Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat bekerja bersama dengan Gafi. Namun kali ini Putra lah yang mengendarai mobil ini. Di dalam mobil, aku sibuk mengunyah roti yang sudah aku siapkan tadi. Kami tak sempat sarapan karena pagi ini Gafi harus menghadiri rapat penting. Aku menyodorkan sepotong roti padanya. Gafi menggelengkan kepalanya. Aku menyodorkan kembali roti itu, tapi dia kembali menolaknya.


“ Kau harus sarapan, setidaknya kau punya tenaga untuk marah-marah,” celetukku sambil mengunyah roti yang ada di mulutku.


“ Makanlah.” Aku kembali menyodorkan roti itu, namun Gafi menepis tanganku dan malah mengambil roti yang masih menempel di mulutku. Aku terkejut bukan main, kedua bola mataku membesar, sedangkan Gafi tersenyum kecil padaku seperti orang yang puas karena berhasil menggodaku.


Aku menatap ke depan melihat Putra yang sedang menyetir. Rasanya aku malu sekali karena pastinya Putra melihat tingkah kami dari balik kaca spion. Gafi benar-benar senang membuatku malu.


“ Kenapa kau melakukannya!”


“ Apa? tadi bukannya kau yang menyuruhku sarapan? Aku sudah melakukannya, tapi kenapa kau malah marah padaku.”


“ Aku memang menyuruhmu sarapan, tapi tidak seperti itu. Aku menyodorkannya, kenapa tidak mengambil dari tanganku saja.”


“ Aku lebih suka langsung darimu, memang apa salahnya.”


“ Kau seharusnya melihat situasi, ada Putra. Apa kau tidak tahu malu.”


“ Hoo…kalau begitu aku boleh melakukannya jika tidak ada orang lain, begitu maksudmu? Kalau begitu aku akan mengingat kata-katamu yang satu ini.”


“ Bukan seperti itu maksudku! Kenapa kau suka sekali membuatku kesal, ha!”


Gafi malah terkikik. Dan aku pun semakin kesal. Masih pagi dan dia sudah membuatku marah. Benar-benar kelakuannya yang suka sekali seperti itu padaku.


“ Kau marah?”


“ Jangan bicara padaku.”


“ Kenapa?”


“ Karena aku kesal.”


“ Kenapa kau harus kesal.”


“ Arghh!!!” teriakku. “ Sudah kubilang jangan bicara padaku!”


Aku memalingkan wajahku.


“ Putra, katakan pada Nyonya jangan memalingkan wajahnya seperti itu.”


Putra yang mendapatkan perintah dari tuannya itu pun menyampaikan apa yang dikatakan oleh majikannya itu


“ Putra katakan pada Tuan, kalau istrinya sedang tak ingin di ganggu.”


Putra pun menyampaikan hal yang sama kepada tuannya itu.


Berulang kali aku dan Gafi meminta Putra agar menyampaikan apa yang kami ucapkan. Putra menjadi jembatan antara kami berdua.


Di dalam hatinya, Putra pasti kesal dengan kelakukan majikannya ini yang terkesan kekanak-kanakan.


“ Tuan, Nyonya, kenapa kalian menyiksa saya seperti ini. Lebih baik saya menyelesaikan setumpuk pekerjaan dari pada melihat Tuan dan Nyonya bertengkar. Saya jadi bingung kalau sudah begini.”


Aku dan Gafi saling menatap mendengar unek-unek dari Putra. Kesabaran seorang Putra sudah melebihi batas sepertinya.


“ Maafkan kami,” ucapku padanya.


“ Bukan seperti itu Nyonya, jangan meminta maaf.” Putra jadi tak enak padaku dan Gafi.


“ Tapi kami sudah menyusahkanmu.”


“ Tidak Nyonya jangan mengatakan itu, saya jadi merasa bersalah.”


“ Tidak-tidak, jangan begitu.”


“ Haa…” Gafi menghela napas panjang mendengar percakapanku dan Putra ini. “ Kalian berdua ini hentikanlah.”


Aku pun langsung terdiam begitu juga dengan Putra.


Setengah jam kemudian, aku pun sampai di tempat kerja. Sesuai kesepakatan, aku tak ingin di turunkan di depan kafe melainkan di dekat halte yang tak jauh dari tempatku bekerja. Putra bergegas turun membukakan pintu untukku. Aku pun turun setelah berpamitan dengan Gafi.


Aku mengetuk kaca jendela.


Dan Gafi pun segera menurunkan kaca jendela itu.


“ Hati-hatilah di jalan,” ujarku.


“ Oke,” balasnya. “ Oh ya, ada sesuatu yang harus kukatakan, tolong dekat ke sini.”


Aku pun mendekat, kakiku setengah membungkuk supaya mempermudah dirinya.


Sebuah kecupan di dahi mendarat dengan cepat. Aku memundurkan langkahku sambil memegang dahiku. Aku masih shock.


“ Bekerjalah dengan baik,” ujarnya, lalu pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Aku menghela. Entah harus marah atau senang dengan perlakukannya itu padaku. Dia memang penuh kejutan, aku tak pernah bisa menebak apa yang ada dipikirannya itu.


...****...


“ Selamat pagi,” sapaku.


“ Yuna,” sapa Herman menghampiriku.


“ Kebetulan sekali, aku membawakan sesuatu untuk kalian.”


“ Kau bawa apa?”


“ Nanti aku berikan.”


“ Oke. Oh ya, bantu aku sebentar ya. Aku dan Bos sedang mengerjakan sesuatu di kantornya, apa kau bisa membantu kami?”


“ Tentu saja.”


