Cinta Itu Bernama Kita

Cinta Itu Bernama Kita
Lembaran Baru


__ADS_3

Ini pertama kalinya aku menganggur. Rasanya sangat aneh dan tentu saja membosankan. Aku juga tidak bisa kemanapun tanpa izin dari Gafi. Ini demi kebaikanku dan aku juga tidak ingin melanggarnya. Sudah cukup kebodohan itu yang pada akhirnya menghancurkan segalanya.


Kejadian itu pun akhirnya sampai di telinga manajer, ibunya Martin. Aku tahu siapa yang sudah menyebarkan kejadian itu padanya. Tak lain dan tak bukan adalah Gafi sendiri.


Berulang kali manajer meminta maaf padaku lewat telepon. Ia begitu sedih mendengar perlakuan Martin padaku. Ia juga tak menyangka anak kesayangannya akan senekat itu. Suara isakan tangis dari ujung telepon membuatku tak kuasa meneteskan air mata. Aku tak tega dengannya. Inilah yang aku takutkan kalau kejadian itu akhirnya ia tahu.


" Manajer, saya sudah memaafkan semuanya. Tolong jangan meminta maaf lagi."


Begitu ucapanku padanya. Aku berharap ia akan lebih tenang setelah aku mengucapkan hal itu.


Tia dan Herman yang melihatku kala itu juga terus menghubungiku, namun untuk sementara waktu aku tidak bisa mengucapkan apapun tentang masalah itu pada mereka. Selain aku tidak siap mengatakannya, Gafi juga melarangku.


Mengenai Martin, tentu saja puluhan pesan dan telepon masuk ke dalam ponselku. Setiap deringan yang masuk selalu kuhiraukan. Karena hal itu Gafi menyita ponselku agar aku tak terganggu dengan setiap deringan yang selalu berbunyi. Ia pun memberikan ponsel yang baru sebagai gantinya agar ia bisa menghubungiku setiap saat.


...****...


" Nyonya, ini makanan yang Tuan Gafi berikan," ucap Putra memberikanku dua bungkus makanan.


" Terima kasih," ucapku padanya. " Oh ya, apa Gafi sudah makan di sana?"


" Saya rasa belum Nyonya, Tuan terlihat sibuk di kantor."


" Benarkah? Kenapa dia ingat makan siangku tapi tidak ingat dengan makan siangnya sendiri."


" Sebaiknya Nyonya telepon Tuan saja karena terkadang Tuan sering melewatkan makan siang kalau sedang sibuk."


" Benarkah? Baiklah aku akan menghubunginya. Terima kasih sudah memberitahuku."


" Iya Nyonya."


Aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja. Menekan nomor yang memang hanya ada nomornya saat ini. Tak lama suara sambutannya terdengar dari sana.


" Apa kau suka dengan makanannya?" tanyanya.


" Aku suka," jawabku. " Apa yang sedang kau lakukan? Apa aku mengganggu pekerjaanmu?"


" Tidak, aku hanya sedang menyelesaikan semua dokumen ini."


" Kau tidak istirahat sama sekali?"


" Aku sedang tidak ada waktu untuk itu. Setelah semua selesai, aku juga harus menghadiri rapat."


" Kau menjaga kesehatanku, tapi kau tidak menjaga kesehatanmu. Kau mengingat jam makanku, tapi tidak dengan jadwal makanmu. Bagaimana bisa aku tenang di sini memikirkan kau di sana."


Terdengar hening di sana. Tak ada suara dari Gafi. Aku berpikir apa aku sudah mengatakan hal yang salah padanya.


" Gafi...kenapa kau diam saja."


" Maaf," ucapnya. " Aku sangat senang mendengar kau memperhatikanku hingga sesaat aku tak bisa berkata apa-apa."


" Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. apa hal itu tidak boleh aku lakukan?"


" Kenapa kau berkata seperti itu? Aku sangat senang kau memperhatikanku seperti ini."


