
Aku berdiri diam menantap cermin yang ada di depanku. Gaun putih serta riasan yang menghiasi wajahku mempercantikku hari ini.
Akhirnya tiba juga hari besar ini. Hari dimana aku akan menjadi milik seseorang. Hari yang menjadi akhir keputusan terbesar dalam hidupku.
" Yuna, kau cantik sekali." Terdengar suara-suara yang memang sudah sangat aku kenal itu. Terlihat tante Liz, tante Dina dan Hanum datang menghampiriku.
Mereka bersuka cita melihatku. Aku pun tak hentinya tersenyum malu karena ulah mereka itu.
" Akhirnya, kau sampai di titik ini juga, Yuna," ujar Hanum memelukku.
Aku mengangguk tersenyum.
Ketika aku membalikkan badan, terlihat Aydin berdiri di pojok sambil menatapku. Aku setengah berlari begitu melihatnya. Aydin yang melihatku berlari dengan mengangkat gaunku pun langsung menghampiriku.
" Kakak, kenapa berlari seperti ini? kalau Kakak jatuh, bagaimana?" Aydin tampak khawatir.
" Kau datang, Aydin."
" Tentu saja aku datang, Kak."
Aku sebenarnya menahan air mataku menetes. Sedih rasanya di hari besar ini tidak melihat ayah bersamaku.
" Kumohon jangan menangis, Kak. Ayah di sana pasti bahagia sekarang ini."
" Iya," ujarku lirih.
" Kakak, sangat cantik. Akhirnya aku bisa melihat Kakak memakai gaun seperti ini."
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
" Yuna, kau harus kembali ke dalam. Acara akan segera di mulai," ujar Hanum.
" Aydin..." Aku menatapnya.
" Pergilah, Kak. Aku tidak akan kemana-mana."
" Janji, kau akan bersama Kakak di sini."
" Umm." Aydin menganggukkan kepala.
Aku pun kembali ke dalam ruanganku. Sesekali aku menoleh ke belakang, memastikan kalau adikku itu tetap berada di sana. Aku merasa tenang jika ia bersamaku di sini.
" Dia bisa kupercaya, kan?" celetuk Aydin pada Hanum. " Kakakku bisa kulepas bersamanya, kan?"
" Tentu saja," ujar Hanum. " Kakak mengerti kekhawatiranmu. Tapi percayalah kali ini dan Kakak juga mengenalnya dan juga keluarganya. Kau tidak perlu khawatir."
" Syukurlah."
Hanum tersenyum kecil.
...****...
__ADS_1
Dari luar sana terdengar suara menggema mengucapkan kata sah. Setelah itu aku di bawa keluar dari ruanganku untuk bersanding bersama dengan Gafi di sana.
Jari manisku pun kini sudah tersemat cincin yang menjadi mahar pernikahan kami.
Pernikahanku memang dilangsungkan dengan sederhana, hanya ada keluarga dan teman dekat yang hadir. Namun tidak mengurangi kesakralan pernikahan ini.
" Yuna..." Hanum datang memelukku. " Sekarang status kita sudah sama sayangku."
Aku tersenyum.
" Yuna-Gafi, selamat ya," ucap Reza. " Kalian sangat serasi," ujarnya memberikan dua jempol pada kami.
" Lalu setelah resepsi ini, kalian akan bulan madu kemana?" tanya Hanum blak-blakkan.
" Bulan madu?" Aku mengulang pertanyaannya itu.
" Kenapa kau terlihat bingung Yuna? atau jangan-jangan kalian belum merencanakan bulan madu kalian?" Hanum mengernyitkan dahinya.
" Ah..." Aku tersenyum kecut.
" Umm, Gafi!" Hanum memukul pundak sahabatnya itu. " Yang benar saja! kau tidak mempersiapkan hal yang satu itu. Kau ini sungguh keterlaluan!"
" Ha...kau ini berisik sekali," ujar Gafi. " Tentu saja aku memikirkannya, tapi tidak dalam waktu dekat kami melakukan perjalanan."
" Kenapa begitu?" Hanum bertolak pinggang. " Lebih cepat lebih baik, kan? kau akan menyesal kalau melewatkan malam spesial itu," celetuknya.
Aku membelalakkan mata mendengar ucapan Hanum yang agak vulgar menurutku. Aku pun jadi malu sendiri mendengarnya. Tidak pernah terbayangkan akan menjalani malam yang Hanum maksud itu.
" Kau ini suka sekali mengganggu," celetuk Gafi. " Sudah pergi sana," usirnya.
" Dasar! bilang saja kalau kau ingin berduaan dengan Yuna," ocehnya. Lalu Reza menariknya pergi menjauh dariku dan Gafi.
" Dia itu...cerewet sekali," celetuk Gafi. Aku langsung menoleh memandangnya karena celetukkannya itu.
