Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Bertemu Aydin


__ADS_3

Aku melambaikan tanganku saat Aydin datang menghampiriku. Aku memutuskan untuk pergi sendiri menemui Aydin setelah berdiskusi panjang dengan Gafi. Bukan karena aku tak ingin mempertemukan mereka, tapi untuk saat ini bertemu secara pribadi dengan adikku ini lebih baik dari pada nantinya terjadi kecanggungan di antara kami.


“ Kenapa tiba-tiba ingin bertemu?” tanyanya sembari duduk di kursi tepat di depanku.


“ Kau sudah makan?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. “ Kakak sudah lama tidak makan di kantin kampus ini lagi, rasanya rindu sekali,” ujarku tersenyum.


Aydin menatapku dengan tatapan serius. Aku pun memalingkan wajahku ke segala arah agar ia tidak menyadari kekhawatiranku.


Ia menghela napasnya.


“ Apa terjadi sesuatu?”


“ Tidak terjadi apa-apa. Kakak tahu kau akan khawatir seperti itu.”


“ Kakak bertingkah aneh dan itu sangat menggangguku.”


“ Mengganggu?” Aku terdiam sesaat. “ Apa Kakak selalu membuatmu khawatir?”


“ Bukan begitu maksudku.”


“ Ya-ya, Kakak tahu maksudmu,” ucapku memotongnya. “ Sudahlah, kita tidak usah berdebat, Kakak datang ke sini untuk berbicara serius padamu.”


“ Bicara serius?”


“ Umm,” anggukku. “ Kakak akan menikah.”


“ Apa? Menikah?” Aydin begitu terkejut dengan perkataanku itu. Kali ini bukan hanya tatapan serius tapi ia pun tampak bingung dengan pernyataanku barusan. “ Kakak tidak sedang bercanda, kan?”


“ Tentu tidak, Aydin,” jawabku, “ Kau pernah bilang, kalau suatu saat nanti Kakak menikah, Kakak harus memberitahumu terlebih dahulu.”


“ Iya….. tapi bukan itu yang jadi masalahnya, Kak.”


Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya itu. Aku mengerti yang menjadi kekhwatiran Aydin. Aku pun kalau di hadapkan sebagai Aydin pasti akan bingung dan khawatir dengan keputusan yang terkesan mendadak ini.


“ Kakak pernah di khianati dan di tinggal begitu saja dengan pria yang akan menikahi Kakak. Aku takut kalau dia tahu dengan status Ayah, dia juga akan meninggalkan Kakak seperti dulu. Aku tidak mau hal yang menyakiti Kakak terulang lagi. Aku tidak mau melihat Kakak sedih, Kakak sekarang adalah tanggung jawabku, jadi aku ingin Kakak bahagia.”


“ Kakak mengerti, tapi dia sudah tahu apa yang terjadi dengan keluarga kita.”


“ Apa Kakak sudah memberitahukannya?”


Aku menggelengkan kepalaku.


“ Dia mencari tahu sendiri. Walaupun terdengar klise, namun melihatnya tetap memilih Kakak, membuat Kakak senang. Walaupun jauh di depan sana masih ada jalanan terjal yang harus Kakak hadapi nantinya. Tapi, itu saja sudah membuat Kakak berlega hati.”


“ Apa Kakak mencintai pria itu?”


“ Apa cinta di perlukan untuk saat ini?” Aku menatapnya. “ Dulu Kakak pernah mencintai seorang pria, tapi hasilnya…..dia malah meninggalkan Kakak begitu saja. Jadi, Kakak pikir itu bukan hal yang harus dipermasalahkan saat ini.”

__ADS_1


“ Siapa pria itu hingga membuat Kakak jadi seperti ini?”


“ Dia bekerja di sebuah perusahaan.” Aku terdiam sesaat, rasanya menjelaskan sosok Gafi kepada Aydin membuatku bingung untuk memilih kata.


“ Perusahaan apa, Kak?”


“ EJ Group.”


“ EJ Group? bukankah itu perusahaan besar?”


Aku pun mengangguk.


“ Apa dia pegawai di EJ Group?”


“ Dia Direktur di perusahaan itu.”


“ Seorang Direktur?” Aydin kaget bukan main. “ Gafi Fazal Ilario?”


Aku pun tak kalah kaget saat Aydin menyebut nama Gafi. Bagaimana ia bisa tahu tentangnya. Aku pikir Aydin akan asing dengan EJ Group.


