
" Yuna, tolong meja 10 ya."
" Oke."
Aku pun mengambil nampan yang berisi 5 minuman di atas meja, kemudian membawanya ke meja yang ada di ujung sana.
Ada 5 orang wanita muda tengah duduk dan berbincang. Aku meletakkan satu per satu minuman itu kepada mereka. Setelah selesai aku pun mempersilakan mereka untuk menikmati minuman itu. Dan dengan ramah mereka membalas ucapanku.
" Pelayan," panggil seseorang. Aku menoleh, lalu menghampiri orang yang memanggilku itu.
" Tolong minumannya satu lagi ya, yang seperti ini juga," pintanya dan aku pun menyanggupi.
" Apa ada yang lain?" tanyaku memastikan.
" Ah, bukankah kau wanita yang merebut kekasih Diana," celetuk salah satu dari mereka.
" Ha?" Aku sedikit shock dengan ucapannya itu. Aku melihat sekelilingku. Beberapa pasang mata menatap kami saat ini.
" Dasar PELAKOR."
" Maaf Nona, tolong bicara dengan sopan."
" Ha! Kau benar-benar sangat lucu, haruskah bicara sopan padamu. Jangan sok suci."
" Nona, kita tidak saling kenal, tolong jangan membuat keributan di sini. Di antara kita juga tidak ada masalah. Bukankah begitu?"
" Kau!"
" Tolong Nona."
Karena emosi yang sudah memuncak, tiba-tiba wanita itu menyiram segelas air ke wajahku. Orang-orang di sekitarku pun terkejut dengan tindakannya itu. Aku terdiam sesaat karena tak ingin meledak dan membuat masalah baru.
" Rasakan! Kau harus sadar siapa dirimu! Merebut calon seseorang, lalu berlagak sok hebat. Kau benar-benar wanita jalang."
" Asal kalian tahu Diana bukanlah siapa-siapa dan tidak pernah menjalin hubungan dengan suamiku! Aku...menikah dengan suamiku karena satu perasaan. Aku tidak pernah merebut siapapun!"
Semua orang yang mendengar perkataanku termasuk teman-temanku menjadi sangat kaget. Selain Tia, Herman dan Martin, selama ini mereka tidak tahu kalau aku sudah menikah.
" Aku tahu kalian melakukan ini karena persahabatan. Dan aku juga tahu Diana bisa melakukan apa saja agar aku terganggu. Tapi, kalian tidak berhak menghakimiku."
Mereka terdiam.
Air mataku mulai jatuh menetes di pipiku.
Martin datang, lalu memberikan jaketnya padaku.
" Nona, silakan keluar dari tempat ini!" ujarnya keras.
Martin pun membawaku keluar dari kafe. Pakaianku basah akibat siraman air dari wanita itu. Aku terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun pada Martin.
" Kau tak apa?"
Aku menggelengkan kepalaku. Aku benar-benar tidak dalam kondisi baik. Rasanya masih menyakitkan.
" Gantilah pakaianmu. Di dalam mobil ada kaos bersih, pakailah. Aku akan menunggumu di luar."
Aku menganggukkan kepalaku, lalu masuk ke dalam mobil. Sebuah kaos berwarna biru tergeletak di sana. Aku mengambilnya, lalu mengganti kemejaku yang sudah basah ini.
Rasanya diperlakukan seperti ini sangat menyakitkan. Seperti harga dirimu di injak-injak oleh seseorang apalagi seseorang itu sama sekali tak mengenal siapa yang mereka benci.
Setelah berganti pakaian, aku membuka pintu mobil. Martin pun berbalik menghampiriku.
" Minumlah."
" Terima kasih."
Aku meminum air itu dalam keadaan masih seguguk kan. Martin menghapus air mataku dan tindakannya itu membuatku terdiam.
" Maaf," ucapnya.
" Tidak, jangan meminta maaf."
" Kau menikah dengan siapa, Yuna? Kenapa kau selalu di serang karena pria itu?"
Aku menggelengkan kepalaku karena tidak ingin mengatakannya. " Maaf."
__ADS_1
" Yuna...apa kejadian ini berkaitan dengan kejadian yang dulu?"
" I-ya."
" Kau merebutnya?"
" Tidak, aku sudah pernah bilang, aku tidak merebut siapapun. Mereka tidak pernah memiliki hubungan apapun."
" Tapi, kenapa kau harus menikah dengannya?"
" Aku tidak bisa mengatakan alasanku, Martin. Yang jelas aku dan dia menikah karena kehendak kami sendiri."
" Lalu kenapa kau tidak mau mengatakan siapa pria itu? Sampai kapan kau di sakiti seperti ini."
" Aku baik-baik saja."
"Lalu air matamu ini, apa karena pria itu juga."
Aku terdiam.
Martin menghela napas panjang.
" Martin, bisakah kau mengantarkanku pulang?"
" Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang."
" Terima kasih."
