
Aku keluar dari pintu tempatku bekerja. Hari ini kami tutup lebih cepat dari biasanya. Entah dengan alasan apa, tapi aku merasa ada kaitannya dengan masalah hari ini.
Sikap Widya terhadapku pun berubah 180 derajat. Ia seperti orang yang tak kukenal.
Di depan orang lain, ia tampak biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, tapi di depanku, gambaran wajahnya sungguh tak bersahabat.
Mendekatinya saja sudah sulit apalagi meminta klarifikasi kejadian ini. Sungguh aku tak mengerti sikapnya ini. Apa aku harus pura-pura seperti tak terjadi apa-apa untuk membuatku tenang?
Aku menghela napas panjang.
" Yuna."
Aku terkejut karena kejutan suara bariton itu.
" Herman."
Ia tersenyum.
" Jangan melamun kalau sedang berjalan."
Aku menggaruk kepalaku.
" Sekarang ikutlah denganku," cetus Herman.
" Ikut denganmu? kemana?"
" Kamu akan tahu nanti."
Aku mengernyitkan dahi ku.
" Tenang saja, aku tidak akan berbuat jahat padamu."
Aku pun mengangguk lalu mengikuti langkah Herman yang berjalan di depanku.
Tak butuh waktu lama, kami tiba di sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari tempat kami bekerja. Terlihat Tia tengah duduk di sebuah kursi yang ada di depan minimarket itu. Ia melambaikan tangannya dan menyuruh kami untuk segera datang.
" Aku bisa mati kedinginan menunggu kalian di sini," protesnya.
" Maaf-maaf," ucap Herman.
" Hai," sapa Tia santai. " Duduklah, kenapa diam saja."
Aku pun segera duduk.
" Aku tidak tahu kau suka minuman apa. Kau bisa memilih mana yang kau suka dari minuman yang kubeli ini."
Aku menatap beberapa jenis minuman ringan yang ada di atas meja. Lalu mengambil minuman soda kemudian aku meneguknya.
" Bagaimana?"
" Apanya yang bagaimana?" tanyaku balik karena tak mengerti maksud dari pertanyaan Tia itu.
" Apa kau sudah menanyakannya."
" Ah...soal itu, tentu saja belum."
" Kenapa? apa begitu sulit untukmu?"
" Bagaimana aku bisa menanyakannya, dia saja selalu menghindar ketika melihatku."
" Begitu?"
" Apa perlu aku melakukan kekerasan padanya?"
Tia dan Herman menatapku.
" Apa kau bisa melakukannya?" tanya Herman.
" Kalau kau bisa lakukan saja," timpal Tia.
__ADS_1
Aku menyeringai.
" Kalian ini benar-benar aneh."
Tia dan Herman tertawa.
" Aku sebenarnya agak bingung sih melihat kedekatan mu dan Widya," ujar Herman. " Kau terlalu cepat dekat dengannya. "
" Karena dia yang pertama kali mendekatiku dan aku pikir tidak ada salahnya dekat dengannya. Aku pun tidak melihat gelagat aneh."
" Ya, sampai saat itu memang belum terjadi apa-apa," sambut Tia.
" Maksudnya? jangan membuatku penasaran. Kau selalu mengucapkan kata-kata yang ambigu."
" Aku?"
" Ya, kau selalu seperti itu dan terkadang membuatku kesal."
" Baiklah-baiklah, aku akan mengatakannya padamu."
" Semua berawal dari kau yang dekat dengan Bos."
" Maksudnya Martin?"
" Ya, kau menyebutnya dengan nama, kan."
" Karena dia temanku."
" Terlepas dari itu, kau memang dekat dengannya."
" Lalu apa masalahnya."
" Karena Widya suka dengan Bos," timpal Herman. " Sampai sini kau mulai paham, kan?"
Aku mengangguk.
Tak ku sangka jadi karena Martin, Widya berbuat seperti itu padaku. Menjatuhkan ku di depan temanku sendiri. Benar-benar aku tak menyangka dengannya.
" Bagaimana kalian tahu kalau Widya menyukai Bos?"
" Semua orang juga tahu."
" Semua orang?"
Tia mengangguk.
" Jadi, hanya aku yang tidak tahu soal itu."
" Ya."
" Kenapa aku tidak peka setiap kali Widya bercerita atau menanyakan tentang Bos. Aku pikir dia hanya penasaran karena dia tahu kalau aku berteman dengannya. Aku ini bodoh sekali."
