Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Pesta Perkenalan


__ADS_3

Aku berdiri mematung di depan kaca. Mengamati pakaian yang coba aku cocokkan untuk pesta kali ini. Dan untuk kesekian kalinya aku menaruh kembali pakaian itu ke atas tempat tidur. Aku bingung harus memakai apa karena memang aku tidak mempersiapkan pakaian untuk acara malam ini. Ini semua karena Gafi tidak memberitahukanku terlebih dahulu, jadi aku tidak menyiapkan apa-apa untuk kupakai.


Aku merebahkan tubuhku, merasa kesal karena tidak menemukan apa yang kuharapkan.


" Apa kau lelah?"


Suara Gafi mengagetkanku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur lalu marah padanya.


" Karena kau, aku jadi lelah."


Terlihat Gafi terkejut dengan ucapanku. Ia sama sekali tak mengerti dengan perkataanku yang tiba-tiba ini.


" Karena aku?"


" Ya," ujarku. " Kalau saja kau bilang sejak awal, aku tidak akan lelah memikirkan pakaian apa yang harus aku pakai. Kau tahu' kan aku tidak membawa pakaian untuk pesta yang kau buat ini. Tidak mungkin aku memakai pakaian biasa. Bisa-bisa mereka akan mengejekmu, kau tahu itu!"


Gafi menghela napas, lalu ia tersenyum simpul padaku.


" Sudah selesai mengomelnya?"


" Sudah."


" Kalau begitu ambil ini."


Aku mengambil benda yang Gafi berikan padaku.


" Apa ini," tanyaku penasaran. " Ini bukan bom, kan?"


" Bom ataupun bukan, kalau ini meledak, kita akan mati bersama, kan."


" Ha! aku tidak ingin mati bersamamu."


" Tchh..." Gafi menggelengkan-gelengkan kepalanya karena celetukanku.


Aku membuka pemberian Gafi itu. Sebuah kotak berisi gaun hitam pendek berlengan panjang. Rasa marahku seketika menghilang karena pemberiannya ini. Entah sejak kapan Gafi menyiapkan semua ini untukku.


" Ini untukku."


" Lalu untuk siapa lagi. Apa perlu aku memberikannya pada wanita lain?"


" Tidak lucu." Aku sedikit cemberut. " Kalau saja kau berani melakukannya, aku tidak akan segan-segan menghajarmu."


" Wah...kau bisa kena pasal penyiksaan nantinya."


" Biar saja," balasku. " Sudah sana keluar, aku akan berganti pakaian. Sampai kapan kau akan terus ada di sini."


" Ganti saja, memangnya kenapa kalau aku ada di sini?"


" Kau ingin melihatku tanpa pakaian,ha!"


" Tentu."


" Ha?" Aku kehabisan kata-kata. Gafi benar-benar sedang jahil padaku.


" Cepat, ayo lepaskan."


" Dasar mesum!" teriakku. " Sana keluar!"


Aku mendorong tubuhnya hingga keluar pintu, lalu kututup pintu itu kemudian menguncinya. Aku semakin kesal dengan suara tertawanya yang menggema. Dia benar-benar suka sekali mempermainkanku.


" Lihat saja nanti, kau akan kubalas!!"


...****...


Aku keluar dari kamar setelah selesai merias diri. Tepat pukul 8 malam, teman-teman Gafi sudah tiba. Sekitar 10 orang terlihat sedang berbincang satu sama lain. Tak ada satu pun yang aku kenal kecuali Aril. Dalam hati, aku berharap Hanum dan Reza ada di sini juga. Tapi apa daya setelah tahu kalau dua orang itu tengah berada di rumah orang tua Reza di luar kota, aku pun hanya pasrah saja.


" Kau gugup?" tanya Gafi yang menghampiriku.


Aku mengangguk kecil.

__ADS_1


" Lebih gugup ketimbang bertemu dengan orang tuamu."


Gafi tersenyum.


" Teman-temanku lebih menyeramkan ketimbang orang tuaku, begitu maksudmu?"


" Paling tidak mereka keluargamu."


" Begitukah?"


" Kau tidak akan meninggalkanku, kan?"


" Kenapa kau jadi manja begini."


" Aku hanya akting," ocehku. " Sudah ayo."


" Ha? kau ini !"


Aku tertawa dalam hati. Rasanya sedikit menyenangkan sudah balas dendam padanya.


" Perkenalkan ini Yuna, istriku," ucap Gafi memperkenalkanku pada teman-temannya.


Sebenarnya Gafi mengundang teman-temannya ini ke pesta pernikahan kami waktu itu. Namun, karena waktu yang singkat dan ada satu atau dua orang yang belum mengenalku, jadilah pesta ini di adakan. Ini adalah ide salah satu teman Gafi yang baru saja pulang dari Australia. Saat itu, ia tak sempat datang ke pernikahan kami. Maka dari itu, saat ia pulang, temannya itu langsung meminta untuk di adakan acara perkenalan ini.


