Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Hamil


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya Gafi harus bolak-balik rumah sakit untuk menjenguk Sherin. Bukannya Gafi tak pernah mengajakku ke sana, namun aku selalu menolak. Aku yang memang tak ingin berurusan dengannya dan sekaligus harus memahami mengapa Gafi harus terus mengunjunginya, walaupun sebenarnya ia juga tak ingin.


Setiap hari aku harus menunggunya pulang larut karena kesehariannya yang mendadak berubah. Melihat wajahnya yang lelah membuatku merasa kasihan padanya. Perasaan yang campur aduk yang dirasakannya pastinya sangat menyakitinya. Kalau bukan karena hubungan baik antar keluarga, bisa saja Gafi acuh tak acuh padanya. Ini ujian kesekian kalinya untuk kami berdua, begitulah pikiranku.


“ Kau terlalu baik, Yuna,” celetuk Tya kesal. “ Kau membuat wanita itu senang dengan kehadiran Gafi di dekatnya dan itu menambah kepercayaan dirinya. Apa kau tidak menyadari hal itu?”


Aku tersenyum kecil. “ Aku tahu, aku sangat tahu dan menyadari keputusanku ini, namun aku tak bisa berbuat apa-apa terhadap orang yang sedang berjuang dengan penyakitnya.”


“ Tapi bukan seperti ini, Yuna. Kenapa kau tidak sadar? Kau tak boleh lemah.”


“ Rasa kemanusiaan. Hanya itu. “


“ Ha?” Tya kehabisan kata-kata. Ia juga tak mengerti mengapa sahabatnya ini bisa setenang ini menghadapi wanita yang terang-terangan ingin merebut suaminya. “ Kau benar-benar akan baik-baik saja, kan? Kau pasti bisa melaluinya, kan?’’ Aku mengangguk-angguk kecil, lalu memeluknya dengan air mata yang terus menetes. Tya membalas pelukanku tanpa berkata apapun lagi, hanya mengusap-usap punggungku agar aku tenang kembali.


Rasa mual yang tiba-tiba menghinggapi membuatku berlari menuju kamar mandi. Tya yang datang menghampiriku mencoba membantuku.


“ Apa kau sedang sakit?” Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya. “ Atau kau salah memakan sesuatu?”


“ Aku rasa tidak,” jawabku agak lemas. " Memang akhir-akhir ini aku sedikit tidak enak badan dan cepat lelah."


“ Kau hamil.” Reflek aku menatapnya. Tya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Mungkin saja kau hamil, Yuna.”


“ Hamil.”


“ Kau tidak mengeceknya.”


“ Tidak. Aku pikir hanya masuk angin saja.”


“ Yuna, cobalah mengeceknya. Kau punya test pack, kan?”


Aku mengangguk. “ Apa aku harus mengeceknya.”


“ Tentu saja, kenapa kau malah balik bertanya.”


“ Baiklah.” Aku mengambil sebuah test pack yang ada di dalam laci. Tya pun segera keluar agar aku bisa mengambil urinku untuk di cek. Rasa was-was menghinggapi menunggu sebuah garis merah yang akan menjawab pertanyaanku ini.


Sebuah senyuman merekah di bibirku begitu melihat hasil yang sangat kutunggu-tunggu. Dua garis merah tanda positif hamil membuatku girang bukan kepalang. Tya mendengar jeritanku ini langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun menunjukkan padanya hasil yang menjadi perdebatan kami tadi. Ia langsung memelukku dan mengucapkan selamat kepadaku.


“ Kau akan menjadi seorang ibu, Yuna,” ucapnya girang. “ Dan aku akan menjadi seorang tante.”


Kebahagiaan yang tak terduga datang kepadaku. Akhirnya aku dan Gafi akan menjadi orang tua.


“ Cepat beritahu Gafi, Yuna. Cepat hubungi dia.”


“ Tidak.”


“ Kenapa?”

__ADS_1


“ Aku akan menemuinya. Aku akan memberitahukannya langsung.”


“ Begitu lebih bagus. Dia pasti akan sangat senang mendengar berita ini.”


“ Tentu. Dia pasti akan sangat senang.”


...***...


Sebelum aku datang, terlebih dahulu aku menghubungi Jenny, sekretarisnya. Sepertinya aku kurang beruntung karena Gafi sudah meninggalkan kantor. Jenny mengatakan kalau Sherin akan keluar dari rumah sakit, maka dari itu Gafi langsung ke sana setelah mendapatkan telepon darinya.


Aku memutuskan untuk ke rumah sakit. Aku berpikir sekalian saja untuk memeriksakan kondisiku disana. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu menurutku.


Sesampainya disana, aku segera menuju ruangan Sherin. Aku melajukan langkahku dengan cepat. Tapi, di tengah perjalanan, aku berubah pikiran. Aku memutuskan untuk mengecek kehamilanku ini terlebih dahulu.


Untung saja antrian tidak begitu ramai, hanya ada dua pasien di depanku.


