
Sherin segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Ia tak sadarkan diri setelah pembicaraan itu.Wajahnya tampak pucat dan membuat semua orang menjadi panik dan khawatir.
“ Mohon untuk menunggu di luar,” ucap seorang suster. Mau tak mau mereka pun menuruti ucapan suster itu. Gafi dan keluarganya menunggu diluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Berharap Sherin akan baik-baik saja dan secepatnya sadar kembali.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan itu. Gafi langsung bangkit dan menanyakan keadaan Sherin.
“ Pasien dalam keadaan baik, hanya saja lebih baik untuk tidak membebani apapun padanya saat ini.”
“ Apa jantungnya baik-baik saja, dokter?”
“ Masih dalam keadaan baik, semua sudah terkendali,” jawab dokter itu. “ Kalau ingin melihat pasien hanya diperbolehkan satu orang saja. Biarkan pasien istirahat dahulu.”
“ Baik dokter, terima kasih.” Dokter itu hanya mengangguk lalu pergi. “ Pa, tadi Papa sudah menghubungi keluarga Sherin’kan?”
“ Sudah, mereka dalam perjalanan saat ini.”
“ Baguslah.”
“ Gafi, kau tetaplah disini. Papa, Mama dan Soraya akan pulang.”
“ Baik, Pa.”
“ Jaga Sherin baik-baik.” Gafi hanya mengangguk. Tinggallah ia seorang diri di rumah sakit itu. Ia duduk tak jauh dari ranjang Sherin. Wanita itu terbaring lemah di atas tempat tidur. Tak pernah terbayangkan Gafi kalau akan jadi seperti ini padanya.
“ Yuna.” Gafi teringat pada istrinya itu. Sudah sejak pagi, ia tak menerima kabar darinya. Gafi segera mengambil ponselnya dan bergerak menuju luar ruangan untuk menghubungi sang istri. Tapi, tanpa disangka langkahnya harus terhenti karena suara Sherin yang memanggil namanya.
“ Gafi, tolong jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian di sini,” ucapnya dengan mata berbinar. Gafi pun mengurungkan niatnya yang akan menghubungi Yuna dan terpaksa menuruti permintaan Sherin.
“ Istirahatlah, aku tidak akan pergi kemana-mana.”
Sherin tersenyum bahagia. “ Terima kasih, Fi.”
Sherin yang sangat bahagia berbanding terbalik dengan Gafi yang khawatir dengan Yuna. Sebenarnya Yuna juga berada dirumah sakit ini karena akan menjemput Tya seperti yang diucapkan Hanum. Walaupun terlihat sangat dekat, tapi Gafi bahkan tidak bisa menemui Yuna disini.
...***...
“ Yuna, kau sedang apa?” tanya Tya yang membuatku sontak kaget. Aku langsung mengisyaratkan agar Tya diam. “ Ada apa?” bisiknya. Tya pasti penasaran dengan apa yang aku lihat. Di dalam sana ada Gafi dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalinya. “ Bukankah itu Gafi.” Tya menggoncang tubuhku.
“ Ya," jawabku lirih.
“ Siapa wanita itu?”
tanyanya penasaran.
“ Sherin, mantan istrinya.”
“ Ha?” Tya terkaget. “ Kenapa mereka berdua ada dirumah sakit ini?”
“ Sherin itu punya penyakit yang sangat parah.”
__ADS_1
“ Lalu…apa kau akan diam saja disini melihat Gafi bersama dengan wanita itu.”
Aku tersenyum kecut. “ Aku harus apa? ini rumah sakit.”
“ Kau baik-baik saja dengan melihat mereka seperti ini?”
“ Tidak. Aku tidak baik-baik saja dan aku juga tidak suka Gafi bersamanya.”
“ Lalu kenapa kau tidak masuk saja. Kenapa memilih mengalah dan diam, ha!”
“ Apa aku harus?” Tya mengangguk menjawab pertanyaan itu. “ Aku pikir itu tidak baik.”
“ Yuna…”
“ Sudahlah. Ayo kita pulang. Bukankah kau ingin cepat bertemu dengan Aril.”
“ Hei…jangan mulai ya.”
Aku tertawa kecil. “ Baiklah-baiklah aku tidak akan menggodamu lagi. Ayo kita pulang.”
“ Hmm…baiklah, ayo kita pulang.”
