Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Green Hill Cafe


__ADS_3

Setelah kepergiaan Gafi yang mengantarkanku di depan kafe, aku pun membulatkan tekat untuk memasuki tempat yang penuh dengan cerita sedih dan kebahagiaan ini. Begitu aku membuka pintu, aku langsung di sambut tatapan yang sudah sering aku dapatkan ini. Siapa lagi kalau bukan tatapan dari Tia. Tatapan yang sudah lama aku tidak lihat ini, entah kenapa aku malah menyukainya.


“ Welcome,” sambutnya. “ Pengantin-“ Aku buru-buru menutup mulutnya agar tidak mengatakan tentang pernikahanku ini. Ia pun langsung melepaskan tanganku dan sudah bersiap-siap untuk mengeluarkan kata-kata indahnya. “ Kau ini! kenapa menutup mulutku, ha?”


“ Kau hampir saja mengatakan hal yang tak boleh kau ucapkan. Apa kau lupa, ha?” Aku balik memarahinya.


“ Ah, sorry,” ucapnya enteng. “ Aku lupa.”


“ Kau ini!”


Ia hanya tersenyum karena kekesalanku itu. Tak lama Herman pun datang menghampiriku dan menyambutku dengan senyumannya yang khas. Ia memang orang yang sangat menyenangkan dan humoris, tak ayal orang-orang sangat menyukainya.


“ Wah…pemeran utama kita sudah datang.” Suara yang tidak akan pernah aku lupa, siapa lagi kalau bukan Widya. Sambutan yang sudah aku prediksi sebelumnya. “ Aku pikir kau melarikan diri dan tak akan pernah kembali. Ternyata nyalimu besar juga.”


“ Nyaliku sebesar ketakutanmu,” balasku. Raut wajahnya langsung berubah. Sudah lama aku tidak mengeluarkan kata-kata ini untuknya.


“ Ketakutanku? apa kau tidak salah.”


“ Aku tidak pernah salah dan kau tahu itu.”


“ Aish…kau!” Widya hendak menghampiriku, namun Herman menghalanginya. “ Herman! apa-apaan kau ini! sana minggir!”


“ Kau jangan membuat masalah lagi,” ujar Herman ketus.


“ Aku membuat masalah?” Widya kehabisan kata-kata karena ucapan Herman yang tak pernah ia sangka. “ Kau membelanya?”


“ Yuna temanku, tentu saja aku bela.”


“ Wah…sekarang kau punya kubu untuk membelamu, Yuna.”


Aku mendengus. Rasanya kesal sekali melihatnya seperti itu. Ia tak pernah menyadari apapun yang sudah ia lakukan selama ini.


“ Aku datang bukan untuk bertengkar denganmu. Kenapa kau malah memprovokasi semua orang,” ujarku.


“ Oke, baiklah, kau menang kali ini. Semoga hari kembalinya kau bekerja menjadi menyenangkan,” ujarnya meninggalkan kami.


“ Wah, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi melihat kelakuannya yang menyebalkan itu,” timpal Tia.


“ Tumben kau hanya diam,” celetuk Herman. Aku pun sama penasarannya dengan Herman.


“ Aku sedang menahan emosiku melihat tingkahnya. Dosaku sudah terlalu banyak untuk meladeni wanita seperti dia.”


“ Sejak kapan kau belajar menahan emosimu,” tanyaku asal.


“ Sejak bertemu dengan pria gila itu,” jawabnya yang membuatku surprise.


“ Pria?” Aku menekankan kata itu padanya. Ia mengangguk. “ Maksudmu Aril?” Raut wajahnya langsung berubah. Dan aku tidak perlu jawaban langsung darinya lagi.


“ Jangan menyebut namanya lagi, malah membuatku semakin kesal.”


Aku dan Herman malah kode-kodean berharap mendapat jawaban lebih pasti kenapa Tia bisa sekesal itu terhadap Aril. Cerita punya cerita ternyata Aril sering datang ke sini sejak pertemuan pertama mereka waktu itu. Aku tidak tahu kalau Aril begitu tertarik dengan Tia.

__ADS_1


“ Setahuku Aril itu orangnya baik. Kenapa kau sepertinya tidak menyukainya?”


“ Baik katamu? seharusnya kau tidak salah menilai orang. Dia membuatku merinding karena tingkah anehnya itu.”


“ Ha?”


“ Sudahlah tidak usah membahasnya, malah membuat mood ku tidak baik nantinya,” ujarnya. “ Oh ya, kau akan bertemu dengan Bos, kan?”


“ Iya, apa Bos sudah datang?”


