
Gafi menutup pintu itu begitu rapat. Tak ada tanda- tanda ia akan keluar. Aku tahu Gafi pasti merasakan kekecewaan terhadapku. Aku memang egois saat memintanya untuk mengizinkanku mencari siapa dalang di balik kejadian di kafe. Aku pikir karena menyangkut diriku, aku harus menyelesaikannya sendiri. Walau Gafi memberikan izin, namun dari reaksinya yang tak biasa itu, aku tahu ia sedang menyimpan kekecewaan dan kemarahan padaku. Di tambah aku yang sedikit ragu dengan ucapannya mengenai Martin menambah daftar alasan kerenggangan hubungan kami ini.
Aku hanya bisa menatap pintu kamar itu. Aku tak punya keberanian untuk bicara padanya saat ini. Hanya sebuah kata maaf yang bisa aku ucapkan padanya. Aku salah, tapi aku harus melakukannya. Semoga kau bisa mengerti dengan keadaanku ini.
Aku terbangun dari tidurku yang tak nyenyak ini. Perhatianku pun teralihkan dengan suara mobil dari luar sana. Aku melompat dari tempat tidur dan mengintip dari gorden jendela. Terlihat mobil Gafi keluar dari rumah ini. Ia sama sekali tak ingin bersamaku sedikitpun.
Aku menghela napas panjang. Aku pikir inilah hasil dari egoku padanya dan aku harus menerimanya.
Setelah membersihkan diri, aku pun keluar dari kamar. Tak ada penjaga seperti hari kemarin.
Di atas meja terdapat dua potong roti panggang dan segelas susu. Masih sempatnya Gafi membuatkan sarapan untukku. Rasanya sesak dan sakit karena perhatiannya ini. Air mata ini kutahan untuk tidak mengalir. Aku tidak ingin mataku membengkak pagi ini.
Kusantap sarapanku ini dengan lahap.
Sekitar pukul 9, aku keluar dari rumah setelah terlebih dahulu memesan taksi online. Kendaraan ini pun membawaku ke suatu tempat.
Aku akan bertemu dengan Hanum, namun sebelumnya aku singgah di sebuah toko pastri untuk membeli kue kesukaannya. Tak di sangka di sana aku bertemu dengan Diana. Ia menatapku dengan tatapan sinis seperti biasanya.
" Dunia ini begitu sempit," celetuknya.
" Ya, sangat sempit seperti pikiranmu," timpalku.
Ia menyeringai. " Kau memang sangat menyebalkan."
" Terima kasih," ucapku tanpa melihatnya sedikitpun. Aku sibuk memilih kue yang akan aku bawa nantinya. Aku juga tak ingin terpancing dengan ucapannya.
" Kudengar kau mengundurkan diri?" Aku terdiam. " Kau juga merusak kafe tempat kau bekerja. Ha....bukankah kau sangat menyedihkan."
Seketika aku menoleh padanya. " Tidak kusangka berita akan cepat menyebar."
" Kau tak akan pernah tahu seberapa besar kekuatanku."
" Oh ya. Aku mengerti. Setelah kupikir-pikir mungkin saja kau terlibat."
" Aku?" Diana menatapku. " Bisa saja. Aku sangat senang melihatmu menjadi seorang tertuduh."
Aku tersenyum. " Itu memang sifatmu."
" Asal kau berpisah dengan Gafi, aku akan membersihkan semuanya. Gampang dan sangat sederhana, bukankah begitu."
" Ya, gampang dan sangat sederhana. Aku akan melakukannya."
" Benarkah."
" Ya, tapi hanya dalam khayalanmu."
Diana tampak kesal. " Kau memang tak bisa di ajak berkompromi."
" Aku tipe orang yang tidak suka berkompromi dengan musuh. Karena aku tahu setiap kesepakatan hanyalah keuntungannya semata."
" Aku akui kau sangat pintar. Tapi, bukan berarti dalam hal ini kau juga pintar."
" Apa maksudmu?"
" Pikirkan saja. Aku orang yang tidak suka memberikan kesenangan pada musuhnya. Jadi, selamat bersenang-senang."
__ADS_1
Ia pun pergi meninggalkanku. Entah apa maksud ucapannya itu padaku.
...****...
Aku tiba di sebuah gedung yang cukup besar ini. Di sana aku akan bertemu dengan Hanum karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya. Aku bertemu dengan Hanum di butik miliknya.
Aku di persilakan masuk oleh seorang pegawai yang memang sudah aku kenal sebelumnya.
Hanum menyambutku dengan pelukan hangat seperti biasa ia lakukan.
" Aku senang kau berkunjung ke sini, Yuna." Hanum meletakkan segelas teh padaku. " Kalau kau menghubungiku lebih awal, aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu."
" Kau tidak perlu repot-repot begitu, Hanum. Kalau kau menyiapkan makanan untukku, kau pasti tidak akan tanggung-tanggung. Pastinya berat badanku akan naik drastis."
Hanum tertawa. " Paling tidak aku punya teman, kan." Hanum menunjukkan perutnya yang mulai membesar. Hanum memang tengah hamil 5 bulan. Melihatnya akan menjadi seorang ibu membuatku sangat bahagia.
" Bagaimana bisa sama." Aku memonyongkan bibirku. " Kau terlihat cantik dan aku akan semakin membesar."
