
Pagi ini aku tidak melihat Gafi di manapun. Saat aku bangun, Gafi memang sudah tidak ada di sampingku. Bibi yang bekerja di vila ini mengatakan kalau Gafi sudah keluar sejak tadi untuk lari pagi seperti biasanya.
Saat ini otakku terus menerus memikirkan kejadian kemarin. Gafi terlihat sangat marah dan kecewa padaku, namun pelukan yang ia berikan padaku pada malam itu terasa sangat menyakitkan. Seperti ada sesuatu yang ia takutkan, tapi aku tidak tahu apa itu.
Aku pun tak tahu bagaimana caranya untuk menanyakan hal itu padanya. Aku takut ia tak nyaman dengan pertanyaanku nantinya. Rasa penasaran yang masih menyelimutiku belum bisa terjawab saat ini.
Aku membantu bibi untuk menyiapkan sarapan. Nasi goreng dan telur mata sapi sebagai sarapan pagi ini. Bibi banyak cerita padaku tentang keluarga Gafi, termasuk ibu Gafi yang sudah meninggal. Aku yang memang ingin tahu tentang ibu mertuaku itu mendengarkan cerita bibi dengan antusias.
Ibu Gafi yang di kenal bibi sangat lembut dan perhatian. Sosok wanita yang keibuan dan sederhana. Selama bibi mengenalnya, tak pernah sedikitpun ia melihat majikannya itu mengeluarkan kata-kata kasar dan marah kepada para pekerja. Sosok yang sangat ia kagumi.
" Mama meninggal karena sakit ya, Bi?" tanyaku penasaran.
" Iya, Nyonya. Saat itu nyonya besar sakit dan tak lama kemudian nyonya meninggal. Bibi sangat kasihan dengan Tuan Gafi. Tuan sangat sedih."
" Pasti saat itu Gafi sangat kehilangan."
" Iya, Nyonya, Tuan Gafi sangat kehilangan sosok ibu. Ya...walaupun sudah ada pengganti, tapi sangat berbeda. Bibi saja merasakannya, apalagi Tuan."
" Ha?" Aku sedikit terkejut dengan perkataan terakhir bibi. Sepertinya ibu sambungnya itu memiliki hubungan yang kurang baik dengan para pekerja.
" Nyonya yang sekarang sangat berbeda, suka marah. Pokoknya lain sama nyonya pertama. Eh..." Bibi menutup mulutnya. Sepertinya bibi menyadari kalau ia terlalu banyak bicara. " Maaf Nyonya, bibi jadi bicara yang tidak-tidak."
" Tidak apa-apa, Bi."
Bibi tersenyum malu.
" Bibi ke belakang dulu ya Nyonya, mau beres-beres."
" Iya Bi, silakan".
" Permisi Nyonya."
Aku tersenyum melihat sikap bibi yang jadi salah tingkah. Padahal aku tidak mengambil hati apa yang sudah di katakan bibi barusan. Itu adalah kata hatinya dan mungkin saja sudah lama ingin di ungkapkannya.
...****...
“ Selamat pagi.”
Terdengar suara seseorang memasuki rumah. Aku berbalik dan Aril sudah berdiri di sana. Ia tersenyum begitu melihatku.
“ Pagi, Yuna.”
“ Pagi,” balasku. “ Apa kau sudah sarapan,” tanyaku menghampirinya.
“ Segelas kopi, boleh?”
“ Tentu saja, akan aku ambilkan.”
“ Terima kasih.”
Aku mengambil satu buah gelas lalu menuangkan kopi dari sebuah mesin kopi. Kubawa segelas kopi itu ke teras belakang dimana Aril tengah duduk.
__ADS_1
" Ini kopinya," ujarku, lalu meletakkan kopi itu di atas meja lalu mempersilakannya untuk minum.
“ Wah…kopi buatanmu sangat enak,” pujinya setelah menyeruput kopi yang kuberikan itu.
“ Terima kasih.”
“ Oh ya, Gafi ada di mana? sejak tadi aku tidak melihatnya.”
“ Kata Bibi, Gafi sedang lari pagi.”
“ Oh begitu.” Aril pun menyeruput kopi itu kembali. “ Seharusnya kalian menikmati bulan madu kalian, tapi malah berakhir dengan pekerjaan. Maaf ya, Yuna.”
Aku tersenyum kecil.
“ Tidak apa-apa, Gafi juga sudah memberitahukanku sebelumnya. Sepertinya pekerjaan ini sangat penting untuknya.”