“ Nyonya Yuna.” Seorang perawat memanggil namaku. Aku pun menyahut panggilannya dan segera menghampirinya. “ Silakan masuk,” ujarnya mempersilahkanku untuk masuk ke dalam. Di dalam sana sudah ada seorang dokter wanita yang ramah menyapaku.


“ Selamat siang, dokter,” sapaku.


“ Selamat siang, ibu Yuna,” jawabnya.


Aku mulai bertanya ini dan itu padanya. Hal-hal yang tidak aku ketahui, aku tanyakan padanya. Ia dengan ramah dan senang hati menjawab semua pertanyaanku. Segala kekhawatiranku dan keingintahuanku aku tumpahkan agar mendapat jawaban yang melegakanku.


“ Sudah 4 minggu.”


“ Empat minggu, dokter.”


Aku mengelus perutku. Sudah 4 minggu dan aku tidak menyadarinya. Mungkin karena permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini, aku tidak sadar telah berbadan dua.


“ Terima kasih, dokter," ucapku tersenyum.


Setelah mengakhiri pembicaraan kami. Aku pun keluar dari ruangan itu dengan hati yang sangat senang. Aku sudah tak sabar ingin mengabarkan berita baik ini padanya.


“ Sedang apa kau di tempat ini.” Langkahku terhenti karena kehadiran seseorang yang tak ingin aku lihat. Mengapa wanita ini ada di sini. Bukankah ruangannya begitu jauh dari tempat ini.


“ Menurutmu aku sedang apa di tempat ini. Di tempat ibu dan anak.”


“ Apapun itu, aku tidak peduli.”


“ Ya, sebaiknya memang seperti itu. Ini juga tidak ada hubungannya denganmu.”


“ Keluargaku meminta Gafi menikahiku.”


“ Apa?”


“ Walaupun menjadi kedua tidak masalah bagiku. Lambat laun aku juga akan menjadi yang pertama. Dia akan memprioritaskanku nantinya.”

__ADS_1


“ Apa kau sedang mengigau. Kau tahu sedang membicarakan apa padaku.”


“ Aku sadar. Kau juga harus tahu atau kau bisa mundur saja.”


“ Kau dan aku sama-sama wanita. Mengapa kau tega sekali. Kau meninggalkannya, lalu setelah dia mendapatkan kebahagiaan, kenapa kau menyakitinya. Apa kau tidak sadar dengan apa yang telah kau lakukan.”


“ Ini caraku menebus kesalahanku.”


“ Kau pikir ini benar.”


“ Aku sakit, Yuna. Tak bisakah kau mengalah. Seperti yang kau bilang, kau dan aku sama-sama wanita, tak bisakah kau melepaskan Gafi.”


“ Aku sedang mengandung anak Gafi. “


“ Aku bisa merawatnya setelah ia lahir. Anakmu tidak akan kehilangan apapun. Aku bisa memberikan apapun, Yuna.”


Aku benar-benar sudah kehabisan kata-kata. Ia tak akan mau mengerti keadaan orang lain. Di pikirannya hanya ada tentang dirinya.


“ Apa Gafi setuju untuk menikahimu.”


“ Kalau kau meminta Gafi, dia pasti tidak akan menolak.”


“ Dia menolakmu dan kau memintaku untuk memohon padanya agar menikahimu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”


“ Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain. Aku sudah berjuang sampai sejauh ini. Tolong aku, Yuna.”


“ Sherin, ikatanku dengan Gafi lebih kuat. Terlebih dengan kehadiran anak ini. Sesuatu yang sudah lama kami inginkan.”


“ Tidak. “


“ Sherin kumohon mengertilah.”


“ Tidak.”


Perlahan Sherin jatuh ke lantai. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tadinya ia baik-baik saja.


“ Gafi.” Aku langsung menoleh ke depan begitu Sherin menyebut nama Gafi. Entah sejak kapan Gafi ada di sana. Aku pun langsung mengerti mengapa Sherin tiba-tiba terjatuh. “ Gafi, tolong aku.”


“ Sherin, kenapa kau ada di sini. Bukankah seharusnya kau ada di kamar.”


“ Aku hanya bosan di kamar, lalu aku mencarimu, tapi aku malah kesasar ke tempat ini.”


“ Yuna, bisakah kau membantuku?” Aku mengangguk. Tapi, Sherin menolakku, ia hanya ingin Gafi menolongnya. “ Sherin.”


“ Sakit.” Dengan sangat terpaksa Gafi menggendongnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Gafi bersamanya.


Sebelum pergi, Gafi memanggil namaku, lalu tersenyum padaku. Dari gerakan bibirnya, ia mengucapkan kalimat yang sangat menyentuh hatiku.

__ADS_1


“ Aku mencintaimu selamanya.”


Gafi kuharap kata-kata itu bukan hanya sekedar kata-kata. Kau harus membuktikannya padaku, terlebih dengan masalah yang silih berganti ini. Bagaimana kau menanganinya dan bagaimana aku menanganinya akan menjadi jawaban terakhir kita.


__ADS_2