Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Akhir Yang Seperti Apa


__ADS_3

Sherin di bawa kembali ke ruangannya. Dokter datang memeriksa keadaannya dan syukurnya ia dalam keadaan baik-baik saja.


Aku berdiri menatapnya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Rencanaku yang ingin memberitahu Gafi tentang kehamilan ini pun harus tertunda. Mengikhlaskannya membantu Sherin yang aku tahu hanya berpura-pura agar mendapatkan perhatian Gafi.


" Nak." Aku menoleh begitu mendengar suara lembut itu. Seorang wanita paruh baya berdiri tak jauh dariku. " Apa yang sedang kau lakukan di sini," tanyanya karena melihatku berada di depan pintu.


Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku. " Saya.."


" Apa kau Yuna." Aku sedikit kaget dengan ucapannya. Bagaimana ia tahu namaku.


" Ya, saya Yuna, tante."


Ia tersenyum padaku. Wajah keibuannya mengingatkanku kepada ibu yang sangat aku rindukan.


" Tante, mamanya Sherin," ucapnya memperkenalkan diri.


" Mamanya Sherin," ujarku kaget. Aku sedikit canggung begitu mendengarnya.


" Iya, Yuna. Kalau kamu tidak keberatan, bisa kita bicara sebentar."


“ Tentu, tante.”


“ Kalau begitu kita bicara di sana saja, bagaimana?” Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju. Ia pun tersenyum.


Aku mengikutinya, menyelaraskan setiap langkah yang ia ambil. Tak pernah kusangka akan bertemu dengan salah satu orang tua Sherin. Entah mengapa aku mulai berasumsi apa yang akan ia katakan padaku nanti.


“ Duduklah,” ujarnya mempersilakanku untuk duduk. “ Kau ingin minum sesuatu?”


“ Tidak, terima kasih. Saya tidak haus, tante.”


“ Baiklah kalau begitu.”


“ Tadi, tante bilang ada yang ingin dibicarakan. Kalau boleh tahu apa itu?”


“ Kau pasti tahu kalau Sherin mantan istri Gafi, bukan?” Aku mengangguk. “ Kau juga pasti sudah tahu alasan Sherin berpisah dengan Gafi. Awalnya tante tidak setuju apa yang dilakukan olehnya, namun lambat laun tante mencoba untuk memahami apa yang ia alami selama ini. Penyakitnya ini membuatnya sangat terpukul. Sherin yang ceria berubah murung begitu mengetahui penyakitnya ini. Tapi, begitu tante melihat Sherin ceria lagi, tante begitu senang. Ia begitu senang bersama dengan Gafi.”


“ Tante, saya turut bersedih dengan apa yang dialami Sherin. Tapi, bukankah ini tidak adil untuk saya. Saya adalah istri Gafi. Kebahagiaan Sherin bersama dengan Gafi, membuat saya terluka. Bukannya saya tidak senang melihatnya bahagia, tapi bukan dengan kebahagiaan seperti ini.”


“ Tante mengerti. Tante minta maaf padamu, Nak. Pasti kau sangat menderita.”


“ Tapi, saya tidak bisa merelakan Gafi, tante. Saya tidak bisa. Bagaimana dengan anak ini.”

__ADS_1


“ Apa maksudmu.”


“ Bukankah saat ini tante meminta saya untuk melepaskan Gafi bersama dengan Sherin.”


“ Tante tidak memintamu untuk melakukan itu. Apa ada ucapan tante yang membuatmu tersinggung, Nak.”


“ Sherin bilang kalau tante meminta Gafi untuk menikahi Sherin kembali. Bagaimana saya harus merelakan ayah dari anak saya, tante.”


“ Sherin bilang begitu padamu?”


Aku sedikit bingung dengan ucapan mama Sherin. " Iya, tante. Tapi, apa tante tidak tahu mengenai hal ini."


" Tante saja terkejut dengan pernyataanmu ini, Yuna. Tante memang sudah menganggap Gafi sebagai anak sendiri apalagi menjadi bagian keluarga tante, tapi bukan seperti itu. Mereka sudah berpisah dan sekarang Gafi punya kehidupan sendiri. Bagaimana mungkin tante berpikiran seperti itu, Yuna."


" Maaf, tante."


" Kenapa kau meminta maaf, justru tante yang meminta maaf padamu. Tante tidak mengerti kenapa Sherin melakukan hal itu. Anak itu sudah keterlaluan."


