
Hari kedua masa pengangguranku.
Aku habiskan dengan hal yang sama seperti kemarin.
Aku berlari menuju tempat pemberhentian bus dimana tempat kami bertemu. Di sana sudah ada Tia yang menungguku. Aku segera bergegas menemuinya yang sudah menantiku.
" Kau yang berjanji kenapa malah terlambat," protesnya.
Aku melihat jam tanganku. Waktu masih menunjukkan pukul 10 sesuai dengan perjanjian kami kemarin.
" Aku tidak terlambat, kau saja yang terlalu cepat," balasku.
" Ya-ya, lagi pula kenapa aku yang malah semangat, padahal ini hari liburku. Seharusnya aku bisa bermalas-malasan di tempat tidurku yang empuk. Bukan malah bertemu denganmu."
" Lalu kenapa kau setuju saja saat aku mengajakmu pergi."
" Hm." Tia mengernyitkan dahinya seolah-olah sedang berpikir keras. " Karena aku ingin melihat sebuah drama. Sudah lama aku tidak melihat drama sejak kau di skorsing. Kafe terasa sepi tanpamu."
" Sepertinya kau merindukanku."
" Tentu saja," ujarnya bangkit dari duduknya. " Aku sangat merindukanmu."
" Diamlah," ucapku menaiki bus yang sudah datang itu.
Aku dan Tia duduk tepat di belakang dekat dengan jendela.
Entah apa sebutan yang pas untuk hubungan kami ini. Teman atau sahabat sepertinya tidak pas untuk kami. Mungkin hubungan kami ini seperti hubungan yang mengalir saja. Seperti hubungan yang nyaman saja, ia tak mengusik hidupku dan aku pun tak mengusik hidupnya.
Sikapnya yang seolah-olah cuek namun perhatian, terkadang membuatku tersenyum. Terkadang itulah yang kubutuhkan.
" Apa kau yakin akan bertemu dengannya?" tanya Tia dengan suara yang cukup terdengar olehku.
" Sudah sampai seperti ini, kan," jawabku. " Lagi pula aku memang harus menyelesaikannya juga dengannya."
" Kenapa kau tidak menikah saja dengannya? setidaknya kau tidak perlu bekerja sekeras ini lagi."
" Kenapa kau berkata seperti itu?"
" Maaf, aku menyelidikimu, ah sebenarnya aku bertanya pada temanmu waktu itu."
" Hanum?"
" Iya. Entah kenapa aku ingin tahu tentangmu. Kau mengingatkanku pada sahabatku."
" Sahabatmu?"
" Hm, tapi dia sudah tidak ada. Dia sudah pergi jauh dan aku tidak bisa melihatnya lagi."
" Dia sudah meninggal?"
" Ya, dia meninggal saat kami masih SMA. Aku seperti sahabat yang tak berguna untuknya. Aku tidak tahu kalau dia di rundung di sekolah hanya karena masalah sepele, seorang pria. Tapi saat akhirnya aku tahu, aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ia pergi dan aku merasa bersalah."
" Pertama kali melihatmu, kau sekilas mirip dengannya dan saat aku tahu kau dekat dengan Widya, aku mulai khawatir, tapi aku juga tidak bisa mengatakannya langsung padamu."
" Dan saat bertemu dengan Hanum, tanpa berpikir panjang aku menanyainya tentangmu. Awalnya ia bingung melihatku yang tiba-tiba bertanya tentangmu, namun kemudian dia menceritakan semuanya."
" Aku tidak tahu kalau ada banyak hal yang sudah kaulalui, kupikir kau hanya wanita yang....."
" Bodoh." Aku melanjutkan ucapan Tia yang terhenti itu.
Tia tersenyum kecil.
" Aku tidak ingin mengatakan itu, kenapa kau malah mengatakannya."
" Terlihat jelas di raut wajahmu." Aku menatapnya. " Apa Hanum juga menceritakan tentang Ayahku?"
" Tidak, dia tidak menceritakan sedetail itu."
" Oh."
__ADS_1
" Aku tidak akan menanyakan tentang keluargamu. Apa pun yang terjadi, itu juga bukan wewenangku untuk berkomentar. Yang ku tahu kau di kelilingi orang-orang yang sangat baik. Kau beruntung memiliki teman seperti Hanum."
Aku menyunggingkan senyuman.
" Terima kasih untuk tidak bertanya, hanya itu yang bisa kukatakan saat ini."
Tia menganggukkan kepalanya.
" Lain kali aku ingin segelas kopi untuk rasa terima kasihmu."
Aku tertawa.
" Baiklah, lain kali."
