Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Terusik


__ADS_3

" Direktur, anda mau kemana?" tanya Jenny begitu melihat Gafi keluar dari kantornya. " Bukankah hari ini Direktur ada pertemuan dengan perusahaan Elex."


" Pertemuan hari ini sudah dibatalkan."


" Dibatalkan??" Jenny malah kebingungan. " Tapi, tidak ada konfirmasi dari perwakilan mereka, Direktur."


" Mereka baru saja mengkonfirmasi," ujar Gafi.


" Oh begitu, Direktur."


" Kejadian hari ini jangan sampai terulang lagi. Kau mengerti."


" Iya Direktur, maaf."


" Ya sudah," ujarnya kemudian berlalu pergi.


Gafi mengambil mobilnya lalu melajukan mobil itu untuk menemui Hanum. Kedatangan Sherin, kemungkinan Hanum tahu jawabannya dan Gafi ingin tahu itu.


Sesampainya di sana, Gafi langsung menuju ruangan Hanum.


Hanum sedikit terkejut dengan kedatangan Gafi yang tiba-tiba ini.


" Yuna, sudah pulang, ia minta izin untuk ke rumah sakit menemui temannya," ujar Hanum yang mengira kedatangan Gafi untuk menemui Yuna.


" Aku tahu." Gafi langsung duduk di hadapan Hanum. " Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


" Kenapa sepertinya kau sangat serius kali ini. Apa terjadi sesuatu?"


" Sherin datang menemuiku." Hanum langsung terdiam begitu mendengar ucapan Gafi. " Awalnya aku tidak ingin tahu kenapa dan mengapa Sherin kembali, tapi kali ini ia benar-benar mengusik kehidupan kami. Aku juga tidak ingin Yuna terluka."


Hanun mengambil napas dalam. Ia tahu betul apa yang inginkan Gafi darinya.


" Sherin sakit saat ia meninggalkanmu. Ia tak ingin membebanimu dan memilih untuk mencari pengobatan di luar negeri. Walaupun kesehatannya tidak sepenuhnya membaik, tapi saat ia mendengar kau sudah menikah, Sherin memilih kembali. Sherin pergi bukan karena tidak mencintaimu, tapi justru sebaliknya, Fi."


" Aku tahu. Sherin juga menceritakannya padaku. Tapi bukan alasan yang aku inginkan saat ini darinya. Kehadirannya untuk kembali padaku, itu sangat tidak mungkin."


" Aku mengerti. Lagipula aku juga tidak ingin ikut campur dengan Sherin, aku tidak mendukung apa yang dilakukannya. Saat dia datang menemuiku, aku tidak tahu kalau kembalinya ia akan seperti ini. Aku rasa ia sudah diluar batas kali ini.”


“ Aku rasa dia sengaja menemui Yuna waktu itu. Saat aku menghubungimu, Yuna menceritakan perihal wanita yang bersamamu dan pada saat itu kau menyebut nama Sherin. Aku berasumsi kalau Sherin sudah merencanakannya.”


“ Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang, Fi?”


“ Hanya menunggu. Kita lihat apa yang akan ia lakukan, terlalu gegabah akan berakibat fatal.”

__ADS_1


“ Maaf, Fi. Andai saja aku lebih berani menceritakan kedatangan Sherin lebih awal, mungkin tidak akan ada yang seperti ini.”


“ Bukan salahmu, Hanum. Aku tahu, kau punya alasan dibalik semua ini.”


“ Aku akan menjaga Yuna disini. Kau tak perlu khawatir.”


“ Terima kasih. Kau sudah mau menjaga Yuna.” Gafi pun beranjak dari tempat duduknya, lalu pamit pulang. “ Aku pergi,” ucapnya.


“ Kau akan kembali ke kantor?”


“ Tidak. Tadi papa menghubungiku dan menyuruhku untuk pulang.”


“ Bersama dengan Yuna?”


“ Tidak. Aku akan pulang sendiri.”


“ Sendiri?” Hanum mengernyitkan dahinya. Gafi menganggukkan kepalanya. “ Kau yakin?"


“ Membawa Yuna kedengarannya tidak baik. Kelihatannya ini juga tidak jauh-jauh dari Sherin, makanya papa menyuruhku pulang.”


“ Kedengarannya memang tidak begitu baik. Apa kau akan baik-baik saja nanti?”


“ Jangan khawatir,” jawabnya. “ Aku pergi. Jaga kesehatanmu.”


Gafi menyadari kalau Sherin saat ini berada dirumah orang tuanya. Sepertinya ia mulai melancarkan rencananya. Tidak mungkin orang tuanya menyuruhnya untuk pulang secara tiba-tiba seperti ini.


Sherin yang Gafi lihat saat ini seperti bukan Sherin yang ia kenal dulu. Sherin yang dulu merupakan gadis yang sangat lembut, tapi melihatnya sekarang ini seolah-olah melihat wajah dan nama yang sama tetapi dengan kepribadian yang berbeda. Rasa sedih dan tegar saat ia meninggalkan Gafi dulu berbeda jauh dengan sekarang. Di dalam matanya seperti berkobar api tidak ingin kalah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Gafi seperti tidak mengenal sosok Sherin yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya itu.


...****...


Seorang pelayan mengantarkan Gafi ke sebuah ruangan dimana orang tuanya saat ini sedang menunggu kehadirannya.


