
Aku pun sampai di rumah Hanum. Di depan rumah seorang asisten rumah tangga menyambutku. Ia pun mempersilakanku masuk kemudian memberitahu Hanum perihal kedatanganku.
" Hanum," sapaku begitu ia keluar dari kamarnya.
" Yuna." Hanum menyambutku dengan senyuman. "Kenapa kau tidak bilang akan datang. Aku' kan bisa menyiapkan sesuatu untukmu."
" Mana mungkin aku merepotkanmu."
" Tapi aku suka di repotkan." Begitulah Hanum terhadapku tidak pernah berubah. " Oh ya, kau dan Gafi akan datang nanti malam?"
" Iya, tidak mungkin kami tidak datang. Kau tahu sendiri'kan?"
" Kau pasti bisa." Hanum memberiku semangat. " Lagi pula mereka tidak mungkin melakukan hal yang buruk padamu kalau Gafi bersamamu."
Aku mengangguk. " Ya...semoga saja."
" Oh ya, Gafi bilang kau mau bekerja di tempatku?"
" Iya, apa masih ada lowongan untukku."
" Tentu saja, kau bisa mulai bekerja sekarang kalau kau mau."
" Apa bisa besok saja. Bukankah hari ini ada acara itu."
" Kenapa aku jadi lupa, tadi kan kita baru saja membicarakannya," ujarnya. " Ya sudah, besok aku tunggu di sana."
" Baiklah," ucapku antusias. " Oh iya, boleh aku bertanya sesuatu?"
" Apa itu?''
" Apa kemarin kau ada di kampus Aydin?"
Hanum sedikit kaget. " Oh...kemarin..., aku memang ada di sana."
" Jadi benar itu kau. Waktu itu aku juga ada di sana."
" Oh ya..." Hanum tergagap. " Kau bertemu dengan Aydin?"
" Iya," jawabku. " Kau bersama dengan siapa? Aku melihatmu dengan seorang wanita, apa itu temanmu?"
" Ah.." Hanum lalu terdiam.
Aku sedikit bingung dengan reaksinya itu. Reaksi yang tak biasa yang di tunjukkan Hanum padaku.
" Ya, dia temanku," ucapnya pada akhirnya. " Dia baru saja pulang dari luar negeri."
" Oh, ternyata benar dia baru pulang dari luar negeri."
" Ha?" Hanum sedikit bingung karena ucapanku itu. " Apa maksudmu?"
" Aku sempat berbicara dengannya."
" Bagaimana bisa?"
" Waktu itu saat aku ada di kantin menunggu Aydin, ia mendatangiku."
" Mendatangimu?"
" Sebenarnya bukan secara khusus mendatangiku, itu dikarenakan situasi kantin sangat ramai, jadi dia datang untuk duduk sebentar."
" Oh begitu."
Aku sedikit menghela napas. Ada yang agak aneh dengan Hanum menurutku. Ia hanya menjawab pertanyaanku seadanya seolah takut berbicara banyak.
" Hanum, aku pamit pulang," ujarku tak memperpanjang obrolan kami barusan.
" Kenapa cepat sekali."
" Aku bukannya tidak ingin berlama-lama, tapi kau juga harus pergi bekerja, kan.Kalau aku lebih lama di sini, kau nanti akan lama sampai di toko."
__ADS_1
Hanum menyunggingkan senyuman. " Kau ini. Mana mungkin aku keberatan kalau kau lebih lama di sini. Sudah, nanti saja pulangnya."
Aku menggeleng kecil. " Lagi pula aku juga harus ke suatu tempat sebelum ke salon."
" Oh..." Hanum sedikit kecewa. " Kalau begitu, lain kali datanglah secara khusus untuk menemaniku."
" Baiklah." Aku pun berdiri dan segera pamit padanya. " Kau jangan terlalu lelah, sekarang kau tidak sendiri lagi."
" Iya," ujarnya tersenyum. " Hati-hati di jalan."
" Sampai jumpa lagi," ujarku melambaikan tangan.
...****...
" Nyonya."
aku tersentak, lalu tersenyum padanya. Entah mengapa aku malah melamun sesampainya di dalam mobil.
" Maaf."
" Kita akan ke mana, Nyonya?"
" Ke rumah sakit."
" Ke rumah sakit?" Putra terkaget. " Apa Nyonya sedang sakit?"
" Ah...tidak, bukan aku. Kita ke sana untuk menjenguk seorang teman."
" Oh begitu..." Putra sedikit lega. " Saya akan membawa Nyonya ke sana."
" Terima kasih."