" Hanum, memang seperti itu. Kau tidak perlu memikirkannya," ujarku yang membuatnya menatap ke arahku. Aku pun jadi salah tingkah karena tatapannya itu. " Kenapa kau menatapku seperti itu?"
" Memangnya kenapa? kau tak suka?"
" Entahlah," ujarku memalingkan wajah.
Gafi tersenyum kecil.
" Aku memang belum mempersiapkan rencana bulan madu. Tapi, kita bisa pergi ke villa keluarga untuk bersantai. Tiga hari lagi kita akan berangkat ke sana."
" Ha?"
" Aku hanya bisa membawamu ke sana kali ini. Pekerjaanku belum bisa untuk kutinggalkan. Kalau ada waktu, lain kali aku akan membawamu ke tempat yang kau inginkan."
" Kau tidak perlu sampai seperti itu."
" Aku ingin melakukannya."
__ADS_1
Ha? melakukannya? gumamku.
Pikiranku pun sudah bercabang jauh.
" Kenapa kau malah termenung begitu? apa ada ucapanku yang salah?"
" Ah...tidak," jawabku terbata.
" Aku ingin membuatmu senang, makanya aku ingin melakukannya..." Gafi tiba-tiba terdiam. " Melakukan?" Gafi memandangku. " Apa tadi kau berpikir...maksudku tadi bukan melakukan itu. Aku ingin melakukan hal yang membuatmu senang. Kau jangan salah paham."
" Ah...ya, aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa."
Aku menundukkan kepalaku, sedangkan Gafi menghela napas.
Dan suasana pun menjadi canggung.
...****...
Acara pun usai sesuai jadwal. Para tamu satu per satu mulai berpamitan.
Dari kejauhan terlihat Gafi dan Aydin sedang berbincang. Aku pikir setelah Aydin berpamitan tadi, ia sudah kembali ke asrama. Tak kusangka ia masih di sini dan terlihat serius berbicara dengan Gafi.
" Yuna, Gafi di mana?" tanya tante Liz.
" Di sana Tante," jawabku menunjuk keberadaanya.
" Oh," ujarnya. " Kalau begitu kau istirahat, Bi Ama akan mengantarkanmu ke kamar."
" Iya Tante."
Aku mengikuti langkah kaki Bi Ama yang mengantarkanku ke tempat istirahat. Kami memang melangsungkan pernikahan di kediaman tante Liz. Kediaman yang sangat mewah menurutku.
Tante Liz tinggal sendiri setelah suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu. Hanya ada para asisten rumah tangga tinggal bersamanya.Tante tidak mempunyai anak dari hasil pernikahannya. Maka dari itu tante sangat menyayangi Gafi layaknya seperti anak sendiri.
" Silakan masuk, Nyonya," ujar bi Ama membuka pintu. Aku begitu takjub dengan kemewahan kamar yang sudah di dekorasi ini. Terlihat sangat dipersiapkan dengan baik oleh tante Liz.
" Terima kasih ya, Bi," ucapku padanya.
Bi Ama pun meninggalkanku sendiri di kamar ini. Tas koper yang kubawa dari rumah aku letakkan di atas meja lalu kubuka untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Rasanya sudah gerah sekali memakai gaun ini seharian. Mumpung Gafi belum kembali, aku manfaatkan untuk membersihkan diri.
Sebenarnya aku masih penasaran dengan pembicaraannya bersama dengan Aydin. Mereka terlihat sangat serius, terlebih Aydin. Aku hanya ingin ia tak terlalu mengkhawatirkanku dan fokus pada dirinya. Kuliah yang ia jalani saja sudah menghabiskan banyak waktunya, di tambah memikirkanku malah akan menghambat belajarnya.
Aku mengambil beberapa kapas untuk membersihkan make up yang menempel di wajahku. Lalu membuka beberapa hiasan yang menempel di rambutku.
Tiba saatnya untuk membuka gaun yang menempel di tubuhku. Seharusnya tadi aku meminta bantuan pada bi Ama, namun aku terlalu segan karena aku tahu ia pun masih harus melakukan pekerjaannya di sana. Jadilah aku berusaha seorang diri membukanya seperti saat itu. Tapi, untung saja Gafi masih sibuk di luar, jadi aku bisa leluasa di kamar ini.
Dengan susah payah, akhirnya gaun ini bisa kulepaskan juga. Tinggallah hanya pakaian dalam yang menempel di tubuhku ini. Aku pun mengambil handuk dan pakaianku untuk kubawa ke kamar mandi. Namun, suara pintu terbuka mengagetkanku, ditambah dengan sosok Gafi yang sudah berdiri menatapku.
" Apa yang kau..." Aku tersadar kalau aku hanya memakai pakaian dalamku. " Aish..." Aku langsung kabur memasuki kamar mandi.
Dari luar sana terdengar jelas suaranya yang sedang tertawa. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kata-kata itu memang tepat mendeskripsikan keadaanku saat ini.
__ADS_1