
Seminggu kemudian, kami mendengar kalau Sherin setuju untuk pergi. Ia menerima walaupun sangat berat untuknya. Aku dan Gafi berniat untuk mengantarkan kepergiannya, namun ia menolak karena takut kalau akan berubah pikiran dan berbuat yang diluar kendalinya.
Akhirnya kehidupanku diliputi kebahagiaan. Kehamilanku juga baik-baik saja. Bahkan hari ini bertambah melimpah kebahagian yang kurasakan karena ayah akan bebas dari penjara. Hari yang sudah lama aku tunggu-tunggu.
Aku dan Gafi sudah berada di lapas, begitu juga dengan Aydin. Sudah lama aku tidak bertemu dengan adikku itu. Sekarang ia sudah bekerja di perusahaan besar setelah lulus dari kuliahnya.
“ Aydin." Aku memeluknya. " Bagaimana dengan kabarmu? Sudah lama kau tidak pulang melihat kakak, kalau bukan karena ayah bebas hari ini, kita pasti tidak akan bertemu.”
“ Aydin baik-baik saja, kak. Lagipula aku sering menghubungi kakak’kan. Kenapa kakak malah seperti ini.”
“ Kau harus sering pulang. Kakak tidak mau tahu.”
“ Baiklah-baiklah. Apapun yang kakak inginkan, aku akan mengabulkannya.”
“ Baguslah.”
“ Kak Gafi, apa kak Yuna selalu begini,” bisiknya pada kakak iparnya itu.
Gafi mengangguk. “ Sejak hamil, kakakmu jadi manja.”
“ Aku rasa bukan karena hamil. Ini memang sifat alami kakakku yang muncul lagi.”
“ Benarkah?”
Aydin mengangguk.
__ADS_1
Aku melirik mereka. “ Apa yang kalian bicarakan?”
“ Tidak ada sayang. Tidak ada yang kami bicarakan,” ujar Gafi mengalihkan. “ Sayang, lihat, itu Ayah,”tunjuknya. Aku pun langsung menoleh dan berlari kecil menghampirinya. “ Ayah.”
“ Yuna, jangan berlari seperti itu,” ujar Ayah khawatir karena takut terjadi sesuatu padaku. Tapi, rasa rindu yang ada membuatku lupa kalau aku tengah hamil. “ Ayah, Yuna kangen ayah,” ucapku tersedu memeluknya. Ayah pun tak kuasa membendung air matanya. Aydin yang tadi berdiri tak jauh dariku pun datang menghampiri dan memelukku serta ayah.
“ Anak ayah.” Pelukan yang penuh makna dari kerinduan seorang ayah kepada anak-anaknya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk berkumpul kembali seperti sekarang. Dan pastinya tidak akan pernah disia-siakan kembali.
Setelah menjemput ayah, kami bermaksud untuk mengenalkan ayah dengan besannya. Sebenarnya ada rasa khawatir akan tanggapan yang akan didapat oleh ayah. Tapi, Gafi menyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pertemua itu akhirnya terjadi dan sedikit canggung. Aku mengerti mengapa ini terjadi karena pastinya ini merupakan pertemuan pertama mereka, pertemuan dua keluarga yang selama ini tidak pernah sekalipun bertemu dan aku juga mengerti bagaimana perasaan ayah sekarang ini, ia pasti sangat takut dan khawatir.
“ Terima kasih sudah menerima Yuna dengan keadaannya yang seperti ini. Saya bisa meyakinkan kalau Yuna, anak yang sangat baik,” ucap ayah membuka pembicaraan.
“ Saya mengerti. Sekarang saya mengerti bagaimana Yuna bisa kuat sampai saat ini. Itu pasti karena didikan orang tua yang sangat baik padanya. Terlepas masa kelam itu, biarlah menjadi cerita yang harus dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Sekarang yang terpenting kebahagiaan anak-anak, apalagi sebentar lagi seorang cucu akan hadir. Kebahagiaan itu yang harus kita rasakan sekarang.”
“ Baiklah. Demi kebaikan dan kebahagiaan kita semua.”
Aku sangat senang karena ayah dapat diterima dengan baik dikeluarga ini, walaupun ada orang yang tetap belum bisa menerima keberadaanku, tapi aku berharap suatu hari nanti orang itu akan berubah.
...***...
Tiga hari ayah tinggal bersama dengan kami, ia pun memutuskan untuk tinggal bersama Aydin di kota lain. Awalnya aku sangat keberatan karena aku ingin sekali merawah ayah, namun aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku itu. Ayah ingin bersama dengan Aydin sepertinya karena ayah ingin lebih lama dengan putranya itu. Ayah meninggalkan Aydin saat ia membutuhkan sosok seorang panutan. Ada rasa penyesalan yang masih membekas di hati ayah dan ingin menyelesaikan rasa yang menyesakkan itu.
Aku pun harus merelakan kepergian ayah. Sedih, sudah pasti kurasakan, namun inilah yang terbaik untuk kami semua.
__ADS_1
Hari-hariku kuhabiskan tanpa kehadiran ayah dirumah. Walaupun aku sering menghubunginya, tapi rasanya tidak sama. Aku juga tidak berkegiatan dan hanya dirumah saja. Sesekali Tya datang mengunjungiku dan asal tahu saja, Tya dan Aril akan melangsungkan pernikahan tak lama lagi. Si dingin itu akhirnya mencair juga. Tak kusangka ia akan menikah dengan orang yang selalu dihindarinya. Benar-benar jodoh itu tidak akan pernah kita tahu.
Hanum, sudah melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Aku turut bahagia untuknya dan aku juga tidak sabar ingin merasakannya juga.
Semua orang akhirnya merengkuh kebahagiannya masing-masing. Hidup memang tidak semulus itu, tapi jika kita bersabar, kebahagiaan itu pasti akan datang juga.
“ Kau sedang apa sayang.” Pelukan dari belakang itu sedikit mengagetkanku.
“ Aku sedang memikirkanmu,” ucapku menggombal.
“ Kau merindukanku?”
Aku menggangguk kecil. “ Aku sangat merindukanmu, sampai aku terus memikirkanmu.”
Gafi tertawa. “ Kau sudah pandai menggoda suamimu ini. Apa ini Yuna yang dulu aku kenal dulu. Wanita yang galak padaku saat itu dan tidak pernah sekalipun terdengar ucapan manis dari bibirnya.”
“ Tapi, pria yang membuatku galak itu, malah memintaku untuk menikah dengannya. Aku rasa ucapan manisku saat itu adalah ucapan galakku.”
“ Ya…kalau dipikir-pikir aku malah terhipnotis dengan kegalakkanmu itu.”
Aku tertawa.
“ Terima kasih, Fi, sudah membawa kebahagiaan untukku. Jika saat itu pertemuan kita kuanggap sebagai kesialan, sekarang aku mencabut ucapanku. Pertemuan kita membawa kebahagian untukku. “
“ Aku juga berterima kasih padamu karena menyetujui ideku untuk menikah itu. Jika kau menolah saat itu, mungkin hidupku akan sama, penuh kegelapan dan kesepian. Sekarang cahaya itu sudah terang kembali karena kau dan anak kita.”
__ADS_1
Aku berbalik, lalu memeluknya. Ucapan kata cinta tak cukup untuk mengekspresikan rasaku ini. Tapi, itulah yang aku rasakan bersama dengannya, Gafi Fazal Ilario.
......_Tamat_......