
Aku mengucek-ngucek mataku, lalu memandangi seluruh ruangan ini, menyadari kalau aku berada di tempat yang sangat asing. Namun, sebuah foto berbingkai besar tepat di belakangku segera menyadarkanku. Sebuah foto pernikahan kami yang entah kapan ia gantungkan di dinding itu. Ya, tempat ini adalah rumah Gafi. Aku baru ingat kalau semalam aku tertidur pulas dan tak menyadari kalau aku sudah ada di sini.
Tapi, mengapa aku sendirian di kamar ini? Dimana Gafi?
Aku pun bergegas turun dari tempat tidur, lalu mengambil cardinganku. Kutekan gagang pintu sehingga pintu itu terbuka. Aku berjalan melewati koridor yang cukup panjang. Di depan dan sebelah kamar yang aku tempati ada sebuah kamar juga.
Aku berjalan sampai menemukan sebuah ruang keluarga, lalu di sebelahnya terlihat Gafi tengah sibuk mempersiapkan sesuatu di dapur. Aku menghampirinya dan ia pun menyadari kehadiranku.
" Selamat pagi," sapanya. " Kau mau sarapan?"
" Kenapa tidak membangunkanku?"
" Kau terlihat sangat kelelahan, mana mungkin aku membangunkanmu."
" Aku kan bisa membuatkanmu sarapan."
" Aku juga sudah terbiasa seperti ini. Lain kali kau yang akan membuatkan sarapan untukku. Sekarang duduklah."
Aku pun duduk di sebelah Gafi. Ia memberikanku segelas jus dan sepiring roti yang sudah ia panggang.
" Kau sudah mencuci muka dan menyikat gigimu?"
" Sudah."
" Benarkah?"
" Kau tidak percaya? Coba saja periksa."
Seketika Gafi mengecup bibirku. Aku terdiam mematung karena ulahnya itu.
" Kau ini!" Aku memukul bahunya. " Kenapa malah menciumku!"
" Kau yang menyuruhku memeriksa, bukankah itu cara memeriksanya."
Aku mendengus kesal. Bisa-bisanya Gafi menjawab dengan entengnya. Senyuman yang seakan menyiratkan ejekan padaku itu semakin membuatku kesal saja.
" Kenapa wajahmu jadi suram begitu."
" Kau yang membuatnya jadi begitu."
" Apa ciumanku kurang pagi ini, ha?"
Gafi melekatkan kedua tangannya di pipiku. Menatapku dengan senyuman yang begitu manis. Wajahnya perlahan mendekatiku, kedua mataku pun otomatis menutup, namun Gafi hanya mempermainkanku, ia pun tertawa dengan senangnya karena sudah berhasil dengan misinya.
" Kau benar-benar menyebalkan!" teriakku, lalu memukulnya. Aku yang hendak pergi lalu di cegah olehnya. Menarik tanganku lalu menghempaskan tubuhku ke tubuhnya. Kali ini bibir itu benar-benar merengkuh bibirku. ******* Gafi terasa sangat panas di bibirku.
Aku tidak membalas ciuman darinya karena shock dengan ciumannya yang tiba-tiba itu.
Ciuman Gafi semakin panas dan menuntut. Lama kelamaan aku pun melingkarkan tanganku di leher Gafi. Membalas setiap ciuman yang ia lancarkan padaku.
Aku semakin terdorong hingga terjatuh ke atas sofa. Tatapan mata Gafi sungguh menghipnotisku. Kini giliranku yang memulai menciumnya dan Gafi membalas ciumanku.
__ADS_1
Ciuman panas itu pun menjalar hingga ke leher. Gafi menciumku bertubi-tubi hingga membuat tanda di leherku itu.
Tanpa sadar aku mengeluarkan suara aneh dari bibirku. Aku pun menahan desahanku itu dengan menutup mulutku.
Gafi melepaskan ciumannya, lalu membisikkan sesuatu padaku.
" Kau tak perlu menahannya."
Wajahku langsung memerah dan panas. Aku jadi malu karena ucapannya itu. Seketika aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tentu saja Gafi berusaha membuka kedua tanganku itu.
" Yuna, kenapa kau menutup wajahmu."
" Aku malu."
" Kenapa harus malu."
Akhirnya Gafi berhasil menarik tanganku. Spontan aku memalingkan wajahku.
" Jangan menatapku seperti itu," celetukku.
" Kenapa?" tanyanya lembut.
Kau tanya kenapa? Kau sudah membuat hatiku berdetak tak karuan hanya dengan suara lembutmu itu.
" Yuna..."
