
" Kau kapan pulang?"tanyaku.
" Mungkin 4 hari lagi," jawab Tya, " Padahal aku sudah minta untuk tidak lama-lama di sini."
" Kalau kau menuruti apa kata dokter, kau tidak akan lama di sini."
" Bagaimana kau bisa tahu? Apa Herman yang menceritakannya padamu?"
" Tentu saja dia," ujarku, " Kau ini malah makan sembarangan, bukannya semakin baik malah semakin menjadi-jadi."
" Kau tidak tahu rasa makanan di sini."
" Memangnya ini restoran, makanan bisa enak. Ini semua demi kesehatanmu."
" Ha..." Tya menghela napas. " Kau ini cerewet sekali."
" Aku akan menjengukmu setiap hari, jadi aku juga bisa memantaumu."
" Bukannya kau harus bekerja."
" Aku bisa datang saat pulang kerja."
" Tidak-tidak, jangan lakukan itu. Nanti Gafi marah padaku, kau boleh datang tapi tidak setiap hari."
" Kenapa begitu."
" Sudah jangan cerewet, lakukan saja apa yang aku katakan."
" Baiklah," ujarku mendengus.
Aku melirik jam yang ada di dinding. Sudah pukul 3 dan tidak terasa waktu yang aku habiskan dengan Tya begitu cepat berlalu. Aku langsung pamit padanya karena aku harus bergegas ke salon sesuai permintaan Gafi.
Di salon, aku langsung disambut pemiliknya. Salon ini memang sudah di booking Gafi terlebih dahulu, terlebih pemilik salon merupakan teman baiknya. Wanita yang menyambutku ini sangat cantik, ia pun dengan ramah membuka obrolan denganku.
Mereka melayaniku dengan baik. Mulai dari awal kedatanganku hingga proses perawatan. Aku begitu di manjakan di sini.
" Silahkan, Nyonya," ujar seorang staff membawaku ke sebuah ruangan. Di dalam sana terdapat sebuah bathub berisi air susu dan juga berbagai macam bunga. Di dalamnya juga terdapat lilin-lilin kecil yang mengeluarkan aroma yang sangat menenangkan.
Hampir setengah jam aku di dalam sana. Rasanya sangat rileks dan menenangkan.
Waktu juga sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku mengambil pakaian yang akan aku kenakan ke pesta nanti. Gaun yang di pilih oleh Gafi untukku. Aku tak henti-hentinya bergaya di depan kaca, aku sangat senang dengan gaun yang ia berikan ini untukku.
" Permisi, Nyonya." Sebuah ketukan mengagetkanku. " Maaf mengganggu." Ia pun masuk setelah aku membukakan pintu.
__ADS_1
" Tidak apa-apa," ujarku, " Apa kalian akan meriasku?"
" Iya, Nyonya," jawabnya. " Apa Nyonya sudah selesai?"
" Sudah. Nanti tolong rias wajahku tipis-tipis saja ya."
" Baik, Nyonya. Kami akan merias dengan sebaik mungkin."
Aku menyunggingkan senyuman.
Aku duduk di sebuah kursi dengan kaca yang begitu besar di depanku. Segala pernak-pernik per makeupan tersedia lengkap di atas meja. Seorang staff mulai merias wajahku. Langkah demi langkah ia memoles wajahku ini.
Begitu selesai, ia merapikan rambutku. Terlebih dahulu ia membuat rambutku menjadi keriting lalu mengikatnya kemudian memberikan aksesoris berbentuk bunga sebagai pemanis. Dan akhirnya selesai sudah, waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Putra yang sudah datang, mengantarkanku ke tempat pesta dimana Gafi sudah menunggu di sana. Aku sedikit gugup karena Gafi tidak ada di sampingku. Aku menggenggam tanganku erat supaya aku sedikit tenang.
" Nyonya, jangan gugup begitu," ujar Putra yang menyadari kegugupanku ini. " Semua akan baik-baik saja."
" Aku tahu, makanya aku sedang menenangkan diriku. Semua akan baik-baik saja," ujarku menirukan ucapan Putra. " Nanti kau akan menemaniku ke dalam, kan?"
" Tidak, Nyonya," jawabnya, " Saya hanya mengantarkan Nyonya sampai lobi saja."
" Benarkah." Aku sedikit kecewa. " Kupikir kau akan membawaku ke dalam."
" Maaf, Nyonya."
...****...
