
" Akhirnya kau datang juga." Aril langsung mengoceh begitu melihat kedatangan Gafi. " Hai Yuna," sapanya begitu melihatku.
" Hai," balasku.
" Pantas saja kau uring-uringan saat kuminta kembali dengan cepat, ternyata kau bersama dengan Yuna."
Gafi menyeringai.
" Kudengar proyek Bandung di ambil oleh mereka."
" Ya, begitulah. Tapi kau akan lebih terkejut lagi jika tahu siapa yang memberikannya."
" Apa itu tante Liz."
" Bagaimana kau bisa tahu?"
" Tidak ada yang lebih berkuasa di bandingkan tante."
" Dan kau tidak masalah dengan hal itu."
" Setidaknya kita menyelamatkan proyek waktu itu. Aku bukan tidak masalah, tapi lebih kepada melepaskannya saja. Aku tahu tante tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang."
" Aku tahu, tapi kita juga sudah mengeluarkan segalanya untuk proyek itu, Fi."
" Aku bukannya mengabaikan perjuangan tim kita, tapi jika kita melawan keputusan ini, malah akan berdampak lebih buruk lagi. Aku yakin mereka pasti menunggu reaksi kita. Bermain amanlah untuk saat ini."
" Kau benar, aku bahkan tidak kepikiran sampai ke sana. Syukurlah kau mengerti dengan situasi ini."
" Aku sudah memprediksi kalau ini akan terjadi karena tante terus menanyakan tentang proyek itu akhir-akhir ini. Ternyata inilah jawabannya."
" Apa kau akan menemui tante Liz."
" Aku rasa tidak."
" Baiklah, aku rasa keputusan itu juga yang terbaik." Aril memandangku yang duduk di ujung sana. " Aku rasa kalian menikmati perjalanan kali ini, benarkan?"
" Menurutmu?"
" Aku rasa memang benar. Aura kalian terlihat berbeda."
Gafi menyeringai. " Apa kau sedang mengeluarkan ilmumu pada kami."
" Kau ini! Kau pikir aku tidak tahu!"
Gafi malah tertawa.
" Selamat kalau begitu, akhirnya kalian sah menjadi pasangan."
" Kau diamlah"
" Baiklah-baiklah, aku akan diam dan pergi dari sini." Aril pun pergi dengan meninggalkan celetukan yang membuatku tersipu malu.
Gafi menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Tatapan matanya kosong. Walaupun Gafi mati-matian menyangkal kalau tidak ada rasa kecewa yang sangat besar, namun aku tahu dia mencoba untuk memahami semua yang terjadi.
" Apa kau perlu sesuatu?" tanyaku.
" Misalnya?" tanyanya balik.
" Pelukan."
Gafi tersenyum kecil. " Lalu..."
" Sebuah ciuman."
" Apa boleh keduanya?"
" Umm...." Aku terdiam sejenak seperti orang yang sedang berpikir. " Tentu saja."
Gafi pun tertawa. " Kau ini memang paling bisa membuat orang tercengang."
" Aku' kan belajar darimu."
" Benarkah??"
Aku mengangguk manja.
__ADS_1
" Kemarilah." Gafi menyuruhku untuk duduk di pangkuannya.
" Apa aku tidak berat?"
" Tidak."
" Kau bohong."
" Apa semua wanita selalu begini? Kalau bicara jujur malah di cap bohong. Kalau bohong tetap di bilang bohong, tidak ada bedanya."
Aku tertawa. " Memangnya seperti itu ya?"
" Memang begitu' kan."
" Aku rasa tidak."
" Benarkah..."
" Benar..."
Gafi menyingkap rambutku yang menutupi wajahku. Memandangku dengan dalam, lalu memelukku.
" Apa sangat sakit?"
" Hanya kecewa."
" Kau ingin menangis."
" Kalau aku mau menangis sudah kulakukan sejak tadi. Lagi pula yang kupikirkan bukan tentangku, tapi timku. Bagaimana perasaan mereka mendengar berita ini. Aku tahu mereka sudah mengerahkan tenaga dan pikiran untuk proyek besar ini. Tapi, aku juga yakin yang di lakukan tante Liz bukan untuk menjatuhkanku, pasti ada sesuatu di baliknya."
" Aku senang mendengar ucapanmu ini. Walaupun keadaan sedang memburuk, kau masih bisa berpikiran jernih dan positif. Aku yakin tim yang ada di naunganmu pasti akan mengerti. Dan sekarang aku paham kenapa kau bisa sukses sejauh ini. Yakinlah semua kejadian ini pasti akan ada ujung yang manis."
Gafi tersenyum kecil. " Terima kasih sudah menyemangati dan menenangkanku."