Aku tersenyum simpul. " Makanlah saat Putra datang nanti. Aku sudah menyuruhnya mengantarkan makanan untukmu. Kau harus menghabiskannya."


" Baiklah, aku akan menghabiskannya."


" Kalau begitu aku tutup teleponnya."


" Ya."

__ADS_1


Aku mematikan sambungan telepon itu. Perasaanku entah mengapa menjadi sesenang ini mendengar suaranya barusan. Aku ingin sekali segera bertemu dengannya. Namun, aku harus melewati hari yang sangat panjang ini sebelum bertemu dengannya nanti.


...****...


Makanan yang di berikan oleh Gafi sudah habis kumakan. Begitu juga dengannya di sana, melahap makanan yang kuberikan padanya. Rasanya kami seperti pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, hanya bisa berkabar melalui telepon.


Aku menyibukkan diri dengan menata beberapa buku yang beberapa hari lalu aku beli ke dalam rak-rak ini. Gafi bilang aku boleh menata sesuka hatiku di tempat ini. Aku suka dengan koleksi buku-buku yang ia punya. Bahkan ada buku yang sudah lama aku inginkan tapi belum bisa aku beli, ada di tempat ini. Tentu saja aku sangat bersemangat dengan temuanku ini.


Aku membuka lembar demi lembar halaman buku ini. Membaca setiap detail yang ada di dalamnya.


Aku yang asik dengan bacaan ku, harus terganggu dengan suara bel berbunyi. Aku bergegas keluar dan melangkahkan kakiku dengan cepat.


Kuintip dari balik gorden jendela. Terlihat ibu mertuaku, adik ipar dan Diana di sana. Aku sangat kaget. Ada apa gerangan dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba ini.


Aku mengambil napas dalam, lalu kubuka pintu itu. Aku menyapa mereka dengan senyum yang merekah di bibirku.


" Kenapa lama sekali kau membuka pintu ini," hardik mertuaku. Baru saja datang, mertuaku itu sudah mengeluarkan jurus andalannya.


" Maaf, Ma," ucapku.


" Beginilah kalau menantu berasal dari antah berantah," celetuknya dengan lirikan sinisnya.


Aku hanya bisa menyabarkan diriku sendiri dengan segala perkataan mertuaku itu. Lagi pula ini bukan pertama kalinya buatku.


" Apa yang kau lakukan di rumah? Apa kau sudah di pecat dari pekerjaanmu?" tanya Diana.


" Benarkah? Wah...senangnya kau sekarang menjadi nyonya besar," timpal soraya.


" Bukankah aku memang nyonya besar di rumah ini. Apa salahnya dengan sebutan itu," balasku tak mau kalah. " Suamiku menginginkanku tetap di rumah agar bisa menyambutnya saat pulang nanti. Apa itu sebuah kesalahan."


Mereka bertiga sangat tak suka dengan ucapanku itu. Reaksi mereka menunjukkan segalanya.


" Berani sekali kau berkata seperti itu!" Mertuaku terlihat kesal. " Jangan karena Gafi dan kakak iparku selalu membelamu kau bisa lancang seperti ini."


" Mama sangat kesal dengan wanita ini," ujarnya pada Soraya.


" Sabar Ma, suatu hari nanti dia juga bukan seorang nyonya besar lagi," ucapnya.


Lagi dan lagi sebuah kalimat yang mengharapkan pernikahan kami berakhir. Sepertinya usaha mereka tidak akan pernah padam untuk membuat Diana menjadi istri Gafi.


" Kau benar juga sayang. Mama tidak sabar kalau begitu."


Mereka terlihat sangat senang. Aku pun tidak akan mengganggu kehaluan mereka itu.


" Yuna akan membuat minuman. Sebentar lagi Gafi juga akan pulang."


" Jangan kau campurkan racun ke dalamnya," oceh Soraya.


Aku hanya tersenyum menanggapi celetukan soraya itu.