“ Baguslah. Ayo kita ke sana.”


“ Oke.”


Aku pun mengikuti Herman.


Di dalam sana, terlihat Martin tengah sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya. Aku pun menyapanya dan ia pun tersenyum padaku.


“ Bagaimana liburanmu?” tanyanya sambil menyuruhku duduk.


“ Menyenangkan,” jawabku seadanya. “ Oh ya, Bos, Herman bilang kalau Bos memerlukan bantuan.”


“ Iya benar sekali. Tolong ketikkan semua yang ada di dalam buku ini, kalau bisa secepatnya.”


“ Oh…baiklah Bos.”


Aku melihat beberapa tumpukan kertas yang akan aku ketik ini. Lumayan banyak, pikirku.


“ Herman, kau mengawasi staf di bawah sana. Sesekali aku akan memanggilmu.”


“ Baik Bos, akan saya laksanakan,” ujarnya. “ Kalau begitu saya pamit kembali bekerja.”


“ Ya.”


Herman pun meninggalkanku dan Martin, berdua di sini.


“ Yuna, minumlah.”


Aku tersentak karena tak menyadari kehadiran Martin di dekatku. Sebotol minuman ringan, Martin berikan padaku.


“ Terima kasih.”


“ Maaf sudah menyusahkanmu.”


“ Tidak sama sekali. Aku sama sekali tidak terbebani.”


“ Aku tadi melihatmu turun dari sebuah mobil. Apa kau di antar oleh suamimu?”


“ Ah…ya,” jawabku terbata-bata. “ Kau melihatnya?”


“ Ya, aku juga melihat saat kau sedang di cium olehnya.”


Mendengar ucapannya, aku jadi salah tingkah.


“ Kau melihatnya juga? jadi kau sudah mengenali wajah suamiku?”


“ Tidak, aku tidak bisa melihat wajah suamimu.”


“ Oh…”


Aku sedikit lega.


“ Apa kau bahagia dengan pria itu?”


“ Tentu.”


Martin mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Aku masih belum menerima kalau kau sudah menikah, Yuna. Aku masih berharap kau seperti Yuna yang dulu.”


“ Kenapa kau bicara seperti itu.”


Martin hanya tersenyum.


“ Sudahlah, lupakan saja apa yang aku katakan tadi.” Martin sama sekali tidak menjawab pertanyaanku barusan. “ Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku harus keluar sebentar.”


“ Baiklah.”

__ADS_1


Martin pun meninggalkanku sendiri di ruangan ini.


Aku segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum Martin kembali. Lagi pula aku harus bekerja seperti biasanya di bawah sana. Aku merasa tak enak karena tidak membantu teman-teman yang lain.


Setengah jam kemudian, Martin tak kunjung kembali ke sini. Pekerjaanku pun sudah selesai. Aku memutuskan untuk keluar dan bergegas bergabung dengan teman yang lain.


“ Pekerjaanmu sudah selesai,” tanya Herman.


“ Sudah,” jawabku. “ Apa kau tahu di mana Bos? Sudah setengah jam ia tidak kembali, katanya hanya keluar sebentar.”


“ Aku juga tidak tahu, tadi Bos memang keluar.”


“ Begitu ya.”


“ Umm,” angguknya.


" Yuna, bisa tolong buangkan sampah ini ke belakang," pinta Tia.


" Oke,"jawabku. " Maaf, tidak bisa membantumu tadi."


" Tidak apa-apa, kau juga sibuk membantu Bos. Herman bilang tumpukan kertas yang kau kerjakan itu sangat banyak."


" Kau benar, badanku sampai pegal."


" Kau minta saja Gafi memijatmu."


" Kau ini!"


Tia tertawa.


" Apa hanya dua kantong ini."


" Ya."


" Oke. Tukang sampah pergi dulu."


" Semoga selamat sampai tujuan."


" Terima kasih."


Aku membawa dua kantong berisi sampah itu sekaligus. Untung saja di belakang sana, sudah ada truk sampah yang akan membawa tumpukan sampah ini. Aku memberikan dua kantong sampah ini pada petugas itu.


" Terima kasih ya, Pak," ucapku, lalu membasuh kedua tanganku di kran air yang ada di belakang.


Saat ingin kembali ke dalam. Aku melihat Martin tengah duduk di dalam mobilnya. Aku penasaran apa yang sedang dilakukannya di dalam sana.


Aku mengetuk kaca jendela itu. Dan segera Martin turun dari mobilnya.


" Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku heran.


" Menenangkan diri," jawabnya sedikit ambigu menurutku.


" Memangnya ada apa denganmu? Apa kau sedang ada masalah atau kau sakit?"


Martin tersenyum kecil.


" Senangnya mendengar kau khawatir dengan keadaanku."


" Kau ini berkata apa, sudah seharusnya sebagai teman, kan."


" Teman... ya, kau benar."


Aku dan Martin tertawa kecil.


Tiba-tiba Martin membelai rambutku. Aku pun terkejut. Namun, sedetik kemudian ia mengacak-acak rambutku.


" Kenapa kau mengacak rambutku!" protesku, namun Martin hanya tersenyum. " Kau ini!"


" Jangan marah-marah nanti cepat tua," ujarnya, lalu melingkarkan lengannya di leherku. " Apa tugasmu sudah selesai?"


" Sudah."


" Baguslah, tidak sia-sia aku mengandalkanmu."


" Tentu saja," ujarku membanggakan diriku.


" Kalau begitu ayo masuk ke dalam."


" Iya, tapi lepaskan dulu."


" Sudah ayo."


" Kau ini!!!"

__ADS_1


__ADS_2