Aku tiba-tiba bangkit dan kini duduk berhadapan dengannya. Gafi memandangiku dengan tatapan tajamnya.
" Ha?"
Di tengah kebingungan Gafi, dari luar sana terdengar suara bel berbunyi. Gafi bergegas membuka pintu begitu pun denganku yang menyusul di belakangnya.
Sudah ada ibu mertua serta adik iparku di depan pintu. Mereka melemparkan senyuman terbaiknya di hadapan Gafi, namun sebaliknya denganku mereka memasang wajah masam.
" Ada apa Mama datang ke sini?"
" Memangnya Mama tidak boleh ke sini."
" Ini bukan kebiasaan Mama datang ke rumah ini."
" Gafi...Mama memang ingin melihatmu, seharusnya kau menyambut Mama dengan baik. Mama juga membawakanmu makanan."
" Terima kasih, Ma."
" Mama dan Soraya mau minum apa? Biar Yuna buatkan," tanyaku
" Tidak perlu," jawab mertuaku itu. " Kau tak perlu menyiapkan minuman."
" Baiklah, Ma."
Aku merasa sedikit down dengan penolakan mertuaku itu.
__ADS_1
Gafi yang mengamati tingkah lakuku sejak tadi, lalu menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya. Ia pun tersenyum.
Genggaman tangannya membuatku lebih tenang.
Aku tahu sikap Gafi terhadapku ini membuat dua wanita dalam keluarganya ini semakin tidak suka padaku. Apapun yang aku lakukan, tidak akan pernah membuat mereka senang padaku.
" Oh ya Kak, Kakak pasti tidak lupa ulang tahunnya kak Diana, kan? Nanti malam kak Diana akan mengadakan pesta. Kakak datanglah, pasti kak Diana sangat senang."
" Iya, Gafi. Setidaknya kau menyenangkan hatinya setelah apa yang terjadi. Mama sudah susah payah memperbaiki hubungan keluarga kita dengan keluarga Diana."
Mereka benar-benar tidak memikirkan perasaanku yang sudah menjadi istrinya Gafi. Selalu nama Diana yang terucap dari keluarga Gafi. Aku mengerti karena mereka memang mengharapkan Diana menjadi menantu, tapi kedatanganku malah mengacaukan rencana mereka itu.
Perlahan demi perlahan aku sudah memahami situasi ini dan mencoba menahan perasaan kesalku yang rasanya ingin meledak. Aku takut nantinya malah akan merugikanku sendiri.
" Aku akan datang."
Itulah jawaban yang terucap dari bibir Gafi. Aku yang berada di sampingnya hanya bisa diam dan menerima keputusannya itu.
" Baguslah, Nak, akhirnya kau mengerti juga."
" Soraya sangat senang mendengarnya, Kak."
Lalu, mereka menatapku dengan tatapan sinis, lalu tersenyum kecil seakan mereka sedang memenangkan sesuatu.
" Mama dan Soraya pulang dulu. Jangan lupa malam ini."
" Iya, Ma."
Mama dan Soraya pun pamit pulang. Setelah mobil mereka meninggalkan kediaman ini, aku pun bergegas masuk tanpa menunggu Gafi.
Kuteguk air putih yang ada di atas meja. Mendinginkan perasaan yang terasa panas ini. Entah kenapa aku harus begitu marah dan kesal. Aku tak mengerti dengan hatiku ini.
" Aku harus ke kantor. Kau selesaikan sarapanmu dan beristirahatlah," ujar Gafi, lalu meninggalkanku.
Sebuah pesan yang tidak menyenangkan untuk di dengar, namun itulah yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, Gafi pun keluar dari kamar dengan pakaian kantornya. Aura yang begitu kuat terpancar dari wajahnya.
" Nanti akan ada bi Susi yang datang untuk membersihkan rumah ini. Aku sudah memberitahu bibi kalau kau ada di rumah."
Aku mengangguk.
" Aku pergi. Kau jangan kemana-mana tanpa izinku."
" Baiklah. Lagi pula aku tidak ada keinginan kemanapun."
" Ya sudah, aku pergi. Kau tidak perlu mengantarkanku."
" Ya."
Gafi pun pergi meninggalkanku di rumah ini. Sikapnya tiba-tiba berubah setelah kedatangan mertua dan adik iparku. Sesaat terasa dingin tidak sehangat sebelumnya.
__ADS_1
" Ha..." Aku menghela napas. " Dasar bodoh, apa yang kau harapkan Yuna...kenapa kau harus mengharapkan sesuatu yang terlalu besar padanya. Tahanlah, agar kau tak terluka."