“ Memang ini adalah proyek yang sangat penting untuknya. Bahkan proyek ini sempat bermasalah karena suatu hal. Makanya perlahan demi perlahan, Gafi mencoba untuk mengamankannya kembali. Dan mudah-mudahan saja berjalan sesuai dengan rencana.”
“ Ya, semoga saja.”
“ Yuna…”
“ Ya.”
“ Apa terjadi sesuatu?”
“ Tidak, semua baik-baik saja.”
“ Kau yakin?”
“ Semalam, Gafi bersikap aneh. Ada yang sedikit mengganjal di hatiku ketika dia tiba-tiba memelukku malam itu lalu berkata kalau ia takut kalau aku akan menghilang lagi. Rasanya sangat menyesakkan. Tapi, Gafi tidak menjelaskan apapun padaku. Dan itu membuatku bingung.”
“ Apa kau memang tak mengerti kenapa Gafi seperti itu padamu?”
Aku mengangguk karena aku sendiri juga ingin sebuah jawaban dari kebingunganku ini.
“ Kau tahu, Yuna, saat kau tiba-tiba tidak ada di dalam mobil saat kami kembali. Gafi seperti orang gila mencarimu ke sana kemari. Apalagi saat tahu kau meninggalkan ponselmu, Gafi semakin cemas dan ketakutan.”
“ Gafi mencemaskanku?”
Aril mengangguk.
Rasanya tak mungkin terjadi. Kenapa Gafi harus begitu khawatirnya kepadaku. Bukankah tidak ada perasaan di pernikahan ini, gumamku.
“ Yuna…saat aku melihat raut wajah dan tatapannya. Dia benar-benar ketakutan."
“ Ha?”
“ Aku melihat ketakutan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.
Ketakutan karena kehilangan orang yang di sayanginya”
__ADS_1
“ Tidak mungkin.”
“ Yuna… Gafi memelukmu malam itu karena takut kehilanganmu.”
“ Rasa kehilangan yang sama dan ketakutan yang sama. Apa Gafi sedang teringat mantan istrinya dulu?”
“ Tidak seperti itu Yuna. Memang pernikahan yang dijalani Gafi sangat tidak mulus. Perpisahan dengan Sherin, mantan istrinya memang membuatnya frustasi. Pernikahan yang hanya berlangsung sebentar saja, kemudian Sherin yang menghilang lalu kembali dengan permintaan untuk berpisah membuat trauma tersendiri buatnya. Tapi, untuk berpisah waktu itu tidak semudah itu diberikan Gafi, ia berusaha membuat Sherin kembali, ia yakin kalau Sherin hanya emosi untuk sesaat.”
“ Mengapa Sherin ingin berpisah dengan Gafi?”
“ Tidak ada yang tahu pasti alasan sebenarnya. Sherin hanya bilang ingin balas dendam dan tak pernah mencintai Gafi. Hanya itu saja.”
“ Balas dendam apa?”
“ Tidak tahu.”
“ Lalu mengapa Gafi menyerah? bukankah mereka saling mencintai?”
“ Karena Sherin.”
“ Maksudnya?”
“ Gafi akhirnya menyerah karena Sherin teguh dengan perpisahan. Usaha apapun yang dilakukan Gafi, tak membuat Sherin luluh. Dan pada akhirnya perpisahan itu terjadi. Kisah cinta yang dimulai dari kecil itu berakhir begitu saja.”
“ Jadi, Gafi pikir aku akan menghilang seperti Sherin?”
Aril mengangguk.
“ Dia masih mencintai Sherin?”
“ Yuna…walaupun tidak mudah untuk melupakan, tapi aku menjamin tidak ada rasa itu lagi untuk Sherin. Sekarang ini kau adalah prioritasnya.”
“ Tentu saja kau akan berkata seperti itu karena kau adalah temannya. Seandainya di balik, aku akan berkata seperti itu juga.”
Aril tertawa.
“ Memangnya aku orang seperti itu?”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“ Wah…rasanya hatiku sakit sekali.”
Kami pun tertawa.
“ Yuna…aku serius dengan ucapanku itu.”
“ Kumohon jangan membuat harapan untukku, aku takut suatu hari nanti, aku tidak bisa melepaskannya dengan ikhlas.”
“ Kenapa kau harus melepaskannya? Gafi tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“ Entahlah, terkadang aku takut dengan pernikahan ini. Takut perasaan yang kosong ini tiba-tiba terisi, lalu sesuatu akan terjadi dan meluluhlantakkan semuanya. Aku terlalu takut untuk berharap kembali.”
__ADS_1
“ Aku mengerti, tapi cobalah untuk mempercayainya.”
“ Akan aku usahakan.”