Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Siapa Wanita itu?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gafi sudah disibukkan dengan permintaan Hanum dan Reza. Belum lagi rasa lelahnya hilang karena pesta pernikahan mereka kemarin.


Ia harus sibuk dengan permintaan konyol kedua pasangan itu yang seharusnya bisa mereka penuhi sendiri.


Tiba di rumah orang tua Hanum, Gafi bergegas masuk ke dalam rumah dengan membawa kantongan plastik di tangannya.


Terlihat mereka sedang bersantai di teras belakang rumah.


Hanum yang melihat kedatangan Gafi langsung menghambur mendatanginya.


'' Tuan Gafi sudah datang."


'' Apa kalian tidak bisa membuatku tenang sehari saja,'' keluh Gafi lalu meletakkan bungkusan yang berisi bubur ayam pesanan PASUTRI itu.


Ya, gara-gara bubur ayam, jam istirahatnya harus terpangkas. Kalau bukan karena mereka, Gafi tak akan sudi mencarinya.


'' Terima kasih, ya," ucap Hanum.


'' Perkara bubur ayam saja kalian harus mengganggu ketenanganku. Kalian memang pasangan yang kejam. ''


'' Itu maunya Hanum, marahi saja dia,'' celetuk Reza.


Hanum spontan memukul Reza karena hasutannya itu. Bisa-bisanya suaminya itu mengajari sahabatnya yang tidak baik.


" Maaf sayang, cuma bercanda." Reza meminta maaf dengan nada manja. Yang tentu saja membuat Gafi geli melihatnya.


'' Hei kalian berdua! hentikan!''


Gafi mulai kesal.'' Tidak bisakah kalian bersikap normal saja.''


'' Memangnya kami bersikap tidak normal!'' protes Hanum. '' Ini sudah lebih dari normal, kau saja tidak mengerti.''


'' Sayang, jangan marah padanya. Gafi itu cemburu melihat kemesraan kita. Makanya dia mengoceh terus.''


'' Oh......pantas saja.''


Gafi yang sudah terbiasa dengan kelakuan mereka padanya hanya bisa menghela napas.


Ia juga tak akan bisa menang kalau sudah dicecar oleh pasangan itu. Apalagi memang keduanya sudah mengenal sejak lama.


Gafi dan Hanum sudah mengenal sejak kecil, terlebih ibunya Hanum dan tantenya Gafi yaitu Tante Liz bersahabat dekat. Sangking dekatnya mereka bak saudara kandung. Sedangkan Reza adalah salah satu sahabat dekat Gafi. Makanya Gafi tak bisa berkutik kalau kedua orang ini meminta sesuatu padanya.


Hanum dan Reza bisa dekat juga karena andil Gafi. Reza yang sudah dikenal Gafi dengan baik, tak ragu mengenalkannya pada Hanum. Dan benar saja, sekarang mereka sudah sampai ke jenjang yang lebih tinggi dari hubungan mereka.


'' Sekarang katakan padaku, selain meminta bubur ayam, kalian menyuruhku kesini untuk apa?''


'' Nanti sajalah, sekarang makan saja dulu,'' ujar Reza.


'' Aku tidak lapar, yang kubutuhkan hanya istirahat, tapi kalian sudah membuyarkannya. Jadi katakan dengan cepat, aku juga harus ke kantor.''


'' Ha...'' Hanum menghela napas. '' Bukankah ada Aril di kantor, itukan sama saja seperti kau ada di sana. Jangan terlalu serius dengan pekerjaanmu. Lagi pula kaukan Presiden Direkturnya. Tante Liz juga tidak akan marah kalau kau ada di sini sebentar.''


" Kau ini bisa saja kalau bicara. Presdir dari mana coba, jangan mengarang cerita yang tidak-tidak."


" Memang tidak sekarang, tapi nantinya kau akan menjadi seorang Presdir, kan."


" Ya sampai saat itu terjadi akan ada pertumpahan darah karena jabatan itu."

__ADS_1


Hanum tertawa.


" Kau pikir Tante Liz akan membiarkan hal itu terjadi dengan keponakannya tersayang. Yakinlah dengan ucapan ku ini."


" Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi," timpal Reza. " Sekarang aku mau tanya padamu, apa kau sudah bertemu dengan Ria?"


" Ria?"


Reza mengangguk.


" Jangan bilang kau tidak jadi menemuinya."


Gafi mengangguk dengan entengnya.


" Kau ini!" Reza tampak kesal. " Kau pikir aku tidak mengerahkan seluruh bujuk rayu agar dia mau bertemu denganmu!"