Aku merasa seperti berada di dalam drama televisi. Pergelutan di dalam keluarga kaya yang menginginkan status mereka terjaga. Terlalu melelahkan untuk di ikuti, tapi beginilah yang terjadi di dalam kehidupanku.


Aneh.


Memang aneh, apalagi harus menghadapi keluarga dari pihak Gafi. Perlu kesabaran dan keberanian.


" Mama, Soraya, Diana, silakan di minum. Yuna juga membuat makanan kecil tadi. Silakan di cicipi."


Mereka hanya saling memandang satu sama lain.


" Tidak ada racun. Yuna juga tidak bodoh kalau mau bermain seperti itu."

__ADS_1


Terlihat mereka kaget karena ucapanku itu. Tanpa basa basi ibu mertuaku menyiramkan minuman itu ke wajahku. Tentu saja aku sangat kaget dengan tindakannya itu. Terdengar suara tawa puas dari mereka.


Aku harap ini hanya sebuah reality show yang akan segera berakhir dengan sebuah kata cut .


" Itu hukuman atas kelancangan dan ketidaksopananmu!"


Aku hanya diam. Tak ingin membalas karena tetap saja mereka keluargaku juga.


" Apa Mama sudah selesai!" Suara keras itu mengagetkan kami.


Gafi menghampiriku yang sudah basah karena siraman air tadi.


" Apa Mama harus seperti ini pada Yuna."


" Kau terus membelanya. Kau tidak tahu betapa tidak sopannya dia."


" Apapun yang di lakukan Yuna tidak akan pernah benar di mata Mama. Jadi, Gafi tahu kalau Yuna tidak seperti itu."


" Mata kakak sudah tertutup."


" Soraya tolong diam."


Soraya langsung terdiam.


" Gafi, kau seharusnya tidak seperti itu kepada keluargamu." Diana memulai aksinya. " Mereka juga keluargamu. Lagi pula kedatangan kami ke sini juga baik-baik."


" Benar yang di katakan Diana. Lihat betapa pengertiannya dia. Tapi, ya sudahlah, kau tidak akan mengerti. Mama hanya ingin bertemu denganmu. Adikmu, Soraya akan mengadakan pesta ulang tahunnya dengan meriah di sebuah hotel ternama. Mama harap kau bisa datang."


" Gafi sudah tahu."


" Kakak akan datang, kan?"


" Lihat saja nanti."


" Kak Diana sudah meluangkan waktunya ke sini. Ayolah Kak," rengeknya.


Gafi melirikku. Aku tersenyum sambil mengangguk kecil. Lagi pula itu adalah hari penting adik dan keluarganya walaupun embel-embel Diana di dalamnya terasa aneh.


" Baiklah. Kakak dan Yuna akan datang."


" Ha??" Soraya sedikit kecewa. " Umm...baiklah."


" Oh ya, Nak. Bisakah kau mengantarkan Diana pulang soalnya Mama dan Soraya akan suatu tempat dan tidak sejalan dengan arah rumah Diana. Kamu mau' kan, Nak?"


" Gafi akan memesankan taksi saja untuk Diana."


" Jangan begitu, ini sudah malam. Lebih aman kalau kau yang mengantarkannya. Mama pun jadi lebih tenang."


" Tapi, Ma...Yuna sendirian di rumah."


" Yuna pasti tidak keberatan. Benarkan Yuna."


Tatapan mata itu sangat intens menatapku saat ini.


" Ya tidak masalah. Kami akan mengantarkan Diana pulang," ujarku pada akhirnya.


" Kami?"


" Iya Ma, kami." Aku menekankan kalau aku akan ikut mengantarkannya juga. " Kau tidak keberatan' kan, Diana?"


Diana dengan muka masamnya mengangguk. Mungkin dari pada tidak mendapatkan apapun lebih baik menyetujui.

__ADS_1


" Baiklah, kalau begitu. Aku juga tidak keberatan," timpal Gafi puas. Sedangkan mereka sama sekali tidak senang dengan rencana mereka yang gagal lagi kali ini.


__ADS_2