Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Aku kembali beraktivitas seperti biasa, melakukan pekerjaan yang biasa aku lakukan dulu. Masih seperti biasa, mata-mata itu masih memandangku sinis. Aku memilih tidak peduli karena menjelaskan juga tidak ada gunanya. Di tambah kenyataannya sekarang, aku berstatus istri dari pria yang menjadi sumber masalahku. Mereka pasti menganggapku benar-benar merebut Gafi dari Diana, padahal kenyataannya mereka tak tahu seperti apa. Terkadang orang-orang hanya peduli apa yang dilihatnya ketimbang mendengar penjelasan dari yang bersangkutan. Terasa aneh, tapi begitulah yang terjadi.


Siang ini kafe begitu ramai seperti biasa. Berlalu lalang adalah gambaran yang tak terhindarkan saat menjelang makan siang. Aktivitas yang kami lakukan pun harus ekstra cepat agar tidak ada pelanggan yang merasa kecewa. Kepuasan pelanggan adalah nomor satu untuk kami.


Aku dan Tia terduduk lemas sambil meneguk sebotol air mineral. Kami merasa lega karena bisa beristirahat sejenak setelah keramaian yang tak terhindarkan tadi.


“ Kakiku benar-benar sangat lelah,” keluh Tia sambil memijit kakinya. “ Untung saja sudah berlalu, jadi kita bisa beristirahat.”


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


“ Tapi, aku malah senang,” celetukku. “ Akhirnya aku bisa merasakan ini lagi.”


Tia menoleh. “ Yuna…kau ini benar-benar aneh.”


“ Aku? aneh?”


“ Hmm,” angguknya. “ Kau itu aneh, kenapa juga kau harus kembali bekerja. Bukankah Gafi itu orang kaya, dia kan bisa menyanggupi kebutuhanmu. Kau bisa menyombongkan dirimu sekarang, kenapa kau malah kembali menjadi pelayan, ha!”


“ Apa salahnya kembali menjadi pelayan.”


“ Setidaknya kau bisa mengangkat kepalamu dihadapan Widya.”


“ Tch…kau ini,” ujarku ingin memukulnya. “ Aku pikir nasihatmu baik, ternyata melenceng juga.”


Tia tertawa kecil.


“ Lagi pula kalau di pikir-pikir sepertinya menjadi Nyonya bukan hal yang pantas untukku. Bekerja seperti ini lebih menyenangkan dari pada di rumah, tidak tahu harus melakukan apa.”


“ Aku mengerti maksudmu, tapi aku yakin Gafi pasti menolak kau bekerja lagi, kan?”


“ Ya…awalnya dia keberatan, dia juga sempat marah padaku. Tapi, dia juga yang membantuku pada akhirnya. Kalau keluarganya tahu aku pergi ke sini, mereka pasti marah besar.”


“ Tapi berkat Gafi, kau selamat, kan?”


“ Iya begitulah.”


“ Umm…feelingku tidak salah, Gafi itu orang yang baik. Buktinya sudah di depan mata, kan.”

__ADS_1


“ Ha? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti itu?”


“ Aneh apanya, lebih aneh temannya itu.”


Aku sedikit kaget karena Tia selalu menyebut Aril di setiap obrolan kami. Aku pun jadi penasaran dengan hubungan yang menurutku spesial itu.


“ Aku jadi penasaran sudah sedekat apa hubunganmu dengan Aril? Soalnya kau terus saja kesal padanya. Tidak mungkin kalau kalian hanya sekedar mengenal, kan?”


Tia mengernyitkan dahinya. “ Entahlah,” ucapnya melengos pergi. Aku hanya terdiam dengan kelakukan ajaibnya yang satu itu. Kalau dia sedang tak ingin berterus terang, jalan terakhirnya pasti akan pergi menghindar. Dan aku hanya bisa memaklumi sifatnya yang satu ini.


Setelah Tia pergi, aku pun pergi ke teras kafe untuk membersihkan meja yang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya. Gelas dan piring yang ada di atas meja, aku singkirkan lalu membersihkan meja itu hingga bersih. Sesekali aku menyapa pelanggan yang datang dengan senyum yang merekah. Hingga aku tersadar dengan salah satu pelanggan yang masih berdiri di hadapanku. Aku tak menyangka kalau ia akan datang ke tempat ini.


“ Kenapa kau ada di sini…Dimas,” tanyaku tiba-tiba.


“ Akhirnya aku bisa bertemu denganmu setelah aku mencarimu ke sini beberapa kali.”


