Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Penasaran #2


__ADS_3

" Kau belum bertemu dengannya?" tanya Tia dari ujung telepon.


" Belum," jawabku singkat.


" Kenapa begitu? bukankah sudah kuberitahu alamat kantornya."


" Iya, aku sudah ke sana, tapi tidak segampang itu. Bertemu dia harus punya janji terlebih dahulu."


" Seperti bertemu Presiden saja."


" Dia itu orang sibuk, mana mungkin punya waktu senggang untuk bertemu semua orang."


" Iya sih, tidak sepertimu yang sedang menganggur."


" Mulai lagi, kalau tahu kau akan mengejekku, aku tidak akan menghubungimu."


" Iya-iya maaf," ujar Tia tak enak. " Terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


" Hmm, aku belum tahu, tapi tadi aku bertemu dengan seorang pria, dia Manajer di perusahaan itu. Dia memberiku kartu nama. Dia bilang aku akan membutuhkan ini."


" Dia tidak asal bicara, kenapa tidak kau manfaatkan saja, aku pikir mereka pasti punya hubungan yang sangat dekat. Apalagi dia memberikanmu kartu nama, bukankah tidak sembarangan orang memberikan kartu seperti itu."


" Entahlah, aku masih ragu, mungkin aku akan ke sana sekali lagi."


" Memangnya kau ada di mana saat ini?"


" Aku ada di perpustakaan kota, mungkin aku akan ke sana sebentar lagi."


" Baguslah."


" Aku tutup dulu ya teleponnya, nanti akan kuhubungi lagi."


" Oke."


Aku pun menutup telepon itu.


...****...


Aku menatap gedung yang di penuhi buku-buku ini. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku ke tempat ini. Tempat yang selalu menjadi favoritku bersama dengan Aydin dan Hanum kala itu. Mungkin orang beranggapan kalau kami orang yang aneh dan membosankan karena tempat tongkrongan kami yang tak biasa. Bila mengingat kembali masa dulu, banyak kenangan indah yang sudah kulewati.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat itu sekali lagi. Mencoba keberuntunganku yang mungkin akan berhasil bertemu dengannya.


Jarak antara perpustakaan ini ke EJ Group tidaklah begitu jauh, hanya butuh waktu setengah jam dengan berjalan kaki. Kebetulan cuaca tidak terlalu terik, jadi aku tidak sampai kepanasan karena cahaya matahari.


Aku merogoh tasku mencari kartu nama yang ku dapati tadi pagi. Sebuah kartu berwarna abu-abu - hitam, bertuliskan nama dan juga jabatannya di perusahaan itu.


" Aril Putra," gumam ku.


Aku berpikir untuk menghubunginya dan meminta sedikit pertolongan karena aku tahu tidak mungkin bagiku bertemu dengan Gafi tanpa campur tangan orang dalam.


Saat aku akan mengambil ponselku, tiba-tiba aku merasa tak enak kalau menghubungi nomor ini, seakan-akan aku memanfaatkannya demi kepentinganku.


Aku pun memasukkan kembali ponselku ke dalam tas , namun sedetik itu pula ponselku berbunyi. Terpampang nama Tia di sana, aku segera menerimanya tanpa ragu.


" Ada apa? kau bilang sedang banyak tamu yang datang."


" Iya, tapi ini penting, makanya aku menghubungimu."


" Memangnya ada apa?"


" Tadi ada seorang pria mencarimu ke sini."

__ADS_1


" Seorang pria mencariku?"


" Iya, tapi pria itu bukan Gafi."


" Lalu siapa?"


" Aku juga tidak tahu. Aku tidak berani menghampirinya karena ada Bos Martin."


" Oh begitu."


" Hanya itu yang bisa aku beritahukan. Aku tutup, ya," ujarnya mengakhiri.


Aku membuang napas dalam. Entah siapa gerangan yang mencariku di sana. Tidak jelas kenapa pria itu sampai mencariku. Tapi di benakku tiba-tiba muncul nama Dimas karena beberapa hari ini ia memang cukup intens menghubungiku. Tapi di sisi lain, aku rasa belum tentu juga dia, bisa jadi orang yang tidak aku kenal.


" Nona."


Suara itu mengagetkanku. Aku yang tadi melamun pun tersadar karena panggilan itu.


Aku menoleh mencari asal suara itu. Ternyata seorang petugas keamanan yang datang menghampiriku.


" Maaf Nona, sejak tadi saya perhatikan Anda berdiri di sini. Apa Nona ada keperluan?"


" Ah." Aku terkejut sesaat. " Ya, sebenarnya saya mau bertemu dengan Direktur EJ Group."