Kami meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah, aku membalikkan tubuhku melihat tempat itu kembali. Ada rasa yang sangat mengganjal didalam hatiku, namun aku tidak tahu harus bagaimana. Melihat mereka yang seperti itu membuatku kecil hati. Andai saja Sherin tak pergi meninggalkan Gafi, mungkin saja saat ini mereka akan bahagia berdua. Entah mengapa aku seperti penghalang bagi mereka berdua. Pikiranku mulai negatif dan perasaan tidak percaya diri itu entah mengapa datang begitu saja.
...***...
Setelah mengantar Tya pulang, aku pun tiba dirumah. Sudah ada Gafi didalam sana menyambutku dengan senyuman seperti biasanya.
“ Dia baik.”
“ Syukurlah,” ujarnya. “ Kau belum makan’kan? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Cepatlah ganti pakaian, lalu kita makan.”
“ Oke.”
Aku kembali setelah 15 menit belalu. Gafi menungguku di meja makan sambil merapikan makanan yang telah ia masak.
“ Hari ini aku memasak makanan kesukaanmu.”
“ Oh ya, tumben sekali.”
Gafi hanya tersenyum kecil dengan ucapanku itu.
Aku menyendokkan makanan yang ada di piring ke dalam mulutku, lalu mengunyahnya perlahan. Seperti biasa makanan yang Gafi masak tidak pernah mengecewakan.
“ Terima kasih,” ucapku. “ Ini sangat enak,” pujiku.
“ Ada apa?” Pertanyaan Gafi yang ambigu itu membuatku bingung.
“ Maksudnya?” Aku balik bertanya.
__ADS_1
“ Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku? Sikapmu sedikit berbeda.”
Aku menggeleng. “ Tidak ada. Mungkin itu hanya perasaanmu.”
“ Kau yakin.”
“ Justru kau yang aneh tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Aku jadi bingung untuk menanggapinya.”
“ Kita akan menjadi canggung.”
Aku sungguh tak mengerti dengan perkataannya itu. Terlalu ambigu menurutku. Entah apa yang diinginkan Gafi dariku.
“ Kalau aku katakan kau tidak boleh menemui Sherin di rumah sakit. Apa kau akan menurutiku?”
Sesaat Gafi terkejut, kemudian ia menenangkan dirinya. Ia tahu pasti apa yang sedang aku utarakan padanya. “ Kau sudah melihat Sherin dirumah sakit.”
“ Ya, secara tidak sengaja melihatmu dan Sherin disana.”
“ Lalu kenapa kau tidak masuk pada saat itu?”
“ Apa aku harus?”
“ Itulah mengapa aku mengajukan pertanyaan itu padamu. Aku ingin mendengar keluh kesahmu. Apa yang kau rasakan hari ini karena aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja.”
Aku terdiam sesaat.
“ Apa kau akan meninggalkanku?”
Gafi menghampiriku lalu berlutut menggenggam tanganku
. "Hei, kenapa kau berkata seperti itu?”
“ Karena aku merasa seperti penghalang bagi kalian.”
“ Yuna, kenapa kau seperti ini lagi. Kenapa kau merasa tidak percaya diri. Aku tidak akan meninggalkanmu demi siapapun.”
“ Apa aku bisa mempercayaimu.”
“ Apa selama ini kau ragu padaku?” Aku menggeleng kecil. “ Lalu kenapa sekarang kau tidak mempercayaiku?”
“ Karena aku merasa kasihan padanya. Dia meninggalkanmu bukan karena tidak mencintaimu, tapi justru sebaliknya. Perasaannya padamu sangat kuat.”
“ Bagaimana perasaanmu padaku? apa kau tidak ingin bersamaku?”
“ Aku ingin bersamamu.”
“ Kalau begitu hilangkan pikiran negatifmu itu. Selama ini kita bisa melewati apapun. Kau sangat kuat dan tegar selama ini dengan masalah apapun yang datang. Sekarang kau juga harus seperti itu. Kau mengerti.”
Aku mengangguk.
__ADS_1
“ Yuna.” Gafi memelukku. “ Jangan seperti ini lagi. Kita baru saja memulai kehidupan kita lagi. Kita akan bersama sekalipun Sherin ada diantara hubungan kita. Anggap saja ini adalah bagian dari kuatnya hubungan kita.”
Sekali lagi aku mengangguk. Sesaat aku merasa tenang karena pelukan darinya. Aku harus percaya pada diriku dan padanya. Tidak boleh ada keraguan lagi dan aku harus bisa menjaga perasaan ini agar tetap kuat.