Begitulah ucapannya yang membuatku langsung teringat dengan cerita Tia beberapa hari yang lalu. Ada seorang pria yang mencariku, tidak… bukan hanya seorang tapi dua orang, aku tidak tahu siapa satunya lagi, tapi aku yakin kalau salah satu pria pastilah Dimas.


“ Silakan duduk,” ujarku mempersilahkannya seolah-olah adalah salah satu pembeli. “ Apa kau ingin memesan sesuatu?”


“ Yuna, duduklah dahulu. Aku ingin bicara denganmu.”


“ Kalau aku memesan sesuatu, apa kau akan memberiku kesempatan untuk berbicara?”


“ Itu…” Aku agak bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, aku masih bekerja, di sisi lain Dimas pasti akan terus-terusan menemuiku. Aku tidak ingin melihatnya lagi terlepas apapun itu.


“ Yuna…”


“ Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk bicara. Tapi aku tidak bisa berlama-lama.”


Dimas pun tersenyum mendengar ucapanku. Memang kata-kata itulah yang Ia harapkan dariku.


“ Yuna…kata maaf memang bukan kata yang tepat lagi untuk aku ucapkan padamu. Kesalahan yang fatal tanpa melihat ke arahmu adalah hal yang paling aku sesali seumur hidupku. Tapi saat itu pun aku tidak bisa melakukan apa pun, ibuku akan melukai diri jika aku masih bersamamu saat itu. Aku memilih menghilang tanpa menoleh melihatmu. Kau pasti sangat kecewa padaku karena meninggalkanmu di saat kau membutuhkanku saat itu.”


“ Yuna…rasa bersalah hingga hari ini selalu menghantuiku. Aku mencarimu tapi kau menghilang. Tak ada jejak kemana kau pergi. Tapi pertemuan tak terduga saat itu membuatku senang. Setelah pencarian yang begitu lama akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi.”


" Yuna, aku ingin kita menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara kita."

__ADS_1


Aku menghela napas dalam. Bagaimanapun aku masih menyimpan rasa sakit terhadapnya, namun aku juga tak ingin menyimpannya terus-menerus. Dia sekarang bukanlah orang yang ada di hatiku lagi, seharusnya aku membuang lama rasa sakit ini.


“ Bohong kalau aku sudah memaafkanmu sampai saat ini. Rasa sakit yang kau berikan padaku dan juga keluargaku tidak akan bisa hilang begitu saja. Namun, seharusnya aku tidak berlama-lama dengan perasaan kecewa ini. Apa pun yang terjadi, kita memang tidak berjodoh. Bukan salah kita, tapi ini memanglah takdir.”


“ Kata maaf untuk saat ini seharusnya kata yang tepat untuk kita berdua. Aku memaafkan. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk menghilang rasa bersalahmu padaku. Aku memaafkanmu dengan seluruh hatiku.”


“ Yuna…kau memaafkanku?”


Aku mengangguk.


“ Aku bersyukur kau mau memaafkanku. Aku sedikit lega.”


“ Tapi, setelah ini bisakah kau tidak menemuiku lagi?”


Dimas terdiam sesaat.


“ Kenapa? kenapa aku tidak boleh menemuimu lagi?”


“ Ini demi kebaikan kita berdua. Aku tidak tahu apakah kau sudah menikah atau belum atau mungkin saja kau sudah memiliki kekasih. Jika saja ada yang melihat, aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Aku tidak ingin dipersulit.”


Dimas mengangguk mengerti.


“ Baiklah, aku mengerti maksudmu,” ucapnya.


“ Dan aku sudah menikah.”


“ Apa?” Dimas terkaget. “ Kau sudah menikah?”


Aku menunjukkan cincin di jari manisku. Dan Dimas pun mengerti.


“ Aku menyukai dan menyayangi suamiku. Sebenarnya itu adalah alasan terbesarku. Jadi, di kemudian hari jangan menemuiku lagi.”


“ Aku iri, sangat iri dengan suamimu. Posisi itu pada akhirnya menjadi milik orang lain. Aku berjanji ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi.”


“ Berterima kasih sudah mau mengerti.”


“ Ya.”

__ADS_1


Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Dimas pun mengerti dengan sikapku itu. Ia pun berpamitan padaku dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberikannya kesempatan untuk bicara. Namun sebenarnya akulah yang harus mengucapkan terima kasih, kalau tidak bertemu dengannya, mungkin aku masih saja menyimpan dendam padanya. Melepaskan rasa sakit ini adalah hal yang paling baik untukku. Walaupun aku harus berbohong dengan kata-kata indah, menyayangi dan menyukai.


__ADS_2