
Esok harinya di kediaman keluarga Gafi.
Sang ibu dan saudara perempuannya menyambut kedatangan Gafi di rumah itu. Gafi memang tinggal terpisah dengan keluarganya. Ia lebih memilih tinggal di apartemen seorang diri sejak Ayahnya menikah dengan Ibunya yang sekarang ini. Ia tak nyaman dengan kehadiran orang baru di tengah keluarganya, di tambah Gafi memang kecewa dengan sikap ayahnya terhadap almarhum ibu kandungnya dulu. Dengan pernikahan barunya itu menambah daftar alasan ia harus hengkang dari rumah besar itu.
“ Mama senang kau datang ke sini, Nak.” Tak henti-hentinya sang ibu mendekapnya. Gafi tahu apa yang menjadi motif sang ibu sambungnya ini. “ Mama langsung mengundang keluarga Diana setelah tahu kau akan ke sini.”
“ Keluarga Diana?” Gafi agak kaget mengetahui sang ibu mengundang keluarga itu tanpa sepengetahuannya. Ia juga tak habis pikir dengan kelakuan sang ibu yang tak pernah berubah.
“ Iya, keluarga Diana. Mama ingin kesalahpahaman kalian segera berakhir. Makanya Mama mengundang mereka.”
“ Oh,” balas Gafi tanpa ekspresi. “ Terserah Mama saja,” ujarnya. Lagi pula ia juga tak bisa menghentikan keinginan ibunya itu.
Tapi, di dalam pikirannya, ia sudah memikirkan apa yang harus di lakukannya dalam situasi yang tidak terduga ini. Rencana yang sudah ia susun mungkin akan ada sedikit bumbu drama di dalamnya, tapi buatnya itu lebih baik agar pertemuan ini semakin seru.
“ Kau sudah datang,” sambut sang Ayah dengan senyuman khasnya. “ Sudah lama kau tidak pulang ke rumah.”
“ Ya, lagi pula tidak ada hal yang mengharuskanku pulang ke rumah, Pa.”
“ Kau masih saja sama, selalu dingin dan acuh tak acuh.”
“ Bukankah aku mirip seseorang?”
Ayahnya pun tertegun dengan ucapan sang putra. Ia tahu pasti apa maksud dari anaknya itu.
“ Ah, sudah-sudah,” ucap Ibunya mencairkan suasana yang tidak kondusif itu. “ Sayang, jangan begitu, Gafi baru saja sampai, jangan membuatnya tidak nyaman.”
“ Kau lihat, Mamamu begitu baik dan perhatian. Kenapa kau tidak mengerti juga.”
Gafi tidak merespons ucapan ayahnya itu. Baginya tak penting untuk menjelaskan sesuatu yang akan membuang-buang waktunya.
“ Papa terkejut saat kau mengatakan akan datang dan mengadakan acara keluarga. Sudah lama kita tidak bersama, Papa sangat senang melihatmu lagi.”
“ Aku memang mengatakan pertemuan keluarga, tapi hanya keluarga inti saja, bukan mengundang keluarga lain.”
“ Gafi, Mamamu melakukan itu demi kebaikanmu, demi hubungan kalian dan keluarga ini.”
“ Hubungan? Aku tidak merasa punya hubungan dengannya. Kenapa terjadi kesalahpahaman di sini.”
“ Gafi, Diana itu anak baik, berasal dari keluarga yang jelas, kita sudah lama mengenal mereka.”
“ Tapi bukan berarti memaksakan kehendak dan obsesi seseorang, 'kan?” Gafi menatap Ayahnya dengan raut wajah serius.
Suasana pun menjadi kikuk kembali dan terasa sangat dingin.
“ Ada apa ini? Kenapa rumah ini begitu suram.” Terdengar suara wanita memasuki rumah. “ Apa begini pertemuan keluarga yang harus aku hadiri? Jangan membuang waktuku yang sangat berharga ini.”
“ Tante Liz,” sapa Gafi begitu melihat kehadiran tantenya.
“ Kak, kau sudah datang,” timpal Ayah Gafi menyapanya.
Tak ketinggalan ibunya Gafi menghampiri dan menyapanya dengan senyuman terbaiknya.
“ Kakak Ipar, silakan duduk,” ujarnya.
__ADS_1
“ Aku sangat tersanjung dengan keramahanmu Adik Ipar.”
“ Kak, Yuli memang selalu baik dan ramah padamu.”
“ Oh ya, kau benar sekali, aku hampir saja lupa.”
Tante Liz menatap Gafi yang duduk tak jauh darinya.
“ Ada apa ini Gafi? Kenapa kau tiba-tiba membuat kami harus berkumpul di tempat ini?”
“ Maaf Tante, aku tidak bisa mengatakan secara detail, tapi yang jelas ini adalah sesuatu yang sangat besar untuk keluarga ini.”
“ Oh, benarkah? Tante sudah tidak sabar.”
