
" Direktur, hari ini jam 1 siang nanti, ada pertemuan dengan Pak Tito di Hotel Madeline."
Gafi mengernyitkan dahinya ketika sekretarisnya, Jenny, mengingatkannya tentang jadwalnya hari ini.
" Direktur..."
" Iya, aku dengar Jen, aku juga ingat," ucapnya.
" Maaf Direktur, saya pikir Direktur tidak mendengarkan saya."
" Kenapa harus minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apa pun."
" Oh ya Direktur, saya lupa menyampaikan kalau tadi Nona Diana menghubungi. Nona bilang kalau Direktur tidak sibuk untuk segera menghubunginya."
" Apa dia itu tidak punya pekerjaan sampai menghubungimu terus menerus."
" Saya tidak tahu Direktur, Nona juga menghubungi saya karena dia tidak bisa menghubungi Direktur."
" Benar juga, kau pasti sangat terganggu."
" Terganggu sekali, dia itu seperti Nona besar saja, berbicara tidak sopan, memarahi orang sesukanya, saya jadi kesal, Direktur."
Gafi memandang sekretarisnya itu. Jenny pun terdiam saat ia menyadari kalau ia sudah banyak bicara.
" Maaf Direktur."
Gafi tertawa.
" Baru kali ini aku mendengarmu berbicara sebanyak itu, kau mengeluarkan semua unek-unekmu."
" Ya, begitulah Direktur," ujarnya sedikit malu.
" Jadwalku jam 1, kan?"
" Iya Direktur."
" Kalau begitu aku pergi sebentar, nanti aku kembali sebelum jam 1."
" Tapi Direktur...."
" Husss..."
Jenny langsung lemas karena
Gafi tak mengindahkan larangan sekretarisnya itu. Ia pun tak bisa melakukan apa-apa lagi kalau Direkturnya itu sudah memutuskan sesuatu.
...****...
" Kau dimana?" tanya Gafi menelepon seseorang.
" Aku ada di kantorku," jawabnya.
" Selamat siang," sapa Gafi memasuki ruangan. Si empunya ruangan hanya terbengong melihatnya kedatangannya.
" Kalau kau sudah dekat, kenapa juga kau harus menelepon, buang-buang waktu saja," ujarnya kesal. " Ada perlu apa seorang Direktur harus datang ke tempatku?"
" Fadil, Aku mau meminta tolong padamu."
" Soal apa?" Fadil sedikit kaget dengan permintaan temannya ini.
" Tolong selidiki seorang wanita bernama Yuna."
" Ha? kau serius?"
" Aku serius."
" Kenapa tidak minta Aril saja, dia ahlinya wanita."
" Malah dia yang membuatku penasaran seperti ini, mana mungkin aku minta bantuan padanya."
" Aril mengerjaimu."
" Dia kesal padaku. Jadi, kau saja yang menyelidikinya."
" Selain nama, apa lagi yang kau tahu?"
" Tidak ada, Aril hanya memberitahuku namanya. Sebenarnya aku sedikit ingat dengan nama ini tapi aku tidak begitu yakin."
Fadil menghela napas berat.
__ADS_1
" Kau pikir berapa banyak wanita yang bernama Yuna, yang benar saja kau ini. Lebih baik berikan saja pekerjaan kantor padaku dari pada mencari seorang wanita."
" Kaukan Manajer Marketing, masa seperti ini saja tidak bisa."
" Itu tidak ada hubungannya Direktur."
" Kalian ini sahabat macam apa."
" Kau bilang sedikit ingat dengan wanita ini, walaupun tak yakin. Kau dan dia bertemu dimana?"
" Seingatku di pernikahan Reza dan Hanum."
" Kalau begitu kenapa tidak kau tanyakan saja pada mereka, kemungkinan mereka kenal."
" Dulu aku pernah menanyakannya, tapi mereka tidak tahu," ujarnya mengernyitkan dahi. " Ah, waktu itu aku tidak tahu namanya, kalau aku menyebut namanya kali ini mungkin mereka akan tahu."
" Kalau kau tahu kenapa tidak tanyakan saja."
" Reza dalam perjalanan ke luar kota bersama Hanum. Ia aku tugaskan menyelesaikan proyek di sana. Kemungkinan dua hari baru kembali. Kalau aku menghubungi mereka, bisa-bisa mereka malah kepikiran."
" Hidupmu rumit sekali."
" Makanya kau yang harus menolongku kalau tidak, jangan dekati sekretarisku!"
" Mana bisa begitu, hubunganku dengan Jenny, tidak ada hubungannya dengan masalahmu, Fi."
" Tentu saja ada, Jenny sekretarisku, kalau kau mau aku permudah pendekatanmu dengannya, lakukan apa yang aku katakan tadi."
" Kau harus menepati janjimu."
" Sejak kapan aku mengingkari janji."
Fadil berpikir sejenak. Temannya ini tidak mungkin berbohong padanya. Kalau Gafi menolongnya, ini pasti akan mempercepat PDKT nya pada wanita pujaannya itu.
" Oke, baiklah, aku akan menolongmu," ujar Fadil pada akhirnya.
" Oke, deal." Gafi tersenyum dengan lebarnya. Akhirnya dengan sedikit kecerdikan, Gafi berhasil menaklukkan Fadil. " Aku tunggu kabar secepatnya."
" Siap Bos."