Martin menginjak pedal gas, melajukan mobil ini menyusuri jalanan. Rintik-rintik hujan mulai membasahi jalanan yang kami lalui.
Aku dan Martin tidak mengucapkan sepatah kata pun. Di bandingkan denganku yang memang enggan mengatakan sesuatu, Martin tentunya mempunyai banyak pertanyaan yang ingin ia tahu jawabannya. Tapi, ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk ia tanyakan padaku.
Hujan semakin deras saat kami sampai di tempat tujuan. Aku dan Martin masih terdiam di dalam mobil. Aku rasa tidak ada orang di dalam rumah, bi Susi pastinya sudah pulang sejak tadi dan Gafi tentunya masih di kantor.
" Terima kasih sudah mengantarkanku pulang."
" Tunggulah di sini."
Aku mengangguk.
" Pakaianmu sedikit basah," ujarku memegang lengan bajunya.
" Tidak apa-apa," jawabnya. " Yang penting kau tidak ikutan basah."
" Kau ini..."
Martin tersenyum simpul.
" Tersenyumlah. Jangan kau pikirkan lagi soal tadi."
Aku mengangguk, lalu tersenyum kecil padanya.
" Begitu' kan bagus."
" Terima kasih."
" Berapa kali kau harus mengucapkan terima kasih padaku, ha."
Aku tertawa.
" Benar juga."
" Kau ini..."
Tiba-tiba kilatan petir dan suaranya yang menggelegar mengagetkanku. Aku pun reflek mendekati Martin dan berlindung di dekatnya. Begitu sadar, aku memundurkan langkahku ke belakang.
Martin menatapku dan aku pun memalingkan wajahku.
" Maaf, aku kaget karena petir itu," ujarku mencairkan suasana.
" Tidak masalah."
" Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara yang tidak asing di telingaku.
__ADS_1
Terlihat pemilik suara itu tengah berdiri menatapku dan Martin.
" Gafi..."
Aku tidak menyadari kedatangannya, di tambah tidak ada suara mobil yang membawanya.
Martin pun menoleh begitu aku menyebut nama itu. Ia mengernyitkan dahinya, menganalisa pria yang ada di hadapannya ini.
" Jadi, dia adalah suamimu, Yuna."
" I-ya."
" Gafi Fazal Ilario. Pantas saja kau tidak mau mengatakannya padaku. Berita yang beredar di internet tentang pernikahan seorang direktur muda dari perusahaan EJ Group. Dan wanita itu adalah kau sendiri. Benar begitu."
" Martin maafkan aku. Bukan maksudku untuk menyembunyikannya hanya saja aku merasa belum saatnya aku mengatakannya, ini karena kesalahpahaman yang muncul kepermukaan."
" Begitu?"
Intonasi suara dari Martin berubah tinggi.
" Kau! memangnya untuk apa Yuna menjelaskannya padamu."
" Ha."
" Gafi jangan seperti itu, Martin itu temanku."
" Oh ya?"
Gafi menatapku tajam.
" Beginikah seorang teman."
" Kenapa kau seperti ini?"
" Apa seperti ini kau memperlakukan istrimu!"
Gafi balik menatap Martin karena ucapannya itu.
" Itu urusanku dan bukan urusanmu."
" Yuna juga urusanku."
" Kau!"
Sebelum terjadi baku hantam, aku pun menyuruh Martin untuk segera pulang. Awalnya Martin menolak, namun karena aku memohon, ia pun luluh. Martin pun pergi dan meninggalkan aku dan Gafi.
" Apa sepantasnya kau melakukan itu padanya!"
" Kenapa nadamu setinggi itu."
" Martin itu temanku, dia sudah menolongku. Kau tidak tahu kejadian apa yang menimpaku hari ini. Semua ini karena kau!"
Lampiasan emosiku meluap. Napasku naik turun karena emosi yang masih menghinggapiku.
" Kau sudah selesai?"
Aku hanya diam.
" Apa kau pikir aku tidak tahu apa-apa. Apa kau pikir aku hanya diam saja. Walaupun aku tidak bisa 24 jam bersamamu, tapi bukan berarti aku membiarkanmu sendirian."
" Aku sudah pernah bilang tidak ada persahabatan di antara pria dan wanita. Dan kau belum sadar itu' kan."
" Aku sudah muak, jadi hentikanlah."
Gafi hanya bisa memandangiku yang pergi meninggalkannya. Perdebatan yang berakhir pertengkaran.
Aku belum bisa menerima ucapannya. Dan aku juga tidak tahu harus bagaimana dengannya.
Aku tidak tahu alasan kenapa Gafi selalu marah jika berurusan dengan Martin. Sejak awal aku menyebut nama Martin hingga bertemu dengannya, Gafi selalu bereaksi tidak biasa.
Apa dia cemburu?
Tidak mungkin.
Mungkin saja dia tidak ingin miliknya di ganggu oleh orang lain.
__ADS_1
Mungkin memang seperti itu adanya.