Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Persiapan Kembali Bekerja


__ADS_3

Suara kicauan burung yang terdengar nyaring saling sahut-menyahut menyadarkanku dari tidurku yang lelap ini. Mata yang perlahan terbuka berusaha untuk mencerna sekelilingku. Samar-samar aku melihat jam yang menempel di dinding yang terus berdetak. Aku yang memfokuskan diri melihat arah jarum jam itu lalu tersadar kalau aku sudah melewatkan banyak waktu.


Aku melihat ke arah sampingku, sudah tidak ada Gafi di sana. Dari dalam kamar mandi pun tak terdengar suara gemericik air. Dia sudah bangun tanpa mengganggu tidurku.


Aku bergegas turun dari tempat tidurku. Lalu membersihkan diri. Ini adalah hari pertamaku kembali bekerja, setidaknya aku tidak boleh terlambat sampai di sana.


“ Kau sudah bangun.” Suara bariton itu mengagetkanku. Gafi tengah berdiri di dekat pintu sambil memandangku.“ Kenapa kau kaget seperti itu?”


“ Tentu saja aku kaget. Kau tiba-tiba masuk tanpa aku sadari,” jawabku sambil merapikan rambutku. “ Aku harus segera turun untuk membantu yang lain membuat sarapan.” Aku meletakkan sisir di atas meja rias lalu berlalu meninggalkan Gafi di kamar.


Di dapur terlihat tante Liz, ibu Gafi dan bi Ama tengah sibuk menyiapkan sarapan. Dengan langkah tergesa aku pun menghampiri mereka.


“ Maaf…,” ujarku yang membuat mereka mengalihkan pandangan. “ Apa ada yang bisa Yuna bantu?”


Tante Liz tersenyum melihatku.


“ Pengantin baru kenapa ke dapur. Seharusnya kau bersama Gafi, sayang”


“ Tapi Tante…”


“ Sudah bangun kesiangan banyak tingkah lagi,” celetuk ibu Gafi.


Aku tahu mertuaku itu tidak menyukaiku, jadi apapun yang ia katakan aku hanya bisa diam dan memakluminya. Lagi pula apa pun yang aku lakukan, tidak akan membuatnya senang denganku.


“ Adik ipar, seharusnya kau tidak mengatakan hal seperti itu. Yuna dan Gafi itu pengantin baru, wajar saja kalau mereka kesiangan.”


Ibu Gafi mendengus tak senang karena tante Liz membelaku. Aku jadi serba salah jika ada di tengah-tengah mereka.


“ Yuna, bisa tolong Tante?”


“ Tentu Tante, apa yang bisa Yuna lakukan?”


“ Tolong berikan kopi ini kepada Papamu.”


Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku sedikit takut kalau nantinya ayah mertuaku itu menolak kopi pemberianku ini.


“ Tenang saja, kau tidak perlu takut.”


“ Baiklah Tante.” Aku pun mengambil nampan yang berisi kopi itu dari tangan tante Liz. Perlahan kakiku ini melangkah satu demi satu menghampiri ayah mertua yang berada di halaman belakang. Terlihat ia sedang membaca sebuah surat kabar dengan tenangnya.

__ADS_1


“ Pa…” Aku tidak melanjutkan ucapanku. Pemilihan kata papa untuk kata sapaan pada ayah mertuaku sedikit membuatku takut, takut ia tidak suka dengan ucapanku itu. “ Om, ini kopinya,” ujarku meletakkan kopi itu di atas meja. “ Kopi ini buatan Tante Liz.” Aku menjelaskan siapa pembuat kopi ini agar ia tak sungkan untuk meminumnya. “ Kalau begitu Yuna permisi.”


Terasa canggung itulah yang aku rasakan. Tanpa ekspresi begitulah jawaban yang aku terima. Aku memang tidak mengharapkan lebih setelah apa yang sudah aku lakukan pada keluarga ini.


“ Apa kau bukan menantu di keluarga ini? kenapa kau masih memanggil dengan sebutan Om,” ucapnya yang tentu saja membuatku shock. Terasa menyenangkan di dengar walaupun tidak secara gamblang, tapi tentu saja membuatku merasa sedikit di terima.


“ Maaf, Pa.”


“ Lain kali buatkan Papa secangkir kopi buatanmu.”


Aku menyunggingkan senyuman. “ Iya Pa, lain kali akan Yuna buatkan untuk Papa.”