“ Iya Tante, tunggu sebentar lagi saja.”
“ Baiklah, Tante akan menunggu.”
...****...
Seorang pelayan datang menghampiri dan memberitahu kalau keluarga dari Diana sudah tiba. Ayah dan Ibu Gafi langsung datang menghampiri untuk menyambut kedatangan tamu mereka itu. Tante Liz yang masih tak percaya dengan kedatangan Diana, menatap Gafi dan mengharapkan sebuah jawaban yang memuaskan darinya.
“ Aku tidak mengundangnya, Tante. Mama yang melakukannya.”
“ Berarti ini tidak ada hubungannya dengan mereka, kan?”
“ Tidak ada, lagi pula kenapa harus ada hubungannya dengan mereka. Tapi, karena mereka sudah datang ke sini, mungkin ini sesuatu yang penting juga bagi mereka.”
“ Apa yang sedang kau rencanakan, Nak?”
“ Sesuatu yang membuat Tante akan senang.”
“ Tante harap itu benar, tapi yang lebih penting, ini juga membuatmu senang. Tante hanya ingin melihatmu bahagia, Gafi.”
“ Aku tahu. Tante, percayalah padaku”
“ Tante memang harus percaya padamu kan. Terlebih Tante akan keluar dari perusahaan dan kau yang akan menjalankan perusahaan menggantikan tante.”
“ Tante….”
“ Tante tidak mau dengar lagi.”
Gafi menghela napas.
...****...
Diana datang menghampiri Gafi yang tengah berbincang dengan tantenya itu. Ia begitu senang dan seolah sudah melupakan apa yang terjadi kemarin. Ia mungkin berpikir pertemuan ini akan memperbaiki kekecewaannya pada sang pujaan hati.
“ Tante Liz, apa kabar?” sapanya lalu duduk di dekat sang tante.
“ Baik. Bagaimana denganmu?”
“ Baik Tante. Senang rasanya melihat keluarga kita berkumpul.”
__ADS_1
“ Oh, tentu sayang.”
Tante Liz melirik Gafi.
Gafi hanya tersenyum santai menanggapi ucapan Diana yang terdengar sangat percaya diri itu.
Kedua keluarga pun berbincang-bincang dengan seriusnya dan di selingi suara tawa. Gafi terus melihat jam tangannya, ia tampak resah karena menunggu kedatangan Yuna.
“ Kau siapa?”
Suara ibu Gafi mengalihkan perhatian.
Terlihat Yuna berdiri menatap bingung dengan orang-orang yang ada di hadapannya. Gafi yang melihat Yuna langsung datang menghampirinya, sedangkan tante Liz tampak bingung dengan kehadiran Yuna.
“ Gafi, kenapa dia ada di sini?” Diana tampak meradang.
“ Kenapa dia di sini?” Gafi mengulang setiap ucapan Diana. “ Karena Yuna adalah bintang utamanya, dialah yang aku tunggu sejak tadi.”
“ Apa?” Diana seakan tak percaya.
“ Wanita yang ada di hadapan kalian ini adalah calon istriku. "
Ayah-ibu, adik dan tante serta keluarga Diana tampak bingung dengan pernyataannya Gafi itu.
" Aku akan memperkenalkannya. Namanya Yuna, aku akan menikah dengannya dalam
waktu dekat.”
“ Gafi!” teriak sang Ayah. “ Jangan membuat keributan.”
“ Keributan apa maksud Papa? Ini bukan keributan tapi sebuah kenyataan. Aku tidak meminta apa pun, aku hanya ingin memperkenalkannya pada kalian.”
“ Hargai keluarga Diana yang sudah hadir.”
“ Bukan salahku keluarga Diana ada di sini, lagi pula bukan aku yang mengundang. Tujuanku cuma wanita yang ada di sebelahku ini.”
“ Tapi, Nak, wanita ini hanya seorang pelayan. Kau sudah di peralat," timpal ibunya memanaskan suasana.
“ Apa? Pelayan?” Ayahnya begitu shock. “ Gafi apa-apaan ini! Papa tidak suka dengan ini.”
“ Apa pelayan bukan manusia?" Gafi menatap ayahnya tajam. " Suka ataupun tidak, tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanku."
" Nak, jangan seperti itu. Ingatlah nama baik keluarga kita."
" Tidak ada yang akan merusak nama keluarga, Ma."
Suasana yang semakin tegang membuat Gafi dan kedua orang tuanya terus melemparkan kata demi kata.
Tante Liz yang melihat itu akhirnya harus turun tangan mendinginkan suasana yang tengah memanas bak api itu.
" Biarkan Gafi menikah," ucap tante Liz. " Aku menyetujui wanita pilihannya."
Semua orang sangat terkejut dengan ucapan tantenya itu, sedangkan Gafi tersenyum lega. Ia tahu kalau Tantenya akan selalu ada di pihaknya apa pun yang dilakukannya.
__ADS_1