Tia pun tersenyum.
Tak terasa perjalanan kami pun terhenti di sebuah halte tujuan kami. Aku dan Tia turun dari bus kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan.
Kafe tempat pertama kali aku bertemu dengannya secara tak sengaja, di tempat ini juga aku membuat kesalahan besar karena sudah menamparnya.
" Oh, Yuna." Seorang pria menyapaku. Ia tersenyum begitu melihatku, namun berbeda dengan pria yang ada di sampingnya yang terlihat tak bersahabat.
" Oh, hai, Aril," sapaku balik.
" Aku sangat senang bertemu denganmu lagi."
" Senang bertemu denganku lagi?" Aku mengulang ucapannya yang membuatku bingung. " Kenapa?"
Aril menyunggingkan senyuman yang membuatku semakin bingung.
" Kau, ikutlah denganku," ujar Gafi berlalu melewatiku. " Hanya aku dan Yuna. Kalian berdua tetaplah di sini."
Aku menatap Aril dan Tia.
" Pergilah," ujar Tia.
Aku menghela napas.
" Oke."
Aku pun pergi meninggalkan Tia dan Aril.
" Kau temannya Yuna?"
" Bukan."
" Bukan? tapi kenapa kau bersamanya?"
" Memangnya harus berteman dulu kalau bersama dengan Yuna."
Aril tampak bingung.
" Menyingkirlah dariku memangnya kau tidak punya pekerjaan."
" Hm, aku memang punya pekerjaan, tapi setelah melihatmu, aku jadi tidak berminat mengerjakannya."
" Apa?"
" Aku sepertinya tertarik padamu."
" Ha? apa kau sakit?"
" Aku rasa begitu." Aril menatap Tia. " Aku sakit karenamu."
Tia menyeringai.
" Mati saja sana," ucap Tia meninggalkannya. Aril dengan cepat menarik tangannya.
" Bagaimana bisa aku mati kalau kau tidak bersamaku."
__ADS_1
" Matilah sendiri, jangan mengajak orang lain," celetuknya. " Lepaskan tanganku."
" Aku akan melepaskan tanganmu kalau kau memberitahukan namamu."
" Kau sangat menyusahkan."
" Aku tidak peduli. Kalau kau tidak mengatakannya, aku tidak akan melepaskan tanganmu."
" Sebegitu sukanya kau dengan tanganku."
" Aku menyukai semuanya."
" Dasar mesum!"
Aril tertawa.
" Kau ini benar-benar menarik, sama seperti Yuna."
" Kalau kau menyukai Yuna kenapa kau harus repot-repot menggangguku."
" Aku tidak bilang menyukainya, 'kan? Ah, aku memang menyukainya, tapi bukan dalam arti sesungguhnya. Sama seperti dia seperti seorang adik bagiku."
" Adik?"
Aril mengangguk.
" Kau benar-benar menggelikan."
" Apa aku seperti itu? aku rasa kau yang sangat menggelikan. Kau bilang aku mesum, tapi aku rasa kau juga mesum. Kau menyukai tanganku yang memegang tanganmu, kan?Lihat saja kau sangat menikmatinya."
" Kau!" Tia menggerakkan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Aril. " Namaku Tia, kau puas. Sekarang lepaskan tanganku."
" Tia..." Aril pun melepaskan tangannya. " Nama yang mudah di ingat."
" Maksudmu namaku pasaran!"
" Aku tidak bilang begitu."
" Kau ini!" Tia benar-benar kesal dengan kelakuan Aril.
Aril yang senang melihat reaksi Tia, tertawa dengan bahagianya.
" Oh, bukankah dia..." Tia terperangah melihat seorang wanita yang melewatinya.
" Diana," ucap Aril. " Kenapa dia ada di sini."
" Ah, jadi wanita itu namanya Diana?"
" Kenapa? apa kau pernah melihatnya?"
" Tentu saja, dia yang membuat Yuna di skorsing, dia bilang Yuna sudah merebut Gafi."
" Haa..." Aril menghela napas berat." ternyata benar dia sudah membuat kekacauan."
" Bukankah kita harus ke sana. Wanita itu akan membuat pertemuan Yuna dan Gafi berantakan."
Tia bersiap-siap menghampiri tempat Yuna dan Gafi berada, namun Aril malah mencegahnya.
" Biarkan saja."
" Apa?"
" Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Aku juga ingin tahu apa yang akan mereka lakukan kalau Diana ada di antara mereka."
" Ha?"
" Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?"
Tia menatap tempat Yuna dan Gafi berada.
__ADS_1
" Aku rasa begitu."