
Haruskah aku marah? Haruskah aku kecewa? Haruskah aku menunjukkan rasa yang tak ingin kuperlihatkan itu pada orang-orang yang ku sayangi? Apa yang mereka lakukan mungkin untuk kebaikanku, tapi bukan itu yang kuharapkan. Sesakit apapun itu akan lebih baik dibandingkan diam seribu bahasa. Ketika nanti semuanya terbuka, aku akan lebih kecewa dan sakit atas nama " demi kebaikan" .
...****...
Aku diam setelah keluar dari pesta itu. Kehadiran Sherin yang tiba-tiba itu membuat suasana berubah drastis. Hanum pun tak berani menatapku. Aku juga tak ingin mengkonfrontasinya dengan pertanyaan mengapa dan kenapa. Kehamilannya membuatku takut terjadi sesuatu padanya. Tapi, aku tahu ada sesuatu di balik semua itu. Aku mencoba menerima walaupun sulit.
Gafi mencoba menenangkanku, menggenggam jari jemariku. Ia tahu bagaimana perasaanku saat ini.
" Apa dia kembali untuk bersamamu." Entah mengapa kalimat itu langsung keluar dari bibirku. " Aku ingat sekali apa yang ia katakan. Ia kembali karena seseorang."
" Yuna jangan mengada-ada."
" Apa kau juga tahu kalau wanita yang kuceritakan waktu itu adalah Sherin?" Gafi terdiam. " Kenapa kau tidak menjawab?"
" Yuna... sekalipun Sherin kembali, bukan berarti kami akan bersama. Aku bahkan tidak peduli dengan kehadirannya lagi. Kenapa pikiranmu terkonsentrasi padanya, ha?"
Gafi benar, kenapa pikiranku terkonsentrasi padanya. Apa aku merasa takut padanya. " Aku..." Tiba-tiba Gafi menarik lenganku, lalu mencium bibirku lembut. Sesaat aku terkaget, namun pada akhirnya terbuai dengan sentuhan lembutnya.
" Yuna.." Suara Gafi yang menyebut namaku itu membuatku mendesir. " Kau tak perlu takut dengan kehadirannya, tidak akan ada yang berubah, kau mengerti."
Aku mengangguk kecil. " Maaf, sudah membuatmu kesal."
" Tidak, aku mengerti bagaimana perasaanmu." Gafi mengelus lembut pipiku. " Yuna...percayalah padaku, jangan pergi karena hal ini, kau mengerti."
" Umm..," jawabku mengangguk-angguk kecil. Gafi pun memelukku.
Pagi harinya, sesuai dengan janjiku pada Hanum, aku pun tetap pergi untuk bekerja di tempatnya. Selain aku tak ingin membuatnya tertekan karena permasalahan kemarin, aku juga tak ingin terpengaruh dengan kejadian itu.
Kehadiran Sherin yang tiba-tiba di pesta itu memang cukup membuat orang terkejut. Sekian lamanya ia menghilang tanpa kabar, lalu muncul secara tiba-tiba. Entah apa motif yang melatarbelakangi kemunculannya kali ini, tidak dipungkiri aku memang sedikit terpengaruh dengan kehadirannya itu. Entah mengapa aku merasa ada suatu maksud yang disembunyikannya.
" Yuna," sapa Hanum begitu melihatku. Aku tersenyum kecil menyambutnya. " Yuna." Hanum memelukku tanpa mengatakan apapun, namun hanya menyebut namaku.
" Aku tidak marah padamu," ucapku kemudian. " Maafkan aku sudah membuatmu khawatir."
__ADS_1
Hanum menggelengkan kepalanya. " Jangan mengatakan hal seperti itu, aku malah semakin bersalah. Seharusnya aku mengatakan hal yang sebenarnya padamu waktu itu, tapi aku takut dan tidak tahu harus mulai darimana."
" Aku mengerti kau tidak mengatakannya adalah hal yang baik, tapi akan lebih sakit kalau aku tahu dengan cara seperti ini."
" Maafkan aku."
Aku menghela napas, kemudian tersenyum padanya. " Hanum, aku sudah tidak apa-apa. Gafi sudah membuatku lebih tenang. Aku juga mengerti kau berada di tengah-tengah di antara aku dan Sherin. Bagimu, kami adalah sahabatmu, kau pasti banyak menderita memikirkan hal ini."
