
" Aku menyukaimu"
Apakah aku salah dengar? Ucapan itu begitu nyaring di telingaku.
" Gafi..."
Gafi tak mengindahkan ucapanku.
" Ga..." Gafi menempelkan bibirnya di bibirku yang membuatku tak bisa melanjutkan kata-kataku.
******* yang ia berikan padaku begitu dalam. Ciuman yang semakin ganas dan menuntut hingga membuatnya tak bisa menahan lagi.
Aku yang awalnya hanya diam pada akhirnya membalas ciumannya itu. Tak dapat ku pungkiri apa yang di lakukannya padaku membuatku terbuai.
Gafi menghentikan ciuman itu, lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.
" Aku sudah bilang' kan, tidak akan menahan diri lagi "
Mendengar ucapannya itu membuat tubuhku mendesir.
Gafi menciumku kembali, lalu mengangkat tubuhku menuju kamar tanpa melepaskan ciumannya.
Gafi menurunkan tubuhku di ranjang. Melihatku yang berbaring di sana membuat hasratnya tak tertahankan lagi.
Dengan cepat Gafi sudah berada di atasku, mengukungku dengan erat, lalu mencium seluruh tubuhku.
Aku menahan desahanku dengan menutup mulutku dengan kedua tanganku. Ada rasa sedikit malu bila Gafi mendengarnya.
Gafi menarik tanganku yang menutup mulutku.
" Kau tak perlu menahannya, Yuna. Aku ingin mendengar suaramu."
Telingaku langsung memanas. Aku bukan hanya menutup mulutku malah menutup wajahku karena malu apalagi melihat Gafi menyunggingkan senyuman nakalnya itu.
" Yuna...." Gafi memelukku, kemudian menarik kembali tanganku. " Kau sangat cantik."
Kali ini aku yang berinisiatif menciumnya. Gafi sedikit terkejut, namun dengan cepat membalas ciumanku itu.
Pakaian melekat kini sudah terlepas dan tubuh polos ini pun sudah menjadi miliknya.
Di atas ranjang pergumulan itu di mulai. Sejak menikah inilah malam pertama untuk kami berdua.
Malam panjang ini seakan hanya milik kami berdua. Udara dingin yang tadi kami rasakan kini berubah menjadi kehangatan.
Puncak kenikmatan ini kami rasakan bersama hingga akhirnya kami terbaring dan mengatur napas kembali.
...****...
Suara kicauan burung dan hangatnya matahari memasuki kamar ini. Perlahan aku pun membuka mataku dan merasakan lengan besar yang sedang memelukku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Gafi tengah tertidur lelap.
Aku menggerakkan tubuhku sedikit dan itu membuat Gafi terbangun.
" Ada apa?" tanyanya setengah sadar.
" Bukankah kau harus kerja," jawabku.
" Umm..." Gafi malah mengeratkan pelukannya. " Nanti saja."
" Tapi, ponselmu terus berdering."
" Buang saja, aku tidak memerlukannya."
Aku menghela napas. Apapun yang aku katakan tidak akan membuatnya terbangun. Lagi pula dia itu Bos nya, apapun bisa ia lakukan.
" Gafi...."
" Panggil aku sayang."
__ADS_1
Sesaat aku tak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba Gafi bertingkah seperti anak kecil. Rasanya aku ingin tertawa melihat tingkahnya ini.
" Kenapa kau diam saja, hmm.."
Hembusan napasnya yang mengenai kulitku membuatku bergidik. " Yuna..."
" Iya, sayang..."
Aku tahu ia sedang tersenyum saat ini. Dan sebuah kecupan mendarat di pundakku.
Suara deringan ponsel yang nyaring berbunyi membuat Gafi akhirnya menyerah juga. Di ambilnya ponsel itu dari atas nakas, lalu menjawabnya.
" Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi. " Ini masih pagi, apa tidak bisa nanti saja."
" Pagi? Kau sudah gila, matahari sudah menyengat di luar sana. Sekarang kau ada di mana?" Suara Aril terdengar jelas sangking kuatnya suara yang ia keluarkan.
" Aku di suatu tempat."
" Aku tahu kau di suatu tempat karena sekarang aku ada di depan rumahmu. Aku tidak peduli di manapun kau, ini waktunya kau ke kantor."
" Kenapa kau berisik sekali. Aku akan datang kalau sudah waktunya."
" Iya, tapi..."
" Tidak ada tapi-tapi." Gafi pun langsung mematikan ponselnya, lalu meletakkan kembali ke atas nakas.
" Aril marah padamu?"
