
Aku menatap gedung yang menjulang tinggi ini. Melihat setiap orang yang berlalu lalang. Aku mengakui tak salah kalau wanita itu marah padaku. Ia pasti menganggapku sudah menghalangi kesempatan terbesarnya menjadi Nyonya pemilik gedung ini.
Gara-gara Tia yang mencari informasi tentang pria itu, aku pun jadi penasaran pada akhirnya. Begitu banyak informasi tentangnya dengan hanya mengetik namanya. Ternyata tak salah kalau Tia mengatakan kalau dia sangat terkenal.
EJ Group perusahaan terbesar yang bergerak di bidang perhotelan dan resort. Begitu banyak hotel dan resort yang mereka bangun di negeri ini bahkan hingga ke mancanegara.
Tak hanya perusahaannya bahkan Direkturnya pun tak kalah terkenal. Sosok Direktur muda yang di gadang-gadang akan menjadi Presiden Direktur perusahaan itu.
Gafi Fazal Ilario, pria berumur 33 tahun.
" Oh, benar, dia pria yang kemarin itu," gumamku begitu melihat foto-fotonya.
Aku menggulir layar ke bawah sambil membaca informasi yang ada di depan mataku. Ia benar-benar orang yang luar biasa. Kata-kata itu keluar dari bibirku.
Dan akhirnya aku di sini berdiri di hadapan gedung besar ini. Berniat meminta klarifikasi atau memberi perhitungan, entah mana yang harus kulakukan dahulu padanya. Yang jelas aku harus mengakhiri perkara yang pelik ini.
Aku memasuki gedung itu lalu berjalan menuju meja resepsionis. Seorang wanita tersenyum dan menyapaku dengan ramah.
" Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu," ujarnya ramah.
" Saya mau bertemu dengan Direktur," jawabku dengan polosnya seakan-akan aku mengenal pemilik gedung ini.
" Maaf Nona, Anda mau bertemu dengan Direktur?" tanyanya, mungkin wanita ini bingung dengan ucapanku barusan.
" Iya, Direktur, Gafi," ucapku yang membuatnya semakin terkaget.
" Oh, Nona mau bertemu dengan Pak Gafi?"
Aku mengangguk.
" Apa dia ada?"
" Apa Nona sudah membuat janji?"
" Janji? tidak sama sekali."
" Kalau begitu maaf, Nona tidak bisa bertemu dengan Direktur kalau Nona belum membuat janji."
" Begitu?"
" Iya Nona."
" Jadi saya tidak akan bisa bertemu dengannya kalau saya tidak punya janji?"
" Iya, kira-kira begitu."
Aku menghela napas karena kecewa. Lagi pula bagaimana aku bisa membuat janji dengannya, kenal saja tidak, sampai kapan pun aku tidak akan bisa bertemu dengannya.
Apa aku harus menunggunya sampai keluar, ya? tapi sampai kapan aku harus menunggunya. Memang aku tidak bekerja saat ini, tapi kan menunggu bukan sebuah pekerjaan, malah membosankan. Aku harus bagaimana.
" Nona," panggil wanita itu karena aku terlihat melamun. " Apa Nona baik-baik saja?"
" Ah iya, saya baik-baik saja," ujarku. " Kalau begitu saya permisi, maaf sudah mengganggu."
" Iya tidak apa-apa."
Pada akhirnya aku pulang dengan tangan kosong. Bertempur saja belum di mulai tapi aku harus menyerah karena tak ada jalan aku bisa menemuinya.
Aku melangkahkan kakiku perlahan, di depanku berjalan seorang pria gagah yang sayangnya bukanlah pria yang ingin kutemui.
" Selamat pagi Mia."
" Selamat pagi Pak Aril."
" Apa ada berita yang menyenangkan? karena kau terlihat cerah hari ini."
" Bukan sebuah berita Pak, tapi tadi ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Direktur. Dia terlihat polos sekali mengatakan ingin bertemu dengan Direktur."
" Seorang wanita ingin bertemu dengan Direktur?"
" Iya Pak."
__ADS_1
" Wanita itu belum lama keluar, malah Bapak tadi berpapasan dengannya."
" Di sini banyak wanita, Mia."
" Dia memakai kemeja hijau dengan celana panjang coklat."
" Oh." Aril terlihat mengingat seorang yang memakai pakaian yang persis dengan deskripsi sang resepsionis. " Apa dia mengatakan sesuatu kenapa dia mau bertemu dengan Direktur?"
" Tidak Pak."
Aril melihat ke arah pintu. Ia berpikir kalau ia mengejar wanita itu sekarang mungkin ia masih sempat bertemu dengannya.
" Terima kasih ya Mia."
" I- ya Pak."
Aril berlari menuju pintu keluar mencari wanita yang katanya mencari Gafi. Ia penasaran mengapa wanita itu mencari sahabatnya. Memang bukan hal yang aneh tapi yang menjadi penasaran baginya karena wanita itu tidak berusaha menerobos masuk seperti wanita yang biasa mencarinya.