“ Bagaimana kau bisa tahu?”


“ Siapa yang tidak tahu dia, Kak. Dia berperan besar di kampus ini juga, jadi EJ Group bukan nama yang asing buatku apalagi Direkturnya,” ujarnya menggebu-gebu. “ Tapi bagaimana bisa Kakak akan menikah dengannya? bukankah ini sangat aneh? aku pikir ia akan menikah dengan wanita pilihan keluarganya.”


“ Bukan hanya kau saja berpikiran seperti itu, Kakak juga merasakan apa yang kau rasakan. Ini terjadi begitu saja tanpa Kakak sadari, semua terjadi begitu cepat.”


“ Ya, tapi dia tetap memilih Kakak di depan keluarganya, yang tentu saja keluarganya tidak menyetujui hubungan kami.”


“ Dia melakukannya demi Kakak?” Aku mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya itu. “ Apa kalian punya hubungan spesial yang begitu erat hingga dia membela Kakak di depan keluarganya?”


“ Anggap saja seperti itu,” ujarku.


Lagi pula aku tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya pada Aydin. Biarlah ini menjadi rahasiaku yang akan aku simpan sampai mati.


“ Kau tak perlu cemas, Aydin. Kakak akan baik-baik saja.”


“ Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan Kakak. Aku hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk Kakak.”


“ Terima kasih, kau sudah mau mengerti Kakak.”


“ Apa ayah sudah tahu tentang hal ini?”


“ Belum, Kakak memberitahumu dahulu, baru nanti akan menemui ayah di sana.”


“ Ayah pasti akan senang mendengar berita bahagia ini, walaupun pasti akan ada kesedihan karena ayah tidak bisa melihat Kakak menikah.”


“ Kakak tahu, makanya Kakak mempersiapkan diri untuk menemui ayah. Melihat ayah sedih, membuat hati Kakak jadi sakit.”

__ADS_1


“ Ayah pasti akan mengerti.”


“ Ya, kau benar.”


Sesaat aku dan Aydin terdiam. Di tempat seramai ini terasa sangat hening bagiku. Aku menatap adikku itu, aku tahu di dalam hatinya masih ada ganjalan besar, namun karena menyangkut aku, ia harus menerima apa pun yang sudah aku putuskan.


“ Kak,” panggilan Aydin itu membuatku tersentak. “ Kakak, sudah memikirkannya baik-baik, kan?”


“ Tentu saja,” jawabku, “ kau masih belum menerimanya, Aydin?”


“ Maaf, kalau sikapku membuat Kakak kesal.”


“ Kakak mengerti apa yang kau rasakan, tapi ini sudah menjadi sebuah takdir untuk Kakak. Apa pun yang terjadi nantinya, akan menjadi konsekuensi yang harus Kakak terima.”


“ Kedengarannya seperti Kakak akan pergi ke medan perang.”


“ Hidup ini memang seperti berjuang di medan perang, kan?”


Aydin menyunggingkan senyuman. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


“ Ya, Kakak benar. Jadi, Kakak harus berjuang sampai akhir dan mendapatkan kemenangan bukan kekalahan.”


“ Kau kenal Kakak, kan,” ucapku, “ Kakak akan berjuang sampai mendapat kemenangan yang Kakak harapkan bukan hanya sekedar kemenangan biasa, tapi kemenangan dari segala kemenangan.”


“ Um…..aku senang melihat Kakak yang seperti ini.”


“ Aydin, kau juga harus berjuang dengan impianmu, jangan kalah dengan keadaan. Kakak akan selalu mendukungmu apa pun itu.”


“ Tentu saja, kelak Kakak akan bisa menyombongkan diri karena sudah membesarkanku dengan baik.”


“ Kakak akan tunggu itu, rasanya sangat menyenangkan kalau bisa menyombongkan diri.”


Kami pun tertawa.


“ Oh iya Kak, Aydin masih ada jam kuliah,” ujarnya melihat jam tangannya. “ Kakak tidak apa-apa kalau Aydin tinggal sendiri?”


“ Tidak apa-apa,” jawabku menyuruhnya untuk pergi. “ Lagi pula Kakak ini sudah besar, tidak akan merengek kalau di tinggal sendirian.”


“ Kakak ini ada-ada saja.”


“ Ya sudah pergilah, nanti kau terlambat.”


“ Umm…..kalau begitu aku pergi, ya, Kak.”


“ Belajar yang baik.”


“ Siap, Kak,” ucapnya meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2