Mobil ini pun melaju meninggalkan kediaman Hanum. Dan aku di dalam sini masih memikirkan sikap Hanum yang memang agak janggal menurutku. Entah mengapa wanita yang aku temui itu menjadi sebuah misteri besar untukku.
Aku menghela napas, menyandarkan bahuku yang terasa berat ini.
" Aku baik-baik saja," jawabku, " Hanya saja, entah mengapa pikiranku ini terasa penuh."
" Apa kita tidak ke kantor saja. Mungkin tuan bisa menyelesaikan masalah Nyonya."
Aku menggelengkan kepalaku. " Tidak, kita ke rumah sakit saja."
" Baiklah Nyonya kalau begitu."
Tak lama sampailah kami di sebuah rumah sakit. Aku bergegas turun untuk menemui Tya yang sedang sakit. Anak itu memang keras kepala kalau menyangkut mengisi perut, jadilah ia terkena asam lambung. Aku sudah sering menasehatinya, namun begitulah ia, kalau sudah kerja lupa segalanya.
Kamar 301, tempat Tya di rawat. Aku mengetuk pintu itu, lalu membukanya. Terlihat Tya tengah berbaring di sana. Begitu ia melihatku, ia pun langsung tersenyum lebar.
" Akhirnya kau datang juga," ujarnya sedikit merengek. " Aku sudah bosan di sini."
" Memangnya kalau aku datang, rasa bosanmu langsung hilang?"
" Tentu saja," ujarnya, " Bawa aku sekalian pulang."
" Kau mau kuhajar."
Tya tersenyum. " Aku merindukanmu."
Aku tertawa. " Kenapa kau jadi manja begini. Dulu kau selalu sinis padaku."
" Kau ini..."
" Kalau begitu aku panggil saja Aril. Bermanja-manja saja dengannya."
Tya memukulku. " Kenapa jadi Aril!"
" Memangnya kenapa?"
" Aku tidak punya hubungan dengannya."
__ADS_1
" Tch..." Aku menyeringai. " Yang benar saja, memangnya aku tidak tahu hubungan kalian seperti apa."
" Sudah jangan dibahas lagi."
" Kalian sedang bertengkar?"
" Aku tidak mengenalnya, kenapa kami harus bertengkar."
" Mana kutahu."
" Sekarang kau senang menggodaku, ya."
" Kapan lagi bisa membuatmu marah."
" Dasar," ujarnya, " Bagaimana dengan kehidupanmu?"
" Biasa saja."
" Biasa saja bagaimana."
" Ya biasa saja. Sama saja, kan."
" Bisa tidak serius sedikit."
" Kau ini kenapa. Tidak ada yang terlalu berubah, hanya saja sekarang aku sudah punya pria yang akan melindungiku."
" Dia baik padamu, kan."
" Gafi sangat baik padaku."
" Kau mencintainya?"
" Sangat mencintainya."
Tya tersenyum kecil. " Syukurlah."
" Tya." Aku menggenggam tangannya. " Aku sangat bahagia dan kau juga harus mencari kebahagiaanmu. Kau tahu, Aril, pria yang sangat baik."
" Aku tahu, tapi aku belum siap untuk berkomitmen. Aku dan dia, terlalu jauh, Yuna."
" Apa bedanya denganku? Aku dan Gafi juga sangat berbeda, kalau Aril memang serius padamu, dia pasti akan berusaha mendapatkanmu dan kau jangan menghindar lagi."
Tya terdiam sesaat. Mungkin ia sedang mempertimbangkan apa yang sedang aku ucapkan padanya.
" Aku akan memikirkannya. Ini bukan hanya soal aku dan dia, tapi juga keluarga. Kau tahu' kan, aku seperti apa, aku tidak mau merusak image yang sudah ia bangun. "
" Aku mengerti."
" Kau juga, banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan, terutama keluarga Gafi."
" Ya, aku tahu."
" Kau pasti bisa, Yuna."
" Terima kasih sudah mendukungku," ujarku memeluknya. " Tidak salah aku menemuimu, aku sedikit lega sudah mengobrol denganmu."
" Apa ada masalah?"
" Bukan begitu."
" Baiklah-baiklah kalau kau tidak ingin memberitahuku. Aku cuma bisa menunggu sampai kau bicara padaku."
" Bukan begitu..." Aku mulai merengek. Tya malah tertawa senang melihat tingkahku ini. " Aku masih belum tahu jawabannya."
" Kalau kau punya masalah, jangan segan berbagi denganku, jangan di pendam sendiri. Aku akan senang membantumu, kau mengerti, kan."
" Iya, aku mengerti."
Tya mengangguk kecil. " Baguslah kalau kau mengerti."
__ADS_1