Sampailah aku di sebuah hotel, tempat acara itu dilaksanakan. Seorang pria membukakan pintu untukku dan aku pun turun dari mobil ini. " Terima kasih," ucapku padanya. Selang tak begitu lama, mobil yang membawaku itu pun pergi meninggalkanku.
Aku meyakinkan diriku kemudian melangkahkan kakiku menuju tempat itu. Sebuah lift membawaku ke sana.
Lantai 5, pintu lift itu terbuka. Aku keluar dari sana dan sudah terlihat orang-orang berlalu lalang.
Aku memasuki aula yang besar itu. Sesaat aku terpana karena takjub dengan kemewahan yang disuguhkan. Pesta yang notabenenya hanya berlabel ulang tahun layaknya pesta pernikahan.
" Yuna." Suara yang sangat aku kenal itu menggema di telingaku. Aku langsung tersenyum senang begitu melihat sosoknya. Ia berjalan mendekatiku dan entah mengapa perasaanku menjadi campur aduk. " Kau sangat cantik sekali," pujinya yang membuatku tersipu malu."
" Kau juga sangat tampan," pujiku lagi. Gafi tersenyum mendengar pujianku itu. Kami seperti pasangan utama saja malam itu karena semua mata hampir tertuju kepada kami.
" Ayo." Gafi mengulurkan tangannya. Aku pun menyambut tangannya itu yang kemudian ia genggam erat. Kami pun berjalan menghampiri Soraya, sang bintang utama malam ini.
" Soraya," sapa Gafi yang kemudian disambut pelukan darinya. " Selamat ulang tahun."
__ADS_1
" Terima kasih, Kak," ucapnya semringah.
" Selamat ulang tahun, Soraya," ucapku kemudian memberikan kado yang sudah kubawa. Ia memaksakan senyumannya yang kusadari hanyalah untuk menyenangkan kakaknya.
" Terima kasih," ucapnya seadanya. " Kak..." Soraya menyilangkan tangannya di lengan Gafi. Aku mau tak mau melepaskan tanganku dari tangannya. Soraya membawanya menjauh dariku, Aku hanya pasrah saja dengan tindakannya itu.
Apa yang dilakukan Soraya tentu saja bisa kutebak, apalagi kalau bukan menyatukan Gafi dan Diana. Lagi dan lagi hingga tak bosan melakukannya. Kulihat dari kejauhan Diana tampak tersenyum bahagia dengan tingkahnya yang mencari perhatian Gafi. Tak ada yang bisa kulakukan di saat seperti ini, terlebih di acara keluarga mereka.
" Sudahlah." Aku membalikkan badanku mencari minuman untuk menghilangkan dahagaku. Segelas minuman berwarna merah menjadi pilihanku. " Ha...segarnya," celotehku.
" Apa segitu enaknya." Aku terkejut dengan suara itu. Hampir saja minuman yang ada di tanganku ini terjatuh.
" Gafi." Sebuah pukulan kecil mendarat di dadanya. " Kau mengagetkanku."
Gafi tersenyum kecil.
" Kenapa kau ada di sini?"
" Memangnya aku harus di mana?" Gafi mengambil minuman dari tanganku dan meletakkannya di atas meja. " Apa kau senang kalau aku tak ada."
" Aku malah berpikir kau tak perduli padaku."
" Aku?" Gafi tampak kaget. " Kenapa kau berpikiran jelek terhadap suamimu." Sebuah sentilan kecil mendarat di dahiku. " Dasar kau ini."
Aku memeluknya dengan manja. " Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu."
" Apa sekarang kau sedang menunjukkan eksistensimu di hadapan orang banyak?"
" Ha??" Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatapnya bingung. " Aku tidak mengerti apa yang kau maksud," ucapku sambil tersenyum.
" Tidak mengerti tapi tersenyum."
Aku tertawa. " Semua orang harus tahu kalau aku adalah istrimu, walaupun ada orang yang tidak mau tahu. Jadi, aku harus terus membuatnya sadar."
Gafi menyeringai. " Sekarang kau sudah pintar menyindir orang."
" Tentu saja."
" Kemarilah." Gafi menyuruhku mendekat padanya, lalu memelukku lagi. " Apa begini bisa membuatmu tenang Nyonya Gafi."
" Apa kau bisa menciumku?"
" Yuna..."
__ADS_1
Aku tertawa lepas. " Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius sekali."
Gafi menghela napas karena keisenganku itu. Tapi bukan Gafi namanya kalau tidak melakukan keisengan yang sama. Ia benar-benar menciumku di depan khalayak ramai. Tentu saja aku terkejut bukan main, tak kusangka ia akan melakukan itu di sini.