Mereka menerimaku sangat hangat. Aku begitu senang, padahal tadinya aku sangat khawatir kalau nantinya aku tidak bisa berbaur. Tapi semua itu sirna karena kehangatan mereka.


" Yuna."


Mendengar namaku di sebut aku langsung menoleh. Seorang pria dengan perawakan sedang berkulit putih datang menghampiriku.


" Hai," sapaku agak canggung.


" Jadi kau, Yuna."


" I-ya."


" Ah, jadi kau ini yang bernama Ben. Salam kenal."


" Kau mengenalku?"


" Tidak begitu, Gafi hanya sedikit menceritakan tentang teman-temannya."


" Oh begitu?"


" Iya."


" Apa Gafi juga cerita tentang Sherin?"


" Ha? Sherin?"


" Iya. Apa kau tidak kenal dengan Sherin?"


" Aku hanya tahu kalau dia mantan istri Gafi."


" Ah...jadi kau tahu. Dia itu wanita yang sangat cantik. Apa kau pernah melihat wajahnya?"


" Tidak sama sekali. Gafi tidak pernah membahasnya."


" Oh maaf."


" Tidak apa-apa, kau tak perlu minta maaf."


" Umm...kupikir wanita yang akan menjadi pendamping Gafi seorang wanita yang melebihi Sherin, ternyata....di luar ekspektasiku, terlalu biasa."


Perkataan kasarnya itu membuatku sangat kesal. Ia dengan gampangnya berbicara seenaknya tentang orang lain yang sama sekali tidak di kenalnya. Aku bahkan ingin sekali memukulnya supaya pikirannya itu kembali normal.


" Menjadi biasa di mata orang lain, tapi tidak di mata Gafi. Maaf kalau aku di luar ekspektasimu, tidak seperti temanmu itu."


" Kau percaya diri sekali."

__ADS_1


" Tentu saja."


" Apa kau menikah dengan Gafi karena uang."


" Aku menikah karena uang atau tidak, itu bukan urusanmu," ujarku. " Apa kau membenciku?"


" Kenapa kau berasumsi seperti itu?"


" Karena semua ucapan yang kau keluarkan sangat tidak bersahabat. Aku mengerti kalau kau adalah sahabat Sherin, tapi kini aku adalah istri Gafi. Suka atau tidak, kau harus terima."


" Kau ini berani sekali!"


" Alasan kenapa Gafi menikahiku karena aku harus menghadapi orang sepertimu. Lingkaran kehidupanku tidak semulus drama di TV. Aku juga bukan cinderella yang memakai sepatu kaca ataupun putri tidur yang menemukan pangeran saat sang pangeran menciumnya."


" Kau mencoba mengertakku dengan mantan istri Gafi. Apa kau lupa siapa yang meninggalkan pria itu? Bukan aku, kan?"


Ben sedikit geram dengan ucapan-ucapanku itu. Ia mungkin tak menyangka kalau aku akan membalas semua perkataannya.


" Silakan menikmati pesta ini. Maaf sudah merusak suasana hatimu," ujarku meninggalkannya.


Lebih baik aku mengalah dari pada terjadi keributan yang akan merusak suasana pesta ini. Lagi pula aku juga sudah lelah untuk menghadapinya. Takutnya aku malah kebablasan dan berakhir merusak nama baik Gafi.


" Apa yang kau lakukan sendirian di sini?"


Aku sontak kaget karena kehadiran Gafi yang tiba-tiba.


" Aku kaget, kenapa kau tiba-tiba muncul begitu."


" Kau saja yang melamun."


" Aku tidak melamun. Aku sedang kesal."


" Kenapa kau kesal?"


" Temanmu..." Aku tidak melanjutkan ucapanku. " Tidak ada, lupakan saja."


" Kau kesal dengan Ben? Apa dia bicara seenaknya padamu?"


" Kenapa kau bisa tahu?"


" Tentu saja aku tahu. Sejak tadi aku memperhatikan kalian berdua. Aku tahu seperti apa Ben itu."


" Dia tidak menyukaiku."


" Tentu saja."


" Ha?"


" Ben itu teman dekatnya Sherin. Mana mungkin dia menyukaimu"


" Aku tahu."


" Jangan dipikirkan apapun yang dikatakannya."


" Aku masih hidup dan terus berpikir."


" Tch...dasar kau ini."


Aku meringis kesakitan karena Gafi mencubit pipiku.


Gafi tertawa melihat reaksiku itu. Entah mengapa melihatnya seperti ini membuatku sangat bahagia.


" Hei...pengantin baru, jangan berduaan terus di pojokan, cepat kesini," ujar salah satu teman Gafi.


" Mentang- mentang pengantin baru, maunya berdua terus," celetuk yang lainnya.


Aku jadi malu sendiri mendengar sindiran mereka itu.


" Yuna, ayo." Gafi menengadahkan tangannya ke hadapanku. Tanpa berpikir panjang aku pun menyambut tangannya itu, lalu Gafi membawaku ke tengah pesta sambil menggenggam erat tanganku.

__ADS_1


__ADS_2