Aril menatap wanita yang tengah duduk di sebuah kursi di taman dekat kantornya. Persis dengan deskripsi dari resepsionisnya tadi. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menghampirinya.
" Maaf Nona," ucapnya dengan napas terengah-engah.
" Iya." Aku agak bingung dengan pria yang mendatangiku ini.
" Apa Nona tadi yang mencari Direktur kami?"
" Direktur?"
" EJ Group."
" Oh, iya saya memang mencarinya, tapi saya tidak bisa menemuinya karena tidak punya janji atau semacamnya."
" Begitu?"
" Iya, tapi Anda ini siapa dan kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu pada saya?"
" Saya Manajer dari EJ Group dan kebetulan saya berteman dengan Direktur. Waktu saya tahu ada yang mencarinya, saya jadi penasaran dan mencari Nona."
" Kalau boleh tahu kenapa Nona mencari Direktur."
" Itu...." Aku menghela napas sesaat. " Maaf, tapi saya tidak bisa mengatakannya pada Anda."
" Kenapa?"
" Ini adalah urusan saya dan Direktur," jawabku. " Ah, sebenarnya aku tidak sedekat itu dengannya bahkan aku juga tidak mengenalnya hanya saja ada suatu kejadian yang harus saya selesaikan dengannya."
" Kejadian?"
" Iya."
" Begitu ya, kalau begitu saya tidak bisa memaksa Nona."
" Saya minta maaf."
" Tidak perlu minta maaf, saya mengerti." ucapnya. " Tolong ambillah ini," ujarnya mengeluarkan kartu nama. " Kalau Nona perlu bantuan, Nona bisa menghubungi saya."
" Tapi..."
" Nona pasti akan memerlukannya."
" Baiklah." Aku pun mengambil kartu nama itu. " Terima kasih, tapi saya tidak punya kartu nama untuk saya berikan kepada Anda."
" Tidak apa-apa, tapi kalau boleh tahu nama Nona siapa?"
" Nama saya Yuna."
" Yuna."
Aku mengangguk.
" Baiklah kalau begitu, saya harus kembali. Senang bertemu denganmu Yuna."
__ADS_1
" Terima kasih sudah membantu saya...Pak Aril."
" Panggil saja Aril."
" Aril."
Aril pun tersenyum dan mengangguk.
" Sudah ya. Saya permisi"
" Ya, silakan."
...*****...
" Kau dari mana saja?" sambut Gafi begitu melihat Aril masuk ke dalam ruangannya.
" Sambutan macam apa itu," protesnya. " Aku juga punya kesibukan."
" Sibuk dengan wanita," celetuknya tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun dari laptop.
" Bagaimana kau tahu?" Aril sedikit menyelidiki, tapi Gafi tak merespons perkataannya. " Ah, kau memata-mataiku, ya."
" Aku melihatmu tadi bersama dengan wanita di depan sana. Jadi kuanggap kau memang sibuk."
Aril tertawa.
" Dasar kau ini, hidupmu itu terlalu serius."
" Hidupku terlalu serius?"
" Hmm, terlalu serius sebaiknya kau rilekslah sedikit."
Gafi menyandarkan punggungnya di kursi empuknya. Ia menatap sahabatnya itu.
" Ya, kau memang benar. Tapi memang ini yang harus aku lakukan, SERIUS."
" Kau memang tak berubah," ucap Aril pada akhirnya. " Kau tak penasaran siapa wanita yang kutemui tadi?"
" Untuk apa? itukan urusanmu."
Aril lagi-lagi menghela napasnya. Sahabatnya ini benar-benar membuatnya hilang kesabaran.
" Terserahlah, aku tidak akan mengatakan apa pun lagi padamu," ujarnya hendak meninggalkan Gafi.
" Jangan lupa dengan dokumen proyek yang kuberikan kemarin, Manajer."
" Tentu Direktur, akan kusiapkan."
" Jangan lupa tutup pintu."
" Argh! kau ini!"
Gafi pun tertawa.
" Oh ya, sebaiknya aku mengatakannya saja. Tadi ada seorang wanita yang mencarimu."
" Seorang wanita...mencariku?"
" Ya."
" Apa aku mengenalnya."
" Aku tak tahu."
" Bicara yang jelas."
" Yuna, nama wanita itu. Pikirkan apa kau memang mengenalnya. Itu pekerjaan mu dariku Direktur. Sudah ya aku banyak pekerjaan. Selamat berpikir," ujarnya lalu menutup pintu.
Brakk.
Aril benar-benar membuat Gafi harus berpikir keras dengan perkataannya. Nama yang sepertinya tidak asing di telinganya, namun ia belum mendapatkan bayangan siapa sosok pemilik nama itu.
__ADS_1
" Yuna...."