Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pernikahan Hanum dan Reza


__ADS_3

Hari pernikahan Hanum pun tiba.


Sesuai permintaannya, aku mengenakan pakaian yang Hanum berikan tempo hari. Sebuah gaun panjang berwarna biru muda yang tentunya sangat cantik.


Aku memoles wajahku dengan riasan minimalis.


Rambutku yang panjangnya hanya sebahu ini, aku biarkan tergerai setelah aku merapikannya.


Sebuah sepatu yang tidak terlalu tinggi menjadi item terakhirku dalam persiapanku hari ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, itu artinya aku harus bergegas pergi. Sebuah transportasi online menjadi pilihanku untuk membawaku ke gedung tempat acara dilangsungkan.


...****...


Jalanan tampak sedikit lengang. Aku menyandarkan kepalaku di sisi jendela. Sesaat kenanganku bersama Hanum hadir silih berganti. Aku tidak menyangka kalau Hanum akan menjadi seorang istri dalam waktu tak lama lagi. Melihatnya bahagia membuatku merasa iri dan ingin merasakan kebahagiaannya suatu hari nanti.


Mobil yang aku tumpangi ini pun berhenti di sebuah gedung mewah tempat acara dilangsungkan. Aku segera membayar dan turun dari mobil ini.


Aku bergegas ke dalam gedung karena Tante Dina sudah menungguku sejak tadi.


Begitu masuk, aku langsung menghambur menemui Tante begitu melihatnya tengah berdiri di dekat pintu masuk.


'' Tante,'' sapaku.


Tante pun menoleh lalu memelukku.


'' Yuna....''


'' Tante, apa kabar?''


“ Tante baik sayang,” balas Tante Dina. “ Sudah lama Tante tidak melihatmu, Tante jadi kangen.”


“ Yuna juga kangen Tante,'' ujarku.'' Yuna minta maaf karena jarang main ke rumah.''


“ Sudah tidak apa-apa. Sekarang rindu Tante sudah terobati melihat Yuna lagi.”


“ Yuna juga Tante.”


“ Oh ya nanti kita bicara lagi. Sekarang kamu temui Hanum, dia sudah menunggumu sejak tadi.”


“ Iya Tante.”


“ Ya sudah sana temui Hanum.”


“ Iya Tante. Kalau begitu Yuna pergi dulu ya.”


“ Iya sayang .”


...****...


“ Hanum,” sapaku dari balik pintu.


“ Yuna,” sambutnya gembira. “ Sini, ayo masuk.”


Aku tersenyum.


“ Kau cantik sekali,” pujiku.


Hanum terlihat tersipu malu.


“ Kau juga cantik Yuna. Aku senang kamu memakainya, sangat cocok untukmu”


“ Tentu saja, Hanumku tidak mungkin salah.”


Kami tertawa kecil.


“ Terima kasih sudah datang, Yuna.”


“ Kau ini bicara apa, memang sudah seharusnya, kan aku ada disini untukmu.”


Hanum mengangguk.


“ Oh ya, Aydin titip salam, dia tidak bisa datang karena masih sibuk dengan kuliahnya. Kau tahu, kan anak itu kalau sudah serius dengan sesuatu, fokusnya luar biasa.”


“ Aydin”

__ADS_1


Aku mengangguk.


“ Anak itu, padahal aku ingin sekali melihatnya. Sudah setampan apa dia.”


“ Sangat tampan.”


“ Tentu saja. Kau ingat, kan waktu dia masih SMP, banyak gadis-gadis yang mengikutinya sampai ke rumah. Aydin malah tidak peduli, eh…. malah kita berdua yang jadi kalang kabut untuk mengusir mereka.”


“ Iya, aku ingat. Kita bahkan harus mengusir mereka dengan sogokan semangkuk bakso.”


“ Iya, aku tidak mungkin lupa kejadian lucu itu,” ujar Hanum tertawa. “ Apa Aydin masih dingin dengan para gadis?”


“ Dia tidak berubah sama sekali.”


“ Dasar Aydin…”


Aku tersenyum.


“ Yuna.” Suara Tante Dina menggema memanggil namaku. “ Ayo sebentar lagi acara dimulai.”


“ Iya Tante,” ucapku.


Aku menoleh ke arah Hanum dengan mata yang mulai berkaca.


“ Hanum, selamat ya. Aku berharap kau dan Reza akan bahagia selamanya sampai maut memisahkan kalian.”


“ Terima kasih Yuna.” Hanum memelukku erat. “ Tidak ada yang lebih bahagia melihat kau juga ada disini.”


“ Aku harus pergi, Tante sudah menungguku.”


“ Oke, jagalah mamaku itu, dia pasti akan menangis seguguk kan.”


“ Tentu.”


...****...


“ Saya terima nikah dan kawinnya Hanum Windari binti Ahmad Wijaya dengan seperangkat alat solat dibayar tunai.”


Sang penghulu dan para saksi pun mengucapkan kata sah setelah Reza dengan lantangnya mengucapkan ijab qabul itu. Dan artinya Hanum dan Reza secara resmi sudah sah berstatus suami dan istri.