“ Sudah, kau masuklah ke sana. Mungkin Bos sudah menunggumu.”


“ Umm…baiklah.”


“ Semangat Yuna,” ucap Herman menyemangatiku. Aku pun tersenyum dengan dorongan semangatnya itu.


...****...


Aku mengetuk pintu itu. Terdengarlah suara dari dalam sana. Setelah pintu terbuka aku memasuki ruangan itu. Martin menyambutku dengan hangat seperti Martin yang memang aku kenal.


“ Kau baik-baik saja,” tanyanya.


“ Saya baik,” jawabku. “ Bagaimana dengan Bos?”


“ Ah, Yuna, bicara santai saja seperti teman karena kita hanya berdua di sini.”


“ Umm…baiklah,” ujarku mengiyakan. “ Bagaimana kabarmu, Martin?”


“ Iya, aku juga sibuk beberapa hari ini.”


“ Oh, apa kau sedang menjalankan bisnis atau apa, Yuna?”


“ Bukan itu, ada suatu hal yang harus aku kerjakan. Makanya aku tidak bisa menghubungimu.”


“ Begitu ya.”


“ Begitulah,” timpalku. “ Martin, maksud kedatanganku ke sini, untuk menanyakan statusku di sini. Apa aku masih bisa bekerja di sini?”


“ Tentu saja, Yuna. Aku bahkan selalu menunggu kedatanganmu di sini.”


“ Syukurlah,” ucapku lega. “ Aku sempat takut karena insiden yang sudah terjadi belakangan ini.”


“ Sudahlah tidak usah di bahas lagi mengenai itu.”


Aku tersenyum kecil.


“ Sebenarnya bukan hanya itu saja yang ingin aku katakan padamu. Ada hal yang lebih penting lagi untuk aku sampaikan.”


“ Soal apa, Yuna? sepertinya sangat penting sekali.”


“ Aku sudah menikah.”

__ADS_1


“ Ha?” Sontak ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “ Apa yang barusan kau katakan? apa aku tidak salah dengar?”


Aku menggelengkan kepalaku. “ Kau tidak salah dengar, Martin. Yang aku katakan ini memang sebenarnya. Aku sudah menikah. Pernikahanku memang sedikit mendadak, makanya aku tidak sempat memberitahukanmu lebih dahulu. Makanya aku baru bisa menyampaikannya sekarang.”


Martin menyandarkan punggungnya. Tampak ia masih berusaha mencerna kata-kataku ini.


“ Siapa pria yang menikah denganmu, Yuna?”


“ Maaf, aku belum bisa mengatakannya.”


Ya, aku belum bisa menjelaskan padanya karena ini menyangkut insiden terakhir kali. Orang yang menjadi pangkal masalah malah menjadi pendampingku. Aku takut Martin tidak akan percaya dengan ceritaku ini karena hal ini terlalu rumit untuk aku sampaikan padanya.


" Apa aku mengenalnya?"


" Bisa saja kau mengenalnya."


" Benarkah..." Martin mengernyitkan dahinya . " Baiklah, aku akan menunggu sampai kau menceritakan semuanya padaku."


" Sekali lagi aku minta maaf padamu. Kalau semuanya sudah terkendali, aku pasti akan menceritakannya. "


Martin hanya tersenyum kecil.


" Apa suamimu tahu kau masih bekerja?"


"Umm." Aku mengangguk. " Tapi, keluarganya tidak tahu kalau aku masih bekerja. Ia harus mengarang cerita agar aku dapat bekerja hari ini karena kemarin kami baru saja menikah, jadi tidak mungkin untuk meminta izin ."


" Oh, begitu," ucapnya. " Jadi kalian tidak sempat bulan madu karena ini."


" Ah...ya...sepertinya begitu."


" Karena aku tidak memberikan apa-apa di hari pernikahanmu, kau boleh meminta apapun dariku sebagai hadiah pernikahanmu."


" Kau tak perlu repot."


" Katakan saja Yuna."


" Bolehkah?" Aku menekankan kembali. Dan Martin pun mengangguk. " Aku tidak meminta apapun, hanya saja aku meminta libur selama 3 hari. Aku tahu ini tidak pantas karena aku baru saja kembali bekerja."


" Pergilah, aku mengizinkanmu."


Seketika aku semringah.


" Terima kasih kau sudah memberikan izin padaku."


" Asal kau bahagia Yuna."


" Kau memang teman terbaik, Martin."


" Baiklah, aku mohon izin untuk kembali bekerja."


" Ya."

__ADS_1


Aku pun meninggalkan Martin.


__ADS_2