" Dia memang seperti itu' kan. Lagi pula dia itu hanya menganggu saja. Dia kan paling suka membuat orang kesal."
Aku tersenyum.
" Tapi, aku rasa kalian memang cocok."
" Apa seharusnya aku menikah dengannya saja?"
" Dasar kau ini."
Kami pun tertawa.
Aku melihat jam yang menempel di dinding. Seharusnya ia sudah ada di kantornya saat ini. Tapi, saat ini ia masih menikmati mode malasnya.
" Kau mau kemana?" tanyanya begitu sadar aku menggerakkan tubuhku untuk turun dari tempat tidur.
" Aku mau mandi," jawabku tanpa menatapnya. Aku malu sendiri karena teringat dengan kenangan malam itu. Apalagi saat ini aku benar-benar melihat dadanya yang bidang itu.
" Kalau begitu kita mandi bersama saja," ucapnya tiba-tiba. Aku tentu saja terkejut. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku dan Gafi terlihat tidak senang.
" A-ku mandi sendiri saja," ujarku gugup. Namun, Gafi dengan sigap langsung menggendongku. " Gafi!" teriakku.
" Aku lebih suka mandi bersamamu."
Aku membelalakkan mataku karena ucapannya itu. Tapi, Gafi tak peduli apapun yang aku katakan. Ia pun membawaku ke kamar mandi kemudian menutup pintu itu.
...****...
Hari semakin panas karena teriknya matahari. Aku bergegas memasuki mobil karena tak tahan dengan sinarnya.
" Aril pasti marah padamu karena kau belum tiba di kantor," ujarku sesaat Gafi masuk ke dalam mobil.
" Aku ingin bersamamu, hanya itu saja yang aku pedulikan."
" Kau ini! pandai sekali membuat orang tidak bisa berkata apa-apa."
Gafi menyunggingkan senyuman.
" Sekarang kita berangkat sayang..."
__ADS_1
" Iya sayang, menyetirlah dengan hati-hati."
Aku dan Gafi saling tersenyum.
Mobil ini melaju mulus di jalanan. Beruntung keadaan di jalanan tidak mengalami kendala.
" Kita akan ke kantor terlebih dahulu sebelum aku mengantarmu pulang. Kau tidak keberatan' kan?"
" Tidak sama sekali, malah aku senang karena aku tidak suka sendirian di rumah."
" Apa kau ingin kembali bekerja?"
" Tidak."
" Kenapa kau tidak menghubungi Hanum saja. Bukankah Hanum saat ini menjalankan bisnis bakery. Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia ingin kau membantunya di sana, tapi karena saat itu kau masih bekerja, jadi aku katakan padanya akan mempertimbangkannya untukmu."
" Benarkah?"
" Tentu saja."
" Baiklah, aku akan menemuinya besok."
" Aku akan mengantarkanmu ke sana."
Aku mengangguk.
" Gafi, terima kasih."
Ia pun tersenyum.
Kami pun sampai di gedung besar ini. Begitu Gafi turun dari mobil seorang wanita cantik datang menghampirinya.
" Kenapa kau ada di sini?" tanya Gafi heran.
" Dari tadi saya menunggu Direktur di sini," jawabnya agak terbata-bata. Ia melirikku dan aku tersenyum padanya. " Nyonya Direktur," ujarnya spontan begitu melihatku.
" Hai," sapaku.
" Nama saya Jenny, Nyonya."
" Panggil saja saya Yuna, tidak perlu pakai nyonya."
" Mana bisa begitu, nanti Pak Direktur malah marah sama saya, Nyonya."
" Sejak kapan saya marah, Jen." Gafi langsung menyela. Aku tersenyum karena ulah mereka ini.
" Jadi saya boleh panggil istri Direktur dengan nama?"
" Kalau Yuna bilang begitu, kau harus mengikutinya."
" Siap pak Direktur." Jenny tersenyum lebar. " Oh ya pak Direktur, pak Aril sudah menunggu sejak tadi di kantor."
" Saya tahu."
" Pak Direktur, apa sudah tahu?"
" Tentang apa?"
" Kalau pak Anwar dan pak Yuda mengambil proyek yang ada di Bandung."
" Apa!" Gafi begitu terkejut mendengar berita dari sekretarisnya itu.
" Gafi..." Aku menenangkannya. Gafi pun menggenggam tanganku.
" Aku tidak apa-apa."
Walaupun ia bilang tidak apa-apa, tapi aku tahu dia pasti sangat kecewa. Aku mengerti bagaimana usaha yang ia lakukan.
__ADS_1