Begitu pintu dibuka, terlihat kedua orang tua, adik serta dua orang wanita sedang menatapnya saat ini. Senyuman merekah dari kedua wanita itu.


“ Gafi.” Entah mengapa mereka saling mengucapkan namanya serentak, tapi Gafi tak menggubris sapaan mereka itu dan fokus kepada sang papa.


“ Papa memanggilku kesini.”


“ Duduklah terlebih dahulu.” Mendengar permintaan papanya itu, Gafi pun duduk tak jauh darinya. “ Yuna tidak bersama denganmu?”


“ Tidak, Pa. Yuna sedang ada pekerjaan.”


“ Oh, begitu,” ucapnya sambil membetulkan posisi duduknya. “ Papa memanggilmu ke sini, kau pasti sudah tahu pasti apa maksud papa. Kau lihat, disana ada Diana dan Sherin. Mereka ada disini karena dirimu.”

__ADS_1


“ Papa tahu kalau aku tidak suka berbelit-belit. Diana maupun Sherin untuk apa disangkut pautkan denganku.”


“ Gafi, aku sudah mengatakan dengan jelas padamu. Aku ingin kita bersama kembali,” timpal Sherin.


“ Apa kau tidak tahu malu!” hardik Diana. “ Dulu kau yang meninggalkan Gafi, sekarang dengan tidak tahu malunya kau ingin memintanya kembali. Apa kau sudah tidak waras, ha!”


“ Lalu kau pikir dia akan bersamamu,” teriak Sherin tak mau kalah.


“ Kau!”


Sahut saling menyahut itulah yang terjadi dihadapan mereka. Antara Sherin dan Diana tidak ada yang mau mengalah. Entah apa yang ada dipikirkan mereka ini. Mempertontonkan keegoisan masing-masing.


“ Hentikan! Apa kalian tidak bisa tenang.” Gafi mulai tak sabar. Diana maupun Sherin langsung tak berkutik. “ Apa kalian tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berucap? Kalian sedang berhadapan dengan pria yang sudah beristri. Apa yang kalian ributkan? Berharap kalau aku akan meninggalkan Yuna demi salah satu dari kalian. Memikirkannya saja aku enggan, apalagi melakukannya. Aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang kalian.”


“ Gafi.” Tatapan mata sang papa membuat Gafi terdiam. “ Sherin, om tidak tahu harus berkata apa dengan kemunculanmu ini. Secara pribadi, om merasa senang melihatmu baik-baik saja, tapi mendengar niatmu yang ingin bersama dengan Gafi. Om rasa itu tidak baik. Hentikan semua ini, Nak.”


“ Om, bukankah om tidak menyukai Yuna sebagai menantu di rumah ini. Dia juga punya latar belakang yang tidak begitu baik dan itu bisa mencoreng nama baik keluarga ini. Bukankah aku benar, om?”


Papa Gafi tersenyum. “ Kau tidak salah. Apa yang kau katakan itu benar.” Sherin menyunggingkan senyuman seolah-olah ia memenangkan sesuatu. “ Gafi menikah dengan seorang gadis yang kami bahkan tidak mengenalnya dan tentu saja bukan dari kalangan kita. Dia tidak seperti kau maupun Diana. Kami semua menentangnya, tapi kami juga tidak bisa melarang Gafi untuk menikahinya. Gafi yang menjalani kehidupannya dan om lihat mereka baik-baik saja dan satu hal yang om lihat, Yuna, gadis yang pemberani walaupun banyak hal yang terjadi padanya, namun dia tetap berdiri kokoh. Om rasa itu sangat penting.”


“ Maksud dari ucapan om, Yuna mendapat restu dari om?”


“ Apa itu benar, om?” timpal Diana tak bisa menahan diri. Bahkan sang ibu dan adik sambung Gafi pun ingin mendengar jawaban dari pertanyaan Sherin itu.


“ Om merestui Yuna.” Jawaban darinya itu membuat orang yang ada disekitarnya menjadi kaget, tapi tidak untuk Gafi. Ia begitu senang mendengar jawaban dari papanya itu. “ Yuna adalah menantu dari keluarga ini.”


“ Om.” Diana berdiri menghampiri. “ Tante, katakan pada Om, ini salah. Lagipula Tante selama ini mengatakan kalau aku bisa menjadi menantu dirumah ini.”


“ Diana, hentikan.” Diana terdiam. “ Di keluarga ini, om yang membuat keputusan.”


“ Sayang, tapi…..” Sang istri menyela tak senang.


“ Apa kau tidak suka?” Ia langsung tak berkutik. Ini untuk pertama kalinya suaminya itu bereaksi seperti ini dan langsung membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


Sekejap suasana berubah sedikit mencekam karena ucapan pemilik rumah.


“ Sepertinya tidak ada lagi yang harus dijelaskan. Om harap kalian akan mengerti dan memang harus seperti itu.”


Diana yang tidak tahan, langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“ Sherin, hubungan kita sudah berakhir sejak lama dan tidak mungkin bersatu kembali. Aku harap kau bisa mengerti.”


“ Gafi…” Sekejap saja Sherin terjatuh ke lantai. Gafi menghampirinya dan mencoba untuk menyadarkannya. Semua orang menjadi panik karena Sherin yang tiba-tiba pingsan.

__ADS_1


__ADS_2