" Kau baru sadar kalau kau bodoh."
" Aku rasa begitu, perlu waktu untukku untuk menyadari kalau aku ini bodoh" ujarku sedikit kesal.
" Sudahlah, kita tidak usah membahasnya lagi. Sekarang kau sudah tahu,kan, Widya yang sebenarnya," seru Herman.
" Hmm..," anggukku.
" Ya sudah, malam juga semakin dingin, sebaiknya kita pulang," usul Tia.
" Baiklah, kita pulang. Aku juga takut tidak kedapatan bus," ujarku.
" Kau yakin bisa pulang sendiri? kami bisa mengantarkan mu kalau kau mau."
" Tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula nanti kalian berdua terlalu larut sampai di rumah."
" Kau yakin, Yuna?" tegas Herman.
__ADS_1
" Yakin," ucapku. " Ya sudah, aku harus jalan ke depan."
" Kalau begitu hati-hati," ujar Tia.
" Ok," jawabku tersenyum . " Bye." Aku melambaikan tangan pada mereka lalu berjalan meninggalkan kedua orang itu.
...****...
Sampailah aku di depan rumah. Di balik gelapnya malam, terlihat sosok pria tengah berdiri di depan pintu rumahku. Aku tak yakin siapa sosok yang tengah berdiri itu.
Ia sedikit demi sedikit melangkahkan kakinya begitu melihat kedatanganku. Namun, aku malah berbalik ke belakang begitu tahu siapa pria itu.
" Yuna," panggilnya begitu melihatku menghindar.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, namun secepat apa pun kakiku melangkah tetap saja aku akan kalah dengan kecepatannya.
" Yuna." Ia menghadangku." Kumohon jangan menghindariku."
Aku hanya diam. Aku bingung harus bagaimana menghadapi pria ini.
Pria yang tidak ingin aku lihat seumur hidupku. Pria yang pernah berstatus tunanganku.
" Dimas."
Ia tersenyum.
" Sedang apa kau di sini?"
" Aku sedang menunggumu."
" Menungguku? malam-malam begini?"
" Iya, sebenarnya aku sudah berkali-kali ke sini, namun kau tak ada. Jadi, kupikir untuk menunggumu sampai pulang dan tak sia-sia, akhirnya aku bisa melihatmu lagi."
" Oh," jawabku seadanya. " Lalu apa yang kau inginkan?"
" Yuna." Dimas mencoba meraih tanganku, namun aku langsung menepisnya. " Aku tahu kau masih kecewa padaku, belum bisa memaafkan ku, tapi bisakah kau jangan bersikap dingin seperti ini padaku."
" Maaf, namun sikapku tak bisa kubuat-buat, reaksiku akan selalu begini begitu melihatmu."
Tampak raut kekecewaan darinya.
Aku tak akan pernah melupakan bagaimana ia dan keluarganya memutuskan hubungan.
Terlebih sikapnya yang berubah begitu tahu peristiwa yang menimpa kami. Tak ku pungkiri mungkin keluarganya malu kalau masih menjalin hubungan dengan keluarga kami, tapi melihatnya tidak membela dan mempertahankan hubungan kami, membuatku hancur dua kali.
" Sudah terlalu malam, aku harus istirahat, kau pulanglah, lagipula tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."
" Tapi kita bisa bertemu lagi, kan?"
" Aku tidak tahu, lagi pula aku tidak bisa menjaminnya."
" Yuna."
" Pulanglah Dimas, jangan membuat masalah. Kalau tetangga melihat, aku akan dalam masalah. "
Dimas pun melunak. Ia mengerti dengan kekhawatiran ku.
" Baiklah Yuna, aku tidak akan memaksamu."
" Tapi aku sangat berharap, kau akan memberiku kesempatan untuk bertemu dan berbicara."
" Maaf hanya itu yang bisa aku katakan."
Aku pun meninggalkannya. Segera aku memasuki rumah dan menguncinya.
Dari balik gorden jendela, aku melihat Dimas memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan kediamanku. Aku merasa lega karena ia sudah pergi.
Tapi yang masih menjadi pertanyaanku bagaimana ia tahu kalau aku sudah kembali ke sini, padahal aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.
__ADS_1
Sekarang yang menjadi kekhawatiranku, ia pasti akan sering datang ke sini dan mengganggu hidupku. Sampai saat itu, aku hanya bisa menghindarinya dan entah sampai kapan.