aku akan ke tempat itu.” Aku menundukkan kepalaku.
“ Ayo.” Gafi menadahkan tangannya ke arahku. Ia memberikan isyarat agar aku meraih tangannya itu, tapi aku masih terdiam. “ Apa kau tidak akan pergi?”
“ Pergi,” ucapku lalu meraih tangannya.
Aku tidak mengerti dengan pria yang ada di depan mataku ini. Kadang sikapnya membuatku nyaman dan terkadang sikapnya membuatku kesal.
Mengetahuinya mengenal bagaimana keadaanku membuatku berharap banyak padanya. Walaupun itu hanya keinginan semu yang tentu saja tidak akan pernah terpenuhi.
...****...
Lembaga Pemasyarakatan Arga
Aku menunggu dengan cemas kedatangan Ayah di ruang tunggu tempat para keluarga berkunjung. Aku menggenggam tanganku erat sangking cemasnya. Gafi yang ada di sampingku pun mencoba untuk menenangkanku.
“ Tenanglah, aku juga ada di sini, kan?”
Aku menganggukkan kepalaku perlahan.
“ Yuna.”
Aku langsung menoleh begitu mendengar suara Ayah memanggil namaku. Aku pun langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat.
“ Ayah…..”
“ Kau sehat, Nak,” tanyanya sambil mengelus punggungku.
“ Ya. Ayah, baik-baik saja, Nak.”
“ Yuna rindu Ayah.”
“ Ayah juga merindukanmu. Kemarin Aydin juga datang menemui Ayah. Dia semakin dewasa saja, Ayah sangat bangga dengannya dan juga kamu, Nak.”
“ Iya, Aydin memang semakin dewasa, terkadang Yuna sampai tidak percaya dengan perubahan sikapnya itu.”
Ayah tersenyum.
Terlihat Ayah memperhatikan sosok yang ada di belakangku. Aku pun langsung menoleh ke belakang begitu Ayah mengernyitkan dahinya.
Gafi yang menjadi pusat perhatian kami langsung menyunggingkan senyumannya.
“ Yuna, siapa pria itu?” tanya Ayah.
“ Pria itu bernama Gafi, Ayah,” jawabku, “ Yuna akan menikah dengannya.”
Ayah sedikit terkejut dengan pernyataanku itu.
“ Kau akan menikah, Nak?”
__ADS_1
“ Iya Ayah,” ujarku. “ Sebaiknya kita duduk, Yah. Banyak yang akan Yuna sampaikan.”
“ Baiklah, mari kita duduk.”
...****...
Aku dan Gafi duduk di hadapan Ayah bak akan di sidang. Di benak Ayah mungkin banyak pertanyaan yang akan Ia sampaikan padaku dan Gafi karena rencana pernikahan yang aku sampaikan tadi.
“ Yuna bilang, kau akan menikahinya, apa itu benar?” tanya Ayah pada Gafi.
“ Itu benar, Pak. Saya akan menikahi Yuna,” jawabnya tanpa ragu. “ Kedatangan kami ke sini untuk meminta restu.”
“ Restu?”
“ Iya, kami ingin meminta restu. Bapak pasti terkejut melihat kedatangan saya karena sebelumnya saya dan Bapak belum pernah bertemu, lalu sekarang mendengar berita pernikahan ini pastinya membuat Bapak sangat bingung.”
“ Memang benar, pernikahan ini mendadak, tapi saya sangat serius dengan rencana ini. Maka dari itu saya memberanikan diri untuk bertemu dengan Bapak dan meminta Yuna untuk menjadi pendamping saya.”
Aku menatap Gafi. Perkataan yang begitu indah di dengar walaupun entah itu tulus atau tidak, tapi setidaknya Ayah tidak berat melepasku bersama pria ini.
“ Yuna, apa kau serius akan menikah?”
“ Yuna serius. Yuna pernah akan menikah dan berakhir mengecewakan, seberapa seriusnya Yuna waktu itu, sama seperti sekarang ini.”
Ayah mengangguk-anggukkan kepalanya.
“ Melihat kedatanganmu ke sini bersama Yuna sudah mengindikasikan kalau kau memang serius. Berarti kau mengetahui bagaimana latar belakang keluarga Yuna. Tapi, percayalah kami sekeluarga tidak seburuk itu.”
“ Saya tahu, Pak.”
“ Bapak yakin kalau keluargamu tidak menyetujui Yuna menjadi istrimu kalau keluargamu tahu, orang tua dari Yuna ada di dalam penjara. Jadi, Bapak mohon jaga dan lindungilah Yuna. Ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk melindunginya. Kau lihat keadaan Bapak sekarang ini. Bapak tidak bisa mengawasi Yuna.”
“ Jika suatu saat nanti kau tidak menyukainya lagi, tolong jangan sakiti dia, kembalikan Yuna ke keluarganya. Masih ada adiknya, kembalikan kakak kesayangannya kepadanya. Kau mengerti, kan?”
“ Saya mengerti, Pak. Saya akan menjaga dan melindungi Yuna apa pun yang terjadi nanti. Tapi, terlepas apapun itu, saya tidak akan melepaskan Yuna, saya akan bersama dengan Yuna sampai kapan pun.”
Ayah menyunggingkan senyuman.
“ Semoga saja akan selalu begitu. Bapak cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Restu dari Bapak sudah kau dapatkan, jadi jagalah itu dengan baik.”
“ Iya, Pak.”
“ Yuna, maafkan Ayah tidak bisa mendampingimu nantinya. Walaupun Ayah ingin sekali berada di sampingmu, tapi mungkin inilah yang terbaik dari Tuhan.”
“ Tolong bahagialah, Nak. Sekarang sudah ada pria yang bersamamu yang akan melindungi menggantikan Ayah. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang Ayah melihat anaknya juga bahagia.”
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dengan air mata yang terus mengalir. Aku menantap ayahku, sungguh aku tidak sanggup melihat raut wajahnya yang terlihat sedih. Aku pun menghambur memeluknya, menangis segugukkan di pelukannya.
“ Jangan menangis, Yuna,” ujarnya mengusap punggungku.
Ini adalah kebiasaan ayah yang selalu mengusap punggungku saat aku menangis. Ia akan menenangkanku dengan caranya itu sampai aku tenang. Ia adalah ayah yang terbaik yang aku punya.
__ADS_1
“ Kau lihat, kan, Gafi, Yuna itu sangat cengeng.”
Gafi menatapku yang masih memeluk ayah. Entah apa yang ada di pikirannya, aku pun tak tahu. Namun, saat ini aku bahagia melihat ayah juga bahagia.