" Aku tidak memintanya, kan."


" Tapi, kau tidak menolaknya saat itu."


" Saat itu aku pikir akan bisa menemuinya, tapi ternyata tidak. Lagi pula aku tidak berminat dekat dengan wanita mana pun."


" Ha!" Hanum berteriak. " Apa jangan-jangan kau sudah ..... "


" Pikiranmu itu kenapa jelek sekali." Gafi langsung memotong.


" Habisnya ucapan mu itu malah membuatku menyimpulkan hal yang tidak-tidak."


" Aku hanya tidak ingin terlibat dengan seorang wanita saat ini. Diana saja sudah membuatku sakit kepala."


" Ku akui dia wanita yang sangat gigih, tapi itu sangat menggangguku. Bahkan di pernikahan kalian, dia tak berhenti mengikutiku."


Hanum memberikan dua jempol untuk Gafi.


" Sudah kubilang, kan kalau mau terlepas dari Diana, kau harus dekat dengan wanita lain, barangkali dengan begitu, ia akan menyerah dengan sendirinya."


" Hanum benar Fi. Makanya kita coba kenalkan beberapa wanita untukmu, mana tahu ada yang cocok," timpal Reza.


" Tapi aku tidak tertarik."


" Sudah kuduga dia bakalan bicara begitu," celoteh Hanum." Kami cuma ingin membantumu, setidaknya kau bisa terlepas dari Diana. Ya, kalau sampai jadi, malah lebih baik. Tante Liz pasti akan senang mendengarnya."


Gafi menghela napas panjang.


" Jelas sekali kalian bersekongkol dengan Tante."


" Inikan demi kebaikanmu." Hanum menegaskan. " Sudah dua tahun Fi, sampai kapan kau terus menutup hati."


" Sudahlah," ujar Gafi tak ingin membahasnya lagi. " Jangan membicarakan hal yang tidak penting."


" Baiklah...kalau itu maumu."


" Oh ya aku teringat sesuatu."


" Apa itu?"


" Waktu aku mencoba menghindar dari Diana, aku menarik seorang wanita."

__ADS_1


" Ha!" Hanum dan Reza terkejut.


" Kau menarik seorang wanita?" seru Reza.


" Iya dan aku juga mengatakan pada Diana kalau dia adalah calon istriku."


" Apa!" Hanum tambah kaget. " Gafi, apa kau sudah gila."


" Aku hanya spontan dan aku rasa sedikit berhasil."


" Apa kau kenal wanita itu?" Hanum menyelidiki.


" Tidak, tapi aku menyebut namanya waktu itu, itu pun karena aku tidak sengaja mendengar seseorang memanggilnya."


" Lalu siapa nama wanita itu?"


" Aku tidak ingat."


Hanum tampak geram.


" Kau benar-benar keterlaluan, Gafi!"


" Makanya aku ingin bertanya pada kalian berdua, siapa tahu kalian kenal karena dia kan ada di pesta waktu itu."


" Seingatku dia memakai gaun berwarna biru."


" Banyak wanita memakai gaun berwarna biru, Fi, lebih detail lagi."


" Rambutnya kira-kira sebahu."


" Banyak wanita yang berambut seperti itu "


" Kau ini tahu atau tidak!"


Gafi mulai meledak.


Hanum malah tertawa.


" Kenapa tiba-tiba jadi penasaran begitu, biasanya juga tidak peduli," kilah Hanum.


" Aku cuma penasaran saja, kalau tidak tahu ya sudah."


" Nanti aku ingat-ingat lagi. Siapa saja wanita bergaun biru yang kau maksud."


...****...


Kejadian di hari pernikahan Hanum dan Reza membuat Gafi penasaran dengan Yuna.


Wanita yang dianggapnya sangat berani menantangnya, apalagi dengan ucapannya tempo hari. Membuatnya ingin tahu siapa wanita itu.


Setelah perdebatan mereka, Yuna meninggalkan Gafi yang diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu sadar, Gafi langsung mencari keberadaan Yuna di pesta itu. Namun, pencariannya sia-sia karena Yuna tak ditemukan di mana pun.


Siapa dan dimana, akan menjadi pertanyaan yang tak akan Gafi dapatkan.


Bahkan saat bertanya pada Hanum dan Reza pun, ia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Yang Gafi ingin adalah menemukannya dan meminta penjelasan atas ucapannya yang masih menjadi pertanyaan besar untuknya.

__ADS_1


__ADS_2