Aku tidak menyangka kalau ucapannya yang lantang itu hanya akal-akalannya saja agar aku merasa ciut. Dengan alasan orang tua, ia berani berbohong agar mendapatkan apa yang ia mau. Padahal orang tuanya sangat baik. Entah mengapa ia begitu tega.


Aku terkejut saat mama Sherin bangkit dari tempat duduknya. Ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Aku langsung berasumsi kalau ia akan menemui Sherin di sana. Tanpa membuang waktu aku mengikutinya dari belakang dan benar saja dengan dugaanku itu.


" Sherin, ayo kita pulang," ujarnya pada anaknya itu.


" Pak Yayat sudah ada di depan, jadi Gafi tidak perlu mengantar kita."


" Tapi, ma."


" Sherin, Gafi bukan suamimu lagi, Nak. Dia tidak punya tanggungjawab untuk berada di dekatmu."


" Kenapa mama seperti ini. Bukankah mama sangat menyayangi Gafi seperti anak sendiri. Kenapa mama tidak mendukung keinginan Sherin."


" Mama memang menganggap Gafi seperti anak sendiri karena menganggapnya seperti itu, mama tidak ingin merusak kebahagiaan demi anak kandung mama. Mama tidak pernah mengajarimu seperti ini, Sherin."


" Ma, tapi Sherin bahagia bersama Gafi."


" Tapi, Gafi sudah punya istri, Nak. Kau tahu itu'kan."


" Mereka bisa berpisah."


" Sherin."

__ADS_1


" Sherin juga rela menjadi yang kedua."


" Apa kau sadar apa yang kau ucapkan, Nak. Kau merusak kebahagiaan orang lain demi kebahagiaanmu sendiri."


" Kalau itu yang terbaik, Sherin tidak perduli."


Seketika mamanya tidak percaya apa yang ucapkan oleh anaknya barusan. Ia tidak mengerti kenapa anaknya ini bisa berubah seperti ini.


Gafi yang berada di dekatnya langsung menenangkan mantan mertua ini. Berulang kali mama Sherin mengucapkan maaf padanya.


" Pergilah, Gafi. Sherin bisa mama urus sendiri. "


" Ma..."


" Nak, kau harus menjaga perasaan Yuna, jangan sampai terjadi sesuatu dengan anak kalian."


" Anak?" Gafi terheran. " Maksud mama..."


Mama Sherin melirik heran. " Kau tidak tahu kalau istrimu sedang hamil, Gafi? Dia berada di rumah sakit ini dan kau tidak tahu dia mengandung anakmu."


Gafi menggeleng bingung.


" Dasar anak tidak berperasaan." Mama Sherin memukulnya. " Sekarang pergilah, kau meninggalkan istrimu sendiri disana. Apa yang ada di pikiranmu, ha!"


Tanpa berpikiran panjang Gafi langsung bangkit dan berlari pergi. Sherin yang melihatnya pergi berteriak memanggil namanya, namun Gafi tak menghiraukannya. Ia terus merengek kepada mamanya untuk menahannya pergi tapi itu tidak berhasil. Bagi mamanya kebahagiaan putrinya bukan hasil dari menyakiti orang lain. Sherin harus belajar menerima kenyataan bahwa Gafi bukanlah miliknya lagi. Walaupun pasti sulit untuknya.


...***...


Gafi mencari Yuna di sekeliling rumah sakit, tapi tidak berhasil menemukannya. Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Ia semakin gelisah karena tidak menemukan istrinya itu. Rasa bersalah semakin menguat karena tidak menjaganya dengan baik. Apalagi tidak mengetahui kalau istrinya itu tengah mengandung anaknya.


" Yuna, kau dimana." Sekali lagi ia mencoba menghubunginya. Karena tidak ada respon, ia pun menghubungi Hanum. Namun, Hanum juga tidak tahu istrinyaa ada dimana.


Kemudian mencoba lagi menghubungi Tya. Yang Tya tahu temannya itu ke rumah sakit. Setelah itu ia tidak tahu keberadaannya.


Gafi semakin frustrasi karena kehilangan istrinya. Apa ini sebuah balasan untuknya karena sudah menyakiti istrinya itu.


" Gafi..." Mendengar suara itu, Gafi langsung menoleh. Ia begitu senang bisa mendengar kembali suara yang memang ia cari sejak tadi.


Gafi langsung datang menghampiri, lalu memeluk erat.


" Yuna, maafkan aku."

__ADS_1


" Apa yang terjadi. Kenapa kau meminta maaf."


Pertanyaan itu tak dijawab olehnya. Yang ada hanya pelukan yang semakin erat darinya.


__ADS_2