Betapa menyenangkan mendengarnya memintaku membuatkan secangkir kopi untuknya. Sesaat aku teringat dengan ayah di sana. Aku mendapatkan sosok ayah kedua di sini. Aku tidak akan mengecewakannya.


“ Terlihat kau sangat senang,” ujar Gafi yang mendadak ada di balik pintu. Entah sejak kapan ia ada di sana. “ Senyumanmu itu sangat cantik,” godanya.


“ Aku tidak akan terpengaruh dengan godaanmu itu. Aku sudah kebal.”


“ Tch…kau ini aneh. Suami memuji, kau malah mengejek.”


Apa-apaan dia ini, gumamku.


“ Aku sudah minta izin, jadi kita bisa pergi sekarang. Kalau nanti terlalu lama, kau bisa terlambat sampai di sana.”


“ Sarapan bisa di mana saja,” ujarnya. “ Aku akan menunggumu di mobil. Cepatlah bersiap.”


“ Baiklah.”


...****...


Setelah menyiapkan keperluanku di sana, aku pun segera turun menghampiri Gafi yang sudah menungguku. Dengan langkah di percepat, aku mendatangi keluarga ini untuk berpamitan. Tak lupa tante Liz memberikan sebuah tas yang berisi makanan kepadaku.


“ Selamat bersenang-senang ya sayang. Nikmati waktu kalian berdua,” ucap tante Liz yang membuatku bingung. Entah apa yang sudah Gafi katakan kepada tantenya ini. Yang jelas di mata keluarga, kami layaknya pasangan normal lainnya.


“ Terima kasih Tante,” balasku. “ Kalau begitu Yuna pergi,” pamitku.


“ Iya sayang, hati-hati ya.”


...****...

__ADS_1


Di dalam mobil Gafi menunggu sambil mendengarkan lantunan musik yang mengalun merdu. Aku memberikan bekal makanan yang diberikan tante Liz kepadanya. Ia agak kaget dengan pemberianku itu.


“ Apa ini?”


“ Bekal makanan dari Tante. Nanti jangan lupa kau makan, kau sudah melewatkan waktu sarapanmu.”


“ Oh, oke,” jawabnya. “ Ternyata menyenangkan juga ada seseorang yang mengkhawatirkan kesehatanku.”


“ Kau ini bicara apa,” ujarku sedikit salah tingkah.


“ Baiklah kita berangkat.” Mobil itu pun melaju meninggalkan kediaman tante Liz. Keadaan jalanan yang tak begitu ramai memperlancar perjalanan kami kali ini.


“ Oh ya, apa yang sudah kau katakan pada Tante sampai dia mengizinkan kita untuk pergi?”


“ Oh, apa kau sungguh ingin tahu?”


“ Kalau tidak ingin memberitahu juga tidak apa-apa,” ujarku lalu mengambil sebotol air mineral. Kubuka tutup botol itu lalu meneguknya perlahan.


“ Aku hanya bilang kalau kita akan menikmati waktu berdua sebagai suami-istri.”


Hampir saja air yang ada di mulutku ini aku keluarkan karena ucapannya itu. Aku menatapnya, ia pun balik menatapku. Pantas saja tadi tante mengatakan hal itu padaku.


“ Kenapa? bukankah itu alasan yang paling ampuh, ha?”


“ Sungguh sangat ampuh sekali,” balasku. “ Aku tidak menyangka kau bahkan lebih jago dari sutradara di dunia ini. Menciptakan drama senatural mungkin bahkan aku saja tidak mengerti dengan alur yang kau buat ini.”


Gafi tersenyum.


“ Kau harus masuk ke dalam drama ini bahkan di situasi yang tak terduga. Bukankah itu tugasmu juga.”


“ Ya, kau benar.”


“ Kalau aku mengatakan sebenarnya, mana mungkin tante mengizinkanmu untuk bekerja di hari pertama pernikahan kita,” terangnya. “ Aku mengizinkanmu bukan karena aku menyukai hal ini, tapi karena kau bersikeras ingin bekerja. Jadi, jangan salah gunakan izinku ini, kau mengerti?”


Aku menganggukkan kepalaku.


“ Maafkan keegoisanku. Seharusnya aku lebih memahami situasi kita sekarang ini.”


“ Tidak perlu meminta maaf. Kau sudah terbuka dan bercerita padaku saja sudah membuatku tenang,” ucapnya. “ Oh iya, setelah pulang nanti, kau harus segera menghubungiku.”

__ADS_1


“ Iya, aku akan menghubungimu segera.”


“ Baguslah.”


__ADS_2