Suara ponsel dari Gafi membuat perhatiannya teralihkan. Gafi segera mengambil ponselnya itu. Terpampang nama sekretarisnya di sana. Gafi sudah tahu maksud dan tujuan sekretarisnya itu menghubunginya.
" Direktur di mana?" tanyanya.
" Aku tahu, aku akan segera ke sana, ke Hotel Madeline, kan."
" Bukan itu Direktur, tapi ini masalah lain."
" Masalah apa? kau bicaralah dengan perlahan."
" Di sini ada nyonya besar, Direktur."
" Nyonya besar? maksudnya Tante Liz?"
" Bukan Direktur."
" Apa Ayahku."
" Bagaimana mungkin Ayah Direktur bisa jadi nyonya besar." Jenny mulai kesal. " Ini nyonya besar tiri," ucapnya berbisik seakan takut ketahuan.
" Oh," ujar Gafi singkat. " Kalau begitu usir saja."
" Bagaimana mungkin saya mengusirnya, Direktur."
" Kenapa tidak mungkin? kau di gaji untuk menerima perintah, kan."
" Tapi saya tidak di gaji untuk mengusir nyonya besar, Direktur."
" Kalau begitu kau akan mendapat gaji tambahan kalau kau bisa mengusirnya."
" Direktur tolong jangan menyusahkan saya."
" Kau ini sekretarisku atau adikku, kenapa kau malah merengek padaku."
" Kalau begitu bunuh saja saya, Direktur."
" Kalau kau ku bunuh, akan ada yang lebih dahulu membunuhku. Lagi pula rencanaku akan berantakan kalau kau mati sekarang."
" Direktur jangan bercanda, ini lebih dari kematian kalau melihat nyonya besar ada di sini."
__ADS_1
" Kau ini menyusahkan sekali," ucap Gafi tiba-tiba. Wajah Jenny langsung semringah begitu melihat Direkturnya ada di hadapannya.
" Direktur..." Jenny langsung menghampiri penyelamatnya itu. " Nyonya besar ada di dalam bersama dengan adik Direktur."
Gafi menghela napas berat.
" Lebih baik aku menghadapi dewan direksi, ah tidak, lebih baik aku menghadapi sepuluh harimau dari pada bertemu dengan mereka."
" Tapi Direktur akan mati kalau berhadapan dengan sepuluh harimau."
" Apa bedanya dengan ini."
" Direktur memang benar."
" Kembalilah ke tempatmu."
" Iya Direktur."
Gafi menatap pintu di hadapannya ini. Di balik pintu ini akan ada kerumitan jika ia membukanya. Ibu dan adik tirinya. Gafi memang tak ingin bertemu atau pun berhadapan dengan kedua orang ini. Orang yang amat di hindarinya dari dulu hingga sekarang.
Gafi membuka pintu itu. Terlihat ibu dan adik tirinya menyambutnya dengan senyuman. Gafi pun membalas senyuman itu dengan seadanya lalu menghampiri keluarganya itu.
" Ada keperluan apa mama dan Soraya datang ke sini?"
" Mama dan adikmu kangen denganmu, sudah lama kau tak pulang, Gafi."
" Maaf, Gafi sedang sibuk, jadi tak sempat pulang ke rumah."
" Mama mengerti."
" Mama datang bukan karena hal itu kan?"
Ibu Gafi tersenyum.
" Kau memang anak yang paling mengerti mama," ujarnya. " Mama cuma mau menanyakan sesuatu. Kenapa kau menghindari Diana. Kasihan anak itu, dia anak yang baik, kenapa kau abaikan dia, nak."
" Iya kak, kak Diana itu memang baik, dia sering memberi kami hadiah," timpal Soraya.
" Oh, ini soal Diana. Apa dia datang merengek kepada Mama."
" Gafi bukan begitu."
" Lalu apa, ma?"
" Diana juga cerita kalau kau memperkenalkannya dengan calon istrimu. Mama sangat terkejut, mama tidak pernah mendengar soal itu. Diana sangat sedih, mama jadi tidak enak padanya. Orang tuanya juga bertanya pada mama."
" Itu memang benar, apa yang di katakan Diana tentang calon istri memang benar adanya."
" Gafi."
" Kak, kak Diana bilang kalau calon kakak itu hanya seorang pelayan. Dia cuma mengincar harta."
" Seorang pelayan?"
" Iya, dia pelayan di Green Hill Cafe. Kak Diana juga sudah memberi perhitungan padanya."
" Apa?"
" Itu benar, jadi kau tidak perlu menikah dengannya."
" Apa hidupku kalian yang memutuskan?" ujar Gafi dengan nada tinggi. " Dia wanitaku dan ini urusanku. Aku mau menikah atau tidak juga urusanku. Lagi pula Diana bukan siapa-siapa, jadi jangan seolah-olah kalau dia orang yang sangat penting."
" Gafi!"
" Aku sedang banyak kerjaan, tolong mama dan Soraya keluar dari sini."
" Kakak mengusir kami."
" Kau pintar, jadi tolong."
" Ayo Soraya kita pulang."
Ibu dan adiknya pun keluar dari ruangan itu dengan kesal. Usaha mereka untuk mendekatkannya dengan Diana sia-sia sudah. Apa pun yang mereka katakan tidak akan berhasil padanya.
" Mereka itu memang selalu menyusahkan," gerutunya.
" Tapi, tadi Soraya bilang Green Hill Cafe. Berarti Yuna bekerja di sana. Satu clue lagi akan mengantarkanku kepadamu."
" Yuna."
__ADS_1