" Mau bertemu dengan Direktur?"


Aku mengangguk.


" Sebaiknya Nona bertanya pada resepsionis."


" Begitu ya," ucapku lemas. " Oh iya Pak kalau bertemu dengan Pak Aril, apa saya juga harus membuat janji?"


" Kalau itu Nona juga harus bertanya pada resepsionis. "


" Kalau begitu saya pamit pulang saja Pak. Maaf sudah mengganggu waktunya," pamitku.


Aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Tak jauh dari EJ Group aku singgah di sebuah kafe untuk sekedar melepas dahaga. Secangkir kopi Americano menjadi pilihanku kali ini.


" Haa..." Aku menghela.


Rasanya sia-sia saja aku keluar seharian , status pengangguran ku kini terasa tak berguna. Apa lagi aku mendengar kabar kalau wanita itu juga datang ke kafe untuk memastikanku masih bekerja atau tidak, ditambah dengan kedatangan seorang pria yang mencari keberadaanku di sana. Aku seperti buronan saja kalau di pikir-pikir.


...****...


" Hei....Nona bukankah kau wanita yang tadi pagi?" suara seorang pria mengagetkanku. " Kau, Yuna, 'kan?"


Aku pun langsung berdiri dari kursi ku. Dan menyapanya.


" Hai," sapaku.


" Kita bertemu lagi, ternyata kau masih di sekitar sini."


" Iya. Apa aku terlihat seperti orang aneh?"


" Ha?" Aril agak kaget dengan ucapanku itu. " Kenapa kau merasa seperti itu?"


" Karena aku masih ada di sekitar sini dan kita bertemu lagi hanya beberapa jam saja."


" Oh, itu bukan aneh menurutku, tapi kita berjodoh."


" Apa?"

__ADS_1


" Aku hanya bercanda," ujarnya tersenyum. " Kenapa kau tidak pergunakan kartu sakti itu?"


" Tadinya aku mau menggunakannya, tapi rasanya agak tidak enak. Aku merasa seperti memanfaatkan orang, jadi aku tidak jadi menggunakannya."


" Aku tidak masalah kalau kau manfaatkan."


" Ha?"


Pria yang ada di hadapanku benar-benar aneh. Setiap ucapannya membuatku terkaget-kaget.


" Ekspresi wajahmu itu sangat lucu," ujarnya tertawa. " Aku tidak bermaksud membuatmu bingung aku hanya ingin membantumu saja"


" Oh." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


" Tapi sepertinya kau tidak butuh bantuanku saat ini."


" Kenapa begitu?"


" Soalnya...." Aril mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Berdiri seorang pria berperawakan tinggi. "


"Gafi," panggilnya. Dan pria itu pun menyahutnya.


Perlahan ia mendatangi tempatku saat ini. Terlihat ia memandangiku dengan intensnya. Aku mengalihkan pandanganku sesaat karena merasa risi dengan pandangannya itu.


" Kau!"


Door...


Dia mengenaliku.


" Aku mencari mu susah payah, tetapi aku malah menemukanmu di sini."


" Seharusnya kata-kata itu, aku yang mengatakannya. Susah payah aku mencari mu, sampai aku harus mondar-mondar dari perusahaan itu."


" Apa kau tidak punya pekerjaan sampai harus mondar-mandir."


" Aku memang tidak punya pekerjaan, sekarang aku pengangguran. Dan semua itu gara-gara kau!"


" Ha!"


" Gara-gara kau mengatakan kalau aku adalah calon istrimu, wanita itu menghancurkan pekerjaanku. Dan semua itu gara-gara kau! kau harus tanggung jawab dan klarifikasi kalau kita tidak ada hubungan sama sekali."


" Aku tidak mau."


" Apa?"


Dia benar-benar membuatku kesal.


" Seperti yang kau dengar, aku tidak mau mengklarifikasi apa pun."


" Bagaimana kau bisa...." Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran.


" Hei...hei...kalian berdua." Aril merelai percekcokan kami. " Kenapa kalian malah bertengkar?"


" Husss..." Gafi dan Yuna malah menyuruh Aril untuk diam.


" Kalian ini!" ujar Aril kesal. " Terserahlah, urus saja urusan kalian. Aku tidak mau ikut campur." Aril pun pergi masih bersitegang.


" Sekarang aku meminta itikad baikmu."


" Sudah kubilang, 'kan, aku tidak mau," ujarnya. " Lagi pula seingatku, kau menantangku waktu itu, 'kan?"

__ADS_1


" Apa?"


" Aku menyanggupinya apa pun yang kau inginkan. Jadi, menikahlah denganku."


__ADS_2