" Kalau bukan aku siapa lagi?"
Gafi merenggangkan pelukannya dan menatapku kembali.
" Aku memang tidak salah memilihmu. Rasanya memiliki seseorang yang selalu berada di sampingku membuatku bahagia."
" Ya."
" Tapi aku tidak menyukaimu."
" Benarkah.."
" Ya..."
" Benarkah...." Gafi menempelkan dahinya ke dahiku. Aku dan Gafi tak bisa menahan tawa lagi. " Kau tidak akan meninggalkanku' kan?"
" Kenapa aku akan meninggalkanmu?"
" Entahlah, aku hanya takut hal itu akan terjadi lagi."
" Apa aku harus berjanji?"
" Aku tidak suka dengan janji karena janji juga bisa di ingkari."
" Kalau begitu, percayalah padaku."
" Kepercayaan juga bisa di khianati."
" Aku tahu. Tapi kau tahu' kan hidup ini bukan hanya tentang sisi baik, tapi juga ada sisi buruknya. Semua ada resikonya dan kita hanya bisa meminimalisir kemungkinan itu. Dan aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu."
" Maafkan aku jika aku egois padamu."
" Kenapa kau harus minta maaf. Kau tidak salah."
Gafi memelukku kembali. Aku pun membalas pelukannya.
Suara engsel pintu terbuka membuat aku dan Gafi kaget. Dengan cepat aku berdiri sangking kagetnya.
Jenny sang pelaku pembuka pintu terdiam terpaku di sana. Di dalam hatinya ia pasti mengutuk dirinya karena membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
" Maaf Direktur," ucapnya bersalah. " Saya akan kembali nanti saja," ujarnya berbalik. Namun Gafi menyuruhnya kembali.
__ADS_1
" Kemarilah, lagi pula kau sudah membawa dokumen sebanyak itu."
" Ba-baik Direktur."
Jenny pun berbalik kembali, lalu menaruh dokumen itu di atas meja.
" Oh ya Direktur, tadi ada kurir yang memberikan ini." Ia memberikan sebuah kotak kecil pada Gafi. " Kalau begitu saya permisi, Direktur, nyo-nya..."
Aku menatapnya karena sebutan nyonya itu.
" Yu...na." Kemudian ia meralatnya. Dan aku pun tersenyum.
Aku pun melirik Gafi yang masih menatap kotak kecil itu. Terlihat ia sangat serius.
" Kalau penasaran kenapa tidak di buka saja?"
" Haruskah?"
" Tentu, buka saja."
" Tapi, tidak ada nama pengirimnya." Gafi membolak-balik kotak itu.
" Kalau isinya bom sudah meledak dari tadi," celetukku.
Akhirnya Gafi pun membuka kotak itu. Sesaat Gafi terdiam melihat isi di dalamnya. Aku yang penasaran pun langsung bertanya padanya.
" Apa itu?"
" Sebuah cincin." Gafi memperlihatkan cincin itu padaku.
" Cincin apa ini?"
" Cincin pernikahan."
" Ha?" Aku terkaget. " Siapa yang iseng memberikan cincin ini padamu?"
Gafi terdiam. Dan itu membuatku sedikit heran dengannya. Seperti ada suatu makna dari cincin ini hingga membuatnya terpaku.
" Gafi...."
Gafi pun tersentak. " Ya."
" Kenapa tiba-tiba kau diam saja? Apa kau mengenal cincin itu?"
Gafi mengangguk agak ragu. " Sepertinya."
" Ya sudah, lebih baik kita tidak membahasnya lagi, kau simpan saja ke dalam kotaknya." Aku pun mengambil kotak itu, lalu memberikannya kepada Gafi.
" Yuna..."
" Ya..."
" Ini milik Sherin. Ini incin pernikahan kami."
Aku terdiam.
Pantas saja Gafi bersikap aneh tadi. Ternyata cincin itu adalah cincin pernikahannya dahulu.
Aku tersenyum kecut padanya. Ada rasa tidak nyaman karena cincin itu.
" Kenapa dia memberikannya padamu?"
" Aku tidak tahu apa motifnya. Tadinya aku tidak ingin memberitahukanmu, tapi kupikir tidak baik kalau aku menyembunyikannya. Aku takut kau akan salah paham nantinya."
" Maaf, tapi aku tidak senang mendengarnya."
" Aku tahu, tapi lebih baik kau tahu sekarang' kan."
Aku mengangguk. " Tiba-tiba aku jadi takut."
" Apa yang kau takutkan, Yuna?"
" Entahlah, perasaan ini jadi tidak enak."
" Tidak akan ada yang terjadi," ujarnya. Kemudian memberikanku sebuah pelukan agar aku kembali tenang.
__ADS_1