“ Yuna sini.” Tante Dina memanggilku. Aku pun segera menghampirinya. “ Sini sayang.”


“ Ada apa Tante?”


“ Masih ingat sama Tante Liz?”


Tante Dina menunjuk seorang wanita anggun yang ada disebelahnya.


Tanpa ragu aku pun mengangguk.


“ Tentu saja, Yuna masih ingat,” ujarku lalu menyalim Tante Liz.


“ Yuna, Tante sampai pangling melihatmu. Kau tambah cantik saja.”


“ Ah, Tante bisa saja. Malah Tante yang tambah cantik.”


“ Kau ini bisa saja. Tapi Sudah berapa lama ya Tante tidak melihatmu.”


“ Sepertinya sudah lama sekali, tan.”


“ Kalau begitu sekali-sekali datanglah ke rumah Tante.”


“ Iya Tante, Yuna usahakan.”


“ Tante tunggu.”


Aku tersenyum.


“ Oh ya Liz, Gafi mana? Dia ikut, kan?”


“ Anak itu tidak usah ditanya. Entah kemana perginya dia. “


“ Dasar anak itu….”


Sementara Tante Dina dan Tante Liz mengobrol tentang hal yang tak kumengerti, aku pun pamit dengan alasan ingin menikmati acara padahal aku hanya bingung saja karena tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


Aku memilih mencari makanan kecil untuk kunikmati.


Begitu banyak makanan yang menggugah selera hingga aku pusing sendiri mana yang harus aku coba terlebih dahulu.


“ Ini kelihatannya enak.”


Aku mulai tergugah dengan dessert yang disediakan di sebuah meja. Satu per satu aku mengambil beberapa dessert lalu aku letakkan di piring kecil.


Dengan gigitan kecil aku merasakan kenikmatan yang begitu manis dari makanan ini.


“ Enak sekali.”


Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata-kata itu.


Di saat aku menikmati beberapa makanan, tak jauh dari tempatku duduk, terlihat seorang pria dan wanita sedang beradu mulut.


Sejenak aku memperhatikan mereka yang bertengkar itu. Aku tak habis pikir mengapa bisa-bisanya mereka bertengkar di tempat seperti ini.


Dasar aneh.


“ Yuna.” Kembali terdengar suara Tante Dina memanggilku.


“ Iya Tante,” sahutku.


Aku pun bergegas menghampiri ibu dari sahabatku itu. Dan mau tak mau aku harus melewati kedua pasangan yang sedang bertengkar tadi.


Aku melewati mereka dengan langkah yang agak ku percepat. Berharap tidak mengganggu urusan mereka. Namun, tak kusangka tiba-tiba tanganku ditarik dan itu membuatku sangat terkejut.


“ Wanita ini adalah calon istriku.”


Sebuah kalimat yang terasa susah untuk kucerna.


“ Calon istri!” teriaknya.


Wanita itu tampak tak senang dengan ucapan pria yang menggenggam tanganku ini.


'' Ya, dia calon istriku. Namanya Yuna. Apa kurang jelas untukmu.''


Segera aku menatapnya. Bagaimana pria ini tahu namaku. Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi kenapa dengan mudahnya ia menyebut namaku.


'' Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu ini, Gafi. Sejak kapan kau punya calon istri, aku tidak mau mendengar omong kosong ini lagi.''


Gafi! tunggu sepertinya aku pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tapi dimana dan kapan, aku tidak ingat.


'' Sejak hari ini.'' Ia begitu tegas mengucapkan kalimat itu. '' Sejak hari ini wanita yang ada di sampingku ini adalah calon istriku.''


'' Gafi!''


Wanita itu begitu emosi.


'' Jangan mengikuti lagi, pergilah. Kau sudah tahu, kan sekarang siapa pilihanku.''


'' Aku tidak percaya dengan ucapanmu,'' ujarnya kesal meninggalkan aku dan pria yang bernama Gafi ini.


Aku begitu bingung dengan situasi ini. Mengapa aku bisa terjebak ke dalam urusan mereka.


Sekali lagi aku menatap pria yang ada di sampingku ini. Dan tak disangka mata kami pun saling memandang.


'' Tolong lepaskan tanganku.''


Dengan cepat ia pun melepaskan tanganku.


'' Seharusnya kalau kau tak ingin berurusan dengan wanita itu, jangan membawa masalah untuk orang lain. Terlebih kau membohonginya soal calon istrimu.''


'' Kenapa kau marah?''


'' Tentu saja aku marah.''


Mataku melotot padanya. Tapi, dia malah menyunggingkan senyuman. Sesaat aku berpikir kalau ia sudah tak waras.


'' Kalau begitu kita menikah saja,'' ujarnya dengan nada menantang. '' Jadi dengan begitu aku tidak membohongi siapa pun, kan''.


Ha! dia pikir menikah cuma sebuah kata yang tak berharga. Dia benar-benar membuatku kesal.


'' Apa yang bisa kau berikan padaku? Bisakah kau memberikanku segalanya? Kalau iya, aku akan mengikuti apa yang kau inginkan!''

__ADS_1


__ADS_2