" Nanti kau juga akan merasakannya. Menjadi seorang ibu."
" Aku?"
" Ya, tentu saja. Kau nantinya akan menjadi seorang ibu, Yuna."
Aku tersenyum simpul. " Entahlah."
" Hmm...kenapa dengan wajahmu itu?"
" Tidak ada."
" Kau tidak bisa membohongiku. Aku sudah mengenalmu, Yuna. Apa kau bertengkar dengan Gafi?"
" Apa yang terjadi?"
" Ada seseorang yang ingin mencemarkan nama baikku. Membuat surat pengunduran diriku dan merusak kafe tempatku bekerja. Kau tahu' kan siapa pemilik kafe itu?"
Hanum mengangguk. " Martin."
" Kejadian itu membuatku tak enak padanya. Lalu aku mencurigai Gafi dan Diana. Itu karena Diana tak menyukaiku dan ia juga sering membuat gaduh."
" Lalu Gafi?"
" Gafi tidak menyukai Martin. Dia selalu bilang kalau pertemanan kami ini bukan hanya sekedar teman. Dia menganggap kalau Martin menyukaiku. Kami sedikit bertengkar karena hal itu."
Hanum menghela napas. " Kau mencurigainya karena hal itu?"
" Iya, di tambah Gafi mengurungku di rumah dengan dua orang penjaga, malah menambah kecurigaan ku. Aku tahu ini tidak baik, tapi pikiran itu muncul begitu saja."
" Yuna, aku mengerti maksudmu, tapi pastinya Gafi sangat kecewa padamu."
Reflek aku mengangguk. " Aku tahu. Dia bahkan tidak ingin melihat ataupun bicara padaku."
" Apa kau sudah bertemu dengan Martin?"
" Belum."
__ADS_1
" Cobalah untuk bertemu dengannya. Bukankah kau juga harus menjelaskan padanya kalau kau bukan pelakunya?"
" Aku sudah coba menghubunginya, tapi dia menolak semua panggilanku. Aku juga tidak enak dengan ibunya Martin. Dia sudah banyak membantuku selama ini."
" Kalau kau menemuinya, bawalah seseorang bersamamu."
" Kenapa?"
" Tidak baik'kan seorang wanita beristri bertemu dengan seorang pria."
" Aku mengerti."
" Yuna, mengertilah bagaimana Gafi. Kalian adalah orang yang paling penting di kehidupanku. Jangan sampai orang lain membuat hubungan kalian rusak. Ingatlah, kau menikah untuk seumur hidupmu."
" Akan aku ingat, tapi aku tidak terlalu mengerti dengan hubungan pernikahan. Aku dan Gafi, tidak seperti kau dan Reza. Masih ada hal yang belum bisa kami satukan."
" Coba dan belajarlah."
Aku mengangguk. " Akan kucoba. Terima kasih sudah mau mendengarkan ku."
" Kita ini teman, kalau ada masalah jangan sungkan berbagi, Yuna."
" Pasti."
Obrolan yang begitu panjang itu tak terasa sudah satu jam berlalu. Aku pun berpamitan pada Hanum. Ada hal yang harus aku lakukan setelah ini.
Tia mengirimiku sebuah pesan kalau Martin sedang terbaring lemah di kantor. Tia juga mengatakan kalau wajahnya sangat pucat. Martin pasti sangat stress memikirkan masalah ini.
Tanpa buang-buang waktu aku bergegas ke sana. Hanya ada Herman dan Tia di kafe.
" Kemana yang lain?" tanyaku heran.
" Bos meliburkan pegawai selama 3 hari, tapi kami tidak tega melihat keadaan kafe dan bos, jadi kami datang ke sini," jawab Herman yang di sambut anggukkan Tia.
" Kau temui bos, jelaskan semuanya. Kami akan pergi sebentar ke supermarket," ujar Tia.
" Baiklah, kalian berdua berhati-hatilah."
...****...
Setelah kepergian Tia dan Herman, aku bergegas menemui Martin. Menaiki anak tangga ini satu per satu. Ku ketuk pintu ini, namun tidak ada respon, lalu kupanggil namanya, hasilnya juga sama.
" Martin, ini aku, Yuna. Tolong bukalah pintunya, aku ingin bicara."
Tak ada respon.
" Martin, percaya atau tidak, bukan aku yang melakukan semua ini. Aku juga tidak membuat surat itu apalagi merusak tempat ini. Bagaimana mungkin aku merusak tempat yang sudah kau bangun susah payah ini. Kau dan manajer adalah orang yang sangat aku hormati. Aku yakin ada seseorang yang menjebak ku."
" Martin, tolonglah, tolong buka pintunya."
Martin tak merespons. Aku yakin ia sangat kecewa padaku hingga tak ingin melihatku.
" Baiklah kalau kau tak ingin bicara ataupun melihatku. Aku akan pergi dari sini. Maafkan aku atas semua kekacauan ini."
Aku berbalik dan hendak pergi, namun suara pintu yang sedang terbuka, mengalihkan niatku.
__ADS_1
" Yuna..."
Martin berdiri di sana memandangku tajam. Wajahnya terlihat pucat, entah bagaimana pola hidupnya gara-gara kejadian ini. Ini salahku. Aku harus memperbaikinya.