" Tapi, aku juga tidak ingin kehadiran Sherin membuat hubunganmu dengan Gafi merenggang. Entah mengapa aku berpikir kemunculan Sherin karena Gafi. Sekian lama ia menghilang kemudian kembali, aku rasa karena mendengar kalau Gafi menikah lagi."
" Hanum." Aku pun menggenggam tangannya. " Aku juga memikirkan apa yang kau pikirkan, ini adalah rintangan yang harus kami jalani, terlepas apapun hasilnya nanti, semoga kami akan baik-baik saja."
" Yuna." Hanum kembali memelukku. " Aku akan selalu bersamamu."
" Hanum, terima kasih. Aku pasti bisa melaluinya."
...****...
" Hanum, kau duduk saja, jangan jalan sana jalan sini," ujarku khawatir.
" Aku tidak bisa."
" Hanum." Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mendudukkan Hanum. " Kalau bekerja bisa duduk saja' kan, kalau kau butuh apa-apa bisa bilang padaku."
Hanum memajukan bibirnya. " Tapi..."
" Tidak ada tapi-tapi," ucapku tegas, lalu kembali ke tempat dudukku. " Aku bisa menyelesaikan ini, kalau ada apa-apa aku akan bertanya padamu."
" Hmm, baiklah," ucapnya pasrah.
Aku melanjutkan pekerjaanku kembali, namun harus terganggu karena suara dari ponselku ini. Pada Hanum, aku meminta izin untuk menjawab panggilan ini di luar. Sambil berjalan keluar, aku menjawab panggilan dari Tya ini.
Aku bisa menebak kenapa dia menghubungiku kali ini. Ia pasti merasa bosan sendirian di rumah sakit.
__ADS_1
" Baiklah, nanti setelah pulang aku akan datang ke sana. Gafi tidak akan marah padaku karena aku sudah memberitahunya. Sudah ya, aku harus kembali bekerja," ujarku mengakhiri obrolan. " Dasar, katanya tidak apa-apa sendiri, pura-pura tidak membutuhkanku," celetukku.
" Bukankah kau, Yuna." Langkahku terhenti karena suara itu. Aku menoleh, tak di sangka kalau aku akan bertemu dengannya lagi. " Kita sungguh berjodoh."
Aku tersenyum tipis. " Hanum ada di atas kalau kau ingin bertemu dengannya. "
" Tadinya aku memang ingin bertemu dengan Hanum, tapi tanpa di duga malah bertemu denganmu di sini."
" Lalu..."
" Aku tidak ingin basa basi lagi. Kedatanganku kembali karena Gafi. Kami akan bersama kembali."
Aku meliriknya tajam, tak kusangka ia akan menyampaikan inti kehadirannya lagi.
" Apa yang akan kau lakukan agar Gafi kembali padamu?"
" Apapun."
" Apapun yang kau inginkan tak akan kembali. Kau sudah meninggalkannya dan sekarang kau menginginkannya. Apa kau pikir semua keinginanmu akan terwujud. Datang dan kembali sesukamu, kalau kau tak menginginkannya, kau mencampakkannya dan saat kau menginginkannya, kau memaksa hal itu terjadi. Apa kau waras?"
" Aku tak perlu mendengarkan semua ucapanmu. Aku juga tak menginginkan izinmu, aku hanya ingin menegaskan keinginanku. Suka atau tidak, aku tidak peduli."
" Baiklah, tidak ada gunanya bicara denganmu lagi. Lakukan atau tidak, itu kehendakmu."
" Apa kau tidak takut?"
" Takut?" Aku mengulang ucapannya kembali. " Awalnya aku takut, tapi sekarang tidak lagi. Aku akhirnya mengerti kalau tidak ada gunanya menakuti sesuatu yang tidak penting. Kau tidak peduli dengan perasaan orang lain, kau sangat egois. Terserah, lakukan apa yang ingin kau lakukan," ujarku berlalu meninggalkannya. " Oh ya, apa aku harus mengatakan pada Hanum kalau kau ada di sini?"
Sherin terdiam, tak ada jawaban darinya. " Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun pada Hanum. Permisi."
Sherin hanya terdiam terpaku di sana. Ia mungkin tak menyangka kalau ia akan mendapatkan perlakuan seperti ini.
" Yuna, kau sangat percaya diri. Kita lihat saja."
__ADS_1